
Anin tertatih mengikuti langkah Rafa yang begitu cepat, hingga kakinya harus terkilir dua kali. Anin menahan rasa sakit di pergelangan kakinya Rafa masuk kedalam lift menekan tombol 10, lift tertutup dan bergerak ke atas.
Rafa melepaskan cengkraman tangannya ke tangan Anin.
Anin pun melepas high heelsnya dan menjinjingnya . Lift berhenti dan pintu lift terbuka Rafa kembali meraih tangan Anin namun tak sekuat tadi.
Berjalan sedikit pelan mendahului Anin. tepat di pintu Apartemen mereka berhenti.
Rafa menekan paswordnya pintu pun terbuka ia pun masuk dan masih menggenggam Anin berjalan ke kamarnya.
Setelah sampai, di tariknya ke depan lalu di dorong hingga terhempas di atas ranjang dengan posisi terlentang dan kaki menekuk di bibir ranjang menjulur kelantai.
Rafa mengukung tubuh wanita itu menyambar bibirnya dan mencium dengan kasar. Air mata Anin mengalir tak tertahankan sambil menatap nanar pada Rafa.
Melihat tangisan Anin Rafa menghentikan aksinya, dia menghapus air mata Anin lalu bangkit dari tubuhnya, berjalan mengambil kotak obat dan kembali lagi ke ranjang di angkatnya kaki Anin dan diletakkan di atas ranjang.
Di ambilnya salep pereda nyeri otot, dioleskan pada pergelangan kaki Anin yang sedikit membiru.
Setelah selesai Rafa menatap sendu mata wanita itu.
Rafa menghelah nafas panjang membuang tatapan ke arah lain. " Kau itu tanggung jawab ku Nin, kalau kau punya masalah karena perintah ku harusnya katakan pada ku, aku akan bereskan." kata Rafa sambil melempar surat kontrak itu di dekat tubuh Anin.
Rafa berjalan ke kamar mandi masuk ke dalam dan menutupnya kencang,
*Brakk*
Anin terjengkit kembali. Di ambilnya kertas yang di lemparkan Rafa.
"Surat kontrak," gumamnya dalam hati.
Di sana terdapat setempel lunas.
Di nyalakan hpnya, ada pesan dari katerina. di sana ia menjelaskan apa yang dilakukan Rafa untuknya agar bisa berhenti dari pekerjaannya.
Dia melihat pintu kamar mandi yang tertutup rapat, hanya terdengar samar-samar gemiricik air di dalamnya
Anin menghelah nafas," Maaf Fa." katanya lirih.
Tak lama kemudian Rafa pun keluar dari dalam kamar mandi dengan hanya berbalut handuk sebatas pinggang.
Di bagian dadanya dan punggungnya terdapat buliran air yang menetes dari rambutnya yang basah.
__ADS_1
Ia mengambil baju gantinya di lemari dan lansung memakainya di dalam kamar.
Dilemparkannya handuk basahnya ke tubuh Anin hingga mengenai wajah istrinya itu Anin mengerutkan bibirnya, sambil melihat ke arah Rafa. namun Rafa tak melihatnya sama sekali. Ia sibuk menyisir rambutnya.
"Mandi sana, yang ada di meja itu untuk mu." katanya lagi tanpa melihat Anin lalu keluar kamar.
Rafa mengambil kamera dan masuk kedalam ruangan kerjanya.
Yah Rafaza Raditsha Dintara dari kecil menyukai kamera, hasil jepretannya luar biasa ia menyabet juara1 fotografi di event-event bergensi, hingga di usia 15 tahun dia diperkerjakan di Production house ternama.
Anin menghelah nafas di ambilnya salep yang tergeletak di atas ranjang di taruh di meja. Di ambilnya handuk basah suaminya itu lalu berjalan tertatih ke kamar mandi Anin keluar kamar dengan tubuh Fresh sehabis mandi.
Memakai baju kesukaan Rafa Anin berjalan menuju dapur ia tak menemukan Rafa.
Dahinya mengernyit ketika melihat sebuah kotak besar yang masih terbungkus plastik hitam.
Di buka dan di ambilnya kotak itu di atasnya tertulis pesan.
