Menikahi Sahabatku

Menikahi Sahabatku
Tiba Ke Indonesia


__ADS_3

Vino dan Rena sudah memasuki pesawat dan duduk di bangku yang sama. Lalu mereka mengenakan sabuk pengamannya, dan tak lama kemudian pesawat pun tinggal landas.


Rena menatap Vino sesaat lalu mengalihkan pandangannya. "Kenapa tidak mengajakku ke makam kak Gloria?"


"Kau kan masih tidur dek, apalagi kamu susah dibangunkan jadi yaa, aku berangkat sendirilah," katanya sambil tersenyum


"Kak Vin curang, padahal aku juga mau protes, kenapa libatkan aku dalam urusannya dengan mu, kenapa dia tidak katakan saja sendiri saja, supaya kau tidak marah padaku," kata gadis itu dengan berapi-api.


Vino terkekeh. "Sudah ku wakilkan dek, sudah ku marahi dia habis-habisan," jawab Vino dengan menyembunyikan segala perasaan yang ada.


"Habis-habisan nangis," timpalnya pada Vino


"Siapa yang nangis?" tanyanya pada Rena


"Yaa, kamulah kak Vin aku kan gak ada di sana," kata Rena pada Vino.


"Yaa, enggaklah Ren, ngapain coba nangis, ditangisi seperti apapun gak akan kembali hidup dan berdiri di hadapanku," katanya lagi pada Rena.


"Tapi kenapa kemarin itu nangis yaa? Katanya gak nangis, siapa yaa yang kemarin nangis dan marah-marah?" protes Rena dongkol.


"Ha ha ha ha, itu karena aku kaget, Dek," elak Vino pada Rena.


"Alah bilang saja gak mau diganggu sama aku, makanya kakak pergi sendiri ke sana," kata Rena lagi.


"Kamu sudah tahu, Dek. Kenapa tanya?" tanyanya pada gadis itu.


"Sudah ku bilang aku ingin marah, eeh sekarang malah minta pulang, Aku ke Boston cuma pindah tidur saja setelah itu pulang itu karena kak Vino buru-buru minta pulang andai tidak pulang hari ini mungkin aku sudah datang kesana dan marah-marah," jawabnya panjang lebar.

__ADS_1


"Jadi kamu menyesal ikut aku pulang, kalau begitu sana turun! Gak usah ikut pulang sama aku!" jawabnya ketus,


"Eeeh? Mana bisa? Bisa ma--," kata Rena yang tak bisa di lanjutkan karena mulutnya telah di bekap Vino.


"Jangan pernah katakan itu, Dek! Walaupun hanya sedang bergurau, kau mengerti!" katanya pada Rena yang hanya bisa mengangguk.


"Sudah tidur lagi saja dari pada protes melulu, telingaku sakit, tahu," kata Vino yang di sambut dengan pukulan keras di bahunya.


Vino tertawa menerima pukulan bertubi-tubi dari Rena, ia merasa gadis itu telah menghiburnya dengan segala kemarahannya.


Hari ini ia ingin berdamai dengan hatinya walaupun, terasa sesak di hati.


Dia tak tahu apakah ini akan berhasil atau tidak, yang jelas cintanya sudah kandas sebelum mekar tanpa ada perpisahan yang manis yang bisa dia kenang sebagai bentuk bahwa ia memiliki cinta dari seseorang yang sangat ia cintai namun justru sang kekasih pergi begitu saja tanpa pamit pada dengan cara yang benar dan di makamnya pun terdapat rangkaian mawar yang baru saja diletakannya di sana, siapa itu jelas bukan dia karena dia baru saja datang.


"Apa Kak Vino lebih baik sekarang?" tanya Rena


"Kura-kura dalam perahu, pura-pura tidak tahu," katanya lagi membuat Vino tertawa.


"Aku benar-benar tidak tahu Dek, coba jelaskan apa maksudnya biar Kakak Vinomu ini bisa jawab dengan benar," sahutnya.


"Maksudnya apa hati kak Vino sudah baik-baik saja?" tanyanya lagi.


