Menikahi Sahabatku

Menikahi Sahabatku
Kencan Pertama


__ADS_3

selama 2 jam Rendra sibuk dengan laporan keuangan yang ada di emailnya.


Setelah bersibaku dengan laptopnya dan dirasa tidak ada masalah Ia pun menutup laptopnya, ditolenya Rena yang tertidur pulas di ranjangnya Ia pun merenggangkan otot tubuhnya lalu berjalan menuju ranjangnya.


Dipandanginya gadis yang tidur itu. Ahh, Kamu cantik sekali, rasanya aku tak sabar menunggu kamu cepat dewasa, andai waktu bisa diputar dengan cepat, aku mungkin akan sangat bahagia karena akan bisa segera menikahimu, katanya dalam hati.


Rendra menggeser tubuh gadis itu dengan sangat pelan Ia pun berbaring di sebelah Rena. Rendra memejamkan matanya untuk mengistirahatkan tubuhnya sejenak. Namun, dia tidak bisa tidur justru lebih senang melihat wajah gadis yang ada di sebelahnya bibir merah merekah menggoda nya untuk ingin diciumnya. Akan tetapi ia ingat bahwa harus menjaga gadis ini dengan sangat baik. Disentuhnya bibir Indah itu sambil bergumam lirih. "Ah cantiknya dirimu."


hari semakin sore dan Rendra membangunkan Rena dengan menepuk pipinya pelan. "Ren ayo bangun sudah sore dan segera mandi namun gadis itu tidak bereaksi seolah dia sangatlah lelah.


Rendra kembali menggoncang tubuh gadis itu tapi tidak meresponnya juga. Justru semakin pulas tidurnya Rendra terkekeh.


Rendra tergoda ingin mencium bibir itu tapi diurungkanya, dia mencubit bibir itu karena sangat gemas, mungkin terlalu keras hingga Rena bisa meresponnya dan menggerakan tubuhnya lalu membuka matanya.


"Bang, sepertinya ada yang menggigit bibirku deh, apa di ranjang Bang Rendra banyak semut?" tanya Rena. Rendra pun tertawa dan berkata, "Ya mungkin ada semut yang sedang berjalan-jalan di bibirmu dan ia gemas lalu menggigitnya."


"Masak sih Bang bisa begitu?"kata Rena.


"Bisa saja karena kamu tidurnya sangat berantakan," ucap ucap Rendra.


"Masak sih, aku tidurnya berantakan?" Ia pun bergumam liri sambil menggaruk rambutnya.

__ADS_1


Rendra tersenyum menyeringai. "sana mandi dulu! Nanti akan Abang pesankan baju untukmu setelah itu kita jalan-jalan sebentar kamu mau, 'kan?"


Rena mengangguk sambil tersenyum lalu berjalan ke kamar mandi.


Renda pun mengambil handphonenya lalu membuka aplikasi belanja dan memilih baju yang diinginkan pada butik langganannya. Di sana bisa melayani pesanan online dengan pengiriman cepat. Rendra scroll hp-nya mencari baju yang cocok untuk Rena, ketika sudah menemukan yang dia inginkan Diapun mengeklik dan memesannya, sang penjual segera merespon serta memberikan keterangan bahwa 30 menit lagi akan sampai pada tujuan.


Tidak lama kemudian Rendra mendengar teriakan dari Rena yang menginginkan untuk dibawakan bajunya. Hendra pun berkata, "pakai bath robe dulu bajunya belum datang," katanya.


"Tetapi di sini tidak ada bath robe karena aku lupa membawanya, tolonglah Bang ambilkan!" pinta Rena.


"Tunggu sebentar ya! Akan Abang ambilkan," jawabnya. Ia pun membuka lemari miliknya dan mengambil bath robe yang belum dipakainya lalu berjalan ke kamar mandi kemudian mengetuk pintunya. "Ren tolong buka pintunya sedikit saja ini aku bawakan bath robe yang kamu inginkan."


Rena terkejut dan tersipu, dia baru sadar jika saat ini dia sedang tidak memakai apapun, dengan cepat ia pun menutup kembali dan membukanya sedikit.


