
Ke esokan harinya, mereka sarapan bersama sambil berbincang-bincang. "Kakak motor di garasi itu punya kakak," tanya Davin pada Rafa.
"Iya, jika kau ingin pakai, pakai lah! setiap hari selalu dipanasi sama Pak Jefri," jawab Rafa.
"Ok! terimakasih, Kak," ucapnya lalu menoleh ke Ehan. "Ehan kau bareng saja sama Om yaa."
"Ok! aku juga rindu naik motor," kata Ehan.
"Boleh tapi hati-hati! Dek, Jangan ngebut!" pinta Anin.
"Beres, Kakak!" kata Davin pada Anin
Mereka menyelesaikan sarapan paginya, lalu beranjak dari tempat duduknya Rafa dan Anin menyalami punggung tangan Andrian lalu menerima uluran tangan Davin dan Ehan yang mencium punggung tangan mereka.
Lalu Rafa keluar duluan dan masuk kedalam mobil kemudian berjalan meninggalkan rumah membelah jalan raya menuju tempat mereka bekerja,
Nampak Davin sudah duduk di di motor sport kakak iparnya lalu Ehan duduk di belakangnya.
setelah di rasa Ehan sudah siap dan tangan kecil itu melingkar di perutnya, lalu motor itu pun mulai berjalan meninggalkan rumah mereka, Davin membunyikan klaksonnya saat berjalan melewati sekuriti.
Karena dia membonceng Ehan, maka dia melajukan motornya dengan kecepatan sedang hingga sampai ke sekolah Ehan.
Sesampainya di pintu gerbang Ehan turun dari motor dan menyerahkan helmnya pada pada Davin, setelah itu mencium punggung tangan Omnya lalu berlari masuk melewati gerbang sekolah dan motor pun melesat meninggalkan gedung sekolah.
Dia berjalan sambil menengok ke kiri tidak di temukan gadis yang bernama Rui itu, Sudah dua hari dia tidak masuk kelas, kenapa? Apa dia sakit? tanyanya dalam hati
Ia berjalan dengan langkah lesu menuju kelasnya. "Lesu amat, apa tadi tidak sarapan?" Suara yang begitu familiar terdengar Ehan menoleh dan ternyata Aska berjalan di sampingnya.
"Enggak, Rui sudah dua hari gak masuk," jawab Ehan
"Oh mungkin pergi dengan orang tuanya, ayo sudah jangan cemas!" kata Aska.
Mereka pun masuk kedalam kelasnya, setelah menyusul Bay kemudian Al, mereka duduk ditempat duduk mereka.
Sementara itu Davin tengah memacu motor di jalan raya melihat ada operasi lalu lintas dia berhenti sejenak ada polwan yang sangat cantik dengan rambut pendeknya ikut di dalam. Saat polwan itu sendiri beberapa rekan berpindah tempat sedikit jauh darinya. maka segera ia memulai aksinya. Dia memacu kuda besinya dengan kecepatan tinggi melewati polisi wanita itu.
Seketika polisi itu terkejut dia pun menaiki motornya dan mengejar motor Davin, setelah di rasa cukup jauh ia memelankannya. dan polwan itu berhenti.
Davin, duduk di motornya dengan helm yang di buka dan senyum mengembang. Polisi wanita itu turun dari motornya dan berjalan ke arah Davin.
"Mana STNK dan SIM mu? Berikan pada saya!" perintahnya dengan tatapan datar pada Davin.
"Sudah saya berikan pada Anda," jawab Davin dengan santainya.
"Mana? Saya belum menerimanya sama sekali," kata polisi wanita itu.
"Sudah di hati mu, Nona Erliana," jawab Davin sambil membaca nama yang tertera di baju di bagian atas dada wanita itu.
Davin menelan salivanya saat bagian itu terlihat menonjol dan besar di balik seragam polisi.
"Kamu jangan bergurau yaa, kamu saat ini sedang melanggar ketertiban lalu lintas," katanya tanpa tersenyum.
"Itu karena Anda cantik jadi saya melanggar ketertiban lalu lintas agar Anda menangkap hati saya, dan sekarang hati saya sedang Anda borgol, bagaimana dong?" katanya sambil tersenyum.
"Ikut saya!" kata polwan itu.
"Kemana?" tanya Davin pura-pura bodoh.
"Ke kantor polisi!" katanya lagi.
"Bukan ke hotel? kalau ke sana saya siap," kata Davin
__ADS_1
"Saya bisa ajukan tuntut kamu dengan perbuatan kamu," kata wanita itu lagi.
