
Rafa mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang, rasa letih menderanya, Dia fokus menyetir, beberapa hari ini selalu mengerjakan pekerjaan sendiri tanpa di temani Anin karena kandungan sudah menginjak enam bulan ia tak tega jika harus mengajaknya ke mana-mana dan itu menjadi mood booster-nya. Setelah 30 menit perjalanan dia sampai ke apartemennya bergegas keluar dari mobilnya, berjalan melewati lobby dan masuk kedalam lift. Lalu keluar dan masuk kedalam Apartemen setelah menekan pasword.
Rafa berjalan menuju kamarnya ia melihat istrinya duduk di sofa dengan laptop yang masih menyalah matanya fokus pada pekerjaannya. Rafa duduk di samping istrinya lalu mencium pipi Anin yang mulai tembem. "Capek, Bang?"
"Hem," kata Rafa sambil tidur di pangkuan Anin menghadap perut Anin yang sudah besar, sambil menciumi perut Anin. "Sudah kasih makan kamu sama Bunda, Nak. Tuh, Bunda sibuk melulu sama tugasnya yaa, Nak."
Anin memukul tangan Rafa. "Sudah, Abang. Abang, sudah makan belum, Anin siapkan yaa." Masih menciumi perut istrinya Rafa menjawab, "Belum makan kamu, Yang." Anin terkekeh. "Mulai deh, ABang. Oh yaa, Tante Aila tadi siang sudah melahirkan, anaknya laki-laki, Bang."
"Kok bisa? Kan baru tujuh bulan." Rafa terkejut membalikan badan dan menatap wajah Anin.
__ADS_1
"Yang itu Anin Gak tahu, Bang. Kabar habis jatuh. Besok jenguk tante yaa, Bang."
"Iya tapi sekarang makan kamu dulu, sudah lapar dari tadi," katanya sambil
menekan save dan shut down, lalu membawa istrinya keperaduan dan terjadilah apa yang diinginkan Rafa.
Di sebuah kontrakan yang sederhana, Naya membaringkan tubuhnya di ranjang yang sederhana. Dia menatap langit-langit kamarnya, terlintas bayangan saat dia nekat untuk melarikan diri dari tuan Alex, berharap bertemu dengan Frans namun ternyata Frans tidak ingin bertemu dengannya. bahkan pesan yang di sampaikan tak pernah di balas bahkan berakhir dengan di blokir. suatu yang membahagiakan saat bisa bertemu, namun sayang ternyata cinta Itu bukan untuknya. bahkan dia melihat kebencian saat aku mendorong istrinya terjatuh Frans makin membencinya. Ketika Naya larut dalam pikirannya terdengar ketukan pintu dengan keras, dengan malasnya dia bangun dari pembaringannya berjalan menuju ke pintu lalu membukanya ia terkejut di luar sudah sudah berdiri Tuan Alex dan beberapa bodyguard-nya. Tuan Alex menepis tubuh Naya hingga terhuyung ke belakang dan masuk kedalam rumah kontrakannya Naya, Dia duduk di bangku kayu yang keras. "Hidup seperti inikah yang kau inginkan?" Alex menatap tajam Nara.
"Daddy ...." Naya menelan salivanya dan menunduk tajam.
__ADS_1
"Aku hanya ingin menjadi wanita normal yang mempunyai status pernikahan dadd, kau tak bisa memberikan itu padaku, lalu daddy tahu dari mana aku ada di sini?" tanyanya lirih
"Seseorang menelponku mengeluhkan kelakuanmu dan itu tak bisa ku biarkan Nay," katanya menatap tajam wanita itu lalu beralih pada menatap pada bodyguard-nya, mereka keluar dan menutup pintu rumah kontrakan Naya. Alex mengunci pintu dari dalam.