Rendra menggelengkan kepala. Sangat menakjubkan gadis ini, sungguh bikin pusing kepala, aku nggak bisa membayangkan akan seperti ini dalam jangka waktu 5 tahun, pikirnya.


Akan tetapi bagaimana lagi aku terlanjur menyukainya jadi bagaimanapun dia tetap akan setia menunggu pasanganya dewasa. Rendra segera memberikan bath robe kepada Rena, lalu meninggalkannya kembali duduk di sofa kamar tidurnya. Gadis itu menerimanya kemudian menutup kembali pintu kamar mandi. Setelah ya mengenakan bath robe dia segera keluar dari kamar mandi sambil tertawa. "Maaf Bang, salah sendiri menjauhkan bath robenya, membuatku tidak bisa menjangkaunya."


Rendra pun mengacak rambut gadis itu. "Jangan diulangi lagi ya, kalau kamu seperti itu Abang bisa gila," katanya.


tak lama kemudian terdengar ketukan pintu di kamarnya dan suara ibunya berbicara dari luar. "Ren tolong buka pintunya ada pesanan untukmu." "Baiklah Bu sebentar," katanya sambil berjalan menuju pintu kemudian dibukanya dan terlihat di depannya ibunya membawa paper bag. Ibu memberikannya kepada putranya dan berpesan, "Jangan terlalu lama di kamar berdua tidak baik."

__ADS_1


Rendra pun mengangguk lalu masuk ke dalam kamarnya dan memberikan paper bag itu pada Rena. "Gantilah baju dulu, aku akan menunggumu di luar! Kalau sudah selesai keluarlah!"


Rena pun membuka paper bag dan merasa senang dengan baju pilihan Rendra, baju terusan dengan warna blue yang cantik dan lebar serta celana legging sebagai d@l@m@nnya karena mereka pergi menggunakan motor. ia pun segera berganti pakaian setelah selesai dia pun keluar dari kamar Rendra.


"Tunggu di mushola Nanti kita salat ashar bersama." Rendra pun pergi menuju kamarnya untuk segera membersihkan dirinya, beberapa menit kemudian, Ia pun keluar dengan kaos dan celana pendek sebatas lutut sambil membawa sarung lalu dipakainya salat berjamaah.


Setelah selesai Hendra berpamitan kepada ibunya kalau dia akan keluar dengan Rena dan akan menginap di rumah mama Izah.


Rendra memasangkan helm pada Rena begitupun ia, kemudian segera menaiki mogenya yang diikuti oleh Rena yang duduk di belakangnya.


Beberapa saat kemudian kuda besi itu pun berlari meninggalkan rumah Rendra, melaju dengan kecepatan sedang.


Ketika Rena melepaskan pegangannya Pria itu memacu kecepatan lebih kencang untuk menggoda Rena hingga membuat gadis itu ketakutan dan kembali memeluk tubuh pria itu.


Hendra mengajaknya berjalan-jalan di tempat-tempat yang biasa dikunjungi orang yang sedang berkencan. Sore itu mereka pergi ke sebuah taman di mana banyak anak-anak kecil bermain di sana. Berbagai mainan ada di sana mereka duduk di bangku taman sambil menikmati celotehan lucu anak-anak yang sedang bermain di sana. Rendra pun mengisahkan bahwa dulu dia tidak pernah bisa menikmati bermain bersama temannya karena hari-harinya selalu diwarnai dengan bekerja dan bekerja.


Dia berkata, "Dulu aku di usia dua belas tahun sudah bekerja ikut dengan om Amar karena aku tidak ingin mendapatkan sekolah secara gratis tanpa harus berusaha keras. Om Amar memberiku pekerjaan di administrasi hotelnya. Di situ aku mulai belajar banyak hal tentang bisnis dan perhotelan. Aku mulai giat belajar agar aku dapat beasiswa kuliah di luar negeri. Ayahku meninggal saat usiaku delapan tahun saat itu aku melihat ibu bekerja sangat keras untukku.


Ibu mengambil cucian dari beberapa warga yang memang tidak sempat mencuci karena kesibukan bekerja.


Dia memandang rerumputan yang bergerak tertiup angin ingatannya tertuju pada masa lalu yang tak bisa di lupakan begitu saja.

__ADS_1


__ADS_2