
Satu Minggu berlalu baby Bayhas sudah bisa dibawa pulang esok hari, kabar ini membuat kedua keluarga menjadi sangat senang, Imran sudah menyiapkan ruang tidur bayi jauh-jauh setelah tahu Aila di larikan di rumah sakit karena pendarahan. Begitupun Raka tidak jauh berbeda dengan yamg dilakukan Imran. Raka tidak mempermasalahkan apakah nantinya Frans dan Aila akan pulang kerumahnya ataukah ke rumah Imran. Raka hanya mempersiapkan saja jika nanti sang cucu yang paling bungsu itu datang ke rumahnya. Di tatapnya ruangan itu, yang dulu adalah ruangan milik Aila ketika masih bayi. Matanya berkaca-kaca, mengenang masa-masa itu bersama putri bungsunya. Ia berharap masih bisa melihat cucunya besar dan bisa mengenal dirinya sebelum dia menutup mata, usia yang sudah tidak muda lagi itu membuat ingin selalu berkumpul dengan keluarga putra dan putrinya itu.
Sore ini Bayhas sudah dibawa ke ruang rawat Aila dan mulai meminum Asi dari sumbernya, mulut kecil itu mulai mencari punting yang menjadi perantara makanannya, setelah menemukannya ia pun mulai menyes@p dengan sangat lahapnya, beberapa kali Aila meringis karena sedikit sakit, Frans ikut merasakan ngilu saat melihat ekspresi Aila, Frans yang duduk di bibir ranjang di dekat istri dan anaknya tak melepaskan tatapannya pada putranya sedang minum dengan lahapnya. " Apa itu sangat sakit, Mi? tanya Frans pada Aila.
Aila mengangguk. "Tapi kenapa jika aku yang melakukannya kau tidak merasa sakit, justru sebaliknya," kata Frans dengan senyum menggoda kepada istrinya itu. Aila menatapnya tajam membuat Frans tertawa, bayi mungil itu tidak terusik sama sekali, seolah tak ingin orang lainnya. "Dek sisakan sedikit buat papi jangan di habiskan!" katanya sambil menoel pipi putranya itu.
Bayi itu menghiraukan Frans sama sekali. "Mirip kamu cueknya, Mi," kata Frans terkekeh. "Jangan digoda, Pi!" kata Aila menatap tajam Frans.
"Mami, mau makan apa? Papi mau keluar cari makan," katanya sambil beranjak dari duduknya mengambil dompet dan kunci mobil serta handphone-nya. "Apa yaa?" Nampak Aila berfikir. " Nasi goreng sajalah, kasih sayur yang banyak yaa."
"Baiklah, aku tinggal sebentar, yaa. Kamu gak papa, 'kan aku tinggal sebentar?" tanyanya pada istrinya.
"Iya, gak papa," jawab Aila sambil menaruh yhas di box bayi.
Frans pun keluar ruangan milik Aila berjalan di lorong-lorong rumah sakit menuju area parkir, dia pun masuk dan kemudian menjalankan mobilnya melintasi jalanan yang tak terlalu padat berputar-putar mencari penjual nasi goreng yang yang enak, tak seberapa lama Frans melintasi sebuah kedai nasi goreng yang cukup ramai dan aroma masakannya sampai di hidung Frans.
__ADS_1
Dia pun berhenti dan turun dari mobilnya berjalan menuju kedai itu lalu memesan nasi goreng dan mie goreng masing-masing dua bungkus, untuk berjaga jika di tengah malam Aila terjaga dan lapar.