Nanya menatap Tuan Alex dengan waspada. "Apa yang ingin kau lakukan Dadd?" Alex tersenyum menyeringai. "Menurut mu?" katanya sambil terus mendekat. Naya berjalan mundur hingga bahu serta punggung menabrak dinding, Alex terus berjalan maju dan mulai mengukungnya. Tangan Alex mengangkat dagu Naya menatap bibir merah nan indah itu, kau meninggalkan aku dan putramu hanya untuk hidup semacam ini? Sampai berapa lama? Apa sampai uangmu habis dan kau menjual diri di sini? Apa bedanya hidup dengan ku, kau cukup layani dan berikan aku Anak untukku dan istriku cukup, kau bisa hidup berkecukupan, di sini siapa yang kau punya, bibimu? Di telah menjualmu padaku saat usiamu 14 tahun sebagai putri angkatku, tapi bukan itu tujuanku, aku tertarik padamu sejak lama," katanya sambil mencium bibir Naya dan bermain di sana begitu lama, dia baru melepaskan ketika sudah kehabisan nafas. "Dadd, tolong lepaskan aku, biar aku hidup dengan duniaku," katanya memohon.
"Tidak bisa Naya, aku dan putraku butuh itu," kata Alex sambil melihat dada Naya yang sudah basah karena ASI masih mengalir deras. "Itu sakit bukan, jika tidak keluarkan?" tangan kiri Alex meraih pinggang Naya dan tangan kanannya menarik gasper yang ada di punggung Naya hingga kebawah dan melepaskan kaitan br@nya hingga gaun yang menutup tubuh Naya jatuh kelantai tanpa bisa di cegah, begitu pula kain yang menutup dua bukit indah dengan mudah di singkirkannya Alex. "Akan ku bantu meredakan sakitnya." Tanpa persetujuan Naya bibirnya sudah menikmati buah ceri di pucuk bukit itu dan menegguk isinya dengan rakus hingga habis, lalu berganti bukit yang lainnya membuat Naya mengelincang.
"Dadd, tolong jangan," katanya lirih menahan rasa yang semakin membuatnya lemah. Alex menyudahi permainan dan memakaikan kembali pakaian Naya sambil berbisik, "Aku tak ingin bermain di sini, Sayang." Dia mengambil sapu tangan yang ada di sakunya kemudian dibekapnya Naya hingga terkulai pingsan Alex tersenyum menyeringai, digendongnya tubuh nanya sambil berkata, "Kau tetap milikku selamanya Naya, tak ada yang boleh memilikimu selain aku." Alex membuka pintu rumah Nanya dan keluar berjalan menuju mobil yang telah terbuka pintunya ia masuk dan duduk di bangku tengah bersama Naya dan di ikuti bodigurd-nya duduk di depan mengemudikan dengan kecepatan sedang melaju ke jalan raya yang lengang, di susul oleh mobil lainnya di belakangnya menuju Bandara. setelah sampai Alex menggendong tubuh Naya masuk kedalam jet pribadinya dan langsung masuk kedalam kamar yang ada di jet itu. Setelah tuannya masuk pilot dan co-pilot mulai menerbangkannya menuju Paris. Di dalam kamar itu Alex mulai menikmati malamnya dengan wanita kesayangannya itu, tak perduli walau Naya belum tersadar dari obat biusnya, bermain terus menerus seolah dia begitu amat dahaga, selama dua jam dia bermain hingga Naya mulai tersadar dan terkejut Tuan Alex sudah berada di atas tubuhnya tanpa sehelai benang pun."Kau sudah sadar, Honey. Maaf ya aku tak sabar menunggumu sadar, sebenarnya akan lebih nikmat memakanmu saat dirimu sadar." katanya sambil tertawa. Alex kembali bermain di atas tubuh itu, sambil berbisik akan ku kabulkan keinginanmu untuk jadi istri keduaku, tapi kau akan kehilangan kebebasan mu, kau akan terkurung di sana untuk selamanya, saat aku datang padamu kau harus siap, saat aku ingin punya anak kau juga tak boleh menolak." Naya menatap lelaki itu dengan tatapan terluka. "Apa aku bisa menolak? Apa aku punya hak itu? Tidak bukan?" Alex tertawa berjalan meninggalkan Naya yang tergolek di ranjang tak berdaya, masuk ke kamar mandi membersihkan diri.
__ADS_1