Menikahi Sahabatku

Menikahi Sahabatku
Bertemu Adik tercinta


__ADS_3

"Kami akan menunggu jika kami tak ada di sini, saat kami di jemput akan terjadi kegaduhan, dan kami tidak bisa mengatasi mereka," jelas Bayhas sambil terkekeh dan di ikuti tawa mereka.


"Kalau begitu kami duluan ya," kata Andrian pada mereka dan mereka mengangguk.


Ehan melambaikan tangan mengikuti mereka masuk kedalam mobil sang kakek dan duduk di bangku tengah, sementara Davin duduk di sebelah sang Ayah.


Mobil pun kembali berjalan, Ehan mengambil ponsel lalu mulai melakukan panggilan video pada sang Papi.


"Assalamualaikum, Papi. Ini aku bersama kakek Andrian dan om Davin yang baru datang dari bandara," katanya ketika video call telah tersambung.


"Wa'alaikumsalam, oh yaa, boleh Papi bicara pada om Davin mu itu?" tanya Rafa pada sang anak


"Ok! Tentu saja, dia sangat tampan Papi, kalah dengannya," jawab Ehan sambil tertawa, Rafa pun tertawa di seberang sana oleh ulah putranya itu.


"Om Davin Papi ingin bicara sama Om," kata Ehan sambil menyerahkan handphonenya.


Davin menerima handphone Ehan dan mulai menyapa.


"Assalamualaikum, kakak Ipar, senang sekali bisa berkomunikasi lewat video call sebelum kita bertemu, ponakanku begitu tampan itu mungkin perpaduan darimu dan Kakakku," katanya sambil tertawa.


"Wa'alaikumsalam, Dek, benar kata Ehan kau lebih tampan dari ku," kekehnya lalu ia mengarahkan handphone kepadamu Anin yang masih sibuk dengan laptopnya.


"Sayang, Adik mu telah tiba di Indonesia," kata Rafa sambil mengarahkan tepat pada wajah dan saat itu ia melihat pantulan wajah kakaknya yang hampir mirip sang ibu tapi hidup dan warna matanya mirip sang ayah jika dia tidak tahu bahwa wanita yang ada di kamera ini adalah kakaknya mungkin akan jatuh cinta pada wanita itu.


Anin mendongak dan melihat pria remaja yang tersenyum manis padanya. "Jadi ini adikku, berapa gadis kau buat patah hati dengan senyummu itu adikku," kata Anin menyapa mereka


"Kau bisa saja kakak, bahkan aku belum tergerak hatiku untuk menyukai wanita, takut seperti Daddy," katanya terkekeh.


"Bagaimana kalau kita makan siang di luar?" tanya Rafa yang berdiri di belakang Anin yang duduk di meja kerjanya, sambil memeluk sang istri ia berbicara pada adi iparnya itu.

__ADS_1


"Sayang sekali kita baru selesai makan kakak ipar, apa kita bertemu di kantor kakak saja agar aku bisa bertemu dengan Kakakku yang cantik ini, sebelumnya aku minta izin pada mu kakak ipar untuk memeluknya jangan cemburu yaa kami bahkan tak pernah bertemu sedari kecil," kata Davin sambil terkekeh.


"Tentu tetapi jangan lama-lama memeluk wanitaku," kata Rafa sambil tertawa.


"Wow, kau sungguh beruntung kakakku, memiliki pria yang begitu mencintai mu," kata Davin dengan mata berkaca-kaca tidak menyangka akan bertemu kakaknya yang selama ini di rindukannya.


"Benarkah, sayang, kau sangat mencintaiku?" tanya Anin sambil mendongak menatap suaminya dan tangannya membelai pipi pria itu.


"Kak, aku masih jomblo jangan membuatku iri," celetuk Davin.


Mereka tertawa. "Ayah langsung kerumah yaa, tunggu kami. Kami akan pulang. Dek, kami tutup dulu video call yaa, Assalamualaikum," kata Rafa


"Wa'alaikumsalam," sahut mereka serempak. Lalu panggilan video terputus.


