Menikahi Sahabatku

Menikahi Sahabatku
Aila sadar


__ADS_3

Alex tertawa berjalan meninggalkan Naya yang tergolek di ranjang tak berdaya, masuk ke kamar mandi membersihkan diri. Beberapa saat kemudian dia keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk sebatas pinggang dan lututnya.


Naya menatap tajam pada Tuan Alex. "Apa yang Anda lakukan pada saya, bagaimana jika saya hamil." Alex terkekeh. "Kalau kau hamil tinggal melahirkan saja, begitu saja kok repot."


Naya terkejut mendengar perkataan Tuan Alex, dia pun marah, dilemparkan bantal kearah lelaki itu namun dia menghindar tak satupun mengenai tubuhnya, hingga tak ada lagi yang dapat di buat untuk melempari tubuh pria itu. Alex tertawa. "Jangan buang tenagamu, mandi sana! tubuh mu bau cinta." Alex tertawa sambil mengganti pakaian setelah itu dia keluar kamar, berjalan melenggang dengan santai sambil tersenyum.


Naya beranjak dari ranjang tertatih menuju ke kamar mandi, di isinya bathub dengan air hangat dan aroma terapi, lalu ia berendam di dalamnya, di pejamkan matanya. Air matanya mengalir deras, ia ingin kembali di masa lampau di mana ia tertawa dengan bebas, bermain dengan teman-teman di pematang sawah, dihargai dan dipuja.


Andai bunuh diri tidak dilarang ia ingin sekali mengakhiri hidupnya. "Aku benar-benar tak sanggup hidup," gumamnya dalam hati. Waktu tak di rasakan, sudah lama ia berendam dalam bathtub dan tertidur di sana.

__ADS_1


Alex pun gelisah satu jam lebih Naya tak kunjung keluar ia pun pergi ke kamar mandi dia melihat Naya tertidur di sana dan hampir tenggelam diambilnya bath rope untuk menutupi tubuh Naya dan menggendongnya lalu dibaringkan di atas ranjang. Alex mengambil baju untuk Naya, ia memakaikannya kemudian menyelimuti tubuh Naya, di kecup keningnya. "Maaf, semua ini bukan milikku tapi milik Andara." Alex pun berbaring di samping Naya, ditatapnya wajah lelah itu. "Nay, berhenti mengejar pria yang kau suka, dia sudah menikah." gumamnya lirih.


Alex memeluk wanita itu yang dulu hingga kini masih di kaguminya masih teringat, pertama kali dia merenggut makota milik Naya dan mengatakan tujuannya mengangkatnya anak, tak ada kata terucap di bibir Naya hanya air mata yang mengalir di pipinya menatap dirinya dengan tatapan terluka. Setelah sampai di Paris Naya dibawa kesebuah rumah megah yang terpencil jauh dari keramaian kota dan di jaga ketat.


Alex menatap Naya yang tak mau melihat dirinya. "Persiapkan diri mu besok, jangan lupa pompa Asimu untuk Kris lalu serahkan pada madam katerin."


Alex pergi meninggalkan kamar dan rumah itu menuju kediamannya bersama Andara dan baby Kris.


Di rumah sakit, Frans dengan setia menunggu Aila sadar. Saat waktu sholat magrib dan isya Frans pun sholat di dalam kamar Ai, dia tak mau sedikit pun meninggalkannya, rasa bersalahnya karena tidak bisa menjaganya dengan baik, membuat istrinya harus melahirkan di usia kandungan tujuh bulan. Setelah selesai sholat isya'