"Mana buktinya saya tidak melakukan apa-apa hanya duduk di motor saya," kata Davin lagi
Sudah pokoknya sekarang kamu ikut ke kantor polisi," kata Erlina dan akhirnya Davin pun mengikuti polwan yang dia incar itu ke kantor polisi.
sesampainya di sana ia menelpon Daddy dan kakak iparnya kalau saat ini ada di kantor polisi karena melanggar lalu lintas.
Tak seberapa lama mereka tiba di sana dan langsung menemui Bripka Erlina.
"Loh Om kok ada di sini?" tanya Bripka Erlina.
"Loh kamu Lin yang nilang Davin?" tanya Andrian sambil melihat mereka bergantian.
"Siapa Om, Davin? Dia Davin, Om?" tanya Erlina pada Andrian.
Andrian menggangguk. "Ya dia ini calon suami kamu, putra yang di jodohkan ke kamu," kata Andrian sambil tertawa.
"Ya sudah Dad, gak usah di urus, toh Davin sudah menemukan petunjuk jalannya," kata Rafa sambil kembali keluar kantor.
"Lin, Om titip yaa, dia itu belum tahu arah sok-sok bawa motor milik Kakak iparnya," katanya sambil berjalan keluar.
"Tunggu Dad, bagaimana Ehan?" tanya Davin pada Daddy-nya.
"Minta Erlin yang ngantar Daddy sibuk," kata Andrian pada Davin.
"Jadi kamu yang mau di jodohkan dengan saya?" tanya Erlin
"Kamu keberatan?" tanya Davin
"Iya awal saya keberatan," jawab Erlin
"Semakin keberatan," jawab Erlin pada Davin.
"Sayangnya gak bisa nolak," kata gadis itu beranjak dari duduknya dan menghampiri Davin yang duduk didepan meja lalu dia bersandar di meja, dengan posisi yang ambigu.
"Kenapa tadi menggoda polwan? Aku tanya sebagai calon istrimu," katanya dengan mimik yang Datar
Davin terkekeh, "Sudah gak usah di tanya, sekarang antar saya keliling jakarta habis itu jemput ponakan saya," kata Davin sambil berdiri dan itu membuat jarak mereka begitu sangat dekat, lalu berbisik pada gadis itu," karena dia cantik dan wow ... tubuhnya," membuat Erlina merona lalu dilemparkan kunci motornya ke Erlin.
"Kamu yang bawa karena aku gak tau arah," katanya sambil mendahului berjalan.
"Erlina sudah naik di motor, lalu Davin naik di belakangnya. "Anggap saja aku adikmu yang di antar kuliah,"katanya sambil melingkarkan tangannya diperut Erlin dan tidak mau diam mengusap-usap perut yang ramping itu.
"Vin, tanganmu tolong di jalur yang benar!"perintah Erlin.
...----------------...
Di sekolah ke empat jagoan kecil itu sedang jam istirahat saat Aska sedang akan keluar terlihat Arta gadis kecil berusia 8 tahun itu menunggu di pintu gerbang sekolah.
"Kak Arta, kenapa kemari?" tanya Aska
Dia tersenyum lalu menyerahkan ke dua kanvas. "Aku antar pesanan mu dan saudaramu, maaf untuk yang kalian berempat ada aku di tengah agar kalian tidak lupa aku," katanya pada Aska.
"Kenapa lupa? Kan kita sering bertemu," kata Aska.
"Tidak, aku akan ikut ke Paris dengan Om ku hanya dia kerabatku itu sebabnya aku harus ikut," katanya pada Aska
"Aku pasti merindukan mu, kak," kata Aska mulai berkaca-kaca.
"Aku juga pasti akan merindukanmu adik kecil," kata Arta berjalan kearah Aska beberapa langkah lalu memeluknya. "Jangan lupakan aku yaa, jika kau besar nanti dan pergi ke Paris carilah aku, semoga saat itu kita saling mengenali," katanya sambil memeluk erat lalu melepasnya dan berlari ke mobil Omnya.
__ADS_1
"Kalau aku besar Nanti akan kucari kau dan aku pasti menemukanmu kak!" teriak Aska.
Gadis itu menoleh lalu melambaikan tangannya dan masuk kedalam mobil yang kemudian berjalan menjauh meninggalkan mereka.
"Kami akan membantu mencari kak Arta kelak jika kita telah dewasa," kata Bay, Ehan dan Al bersama-sama, Aska menoleh pada mereka lalu mengangguk.
