Menikahi Sahabatku

Menikahi Sahabatku
Setelah Akad


__ADS_3

Setelah acara selesai semua pulang ke kediamannya masing-masing tinggal Aila dan Frans.


"Frans, Ai, hari ini tidur di sini, mami mu itu kangen loh Ai," kata Raka pada putrinya itu.


"Terserah Ai saja lah dad," kata Frans


"Cuma mami saja yang kangen daddy gak kah?" tanya Ai sambil bergelayut manja pada daddynya.


"Tentu daddy sangat merindukan mu."


"Baik lah kita akan menginap di sini Frans."


"Ya, baiklah."


Rima datang membawa sepiring pisang goreng keju kesukaan Ai, di letakan pisang goreng di atas meja.


Ketika melihat makanan kesukaannya matanya berbinar," Mami Ai sayang mami," katanya sambil memeluk maminya, lalu menyomot pisang goreng dan memakannya.


"Kok tahu pengen ini, mam."


"Tahulah mami gitu loh."


"Itu makanan masih banyak, tapi mami malah bikin ini." katanya sambil menyuapkan pisang goreng di mulutnya.


"Daddy kenapa protes tapi ngambil?"protes Rima.


Raka tertawa sambil memeluk istrinya.


"Gak protes mam, cuma kasihan sama kuenya itu gak ke makan."


"Mam, Ai tidur sama mami ya?"


"Apa? Ai, lah gue sama siapa dong Ai kalau lo sama mami," protes Frans


Raka pun tertawa, " Sudah daddy gak bukak persewaan Ai, mami tidurnya s ama daddy, kamu gak boleh pinjam mami masak sudah masih mau tidur sama mami." kata Raka sambil menarik sang istri ke kamarnya.


"Daddy pelit," teriak Aila.


"Ayo sudah gak usah protes, kita masuk kedalam juga." Kata Frans.


...****...


Sementara itu Bara, Ratih, Haidar dan vino berada di mobil yang sama yang di kemudikan Bara.


Pengantin baru yang baru mengucap hijab khobul beberapa jam yang lalu nekat mengantarkan ayah dan adik istrinya pulang.


setelah mengantar ia berencana berjalan-bejalan sebentar, namun sebelum mereka sampai ada panggilan telepon, " Rat, tolong terima telponnya barangkali penting." kata Bara sambil fokus mengemudi.


,"Di mana hpnya?"


"Di saku celana."


" Masak aku yang ngambil sih Bar?" protes Ratih.


Bara terkekeh," terus siapa yang ngambil? Cepat Rat."

__ADS_1


"Iya sebentar," katanya sambil tanganya merogoh kantong celana Bara.


"Jangan ke situ-situ Rat, ini gue bisa gak fokus."


"Siapa yang ke situ si Bar," kata Ratih sambil mencubit perut Bara setelah mendapatkan Hp. Bara pun tertawa.


Hp Bara pun berdering kembali dan Ratih menerimanya dengan melouds pekernya.


"Assalamualaikum, paman ada apa? tanya Bara sambil mengemudi.


"Wa'alaikum salam, kamu ada di mana ini?"


"lagi di jalan mengantarkan ayah Haidar dan Vino."


"Putar balik Bar, rumah itu sudah gak aman, lebih baik tinggalkan dulu sampai urusan perceraian om Haidar selesai."


"Ya paman, baiklah. Ada lagi paman?"


"Sebaiknya kamu segera ke Amerika dan jangan mampir kemana-mana langsung ke pesawat atau di rumah dulu deh sampai aman, sudah itu saja pesan paman Assalamualaikum."


"Wa'alaikum salam." sambungan pun terputus.


Bara memutar arah mobilnya, Ia melajukan mobilnya ke arah rumahnya.


"Kenapa nak, kata paman teman istri ayah sudah mulai beraksi sepertinya misinya mau culik Ratna, kita ke rumah aku dulu paman, kita rundingkan dengan ayah dulu.


Mobil itu berjalan dengan kecepatan sedang menuju kediaman Angga.


tak seberapa lama mobil pun sampai dihalaman rumah.


"Assalamualaikum."


"Wa'alaikum salam."


"Bar, gak jadi ngantar mertua kamu?"


"Ini bun, rumah ayah sudah gak Aman."


