Menikahi Sahabatku

Menikahi Sahabatku
Kencan dengan Kakek


__ADS_3

Wa'alaikumsalam. Mereka pun menutup panggilan videonya, Frans menatap Aila yang masih fokus pada layar handphone-nya mencari video putranya, setelah ketemu ia kirimkan kepada, Bara dan Ratih, merasa ada yang memperhatikan Aila menoleh pada Frans. "Apa?" Pria itu tersenyum.


"Sekarang kita mau kemana? di ruangan ini saja ataukah kita jenguk Yhas ataukah berjalan-jalan di taman?" tanya Frans pada Aila.


"Kedua-duanya, kita kunjungi Yhas dulu baru nanti kita ke taman," ujarnya.


"Baik, Ratu. Sekarang duduklah di kursi roda ini biar aku membawa kemanapun yang kamu inginkan." kelakar Frans


Aila duduk di kursi roda lalu Frans mendorong keluar ruangan menuju ruangan bayi, di sana mereka menatap haru pada putranya yang sudah banyak perkembangan, Frans memotret sang putra dan merekamnya dengan kamera ponsel Aila kemudian ia mengirimkan kepada Bara dan Ratih.


Setelah puas dengan melihat perkembangan anaknya merekapun keluar berjalan-jalan di area rumah sakit, dan berhenti di taman, mereka melihat beberapa anak kecil penyakit dalam duduk di kursi taman bersama orang tuanya atau bersama susternya sekedar menghibur dia dalam kesakitan. bahkan harapan hidup hanya tinggal 50% di usia sangat mudah.


Aila sangat bersyukur hanya di uji seperti ini dan Allah masih berbaik hati memberikan buah hati di saat kemungkinan untuk menjadi ibu sangatlah tipis. Aila mendongak kepalanya menatap suaminya. "Frans, terimakasih yaa, telah mendampingiku, sebagai sahabat maupun sebagai istrimu."


"Kenapa berterimakasih padaku, Mi. Akulah yang ingin selalu mengikutimu, justru aku yang harusnya berterimakasih padamu karena kau telah bertahan untuk bersama denganku walaupun kau tahu saat itu aku belum bisa mencintai mu."


"Kau salah, Frans. Aku hampir menyerah untuk mempertahankan cintaku padamu." gumamnya lirih namun masih bisa didengar oleh Frans.


"Ai berjanjilah kau tetap di sisiku apapun yang terjadi." kata Frans dan Aila tersenyum dan mengangguk.


...----------------...


Di kediaman Raka setelah sarapan pagi Rena sudah berdandan dengan rapi Hari ini adalah hari Minggu Rena ingin menghabiskan liburan akhir pekan bersama kakeknya. Ia keluar berjalan melenggang menghampiri kakeknya yang sedang berbincang-bincang dengan Diki. "Ayoh Kek, kita berangkat?"


"Mau kemana?" tanya Diki


"Mau kencan dengan cowok yang paling tampan yaitu Kakekku tercinta." jawab Rena sambil tersenyum.


"Wah ide bagus nih, Abang juga ajak Nara kencan deh," timpalnya sambil tersenyum.

__ADS_1


"Ya sudah, kalau begitu kita berangkat sekarang," kata pada cucunya yang paling kecil itu.


"Kek, Nanti aku langsung pulang yaa, mau ajak Nara jalan-jalan juga nih Kek." ijin sambil mencium punggung tangan Raka.


"Oke, tapi akhir pekan menginap di sini yaa."pinta kakek penuh harap.


"Pasti, Kek. apa yang enggak buat Kakek," kata Diki sambil tertawa.


Raka dan Nara sudah di dalam mobil yang kemudian berjalan meninggalkan area rumahnya itu.


Diki bergegas masuk lalu menaiki tangga menuju kamarnya, ia membuka pintu, nampak sang istri memakai daster terusan yang tipis tanpa lengan.


Netranya terpaku pada keindahan yang ada di kamar, membuat ia hilang selera untuk mengajaknya keluar rumah, merasa aktivitas di kamar lebih asyik dan menyenangkan.


