
Rena berendam di dalam bathub begitu lamanya. Satu jam lebih dia berendam dalam bathtub.
Dirasakan sudah menormalkan hatinya, dia pun keluar dengan balutan handuk sebatas dada dan pahanya.
Saat keluar ia pun terkejut melihat Rendra sudah duduk di sana dengan dandan yang santai atasan kaos berkerah dengan celana pendek selutut menatapnya dengan senyuman devil-nya.
Saat itu jantungnya mulai beraksi kembali, bias merah di raut wajah yang merana menahan malu tertangkap oleh pengelihatan Rendra.
"Kenapa Abang masih di sini?" tanya Rena dengan senyum canggung menahan malu.
"Aku itu menguwatirkan dirimu. Kenapa lama sekali kamu belum juga keluar dari kamarmu? Takut kamu pingsan di kamar mandi," katanya.
"Aku itu baik- baik saja justru kalau Abang di sini jantung dan hatiku tidak Aman," katanya sambil memunggungi Rendra. Terdengar deraian tawa dari pria yang dipunggunginya itu setelah beberapa detik ia selesai berbicara dan semakin lama semakin menjauh.
Ketika Rena kembalikan badan tiba-tiba dia terkejut karena pria yang duduk di sofa itu tiba-tiba pergi entah ke mana. Lah ke mana dia pergi? Lewat mana dia? batinnya sambil menengok ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan pria tersebut tapi tidak ditemukan juga. Dia tidak tahu kalau sebenarnya Rendra keluar masuk melalui balkon kamarnya.
Rena pun nafas panjang lalu mulai berjalan ke walking closed mengambil baju di kopernya sengaja bajunya ditaruh di koper karena dia sangat malas untuk bebena ketika ingin pulang ke rumah, saat orang tuanya sudah pulang dari Boston. Diambilnya kaos dengan lengan pendek dan kulot sebatas betis lalu dikenakannya. Rena pun berjalan kembali dan duduk di kursi riasnya memoles wajahnya dengan peralatan kecantikannya lalu di sisir rambutnya yang panjang dan diikat ekor kuda. Setelah itu, ia pun keluar dari kamarnya. Di benaknya masih bertanya-tanya, sebenarnya pria itu tadi keluar dan masuk lewat mana karena pintu kamarnya pun masih terkunci rapat.Semakin dipikirkannya semakin membuat dirinya pusing, jadi dia tidak memperdulikan apa yang terjadi barusan. Kadang terlintas pikirannya apakah bang Rendra mempunyai kunci cadangan sehingga dia bisa keluar masuk dengan bebasnya di kamarnya. Padahal kamar itu tertutup terkunci rapat. Rena berjalan menuruni tangga sambil memikirkan kejadian tadi, hingga suara bariton mengejutkannya sampai membuatnya hampir terjatuh dari tangga. Seandainya pria itu tidak memeganginya.
Sambil melotot dan mengelus dadanya "Mengagetkan saja," protesnya pada pria itu. Rendra tertawa. "Lagian Kenapa jalan sambil melamun? Kamu itu sedang menuruni tangga, kalau kamu melamun, jelas akan berbahaya," katanya sambil menggandeng tangan nya, berjalan menuruni tangga. Abang itu sebenarnya dari mana? terus bagaimana bisa masuk ke kamarku?" tanyanya pada Rendra.
Membuat pria itu membekap mulutnya dan berbisik,"Jangan bicarakan ini di sini, kita bakal kena masalah jadi tolong simpan saja dan pura-pura tidak terjadi apapun, kapan-kapan nanti akan ku beritahu kau, bagaimana aku bisa masuk ke dalam kamarmu."
"Cek, itukan ulah Bang Rendra sendiri kenapa harus dirahasiakan?" protesnya pada Rendra.
"Kalau ketahuan kepala Bang Hendra bisa benjol, kena ajar Mama Izah," katanya.
Meledak lah tawa Rena pada saat itu membuat Hendra pun jengkel. "Jangan ketawa kau jelek tahu."
"Kukira tidak takut ternyata takutnya sama tante iza.
