Menikahi Sahabatku

Menikahi Sahabatku
Cemburu


__ADS_3

Lima bulan berikutnya Usia kandungan Aila sudah berusia enam bulan sedangkan Nara, Anin dan Ratih usia kandungan mereka sama yaitu Lima bulan.


Kehidupan rumah tangga Frans dan Aila dalam keadaan baik-baik saja hingga di pagi ini saat sarapan pagi bersama keluarga Aila tiba-tiba saja ada pesan dari nomor yang tidak di kenal, Frans tak menghiraukan, ia pikir ada orang iseng, atau promo pinjaman online. Frans tetap melanjutkan sarapannya hingga nasi goreng buatan mami ludes dari piringnya. Ia mengambil gelas yang berisi air putih di depannya meminumnya untuk membasahi tenggorokannya setelah makan nasi goreng. Ia melihat Aila juga sudah selesai dengan sarapan paginya lalu ia mengajak Aila segera berangkat kuliah.


Mereka berdua pamit kepada Raka dan Rima, mencium punggung tangan mereka kemudian bersama-sama keluar dari rumah besar, Mereka masuk kedalam mobil yang terparkir di halaman rumah, Frans mulai menarik tuasnya dan menjalankannya meninggalkan rumah menuju kampus.


Dalam perjalanan handphone Frans tak berhenti berbunyi, membuat Aila menoleh pada Frans.


"Tidak tahu, Ai. Nomer tak di kenal, abaikan saja," jawab Frans sambil terus mengemudi mobilnya. Beberapa menit kemudian ia sampai di area parkir kampus. Mereka pun keluar bersama, Frans merangkul pinggang Aila, berjaga-jaga takut terjatuh apa bila kesandung batu atau tubuh lagi oleng.


Mereka berjalan ke dalam kelas, kembali terdengar notifikasi handphone Frans berbunyi. "Handphonemu berbunyi lagi." Aila melihat kearah saku celana Frans yang menyimpan handphone-nya di sana.


"Nomer tak dikenal Ai, aku tak tahu dia siapa dan apa maunya?" Frans masih berjalan tak menghiraukan suara handphone-nya, lama kelamaan membuatnya kesal di ambil handphone-nya kemudian dimatikannya lalu di masukan kedalam saku celananya kembali.

__ADS_1


Mereka sudah sampai di kelas Frans membantu Aila untuk duduk lalu ia sendiri duduk di samping Aila. Tak seberapa lama, Dosen pun datang memberikan materi. Selama dua jam mengikuti materi kuliah, hingga akhirnya Dosen menutup materinya dan keluar kelas, ada jeda satu jam sebelum mata kuliah lain, seperti biasa Ai harus mendatangi ruang kerja Dokter Danu. "Ai, apa kamu akan datang ke ruangan Pak Danu?" Frans menatap Aila. "Harus Frans, kalau gak bakal gak kasihan aku sudah berjanji untuk mau jadi adiknya," kata Ai sambil tersenyum. Frans mendengus. "La, kalau sebatas adik mestinya aku boleh ikut dong, kamu itu istriku bukan istrinya," sungut Frans.


"Sudahlah jangan berlebihan, dia itu cuma anggap aku, Adik, tidak lebih." ucap Aila sambil terus berjalan.


"Itu katanya dan kau percaya begitu saja, aku itu pria aku bisa melihat kalau dia itu menyukaimu, Ai! Apa kau tak bisa mengatakan padanya bahwa kau sudah bersuami dan tak pantas wanita datang di kantor pria yang bukan suaminya, hah!" Frans begitu marah, ia merasa tidak dihargai, ia pergi meninggalkan Aila, akan tetapi Ai menahannya. "Ayo kita kesana berdua," kata Aila pelan. Akhirnya kemarahan Frans mereda.


Mereka berdua berjalan menuju keruangan Pak Danu.


"Kan kamu gak suka Aila, jadi gak ada salahnya saya kasih perhatian ke istri kamu sebagai adik." jawab Danu tenang.


"Tahu apa Bapak dengan rumah tangga kami, saya dan Ai menikah dengan tiba-tiba dari teman menjadi istri, belum bukan berarti tidak, jadi ... Pak, berhenti memberikan perhatian pada istri saya jika Bapak menganggap istrinya benar-benar adik temui dia di saat saya ada, Ayo Ai kita pergi!" ajak Frans pada istrinya. "Maaf, Pak." Aila pergi dengan mengatupkan tangannya pada Pak Danu dan mereka keluar ruangan.


"Frans!" Aila menghentikan langkahnya dan menghempaskan tangan Frans.

__ADS_1


"Jangan katakan aku salah, Ai. Dia mencuri kesempatan untuk bisa bertemu dengan mu dengan alasan adiklah apalah." Frans menatap tajam pada Aila. "Setidaknya berikan waktu untuk memakan makanan yang di berikan padaku Frans," kata Ai menunduk.


"Apa? Aku bisa belikan makanan seperti itu, ayo kita beli!" ajak Frans kembali. Aila menatap tajam. "Bukan itu maksud ku, Frans. Masudku kau benar-benar keterlaluan Frans." kata Aila tak mau kalah.


"Apa? Aku keterlaluan, coba siapa yang keterlaluan aku atau kamu, Ai, Aku hanya pernah mencintai Nanya saja kau marah, pergi dan aku mencari mu ke mana-mana seperti orang gila, aku tak pernah menemuinya, Ai. Akan tetapi kamu, apa yang kau lakukan kau menemuinya, Ai."kata Frans dengan hati yang mulai panas kembali.


"Aku tidak mencintainya! Frans. Tidak cukupkah kau mempercayaiku." gumam Aila sambil menangis. Frans memeluknya. "Aku percaya padamu, Ai, tapi tidak dengannya, sudah jangan menangis, kalau kau menangis aku jadi ingin menciummu di sini, andai tempat ini sepi sudah habis bibirmu Ai," kata Frans sambil terkekeh. Aila memukul punggung Frans dengan keras. "Kenapa kau jadi mesum begini?" tanya Aila di antara tangis dan tawanya.


"Karena kamu istriku Ai, orang yang ternyata menguasai hatiku sejak lama, kau mengerti, Ai." bisik Frans di telinga Aila. Ailah mengangguk lalu mereka memasuki mobilnya dan mereka pun meninggalkan kampus mencari rumah makan yang menyediakan makanan sehat untuk istrinya. Tak lama kemudian mereka sampai dan masuk ke dalam lau memesan makanan untuk Aila dan ia sendiri memesan secangkir kopi, dengan sangat sabar menanti istri makan, bumil yang satu ini, menghabiskan makanan dengan sangat lahap, semenjak kehamilannya itu membuat nafsu makannya bertambah.


setelah itu ia pun meminum minuman pesanannya, segelas coklat panas, setelah selesai mereka pun membayar semuanya lalu kembali ke kampus dengan mobilnya untuk mengikuti mata kuliah lainnya.


Sementara itu Dokter Danu menghelah nafas, ia tahu ia salah tapi ia tak bisa memendung keinginannya untuk bertemu Aila, hingga mengatas namakan adik, memberikan tambahan pelajaran karena dia pintar. Dia mengakui ia tertarik pada Aila saat bertemu di pantai waktu itu, hingga kini ia tak sanggup melupakan wajah wanita itu , yang sebentar lagi menjadi ibu. Dia sadar telah memicu pertengkaran suami istri itu. Ia pun memutuskan untuk tidak menemuinya lagi.

__ADS_1


__ADS_2