
Masih di ruangan Pak Danu, tanpa diketahui Aila pintu ruangan itu terkunci, hanya Pak Danu yang bisa membukanya.
"Ai, panggil Abang dong, seperti saat kita baru bertemu, biar berasa punya adik." kata Pak Danu pada Aila.
"Pak Danu gak punya adik? Lah kalau cuma di anggap Adik kenapa ngajak selingkuh?" kata Ai sambil terkekeh.
"Emang situ mau? kalau mau ayo, aku gak bakal nolak." kata Danu sambil terkekeh.
"Bapak, mau saya banting? Ayo mumpung saya masih bertenaga." katanya sambil melebarkan matanya, menatap tak berkedip. Pak Danu tertawa sambil menutup wajahnya dengan kelima jarinya.
"Kalau di ranjang mau, Ai. Kalau di sini sakit," kata Pak Aldo sambil menutup wajahnya dengan kelima jarinya.
"Abang ya, bisa-bisanya seperti itu pada saya." kata Aila sambil memberengut.
Pak Danu tertawa. "Dasar ya anak kecil yang mau punya anak, gimana sudah gak lemas seperti kemarin?"
"Saya sudah selesai, Pak." kata Aila sambil menyerahkan tugasnya pada Pak Aldo.
"Ok! Saya mau kamu setiap selesai mata kuliah saya, kamu segera ke sini." kata Pak Aldo lagi.
"Kenapa begitu? saya selalu hadir di di mata kuliah Bapak." protes Aila pada Pak Danu.
"Tidak perlu alasan, Ai. Kalau saya bilang ke mari ya maka kemari segera, jangan bertanya lagi." kata Pak Danu lagi pada Aila.
"Bapak curang, sebenarnya ada maksud apa Bapak memanggil saya ke mari." protes Aila pad dosennya itu.
"Tidak ada, Ai. hanya seorang kakak yang mencari alasan untuk bisa bertemu Aila Berliana Dintara, selain itu tidak ada maksud tertentu." kata Dokter Danu sambil menatap Aila tanpa berkedip.
"Baiklah Abang ku sayang tolong pintunya di buka, Ai ingin keluar bukankah Abang sudah bertemu denganku." kata Aila kepada pak Danu.
__ADS_1
"Baiklah sudah ku buka," katanya sambil tersenyum dan mengarahkan remote pada pintu itu setelah terbuka, Aila pun keluar dari ruangan Pak Danu dan ternyata Frans berdiri tidak jauh dari pintu, menunggunya keluar. Aila begitu terkejut namun segera ia tersenyum menyamarkan rasa terkejutnya.
"Kenapa begitu lama? disuruh apa sih sama dosen itu?" tanya Frans pada Aila.
"Hanya mengerjakan soal itu saja." jawab Aila.
"Kenapa harus mengerjakan soal? padahal sudah rutin mengikuti kuliahnya." katanya pada Aila
"Sudah gak usah di bahas, ia hanya ingin bertemu dengan adiknya," kata Aila.
"Siapa adiknya? Apa kamu? Kenapa harus menganggapmu adik padahal masih banyak mahasiswa yang bisa di jadikan Adik?"
"Aku tidak tahu Frans aku bertemu dia saat aku sedang marah denganmu waktu itu di pantai, dan diapun dalam keadaan tidak baik-baik saja waktu itu. Sudahlah jangan bertanya lagi buat aku pusing saja kamu itu! Tunggu apa kamu cemburu?"
"Ya, tentu saja aku cemburu kamu itu istriku, enak saja bertemu dengan pria lain tanpa izin." kata frans kembali.
"Tidak perlu cemburu dia gak akan sampai segila itu, melakukan sesuatu yang akan mencoret. kredibilitasnya di kampus.
"Kalau macam- macam aku masih bisa banting dia dengan cepat." katanya pada Frans.
"Ehh? Jangan Ai, kamu itu lagi hamil jangan lakukan sesuatu yang membahayakanmu dan anak kita! Aku tak ingin terjadi sesuatu dengan anak kita dan juga dirimu, jadi jangan berkelahi! Biar aku saja yang menjagamu dan anak kita.
