
Saat ini Devan sudah berada di dalam pesawat, hanya menunggu beberapa menit lagi untuk take off. Ia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan kedua orang tuanya. Ia juga tidak memberi tahu orang tuanya jika hari ini ia terbang ke Kanada. Devan sengaja ingin memberikan kejutan untuk mommy dan daddynya.
Perjalanan dari Jakarta ke Vancouver, Kanada memakan waktu kurang lebih 18 jam. Selama perjalanan tidak banyak yang Devan lakukan selain hanya tidur, karna memang beberapa hari ini ia kurang tidur, namun bukan pekerjaan yang membuatnya susah tidur. Beberapa waktu lalu, orang tuanya menghubunginya, selain menanyakan kabar, mereka juga menanyakan perkembangan asmara anaknya itu. Mereka menginginkan anak lelaki semata wayangnya itu segera menikah, bahkan mereka sendiri sudah menyiapkan calon istri yang menurutnya pas untuk anaknya.
Hal itu membuat Devan tidak bisa beristirahat dengan tenang. Selama ini orang tuanya memang tidak pernah menuntutnya untuk segera mengakhiri masa lajangnya. Ia dan orang tuanya memiliki karakter yang sama, yaitu santai, selama itu masih wajar. Namun jika orang tuanya sudah berbicara demikian, berarti ini hal serius bagi Devan. Memang usia Devan belum memasuki kepala tiga. Namun, ia juga bisa memaklumi permintaan orang tuanya, karna memang selama ini Devan belum pernah mengenalkan satu pun wanita kepada orang tuanya, bukan karna apa, tapi memang Devan belum menemukan sosok yang pas untuk dijadikan masa depannya. Prinsipnya adalah, ia hanya akan membawa gadis pilihannya ke depan orang tuanya jika ia sudah benar-benar yakin dengan pilihannya.
Dan persoalannya saat ini adalah Devan belum memiliki pasangan, bahkan hanya sekedar gebetan ia tidak ada, biasanya ia akan mengencani beberapa wanita, tapi sudah lama ini Devan tidak lagi terlihat dekat dengan para wanita, karna saat ini ia masih malas untuk hal itu.
°
°
°
Keesokan harinya, tepat pukul 11:00 siang, Devan tiba di Vancouver Airport. Devan melihat jam di pergelangan tangannya sudah menunjukan pukul 2 pagi hari Senin, sedangkan di Kanada masih hari Minggu siang. Perbedaan waktu kurang lebih 12 jam lebih lambat dari Jakarta bagi Devan sudah biasa. Biasanya hal itu Devan gunakan untuk menjahili dua sahabatnya. Dulu sebelum Nantha menikah, setiap tiba di Kanada pada siang hari ia langsung melakukan panggilan video bermaksud untuk memberi kabar pada sahabatnya itu bahwa ia sudah tiba. Namun bukannya mendapat balasan yang ramah, Devan justru mendapat semprotan dan cacian dari Nantha karna telah mengganggu waktu istirahatnya. Akhirnya sampai saat ini hal itu ia lakukan untuk mengusili teman-temannya. Mengingat hal itu membuat Devan terkekeh.
Karna Nantha juga sudah menikah, ia tidak mau mengganggu, takut macan betina sahabatnya itu mengamuk. Ia hanya akan menelpon Dion. Panggilan terhubung dan langsung di jawab oleh Dion.
"**** kamprett lu. Ngapain lo nelpon gue? Lo mau bilang kalo lo udah nyampek dan mau gangguin gue tidur kan." semprot Dion yang langsung kesal dengan Devan. Ia sudah sangat hafal dengan maksud Devan menelponnya.
"Eitssss chill bro.." ujar Devan menenangkan Dion dengan kekehannya.
"cal cil cal cil, enak aja lo bilang. Asal lo tau ya, gue belum tidur. Tapi lo udah gangguin gue nelpon sama ayang gue." sahut Dion.
"Emang dasar kamprill lo." lanjutnya kesal.
"Woee anak orang lo ajak begadang." balas Devan.
"Gue aduin bapaknya juga lo." imbuhnya.
"Justru ini gue lagi nemenin doi, karna ga bisa tidur gegara di tinggal ama emak bapaknya di luar kota." ujar Dion.
"Ah masak sih." ujar Devan dengan tengilnya.