Setelah menunggu agak lama pesanannya pun selesai di buat dan diberikan padanya lalu Frans membayarnya kemudian pergi dengan mengendarai mobilnya, ia pun berhenti dan masuk kedalam supermarket itu untuk membeli air mineral. Setelah itu, ia kembali ke dalam mobilnya lalu berjalan dengan kecepatan sedang menuju ke rumah sakit. Tak seberapa lama, ia pun sampai dan berhenti di area parkir rumah sakit. Frans keluar dengan menenteng kantong plastik berisi makanan dan minuman memasuki rumah sakit, ia berjalan melewati beberapa ruangan rawat inap hingga ia sampai di ruangan Aila. Lelaki itu pun membuka pintu dan masuk dalam ruangan, terlihat sang istri tengah bermain handphone-nya menoleh padanya dan tersenyum. Frans meletakannya di atas meja. lalu mengeluarkan seluruh isinya. "Ini mie goreng dan ini nasi goreng."
Banyak sekali, Pi," kata Aila pada suaminya
"Gak apa-apa, takut Mami lapar malam-malam, kan mami lagi menyusu jadi harus makan yang banyak," katanya sambil tersenyum.
"Mau yang mana? Nasi apa mie goreng?" tanyanya lagi.
"Nasi goreng dulu aja, Pi."
"Gimana enak rasa masakannya, Mi? Papi, 'kan gak tahu nasi goreng yang enak di mana? Jadi ketika lihat kedai banyak pembelinya dan baunya tercium menggugah selera, Papi masuk saja dan beli belum tahu apakah rasanya seenak baunya, Mi," kata Frans bercerita bagaimana dia mendapat nasi dan mie goreng yang dia beli tadi.
"Enak malah sangat enak sekali. Kapan-kapan ajak Mami kesana yaa, Pi. Kalau lagi makan di luar," timpalnya sambil terus menyuapkan nasi goreng ke mulutnya.
__ADS_1
"Hemm," jawab Frans dengan mulut yang masih penuh sambil mengangguk.
Beberapa menit kemudian nasi goreng pun tandas dan berpindah ke perut mereka masing-masing. Frans membersihkan sisa makanan mereka dan membuang sampahnya. Sementara itu, Aila berdiri di depan box bayi melihat sang putra yang tidur terlelap.
Frans masuk kembali dan menghampiri Aila, dan memeluknya dari belakang. "Kurang 32 hari yaa, Mi. Masih lama," katanya sambil terkekeh.
"Apanya yang masih lama?" tanyanya pura-pura tidak tahu.
"Lagaknya gak tahu, padahal tahu," jawab Frans sambil tangannya merayap ke atas, merayap area yang dia sukai.
"Kondisikan tangan, Papi?" perintahnya lirih pada suami itu sambil memukul tangannya. Frans tertawa. "Pegang saja, Mi. Kangen," katanya, sambil menurunkan gesper baju istrinya kebawah dan mengeluarkan dari tempatnya. "Sambil lihat yaa, Mi. Mumpung Yhas tidur."
Wajah Aila merona menahan malu karena ulah suaminya itu. "Makin besar yaa, Mi. Boleh cicip sedikit?" tanyanya dengan tangan yang masih setia mengembara di area itu.
"Nanti, gak kuat, Mami yang repot," kata Aila menjebikan bibirnya. Frans tertawa.
__ADS_1
"Habis sekarang itu Mami makin cantik dan makin yahud, jadi Papi itu makin suka, cinta dan selalu gak tahan kalau dekat Mami, duduk di sana sebentar yuk, Mam!" ajaknya sambil menurunkan sedikit baju Aila dan mengecup bahu istrinya yang putih itu tanpa penghalang lalu menarik tangan ke sofa, kemudian ia merebahkan badannya dan meletakan kepalanya di pangkuan istrinya memeluk erat sambil bibirnya bermain di dada wanita itu. Setelah puas ia merapikan pakaian istrinya kembali dengan menarik gesper baju Aila ke atas. "Tadi pagi rencana mau mengurus ijin cuti kuliahmu, tapi keduluan Pak Danu, dia mencuri start milikku!" katanya dengan mimik muka yang sebal. "Hanya surat cuti saja 'kan, bukan istrimu," celetuk Aila sambil terkekeh melihat ekspresi suami yang kesal itu.
"Ya, tidak boleh! Aila hanya milikku dari dulu hingga sekarang!" timpalnya dengan menatap wajah cantik istrinya itu.