"Karena ada kamu Dek, hatiku jadi baik-baik saja," jawabnya sedikit menggoda


"Ahhh, gombal Kak Vin, sejak kapan Kak Vin bawa gombalnya bunda ke sini?" tanyanya sambil terkekeh


"Sejak kau ajak debat dari kemarin Dek," katanya sambil tertawa.

__ADS_1


"Kak Vin sudah lihat anaknya Kak Nara belum kemarin? Soalnya aku belum sempat ke sana, habis keburu berangkat sih," katanya sambil menguap


"Ya Allah Ren, ini masih jam 10.00 pagi loh kamu sudah ngantuk aja," gerutu Vino


Tak lama kemudian dia mendengar dengkuran halus keluar dari mulut Rena.


Gadis itu tertidur pulas.


Sementara itu di apartemen Bara, terdengar kabar bahwa Anin baru melahirkan jam 21.00 di indonesia. Dan bayi juga laki-laki semua sangat senang


mendengar kabar ini apalagi Raka dan Rima. Kali ini mereka mendapat cicit laki-laki semua, walaupun tidak mendapatkan cicit perempuan tapi Raka dan Rima tetap bahagia karena di hari tuanya masih bisa melihat cicitnya lahir, walaupun tak yakin bisa melihat mereka hingga dewasa.


Ammar berpesan pada sang ayah agar tidak segera pulang, Ketika mendapatkan kabar ini semuanya akan dia atasi sendiri, dia tidak ingin sang ayah dan ibunya merasa kecapean harus pulang pergi ke Boston dengan cepat, cukup berkabar lewat telpon saja, yang terpenting semuanya sehat cukup bagi Ammar.


Waktu berjalan dengan cepat di Boston sudah jam 22.00 mereka sudah pada tertidur pulas begitu pulang di pesawat mereka pun tertidur hingga mendarat di Bandara Sukarno-Hatta.


Mereka pun turun dari pesawat dan segera menelpon Haidar namun sayang sang ayah masih di luar kota hingga akhirnya Vino pun menelpon Om Ammar.


Dengan segera Ammar melajukan mobilnya dari hotel dia bekerja menuju Bandara, sesampainya di sana mereka mencari kedua remaja tersebut. Setelah menemukan mereka berdua, Ammar langsung mengajak mereka masuk kedalam mobilnya yang kemudian berjalan meninggalkan bandara menuju rumahnya. "Untuk sementara bagaimana kalau kamu tinggal di rumah Om dulu saja, Vin? Sambil menunggu ayah pulang dari luar kota, di sana banyak banyak kamar untuk bisa di tempati dan Kakek Burhan pun akan senang dengan kehadiran mu," pinta Ammar pada Vino.


"Tapi seragam aku di rumah sana, Om," jawab Vino.


"Kalau masalah seragam nanti bisa belikan Vin, lagi pula kalau pun kau tidak bisa masuk rumah karena kunci rumah yang membawanya adalah ayahmu, apalagi kamu baru berangkat sekolah dua hari ke depankan jadi tidak masalah jika tinggal di rumah Om dulu," jawab Ammar.


"Iya Om, baik lah semoga ayah besok juga sudah kembali, karena selain seragam aku juga butuh buku pelajaranku, Om," jawab Vino apa adanya. Ammar terkekeh. "Oh yaa, kau benar Vin."


Tak terasa mereka sudah sampai di kediaman kakek Burhan dan tempat tinggal Om Ammar, mereka turun dari mobil dan masuk kedalam rumah besar yang terkesan sederhana namun tampak mewah.

__ADS_1


Mereka pun masuk ke kamar mereka masing-masing untuk membersihkan tubuh mereka dan mengistirahatkan tubuh setelah perjalanan selama 20 jam lebih. Vino pun pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya setelah itu ia berganti pakaian rumahan yang dibawanya untuk di buat ganti di Boston, karena tinggal sana tidak begitu lama maka masih ada pakaian bersih untuk di sini di rumah om Ammar.


__ADS_2