Menikahi Sahabatku

Menikahi Sahabatku
Yang ku tunggu tiba


__ADS_3

"Bang,Rena masih sakit," katanya dengan tiduran di ranjangnya.


Abang gak ngapain-ngapain Ren," kata Rendra.


"Terus ngapain peluk-peluk Rena?" tanya Rena pada Rendra


"Cuma peluk saja dek kamu kan istri abang kalau bukan kamu apa abang peluk tetangga," kata Rendra


"Ya, jangan Bang!" larang Rena


"Rendra tertawa semakin memeluk sang istri, sambil mengunyel-nguyel rambut sang istri.


"Bang, rambut Rena, 'kan jadi berantakan," kata Rendra.


"kamu tadi kan belum makan dek, ayo makan dulu!" kata Rendra


"Sudah di bilang aku itu gak bisa jalan, sakit tahu," kata Rendra


"Yaa sudah biar Abang yang ambilkan kamu tunggu di sini yaa," kata Rendra


Rendra keluar kamar menuruni tangga lalu berjalan ke meja makan mengambil dua piring nasi beserta lauknya kemudian dua gelas air putih yang ditaruh di baki setelah itu di bawah ke kamarnya


Mereka pun makan di dalam kamar suami bersenda gurau


saling menyuapi satu sama yang lainnya selesai makan Rendra membawa kembali pring kotor keluar kamar dan


mencuci sebentar lalu kembali ke kamar.


Inilah awal dari perjalanan Rendra dan Rena gimana banyak liku-liku hidup yang mungkin akan dihadapi mereka tak selamanya hidup itu mulus tanpa kerikil tajam yang menghalangi setiap kehidupan ini


hari ini adalah awal dari rumah tangga mereka di mana mereka saling menggenggam dan saling menguatkan segala keadaan sudah tidak baik-baik saja.


Ini lah waktu yang terindah buat mereka berdua dan yang jelas sudah sangat lama di tunggu selama empat tahun yang lalu.


penuh dengan kesabaran Rendra menanti kekasih kecilnya untuk menjadi lebih dewasa setelah sudah dewasa direguknya madu yang indah yang ditunggunya sejak lama

__ADS_1


sungguh suatu luar biasa ketika pertama kali mengambil madu sang istri walaupun mengalami banyak batasan dari sang istri nggak pernah dihiraukan hari ini


Hendra memeluk sang istri dengan sangat eratnya hari ini kita berbeda dengan hari-hari sebelumnya Ketika ia dulu menjaga Rena untuk lebih dewasa.


Sekarang setelah terjadi penyatuan maka keterikatan dia dan Rena semakin terjalin kuat dan membuatnya mempunyai semangat hidup yang lebih tinggi untuk membahagiakan istrinya itu.


Siang menjadi sore yang sore menjadi malam setelah melakukan sholat isya Rendra mulai merayu sang istri untuk mereguk cinta yang cinta yang indah.


Rendra melepas semua pakaian


Rena begitu juga pakaiannya mereka saling merabah mencium dan mencumbu dan saling memberikan cinta dan keindahan di hati mereka juga raga mereka


Rendra mulai memasuki lembah terindah milik Rena mengerakan badannya menikmati sekali lagi


madu cinta milik sang istri.


Rasanya begitu nikmat hingga tak ingin melepaskannya terus bergerak ke atas ke bawah terus hingga mencapai puncak kenikmatan dan Rendra kembali menyemai benih di dalam rahim istrinya.


Istrinya nampak kelelahan ia pun beristirahat sebentar tak lupa ia ucapkan terima kasih pada sang istri.


Saat tidak melakukan penyatuan Rendra memberikan sang istri dengan cumbuan, ciuman dan belaian kasih sayang serta cinta pada sang istri menciptakan nyanyian merdu nan indah membuat gelora asmara terus terpacu untuk memberikan keindahan pada istri tercintanya.


hari ini adalah hari di mana sesuatu diawali dengan hal yang baru Rendra dan Rena mulai menyesuaikan diri dengan kehidupan yang akan ditapaki setelah ini.