"Takutlah, takut dikira kurang ajar sama kamu," kata Rendra
__ADS_1
"Emang iya gitu kok," kata Rena.
"Mana? Apa? Aku nggak ngapa-ngapain kok," katanya berkelit.
Rena pun mengangkat baunya dan perjalanan mendahuluinya.
"Eeeh, Jangan ngambek dong, nanti tambah cantik loh kata Rendra sambil tertawa.
Rena berlari menuju meja makan. Terlihat semua sudah berkumpul di sana, untuk memulai sarapan pagi.
"Lho kok baru sarapan pagi, apa semuanya bangun kesiangan seperti diriku? tanyanya pada mereka.
Mereka pun tertawa. "Bukan karena itu tapi karena Ommu baru saja pulang dari berjalan-jalan keliling komplek dengan kakekmu Burhan," kata Izah.
"Oh aku kira semuanya bangun kesiangan," kekehnya.
"Itu kamu," kata iza membuat dia tertawa.
"Di kamar Mam," jawab Rendra
Mana ada? Mama baru ke sana," kata izah,
"Mungkin saja aku lagi di kamar mandi, Mam," kata Rendra.
"Ya sudah, ayo kita mulai sarapan!" katanya Amar mulai memimpin doa dan mereka pun sarapan dengan tenang.
Di sebelah kanan tempat duduk Dicky terdapat roller bayi di mana baby Alfan tidur dengan nyenyaknya.
Sementara kedua orang tua mereka sedang sarapan pagi.
"Nanti jam 10.00 kita akan menjemput Kakak iparmu, Anin Di rumah sakit, apa kau ikut Dik," tanya Izah kembali.
__ADS_1
"Tidak mam, aku akan menemani Nara, Mam karena aku belum mendapatkan babysiter untuk baby Alvan.
"Baiklah Siapa yang mau ikut nanti biar yang membawa mobil bang Juned sama Rendra," jawab Izah
"Apa kakek juga ikut dan Nenek juga ikut?" tanya Rendra.
"Sebaiknya Papa menunggu di rumah saja sambil menggendong baby Alfa," kata iza.
Terserah kamu saja mama dan papa ini sudah tua," kata Burhan.
Siapa yang bilang, kek? Kakek masih gagah," kelakar Diki yang mendapat pukulan keras dari sang kakek.
"Oh jadi aku tahu, Mama itu sering memukul ternyata mewarisi dari kakek," kata Dicky kembali Sambil tertawa yang membuat Izah menyebikan bibirnya.
"Itu bukan merupakan warisan sifat dari kakekmu, tapi itu spontanitas karena jengkel dan gemas saja," kata izah.
"Ya sama saja Ma, kakek tadi juga jengkel,"kata Diki terkekeh yang membuat Burhan juga tertawa. "Senangnya ya kalau kita berkumpul begini sayangnya Rendra tidak bisa selalu datang ke sini karena dia juga harus menjaga ibunya," kata Burhan.
"Kalau satu sampai dua hari saja tidak apa-apa kek, tapi kalau lama juga kasihan ibu yang sendirian di rumah," jawab Rendra pad kakeknya
"Iya betul kamu, Ren," kata Kakek.
Akhirnya mereka berangkat dengan satu mobil saja yang berisi 4 orang termasuk Rendra yang mengemudikan mobil itu.
Ammar duduk di depan di samping Rendra yang sedang mengemudi.
Rena duduk di bangku tengah bersama sang tantenya kemudian Rendra mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Beberapa menit kemudian, mereka pun sampai ke rumah sakit. Rafa sudah membereskan biaya persalinan istrinya tinggal menunggu jemputan dari keluarganya.
Rombongan keluarga pun keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah sakit langsung berjalan menuju ruang perawatan Anin, sesampainya di sana mereka pun melihat semua sudah siap untuk dibawa pulang.
__ADS_1
Izah menggendong bayi Ehan dan Rafa menuntun sang istri berjalan ke luar menuju area parkir, sedangkan Rendra membawa koper mereka menuju mobil.