"Bang, kok, lihatnya gitu sih, Nara itu gerah bang padahal AC nyalah loh, Bang," protes Nara.


Setelah melakukan aktivitas yang menyenangkan itu mereka pun membersihkan diri, Diki keluar dari kamar dengan hanya berbalut handuk sepinggang dengan rambut yang basah menatap istrinya sudah berganti pakaian dengan kondisi yang sama.


Nara dengan muka cemberutnya menyisir rambut yang basah.


"Jangan manyun gitu, Sayang, Abang bisa nambah loh," rayu Diki sambil tersenyum menyeringai.


"Abang itu benar-benar mesum." Nara semakin merajuk.


"Kamu yang mancing-mancing sayang, salah sendiri ngapain pakai yang tipis-tipis, Abang 'kan jadi ke pancing," katanya sambil terkekeh.


"Nara 'kan sekarang jadi malas keluar, Bang."


"Beneran nih gak mau keluar?" tanya Diki sambil mengenakan pakaiannya.

__ADS_1


"Mau, tapi jadi ngantuk." keluhnya manja.


"Nanti tidur di mobil, bagaimana mau tidak?" tawar Diki kembali.


"Mau," katanya sambil beranjak dari kursi riasnya dan berjalan mengikuti Diki keluar kamar untuk refreshing sejenak dari rutinitas bekerja.


Mereka berjalan menuju garasi, mereka pun masuk kedalam mobil dan berjalan keluar rumah menembus jalanan.


"Kita mau kemana? ke mall, taman, ataukah ke pantai,"


"Lebih suka di hatimu sih Bang," jawab Nara terkekeh.


"Ra, ini serius loh kita mau kemana?" tanyanya lagi sambil tersenyum samar.


"Baiklah, kita ke Pantai sajalah, di mall juga sangat ramai, aku malas dan takutnya malah pengin belanja kebutuhan baby, kata mama kalau usia kandungan usianya belum 7 bulan ke atas maka tidak boleh belanja dan kalau di taman bosan, Bang. Di rumah kakek, rumah sakit, dan rumah kita healingnya ke taman," jawabnya panjang lebar membuat Diki terkekeh.


Mobil mereka pun melaju ke arah pantai.


...----------------...


Sementara itu, Raka yang sedang menemani cucu bungsunya bermain itu merasa kelelahan, beberapa permainan di coba oleh Rena dan meminta kakeknya ikut serta, hingga akhirnya Raka menyerah. Rena tertawa kemudian Rena mengajak ke area ice skating. Raka hanya berdiri di luar area sambil melihat sang cucu bermain di sana, ia pun teringat saat Aila seusia Rena dia bermain di sana bersama putrinya itu, dan sekarang ia di sini bersama sang cucu di sini dan usia tidak muda lagi.


Setitik rasa haru yang di rasakan Raka saat ini keinginan untuk mendapatkan anak perempuan di usia 50 tahunan ke atas terwujut bahkan mendapatkan bonus cucu yang cantik dan pandai.


Aila kini sudah memberikan dia cicit yang tampan dan Frans mencintai putrinya lebih dari yang ia inginkan.


Rena keluar dari area ice skating berjalan menghampiri Kakeknya. "Kakek, ayo kita makan! Rena lapar," katanya sambil menggamit lengan Kakeknya meninggalkan tempat itu. Raka tertawa "Kita makan di mana cantik?" Sambil terus berjalan Rena menjawab, "Cari rumah makan di sini saja, Kakek, kedinginan, yaa?" tanya Rena merasa bersalah. Raka tertawa kembali melihat cucunya sedikit ketakutan yang melihat dirinya sedikit menggigil. "Sedikit, tidak usah kawatir nanti kalau di luar mall dan kita terkena sinar matahari tubuh akan hangat kembali. Ayo kita berburu kuliner," kata Raka pada Rena.


Mereka pun sudah keluar dari mall, berjalan mencari rumah makan atau restoran terdekat yang di inginkan cucunya."

__ADS_1


__ADS_2