Rendra menatap Rena, 'Gadis itu sudah dewasa sekarang,' pikirnya.


"Ren, besok itu Abang mau ke Boston, kamu ikut yaa," kata Rendra ada istrinya.


"Mau dong bang sekalian bulan madu di sana dulu sih aku ke sana dengan kakek, nenek, ayah dan bunda akan berbeda kalau bersamamu," kata Rena pada Rendra.


Ya jelas kalau sama abang kan berbeda Ren, kalau sama Abang malamnya tuh kita indah-indahan di ranjang pagi sampai sore kalau mau nemani Abang di kantor sembari pacaran juga boleh," kata Rendra.


"Bang Rendra mesum masak Rena dikekepi di kamar melulu, mana gak boleh pakai baju," kata Rena pada Rendra.


"Kan boleh Ren, waktu subuh, duhur, ashar dan magrib isya tuh semua pakai baju," kata Rendra terkekeh.

__ADS_1


Rena cemberut, mendengar ucapan Rendra, " Apa lagi yang itu masih sakit Abang? tambahin meluluh," kata Rena


"Itu terapi sayang, kalau gak di biasakan nanti sakit terus, jadi harus di biasakan, lagi pula nyenengin suami itu pahala loh sayang," kata Rendra


"Tapi yaa gak begini juga Bang mana kancing di lepas semua lagi," kata Rena.


"Yaa, gak apa-apa nanti kita mandi Bareng," kata Rendra pada Rena.


Rendra menggendongkan istri ke dalam kamar mandi. Dia telah menyiapkan air hangat yang sudah di beri sabun cair dan aroma terapi.


Rendra memasukkan tubuh Rena ke dalam bathub, lalu dia sendiri juga masuk dalam bathub.


"Loh kenapa abang masuk juga kesini?" tanya Rena heran


"Lah kita kan akan mandi bersama Ren,"


"Aduh, Abang kalau mandi bersama, nanti minta tambah, mandi lagi, minta bersama lagi, lalu nambah, bisa-bisa Rena gak bisa jalan karena itu sakit gak sembuh-sembuh," kata Rena pada Rendra.


Rendra terkekeh. "Kalau di tambahin begitu malah gak sakit, ibarat karet nih buat ngikat rambut biasa hanya dua kali ikatan, pasti sudah kuat tapi kalau karet itu sudah sering di buat untuk ikat rambut yaa karetnya akan menjadi longgar lalu harus tiga ikatan baru kuat,"


"Lalu apa hubungannya dengan


punyaku?" tanya Rena


"Ya, ada dek, anggap saja abang bikin jalan terowongan yang bebas hambatan kayak jalan tol keluar masuk gak ada hambatan dek," kata Rendra pada istrinya sambil terkekeh.


"Kok ibaratnya jalan tol sih Bang. Masak di ibaratkan jalan tol sih," kata Rena cemberut.


Terlalu lama berdebat akhirnya Rendra tak sabar, ia pergi ke kamar mandi untuk mempersiapkan semuanya setelah itu menggendong sang istri dan memasukkan kedalam kamar Mandi dia pun masuk kedalam dan mulai menyabun tubuh istrinya.


"Sudah dek jangan banyak protes, nikmati saja sentuanku," kata Rendra sambil memijat bahu sang istri lalu punggungnya di pijat dengan lembut.


"Pelajaran pertama, Dek, tidak boleh menolak kalau abang mintak, sekarang kamu sudah jadi Abang seutuhnya, semoga saja yang tadi abang semai bisa jadi, dedek bayi di sini," katanya menyentuh perut sang istri.


"Iya Rena paham," kata Rena sambil tersenyum malu,

__ADS_1


"Nah, sekarang Abang mau minta lagi, tadi sudah jawab paham," kata Rendra tersenyum menyeringai.


"Abang, curang!" teriak Rena.


__ADS_2