__ADS_1


Frans menunggui Aila dengan duduk di depan ranjang Ai, dan memegang tangan Aila, ia pun tertidur dengan meletakan kepalanya di bibir ranjang sambil tangannya menggenggam tangan Aila erat, hingga Adzan subuh berkumandang Frans terbangun. ia pun pergi ke kamar mandi membersihkan diri lalu melaksanakan sholat subuh, kemudian membaca Alquran sebentar, setelah selesai ia pun kembali ke tempat duduknya menghadap ke ranjang Aila. Ia menatap wajah istrinya terpejam damai. Hingga melihat tangan Aila bergerak dan mengerjakan matanya. Frans pun terkejut, Ai kau sudah sadar?" tanya Frans ketika melihat mata terbuka lebar. Ai kau sudah sadar?" tanyanya tak percaya. ia menekan tombol untuk untuk memberi tahu bahwa Aila telah. Tak lama kemudian dokter datang yang tak lain dan tak bukan dia adalah Dokter Danu. Dokter Danu menepuk bahu Frans. "Sebentar akan kuperiksa dulu." setelah memeriksa dengan teliti, ia pun menyapa Aila" Bagaimana perasaan mu?" Aila tersenyum. "Kurang baik karena belum bertemu anakku." Dokter Danu terkekeh. "Tungguh yaa, masih di dalam inkubator." Danu menoleh ke Frans. "Jangan beri apa pun sebelum Aila buang angin." Frans mengangguk, lalu Dokter Danu Keluar dari kamar rawat Aila. Frans menatap wajah Ai. "trimakasih Ai, telah memberiku putra yang begitu tampan," kata Frans pada Ailah dan mencium kening wanita yang selalu menemani dari kecil hingga sekarang telah menjadi istri dan ibu dari putranya. "Maaf, tidak bisa menjagamu dengan baik sampai membahayakan dirimu juga bayimu," bisiknya penuh penyesalan. Aila menggeleng dan tersenyum. "Kamu sudah sangat menjagaku, Frans itu kecelakaan, yang terpenting bayi kita selamat dan aku baik-baik saja." Frans menatap istrinya lekat mendekatkan wajahnya saat ingin mencium bibir Ai tiba-tiba ucapan salam dari luar terdengar mereka pun menjawab dan Frans pun menegakan badannya lagi sambil terkekeh melihat arah pintu yang terbuka lebar. Nara dan Diki masuk dengan membawa kantong plastik berisi makanan. "Tante dan Om, kalau lagi mode mesra pintu ditutup, kasihan kan yang masih kecil seperti aku ini lihat yang begitu." Aila mendengus. "Kamu bukan lagi anak kecil, lihat perutmu ulah siapa?" Nara meletakkan bawaan di meja sambil tertawa. "Ulah suamiku, Tante." Aila hanya tersenyum karena untuk di buat tertawa perutnya sangat sakit. "Lo dari kecil sampai mau punya anak kecil kenapa resek gak ilang-ilang," tanya Aila sambil memutar matanya ke atas.


"Ini sudah bawaan orok. Om, minggir! Mau peluk Tante, sana makan Sama Bang Diki, Om. Belum makan 'kan?" celoteh Nara tak mau berhenti.


Frans pun mengalah Nara duduk di depan Aila sambil mengucapkan selamat pada tantenya. "Selamat ya, Tante. Nara, seneng Tante baik-baik saja, boleh 'kan panggil Tante?" tanya Nara pada tantenya. Ai memukul lengan Nara. Sudah besar aku, Ra. Asal jangan panggil nenek saja," kelakar Ai sambil tertawa lalu meringis. "Jangan ketawa, Tante. Nanti perutnya sakit aku di marahi Om." katanya sambil terkekeh.


Diki mengajak Frans untuk sarapan ia mengambil dua kotak makanan yang satu di berikan Frans dan yang satunya lagi untuk dirinya. "Om, sarapan dulu, nanti kalau Om sudah sama tante lagi lupa sarapan, pintunya aja lupa nutup."


Frans tertawa mengambil nasi kotak. "Kamu sama reseknya dengan istrimu itu." Diki tertawa. "Tidak 'lah, Om. Aku kan lagi mengingatkan Om saja, iya 'kan Ra?" Nara mengangguk dengan mantapnya. Membuat mereka tertawa, lagi-lagi Aila meringis menahan sakit di perutnya.

__ADS_1


"Tante sudah buang angin belum?" tanya Diki pada Aila. Tiba-tiba Nara berdiri sambil memencet hidung dan menjawab, "Sudah, Bang. Aduh Tante bau!" Nara beranjak pergi menuju sofa tempat Frans dan Diki duduk. Semua tertawa sambil menekan hidungnya menghindari bau menyengat, untung saja pintunya terbuka jadi buahnya segera hilang.


__ADS_2