
Daddy mengundangnya tapi ia tak bisa datang hanya memberikan hadiah jam tangan.
"Kenapa tidak pakai?" tanya Diki sambil menatap kagum pada istrinya.
"Aku takut Abang marah, karena salah paham." katanya terkekeh.
"Kenapa harus marah? kamu kan gak ada rasa sama dia, kalau ada rasa gak mungkin sampai patah hati sama om Frans."
Nara terkekeh, "Iya juga ya, kenapa takut Abang marah, jadi boleh ini jam di pakai."
"Ya, boleh lah sayang, pakai saja itu kan dari sahabat kamu. Kamu tunggu di sini dulu aku mau visit pasien aku dulu setelah itu kita makan siang ada tempat favorit aku."
"Ini favorit Abang sendiri atau sama dia?
Eeh, kenapa aku lupa ya, kan ceritanya tadi aku mau marah sama abang, terus aku tunda karena kawatir Abang gak fokus kan itu menyangkut nyawa orang, kok malah gak jadi sih?"
Diki tertawa, "Sudah, gak usah marah kamu gak cocok marah, dah tunggu sini dulu jangan keluyuran kemana-kemana nanti hilang, abang susah nyarinya."
"Eh? aku bukan anak kecil, Bang!"
"Lo anak kecil yang bisa bikin anak," katanya sambil tertawa meninggalkan Nara di ruangannya sendiri.
Diki pun meninggalkan ruangan menuju ruangan pasien inap yang merupakan pasien.
Dia mulai dari anak kecil yang bernama Felisah, dia memasuki kamar Felisah dan mengucapkan salam, berjalan menghampiri gadis kecil itu,"Hello, Feli. Bagaimana perasaannya sekarang?"
__ADS_1
"Baik, Dok, sangat baik." kata Feli sambil tersenyum.
Dokter Diki memeriksanya dengan sangat teliti, "Ok! istirahat yang banyak agar lekas sembuh," kata Dokter Diki sambil mengelus rambut Felisa lalu keluar dari ruangan itu lalu berjalan menuju ruang-ruang lainnya.
Dalam perjalanan visit ke ruangan pasien-pasiennya itu dia di hadang oleh Anita, "Tunggu Dik! Aku mau bicara."
Diki menghentikan langkahnya karena Anita berada tepat di depannya."Katakan apa yang ingin kau katakan walaupun sebenarnya aku tidak butuh penjelasanmu dan tidak punya urusan lagi denganmu."
"Kita belum selesai Dik, kau meninggalkanku begitu saja, tanpa ada penjelasan kenapa kau meninggalkanku, Dik bisakah kita bicara di tempat lain?"
"Katakan di sini atau tidak sama sekali."
"Mengapa kau meninggalkanku tanpa alasan?" tanya Anita pada Diki.
"Apa kau siap malu jika ku katakan di sini tentang aibmu? harusnya kau tahu apa yang membuat seorang lelaki meninggalkanmu? tentu bukanlah kesalahan yang bisa di tebus dengan kata maaf dan selesai begitu saja. ada suatu kesalahan di mana seorang lelaki meninggalkanmu walaupun lelaki itu, kau anggap sangat mencintaimu, ya jika harga dirinya terlukai maka ia akan memilih untuk pergi, dan itulah yang kulakukan padamu, jadi perlu ku ingatkan padamu jangan menyapaku, jangan memanggilku dan jangan ganggu rumah tanggaku. Awal kita tidak mengenal, jika ku putuskan untuk tidak mengenalmu lagi apa yang bisa kau perbuat."
"Tidak dan aku tidak suka kau mengusik kehidupanku dan juga istriku.
Berawal tidak mengenal andai pada akhirnya kita tidak mengenal lagi itu adalah hal yang wajar. Jadi jangan lagi merasa mengenal diriku karena aku tak ingin mengenalmu."
"Itu artinya kau masih mencintaiku, Dik. Jika tidak, kenapa kau masih merasa marah padaku jika aku berbuat salah padamu? Kau tak bisa menyembunyikan perasaanmu padaku, Dik. Aku yakin kamu masih mencintaiku itu terbukti kamu masih marah padaku, Dik."