Mereka masuk ke kelas mengikuti pelajaran Hinga usai jam pelajaran lalu berhamburan keluar saat selesai berdoa di akhir jam pelajaran.
Ehan berjalan lemas keluar dari kelasnya karena sudah dua hari tidak bertemu Rui.
Saat berjalan menuju gerbang seorang pria seusia papinya menghampirinya.
"Kamu Ehan kan temannya Rui?" tanya Pria itu.
"Benar Om," jawab Ehan yang saat itu saudaranya sudah berkumpul berdiri didekatnya.
"Aku Ayahnya, besok kami berangkat ke Singapura untuk berobat, sebenarnya dia tak ingin kamu tahu, tapi Om tidak tega saat dia selalu menyebut namamu saat dalam keadaan drop," kata Ayah Rui
"Kami ikut Om kami akan tunggu di luar, biar Ehan saja yang masuk," kata Bay.
"Baik, Ayo ikut ke mobil om," kata pria itu.
Mereka pun masuk kedalam mobil itu kemudian berjalan dengan kecepatan sedang menuju rumah sakit kangker.
Setelah sampai pria itu membawa mereka ke kamar rawat Rui, Ehan memakai pakaian khusus dan di haruskan benar-benar steril.
Dia masuk ke dalam kamar gadis itu. Hai Rui aku Ehan, aku datang untuk menjenguk mu karena aku merindukanmu," kata pada gadis kecil yang masih terpejam, dan ketika gadis itu mendengar suara Ehan dia membuka mata,
"Kak Ehan!" panggilnya lemah sambil tersenyum.
"Hem ... iya, ini aku! Kamu harus sembuh agar kelak aku bisa menalikan simpul tali sepatumu lagi," kata Ehan, sambil tersenyum.
Saat Ehan berbicara dengan Rui Bay menelpon kakak-kakaknya Rafa, Nara, dan Ratih Bay berpesan bahwa nanti akan di jemput mamanya. Setelah itu dia menelpon mamanya untuk di jemput di rumah sakit kangker.
Di ruangan Rui, Ehan berkata," Tolong berjuang lah untuk bisa sembuh dan sehat kembali kelak aku akan mencarimu, kau mau berjanji bukan?" tanya Ehan pada Rui dan gadis itu tersenyum menggangguk. Ehan pun keluar ruangan, dan melepaskan baju khususnya lalu ia menghampiri ayah Rui.
"Om tolong simpan nomer om di handphone saya agar om bisa menghubungi saya dan saya bisa menghubungi om sekedar memberi semangat agar Rui tetap berjuang," kata Ehan pada pria itu.
Ayah Rui menyimpan nomernya ke handphone Ehan lalu melakukan panggilan tak terjawab agar nomer Ehan tersimpan di handphonenya.
Mereka berpamitan untuk pulang karena mereka sudah di jemput, mereka pun keluar dari rumah sakit dan masuk ke dalam mobil Aila, dua bocah nampak sangat pendiam yaa, Ehan dan Aska. Aila menoleh kepada mereka yang duduk di bangku tengah bersama Al.
"Setiap pertemuan selalu ada perpisahan, kalian harus tetap tersenyum dan berharap yang terbaik teman kalian dan juga kalian berdua," kata Aila.
"Baik, Nenek!" jawab Al, Ehan dan Aska bersama
"Kenapa kalian panggil Nenek?" tanya Aila pada mereka.
Maminya Om kan Nenek, jadi panggil Nenek," kata mereka sambil tertawa sedangkan Bay memukul keningnya atas ulah mereka.
"Ok! untuk hari ini saja yaa, Neny ijinkan, jika itu bisa buat kalian berdua tertawa, selanjutnya kalian harus kembali panggil Neny lagi," kata Aila sambil melajukannya mobilnya meninggalkan rumah sakit kangker mengantarkan ke rumah mereka masing-masing.
"Baik Nenek!" jawab mereka sambil tertawa walau tawa Ehan dan Aska terasa sumbang dan terkesan di paksakan. Karena hari adalah hari perpisahan mereka dengan sahabat kecil mereka.
Sahabat sebuah kata yang mempunyai makna terindah dan memiliki keterikatan yang kuat serta memberi warna tersendiri dalam hati.
Saat muara takdir membawa sahabat di sisi hati yang paling dekat, maka yang bisa di lakukan adalah mengenali rasa yang ada di hati, untuk sahabat.
Tamat
Trimakasih telah membaca karya Author 🙏🥰 jangan lupa mampir ke karya Author yang lain yaa, 😍😘
__ADS_1