
Setelah melewati perjalanan panjang yang membutuhkan waktu 21 jam lebih mereka berada dalam perjalanan udara.
mereka tiba di Bandara sukarno- hatta keesokan harinya.
Merekapun sampai jam 9.00 pagi dan langsung di jemput sang sopir, Angga menelpon Ammar da menanyakan tentang Rena, putrinya yang menginap di sana, saat mereka ada di Boston.
"Assalamualaikum, Amar Bagaimana kabarmu?" tanya Angga pada Amar
wa'alaikumsalam, aku baik Mas. Syukurlah Aku mau menanyakan tentang Rena dia tidak bikin ulah, 'kan?" tanya Angga.
"Nah itu dia, Aku ingin membahasnya denganmu, Mas. Datang di hotelku di tempat di ruangan kerjaku," kata Ammar pada Angga
"Ck, ada apa dengan gadis itu aku baru saja sampai dan masih dalam perjalanan, belum juga sampai rumah kau suruh aku ke sana," kata Angga pada Amar.
Amar pun terkekeh "Ya, pulang dulu ke rumah baru ke sini, gampang, 'kan?" saut Angga
"Enak saja kau bilang gampang lalu bagaimana aku izin Dengan istriku?"
"Ya izin saja, tinggal izin, 'kan?" kata Ammar kembali tertawa.
"Ah kau ini merepotkan saja?" jawab Angga.
"Ini bahas anak mu loh Mas," kata Amar masih tertawa.
"Oke aku akan ke situ," katanya sambil mematikan teleponnya tanpa mengucapkan salam.
Beberapa menit kemudian dia pun menepuk dahinya. "Ah, lupa," gumamnya lirih.
"Pak kita ke hotel Ammar?"perintah Angga kepada supirnya.
"Ada apa mas? Kenapa kamu harus ke hotel dulu?" tanya Rika
__ADS_1
"Tidak ada apa-apa, Bun? Hanya ada masalah kecil yang harus di bicarakan, tidak usah kuatir. Bunda sama Deddy, pulang saja nanti ya, "perintah Angga.
"Bener nih Ndak ada apa-apa? Apa perlu Daddy ikut sama kamu? Supaya clear masalahnya," tawar Raka.
"Nggak usah ini hanya masalah kecil jadi pulang saja sama Mama," kata Angga
"Baiklah kalau begitu! Terserah kamu saja," kata Raka pada Angga.
"Oke, Dad! Beneran gak ada apa-apa, hanya masalah kecil saja, Amar ingin konsul saja mengenai usahanya mungkin," Kata Angga pada deddy-nya. "Oke kalau begitu Daddy nggak perlu khawatir yaa, jadi langsung pulang saja nanti," kata Raka pada putra pertamanya itu.
"Oke Dad," jawab Angga.
mobil pun berhenti sebuah hotel bintang lima, Angga pun keluar dari dalam mobil berjalan menuju lobby dan masuk ke dalam lift yang mengantarkannya di ruang kerja adiknya itu. Setelah sampai lantai paling atas Ia pun keluar berjalan menuju ruangan CEO di mana adiknya berada. Setelah sampai di depan ruangan Ammar, Angga mengetuk pintu beberapa kali hingga suara terdengar dari dalam menyuruhnya untuk masuk.
Dia pun membuka pintu lalu masuk ke dalam dengan raut wajah yang sedikit tegang kemudian dia duduk di di kursi depan adiknya. "Ada apa sebenarnya "Katakan padaku, kau membuatku khawatir saja," kata Angga setelah duduk.
"Kamu masih ingat anak angkatku bukan yang bernama Rendra itu?" tanya Ammar.
"Dia itu suka sama Rena, seperti sudah lengket banget, sering jalan berdua, Rendra juga gak mau main-main, dia serius sama anakmu, Mas. Dia tuh minta aku bicara sama kamu dulu, soal maksud dia untuk nikah siri, setelah menikah tidak harus tinggal bersama, tinggal di rumah sendiri-sendiri juga gak apa-apa. Asal dia itu bisa jemput pulang-pergi sekolah dan ngajak keluar bareng gitu," kata Ammar pada Angga.