Trimakasih, ponakan Om yang pintar, itu tadi sedikit mengobati kerinduan pada mamimu.


"Sama-sama Om Davin, ngomong -omong benar Om Davin gak laku nih, sampai gak punya pacar?" sarkas Ehan sambil tertawa.


"Dia itu pilih-pilih, Han. Jadi yaa, gak laku-laku," kata Andrian tertawa.


"Daddy kenapa suka bongkar, sih," keluh Davin membuat Ehan dan Andrian tertawa.


Andrian fokus mengemudi sambil terus bercanda dengan mereka, hingga sampai rumah.


Mobil berhenti tepat di halaman rumah mereka, Ehan keluar mendahului mereka lalu membuka pintu. Setelah itu, layaknya seorang tuan rumah yang baik dia pun mempersilahkan kakek dan Omnya masuk ke dalam.


"Ayo, Om aku antar ke kamar Om di atas! Masih ada satu kamar di atas," katanya sambil menaiki tangga.


Davin mengikuti langkah kaki kecil keponakannya dan sampai di sebuah kamar, yang cukup besar, lalu Ehan membuka pintunya mengajak Omnya untuk masuk.

__ADS_1


"Bagaimana, tetapi seprainya belum di ganti Om, Bik Unung lagi pulang kampung, baru besok datang," kata Ehan.


"Gak apa-apa nanti akan Om ganti sendiri, Om ini bukan anak manja yaa, jadi seperti ini bisa Om kerjakan dengan baik."katanya pada ponakannya itu.


"Kalau begitu Ehan tinggal dulu yaa, mau ganti baju dulu," kata Ehan keluar dari kamar yang di peruntukan Davin.


"Ok! Om juga akan beres-beres kamar ini dulu," katanya sambil tersenyum


Davin mulai menarik seprai dan membuka lemari mencari yang baru setelah menemukannya Davin menggantikan yang baru setelah itu menata baju kedalam lemari itu. Setelah selesai ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang dengan kaki yang masih menggelantung di bibir ranjang dan menapak di lantai.


Kemarin Daddy menelponnya, mengatakan telah bertemu sang kakak, sehingga dia segera memutuskan untuk terbang ke Indonesia.


Sementara itu Anin dan Rafa sudah berada dalam perjalanan menuju rumahnya.


"Pi, kita mampir ke toko roti membeli beberapa kue buat teman berbincang," kata Anin pada suaminya.


"Baik, kita tidak perlu tergesa-gesa, pasti putra kita sudah menyambut mereka sangat baik," kata Rafa terkekeh.


Mereka pun berhenti di toko roti dan membeli beberapa jenis roti untuk di makan bersama saat berbincang -bincang dengan sang adik yang baru di jumpainya sekarang. Setelah membayar dan menerima berapa kotak roti yang sudah di masukan kantong plastik Anin pun keluar dari toko roti dan kembali ke mobil suaminya.


Anin masuk dan duduk di samping sang suami lalu Rafa menjalankan mobilnya kembali.


Setengah jam kemudian dia telah sampai dan terlihat sang Ayah tengah duduk di teras rumahnya menanti kedatangannya.


Anin keluar dari mobil dan berjalan menghampiri sang Ayah.


"Loh kok di luar sih, Yah?" tanya Anin pada sang Ayah sambil mencium punggung tangan Ayahnya.


Mereka pada di kamar, Ehan dan Davin belum keluar dari kamarnya, lagi pula Ayah lagi bernostalgia dengan tempat ini hanya halaman depan ini yang tidak berubah," kata Andrian pada putrinya.

__ADS_1


"Memang tidak aku rubah Ayah biar ada kenangan tersisa di sini, Ayah tahu, ketika pertama kali aku masuk di rumah ini aku begitu shock, dinding bambunya banyak yang berlobang, sampai kuteletih satu persatu, dari kamar Anin, hingga kamar mandi dan semuanya hampir sama, yang ku takutkan ada pria jahil yang mengintipnya mandi atau mengintipnya ganti pakaian," kata Rafa sambil tertawa.


__ADS_2