"Ajak masuk gih."


"Ya, bun."


"Ayo Ayah, Vin, masuk. Aku tunjukkan kamar kalian.


Bara mengajak mereka ke kamar tamu.


"Ayah dan Vino istirahat di sini dulu, bersih-bersih dulu, aku ambilkan baju ganti dulu."


"Rat, sini ikut aku dulu," kata Bara


Ratih menghampiri Bara, lalu Bara menarik tangan Ratih untuk mengikutinya.


Bara mengajak Ratih masuk ke kamarnya


"Ini kamar kita, aku mau kamu carikan baju ganti untuk Vino ada beberapa baju lama yang masih baru dan belum terpakai , cari aja yang cocok. Aku mau carikan baju ganti ayah dulu."

__ADS_1


"Iya."


Bara pun keluar dari kamarnya, berjalan ke kamar ayahnya, mengetuk pintu dengan pelan.


"Tok tok tok"


"Ayah, bun maaf menganggu."


Bara dengan sabar menunggu ayah atau ibu keluar, tak seberapa lama pintu terbuka Rika berdiri di depan pintu membawa beberapa stel baju ganti yang masih baru.


"Makasih, bun."


Bara bergegas pergi ke kamar tamu, menemui ayah mertuanya membawa beberapa stel baju.


Dia berjalan menuruni tangga lalu melewati Beberapa ruangan dan berhenti di kamar tamu di mana ayahnya menginap.


Mengetuk pintu beberapa kali hingga pintu terbuka dan terlihat seorang pria paruh baya berdiri di antara pintu terbuka.


"Ayah, ini baju ganti untuk ayah." kata Bara dengan sopan.


Haidar pun menerima baju yang di berikan Bara untuknya.


"Trimakasih, nak Bara."


"Sama-sama nak Bara."


Pintu pun tertutup, Bara pun kembali ke kamarnya melewati ruang tengah dan berjalan menaiki tangga berjalan ke kamarnya.


Langkahnya di percepat ingin segera memeluk bidadari hatinya yang sudah di dalam kamarnya.


Hatinya berbunga hingga melupakan keresahan hati yang baru saja ia lalui.


Langkah cepatnya seolah tak bisa mengikis jarak yang terasa jauh, walau hanya butuh beberapa menit saja untuk bisa sampai.


Akhirnya ia pun sampai, ketika membuka pintu matanya langsung di manjakan dengan sosok tubuh yang berdiri di depan lemari yang pintunya terbuka. Dia hanya mengenakan handuk sebatas dada hingga pahanya sambil menunduk mencari baju yang diiginkannya.


Bara masuk dan menutup dengan perlahan, berjalan mendekati sang istri merengkuhnya dan mendekapnya dari belakang, oroma wangi tubuhnya membuat sejenak hilang akal, hingga tersadar ketika keresahan sang istri terbaca olehnya.


Dia melepaskan pelukannya, menggandeng tangan istrinya mengajaknya untuk duduk di bibir ranjang.


"Apa kamu siap jika aku meminta hak ku saat ini juga Rat?"


Ratih menunduk tajam, tak mampu berucap sepatah kata, tubuh terasa lemas tak tulang, hatinya berdegup kencang bahkan otaknya seolah tak mampu lagi berfikir, mengembara mengartikan sebuah rasa yang tiba-tiba hadir.


"Rat?"


"Hem, apa?" Ratih menoleh ke arah Bara dengan expresi bingung.


Bara terkekeh melihat expresi istrinya.


"Boleh aku meminta hak ku malam ini? jika iya pakailah mukena kita sholat sunah berjamaah, tunggu aku, aku mau membersihkan tubuhku dulu. Bara bangkit dari duduknya dan berjalan ke kamar mandi, terdengar pintu yang tertutup lalu suara kucuran air terdengar di kamar mandi.


10 menit kemudian dia keluar dari kamar mandi dengan mengenakan handuk yang yang melilit pinggangnya, berjalan melirik istrinya yang telah mengenakan mukena, ia pun melihat satu setl baju Koko dan sarung serta perlengkapan lainnya sudah di atas ranjang.


Dia pun memakainya dengan cepat lalu berdiri di depan Ratih memimpin sholat.

__ADS_1


__ADS_2