Angga menghelah nafas, "Cepat banget dia jodohnya yaa, Rena itu masih kecil, dia itu umurnya baru genap 14 tahun besok, dan ini gak bisa aku putuskan sendiri, apalagi nikah siri, justru aku takut terjadi apa-apa," katanya Angga.
"Apa kau ingin mereka Nikah secara agama dan negara?" tanya Ammar
"Ya, tentu, apa dia tidak bisa menunggu hingga Rena berusia 18 tahun dan sudah lulus SMU," tanya Angga pada Ammar.
"Dia hanya ingin menjaga putrimu, Mas. Dia gak akan mintak haknya sampai putri itu layak, kalau dia kau suruh menunggu kemungkinan besar dia akan kembali ke Boston, Karena kalau pun dekat ia tak akan sanggup untuk melihat putri dari kejauhan sedangkan untuk berdekatan pun juga tidak mungkin, lebih baik kau rundingkan dengan mbak Rika juga Rena gimana baiknya," kata Amar pada Angga.
Angga kembali menarik nafas dalam dan menghembuskan dengan perlahan.
"Ok! baiklah sebelum itu aku ingin bertemu dengan Rendra, Apa bisa kau panggil ke sini dia?" tanyanya kemudian
__ADS_1
"Baiklah aku telpon dia sekarang," kata Ammar pada Angga.
"Aku dari bandara langsung kesini loh, kau itu keterlaluan sekali, aku baru datang sudah kau suruh ke sini," protes Angga pada Adiknya.
"Tuh di sana ada kamar mandi pakai saja dan ada pakaian ku juga di sana tinggal pilih saja," katanya sambil tertawa.
Angga beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju ruang privasi Ammar.
Ammar segera menghubungi Rendra, menunggunya beberapa saat, akhirnya tersambung juga. "Assalamualaikum, Dad. Ada apa, Dad? Apa Daddy
perlu bantuanku?" terdengar suara Randra dari seberang sana.
"Datang kemari segera! Ada yang perlu dibicarakan denganmu sekarang juga!" kata ammar dengan tegas. "Baiklah aku akan segera ke sana," jawab Rendra.
Ok! Daddy tunggu yaa, Assalamualaikum.
"Waalaikumsalam Dadd. Telepon pun terputus.
Amar melakukan intercom, meminta room servis hotelnya untuk mengantar makanan dan minuman ke ruangannya. Setelah itu, dia pun terpaku di tempat duduknya menatap diding ruangannya yang menjadi saksi betapa tangguhnya anak lelaki itu.
Masih teringat jelas olehnya seorang anak lelaki yang berusia 12 tahun berdiri di depannya dan menolak untuk mendapatkan biaya sekolah gratis darinya, justru meminta pekerjaan padanya dan terngiang di telinganya, "Beri aku pekerjaan Om," kata anak lelaki itu dan sejak saat itu dia menjadi pekerja part time di hotelnya.
Beberapa saat kemudian room servis pun datang membawa makanan serta minuman yang dipesan oleh Amar.
Setelah setengah jam berada di ruang privasi Adiknya, Angga keluar dengan pakaian santai milik Ammar. "Aku tuh mau rebahan di situ sebenarnya tadi, tapi gak jadi teringat dan curiga kalau tempat itu kamu jadikan arena pertarungan dengan istrimu," sarkasnya.
Ammar tertawa. "Enggaklah ada ruang lain yang lebih spesial untuk itu."
"Beneran begitu?" tanya Angga pada Adiknya itu sambil terkekeh.
Di tengah percakapan mereka terdengar salam dari dari luar. Mereka pun menjawab salam lalu mempersilahkan tamunya untuk masuk.
__ADS_1
Masuklah pemuda yang gagah dengan senyum tersungging di bibirnya tanpa ragu mencium punggung tangan Amar dan juga Angga, saat itulah Angga terkesan oleh pria ini dia melihat ada kecocokan sisi sifat dari putrinya dengan lelaki ini.