Buang laptop usang mu, mencemari mata ku setiap kali melihatnya. Aku ganti yang lebih manusiawi sedikit jadi pakai lah.
"Apa tidak ada kata yang manis untuk memberikan hadiah saja pesannya menyebalkan." Gumamnya lirih.
"Kenapa kau keberatan?"
"Enggak aku suka Fa, terimakasih."
"Hem," jawabnya sambil melihat Anin yang sedang duduk di kursi, sesaat mengeryit lalu melebarkan matanya.
"Berdiri!" perintah Rafa
Anin pun berdiri sedikit canggung.
"Ganti pakaian mu dengan yang lebih sopan!" perintahnya lagi
"Apa kita akan keluar Fa?"
"Tidak, saat ini aku sedang tidak suka kau memakai baju seperti itu."
Anin menghela nafas lalu berjalan ke kamar, saat di depan pintu kamar suaranya terdengar lagi, " Tolong buatkan mie instan rebus 2 bungkus dan taruh di ruang kerjaku!"
"Ya," jawab Anin singkat dan langsung ke kamar.
__ADS_1
ia mengambil baju tidur kesukaannya setelan atasan lengan pendek bergambar kuda poni dan celana panjang.
Sambil menggerutu ia berganti pakaian,
"Aku sedang tidak suka kamu berpakaian seperti itu, memangnya aku suka apa? dia sendiri yang minta dia sendiri juga yang mencela, dasar aneh aku mimpi apa bisa nikah dengannya."
Anin keluar kamar menuju dapur. Dengan cekatan ia mengambil bahan-bahan dari kulkas sayur, telur dan sedikit cabe.
setelah berkutat selama 15 menit mie kuah dengan telor mata sapi sudah siap.
Anin berjalan menuju kamar kerja Rafa mengetuk pintunya, dari dalam pintu terdengar suara perintah masuk.
Anin membuka pintu dan masuk, dia menoleh ke kiri dan ke kanan mencari tempat untuk menaruh mie pesan Rafa.
"Taruh di meja itu saja!" katanya tanpa menoleh.
Anin meletakkannya di meja, lalu keluar dari ruangan kerja Rafa, Anin menghelah nafas seperti ada yang hilang. Walaupun Anin merasa bahwa Rafa tak pernah manis berbicara dengannya namun apa yang dilakukan padanya akhir-akhir ini membuatnya rindu, sikap nakalnya yang selalu mengerjai dirinya hari ini hilang seperti dia tak diperhatikan lagi.
Rumah terasa sepi tak ada perdebatan, tak ada cacian dan sifat usilnya.
Anin menyadari bahwa dirinya lah yang bersalah, seolah tak menghargai keberadaan suaminya itu hingga membuat ke putusan sendiri.
Anin membuat mie instan kembali untuk dirinya sendiri.
Perutnya terasa keroncongan minta di isi.
dia dengan cepat membuat mie instan goreng dengan telor mata sapi. Setelah masak di bawanya kemeja makan, berdoa lalu lahapnya dengan cepat, dan mengucapkan hamdalah ketika sudah merasa kenyang.
Setelah itu mencuci piringnya sendiri dan perkakas dapur.
Setelah selesai semua ia membawa laptop baru yang di berikan Rafa di liriknya ruang kerja Rafa, masih sama seperti yang tadi tertutup rapat.
Anin berjalan menuju kamarnya, di lihatnya kembali laptop hadiah Rafa. Dia tersenyum sendiri dia tak mengira Rafa memperhatikan laptopnya yang usang.
Walau cara bicaranya pedas namun begitu sangat perhatian.
Semoga saja suatu saat dia akan berubah lebih manis lagi padanya.
Anin merebahkan tubuhnya sambil memeluk laptop pemberian Rafa hingga dia tertidur.
Rafa keluar dari ruangan kerjanya menuju dapur di taruhnya mangkok kotor di tempat cuci piring.
__ADS_1
Dia berjalan ke kamarnya sekedar ingin tahu keadaan Anin, ketika ia melihat Anin tidur sambil memeluk laptop ia pun terkekeh," Norak kayak anak kecil dapat mainan baru." katanya lirih mengambil laptop di tangan Anin dan ditaruh di meja.
Dia sendiri merebahkan tubuhnya yang lelah di sebelah Anin.