
Vino terbangun, saat adzan dhuhur berkumandang ia pun segera mengambil wudhu dan menunaikan Sholat, setelah itu dia turun kebawah di melihat tante Izah masih sibuk menata meja makan untuk makan siang, Vino menghampiri sang tante. "Ada yang bisa di bantu, Tan?" tanyanya pada Izah.
"Gak usah, Vin. Tante sudah mau selesai," kata Izah.
"Maaf tan, Vino di sini malah molor," katanya pada Izah.
"Gak apa-apa, Vin. Baru datang, 'kan?"
"Iya,Tan. Rena kemana ya?" tanya Vino
"Oh, Rena lagi pergi sama Rendra," jawabnya.
"Siapa Rendra, Tan?" tanya Vino lagi sambil mengambil bronis.
"Anak Angkatnya Tante yang baru dari Boston," jawab Izah
"Ooh, Anaknya Bang Diki, dimana ya, Tan?" tanya Vino pada Izah.
"Di kamar Nara, sebelah kanan tangga," jawab Izah.
"Oh, baiklah Tan, aku akan kesana," kata Vino berjalan menaiki tangga menuju kamar Nara, sampai depan ia mengetuk pintunya. "Kak, boleh masuk nih?" tanya Vino.
"Boleh, Silakan, kata Diki, setelah memasang hijab intan untuk sang istri.
Vino masuk dengan senyum mengembang, Selamat ya Kak Nara, Kak Diki, mana baby Al, Kak?"
"Itu, di box lagi terjaga," kata Diki
"Wah, gantengnya baby Al," puji Vino
"Iya dong, Papinya siapa dulu," jawab Diki.
Vino pun tertawa. "Lihat Papi mu, Dek percaya Diri sekali."
...----------------...
Di lain tempat Rendra dan Rena yang telah di area parkir rumah sakit. Rendra memberhentikan mogenya. "Bang, ini gimana turunnya?" tanya Rena bingung pasalnya dia juga membawa Rantang dan juga sangat tinggi.
"Sudah Abang pegangin nih, rantangnya," kata Rendra sambil menahan tawa, Asik juga punya cewek masih kecil dan polos, pikir Rendra.
__ADS_1
Setelah turun Rena pun mengambil Rantangnya. lalu Rendra memakirkan mogenya dan mengeluarkan handphonenya. "Sudah, gak usah lihat Serlok kelamaan, Bang. Langsung saja ke sumbernya," kata Rena sambil menarik tangan Rendra untuk segera memasuki rumah sakit.
"Ke sumbernya bagaimana?" tanya Rendra.
"Sudah Abang gak usah tanya yang penting nurut sama Rena, aku tunjukin jalan yang benar," katanya sambil terkekeh.
"Emang Abang, di jalan yang sesat?" tanyanya pada Rena
"Iya, mulut Abang itu benar-benar sesat," jawab Rena sekenanya membuatnya tertawa.
Mereka sampai di ruang kerjanya Dokter Raya, Rena mengetuk pintu ketika terdengar suara menyuruhnya masuk, mereka pun masuk, dan Raya mendongak lalu tersenyum. "Kamu, Na? Sama siapa?" tanya Raya.
"Sama Bang Ren, anak angkatnya Tante Izah, Mau antar ini ke kamarnya mbak Anin sebelah mana, Tan?" tanya Rena.
"Ayo Tante antar!" jawab Raya sambil beranjak dari tempat duduknya dan berjalan keluar di ikuti oleh mereka.
Beberapa menit kemudian, mereka pun sampai, Raya mengetuk pintu, tak lama kemudian pintu pun terbuka, terlihat Rafa berdiri di depan mereka, mata tertuju pada pemuda yang lama tak bertemu. "Hai kapan pulang? Kenapa tak menelpon?" tanyanya beruntun tanpa memperdulikan tante Rayanya.
"Aku gak guna nih, aku gak dihiraukan nih?" tanya Raya pada Rafa yang tak menengoknya sama sekali. Rafa pun terkekeh di peluknya wanita itu sambil berkata, "Trimakasih banyak Tanteku yang cantik, sudah mengantarkan mereka ke sini, apa perlu aku cium juga nih, Tan?" canda Rafa yang mendapat pukulan di tangannya.