Diki tertawa, "Begitu sombongnya dirimu, apa yang membuat aku masih mencintaimu, tidak ada sama sekali, hanya saja hatimu sangat culas hingga membuatku harus sangat berhati-hati padamu, kau bisa melakukan apa saja demi ambisihmu itu. Dan sudah ku kantakan padamu kita sudah usai sejak kau melakukannya dengan Bara saat itu di Apartemenmu. Apa kau ingin di ingatkan sekali lagi? akan ku kirimkan padamu bagaimana kamu melakukan kesalahan yang benar-benar fatal itu. Tapi aku sadar siapa diriku yang tidak punya hak untuk marah padamu, siapa kamu dulu? tak ada ikatan hukum apapun." kata Diki lalu meninggalkan Anita yang masih termangu.
Diki berjalan cepat menuju ruang kerja, dibukanya pintu lalu masuk ke dalam ia tersenyum saat melihat istrinya tertidur pulas di sofa. Ia menepuk-nepuk pipi Nara membangunkannya," Ra, bangun sayang kita makan siang dulu."
__ADS_1
Nara mengerjapkan matanya lalu merengangkan otot tubuhnya dengan suara serak habis bangun tidur, dia pun bertanya," jam berapa?"
"Jam setengah satu, bahkan kita belum sholat duhur, dengan separuh kesadarannya ia pun bangun lalu duduk beberapa saat di sofa. Setelah benar-benar sadar betul, ia menatap suaminya, "Mau kemana kita Bang?"
"Sholat dulu sayang di mushola," kata Diki sambil menggandeng sang istri keluar dari ruangannya menuju ke musholla. Setelah sampai mereka pun melakukan sholat duhur berjamaah.
Setelah sholat dhuhur mereka berjalan ke area parkir rumah sakit menuju mobilnya, mereka pun masuk dan Diki pun melakukan kendaraannya itu membelah jalanan yang mulai lengang.
Di dalam perjalanan Diki bercerita bahwa tadi waktu visit ia bertemu Anita dan Anita meminta penjelasan mengapa ia pergi begitu saja. Diki menceritakan semuanya tanpa satu pun yang ia tutupi, ia ingin hubungannya dengan Nara di mulai dengan keterbukaan pada pasangan ia tak ingin ada kesalahpahaman yang memicu pertengkaran, membuat keharmonisan yang telah di bangun susah paya rusak dan hancur karena tidak adanya saling komunikasi yang baik antara pasangan.
Awalnya Nara begitu sangat jengkel, sudah tahu dia dan Diki sudah menikah masih mengejar suaminya itu.
Nara hanya diam saja, walau suaminya tak sepenuhnya salah tetap saja membuat moodnya tidak baik-baik saja.
"Ra, kamu marah?" tanya Diki kepada istrinya sambil fokus mengemudi.
"Enggak, sebel aja Bang." jawab Nara
"Sebel sama siapa?" tanya Diki sambil melirik istrinya.
"Sebel sama Abang yang dulu, kenapa gak kelarin dulu sebelum pergi agar jelas di awal jangan main pergi aja Bang , akhirnya mengira Abang cuma ngambek aja karena gak ada kata putus dari mulut Abang, jelas aja dia masih berharap Abang kembali." katanya sambil menyebikan bibirnya.
"Ya ... maaf, Ra. Abang kira dia tahu salahnya apa, ternyata enggak. Kalau abang yang sekarang bagaimana? Sebal apa enggak?"
"Sebal, sebal banget malah." kata sambil membuang muka melihat arah luar melalui kaca jendela mobil.
__ADS_1
"Kenapa sebal? Yang salah 'kan Abang jaman dulu bukan sekarang." kata Diki pada Nara.
Mobil pun berjalan terus tak ada percakapan Diki mengerti saat ini untuk membujuk Nara agar tidak marah adalah sia-sia saja, jadi ia pun menunggu kemarahan sang istri meredah. Akhirnya mobil berhenti di area rumah makan yang unik dan sangat indah.