...----------------...
Di kantor Aldo sedang memeriksa kondisi keuangan dari perusahaan merasakan gelisah, setelah mendengar keputusan Clara untuk pergi di suatu tempat dan vacum untuk beberapa saat sampai ia melahirkan anaknya.
Sebenarnya ia pun tak tega mengajukan pilihan yang menurutnya tak adil buat Clara, tapi apa boleh buat semua rencana yang dirancangnya sekian lama hancur dan tidak berhasil di lakukan Clara sama kali, membuatnya marah.
Dia tahu itu artinya dia telah membuang anaknya sendiri, yang arti dia hampir sama dengan ayahnya yang membuang dirinya begitu saja. Dan Bapak Ammarlah yang membuat ibunya harus melahirkan dirinya tanpa setatus pernikahan yang sah karena Ayah biologisnya tersandung masalah dengan Ammar pada waktu itu. Akan tetapi lain dengan durinya saat ini, ia belum ingin mempunyai anak maka Aldo memberikan pilihan yang sulit pada Clara.
__ADS_1
Aldo berjalan keluar dari ruangannya, ketika ia telah sampai di area parkiran, ia masuk ke dalam mobil lalu pergi meninggalkan perusahaannyw. Ia mengendarai kendaraannya dengan kecepatan tinggi menuju Apartemennya Clara.
Setelah sampai iapun langsung menekan pasword pintunya dan masuk kedalam Apartemen Clara, dia sangat hafal karena ini juga miliknya yang di berikan pada Clara, ia pun sering keluar masuk di sini. Terdengar di telinganya kucuran air di kamar mandi.
tanpa berpikir panjang ia pun melepas seluruh pakaiannya dan masuk ke dalam kamar mandi.
Nampak pemandangan terlihat indah di pelupuk matanya. Dia menghampiri Clara lalu mengh@jar habis-habisan hingga terkulai lemas.
"Apa yang kau inginkan Aldo?" tanya dengan air mata yang mengalir tak bisa di bendung sama sekali.
Aku ingin kau menikah dengan Reza. Aku tak ingin dia tidak mempunyai ayah seperti diriku," katanya sambil menghapus air mata Clara.
"Kalau begitu harusnya kau yang menikahiku bukan satpammu itu, ini anakmu, bukan anak Reza. kau gila aku tidak mau." kata Clara sambil menatap tajam Aldo.
"Kau harus menikah atau video-videomu akan tersebar luas. kau mengerti Clara." kata Aldo dengan penuh penekan
Kau benar-benar kejam Al, Aku sangat menyesal telah mengenalmu." kata Clara dengan tatapan mata yang terluka.
Aldo pun tertawa dan tak memperdulikan Clara yang masih terbaring di bathup dengan tangisan yang masih didenganya.
Ia pun membersihkan tubuhnya lalu keluar dengan Handuk yang melilit di pinggangnya sambil berkata, "Besok kalian akan menikah tak ada penolakan dan tidak boleh menolak!"
Aldo keluar dari kamar mandi lalu memakai bajunya Kembali dan pergi dari apartemen Clara.
Clara menangis sejadi-jadinya ia benar-benar menyesal karena mengenal pria yang tak punya perasaan itu.
Ia termangu tatapannya kosong menerawang ke langit-langit kamar mandi. Dia tak tahu apa yang terjadi esok hari ia terjebak oleh Ceo gil@ yang psikopat itu.
Selama satu jam lebih dia berendam di dalam bathtub, tubuhnya terasa remuk redam, hatinya terluka.
__ADS_1
Clara keluar dari dalam kamar dengan langkah yang tertatih, diambilnya baju rumahan sederhana lalu memakainya, di rebahkan tubuhnya di atas ranjang, ia tak mengerti mengapa janin ini sangat kuat, bahkan setelah mendapat perlakuan yang sangat kasar dari ayah biologisnya tetap saja mau tumbuh subur di rahimnya.