"Aduh, sakit, Tan. Tante kok jadi kayak mama ya suka mukul," protes Rafa.
"Ini titipan dariTante, itu saja Bang, kami mau pergi kapan-kapan jenguk dedek bayinya," kata Rena sambil menarik tangan Rendra menyeretnya pergi dari sana.
"Kak Ren, aku mau bicara banyak!" teriak Rafa
"kapan-kapan saja, now I'm hers," katanya sambil tertawa dan melambaikan tangannya. Rafa terpaku, menatap pria yang sering membelanya dan melindunginya dulu, lalu kemudian terseyum mengerti jika mereka saat ini lagi dilanda asmara.
"Kalau Abang Ren mau sama Bang Rafa, sana biar Rena pulang sendiri," kata Rena merajuk.
"Eeh? Jangan! Sudah ku bilang hari ini I am yours," kata Rendra
"Besok bagaimana?"
"Milikmu juga," jawabnya sambil memakaikan helm di kepala Rena
"Tahun depan?" tanyanya lagi sengaja menggoda
"Milikmu Na," katanya sambil menaiki mogenya dan Rena naik di belakangnya tanpa di suruh di sudah memeluk pria itu dari belakang dan Rendra pun menjalankan kuda besinya itu.
__ADS_1
"Kalau begitu kapan-kapan boleh dong Rena cium bibir Bang Ren?" tanya Rena pada Rendra membuat dia terkejut dan berhenti dengan tiba-tiba hingga Rena terhuyung ke depan lalu mengeratkan pegangannya di lelaki itu.
"Bang kenapa berhenti tiba-tiba? Bikin Rena kaget," gerutu Rena
"Abang juga kaget kamu ngomong begitu, Ayo kita minggir dulu di sana!" ajak Rendra lalu ia berjalan berhenti di trotoar.
"Kenapa kok, bilang gitu sama Bang Ren?" tanya Rendra serius. Rena terkekeh. "teman-teman sudah pernah ciuman tapi aku belum, katanya mereka rasanya tidak bisa di ucapkan dengan kata-kata, aku juga ingin sekali merasakan bagaimana rasanya?"
Rendra menarik nafas panjang.
"Na, bukannya abang gak mau, abang takut di gorok sama Ayahmu dan daddy, berciuman harus nikah dulu Ren," jawab Rendra sambil menatap gadis itu dengan lembut.
"Ooh, Boleh tanya lagi gak Bang? Jangan marah ya Bang!"pintanya lagi
"Tadi Bang Ren bilang itu ku kecil, kata teman aku kalau mau besar harus di pegang pacar, apa itu betul Bang?"
"Aduh! Kamu bergaul dengan siapa sih Na? Bikin Abang Gila saja!" katanya frustasi. "Abang jangan marah! Rena kan cuma tanya?" katanya sambil menunduk tajam airmatanya menetes tanpa bisa di cegah.
"Maaf, dengarkan Bang Ren! Abang juga ingin tapi dengan cara yang halal, seperti ini saja Bang Ren salah, Jika Bang Ren ingin melakukannya, Abang harus nikahi kamu dulu, maaf tadi abang cuma bercanda, mengenai itu nanti besar sendiri Ren, satu lagi jangan bergaul dengan mereka," katanya sambil memeluk gadis itu .
"Sudah jangan nangis, nanti dikira Abang culik kamu lagi, bisa panjang urusannya, sudah ayo naik!" perintah Rendra.
Rena pun naik di belakang Rendra dan moge itu kembali melaju dengan kecepatan sedang.
"Bang Ren juga dulu kuliah di Boston?"tanya Rena.
"Iya, Sambil merintis usaha di sana," jawab Rendra
"Bang Ren sering dong lihat yang begituan?" tanya Rena
"Yang begituan bagaimana?" tanya Rendra balik
"Cewek yang pakaian minim?" tanya Rena.
"Ya sering Na, kan memang di sana begitu," kata Rendra
"Abang ngak mupeng lihat begituan?" tanya Rena lagi
"Enggaklah, Abang 'kan gak cinta, Ayo turun!" ajak Rendra.
__ADS_1