__ADS_1
"Udah sono lo, sampek cewek gue ngamuk gue tonyor lo." ujar Dion.
"Aduh takut adek bang." balas Devan dengan suara yang di buat-buat.
"Najiss!"
Tut Tut Tut
Telpun di matikan sepihak oleh Dion, membuat Devan tertawa puas.
Hahahahahaha
Devan puas sekali mengganggu Dion. Ini lebih menyenangkan dari biasanya jika saat di telpon Dion sudah di bawah pengaruh alam mimpi, kini sahabatnya itu di bawah pengaruh kekasihnya yang minta di temani, dan dengan santainya Devan mengganggu quality time mereka berdua, yang mana itu sangat menyenangkan bagi Devan melihat wajah kesal sahabatnya itu.
°
°
°
Sekitar kurang lebih 45 menit ia telah sampai di depan sebuah bangunan yang ia rindukan. Yaap, rumah kedua orang tuanya di Kanada yang sudah hampir satu tahun tidak ia kunjungi.
Sebelum masuk rumah, ia memakai masker, kacamata, dan hoodienya, sedikit penyamaran agar orang tuanya tidak langsung mengenalinya.
Ting~
Pintu terbuka, munculah sosok wanita paruh baya yang masih terlihat sangat cantik meskipun ada beberapa keriput di kulitnya. Melihat mommynya yang keluar Devan langsung menundukkan kepala.
"Excusme, Mrs. Mahendra. (Permisi, Nyonya Mahendra)" ujar Devan menyapa mommynya.
"Yes, I am. (Ya, dengan saya sendiri)" balas mommy Devan.
"Who are you? Can I help you? (Siapa kamu? Ada yang bisa kubantu?)" lanjutnya.
__ADS_1
"I want hug you. Can I do it now? (Aku ingin memelukmu. Bisakah aku melakukannya sekarang?)" ujar Devan dengan menahan tawanya.
"Damn! Who's you?! (Kurang ajar. Siapa kamu?!)" ujar mommy yang mulai kesal dengan sikap orang di depannya yang menurutnya tidak sopan.
"Go or I will call my husband to come out. (Pergi atau aku akan memanggil suamiku agar keluar)" imbuhnya.
"Ohh, call your husband. I think I want to hug him too. (Ohh, panggil suamimu. Aku pikir aku juga ingin memeluknya)" ujar Devan.
"Wait.. Your sounds like familiar. (Tunggu.. Suaramu seperti tisak asing)" ujar mommy yang mulai sadar akan suara Devan.
"Like.. like my son. (Seperti.. seperti suara anakku)" lanjutnya dengan terbata.
"Yes, I am mom. (Ya, ini aku, mom)" balas Devan langsung menatap mommynya dengan membuka hoodie di kepalanya, kacamata, serta maskernya.
"Devan... !! is it real? (Devan...!! Ini beneran?)" mommy memastikan.
"No, mom. I'm just a statue. (Bukan, mom. Aku hanya patung)" balas Devan dengan memutarkan kedua bola matanya.
"Hahaha mommy pikir ini mimpi sayang." ujar mommy mengusap wajah Devan.
"So, don't you want to hug your son? (Jadi, apakah kamu tidak ingin memeluk anakmu?)" tanya Devan, dan langsung mendapat pelukan hangat dari ibunya tercinta.
"Kenapa nggak bilang mommy or daddy kalo mau kesini. Kan bisa di jemput." ujar mommy.
"Sengaja buat surprise, mom." balas Devan.
"Daddy kamu belum tau. Yuk kagetin dia." ujar mommy mengajak Devan masuk rumah.
"Hahaha..."
Setelah acara pertemuan ala Devan dan kedua orang tuanya, kini Devan berada di kamarnya yang ada di lantai atas untuk bersih-bersih dan membereskan beberapa barang yang ia bawa. Tidak banyak yang ia bawa, karna barangnya di rumah itu pun juga sudah lengkap.
Selesai dengan aktivitasnya, Devan kembali turun ke lantai satu untuk makan bersama mommy dan daddynya, setelah itu mereka bertiga akan berkumpul di ruang keluarga untuk melepas rindu satu sama lain.
__ADS_1
Canda tawa memenuhi ruangan yang memiliki interior serba putih dan gold itu. Hingga suara celetukan mommy Devan membuat tawa Devan terhenti.