
Arta melihat Aska lalu tersenyum. "Ini terlalu banyak Aska."
"Ini, juga terlalu bagus untuk harga segitu kak Arta, trima saja aku menghargai tinggi hasil karyamu kak," kata Aska
"Baiklah, trimakasih," kata Arta pada Aska
"Sama-sama, tadi kak Arta sudah dapat berapa?" tanya Aska pada Arta
"Baru tiga puluh ribu di tambah dari kamu seratus tiga puluh ribu, sudah lumayan untuk hari ini," katanya sambil tersenyum.
"Kalau begitu kita sudah bisa kembali ke sekolah, kan?" tanya Aska pada Arta
"Iya, kita sudah bisa kembali ke sekolah, mau aku antar lagi?" tanya Arta pada bocah lelaki berseragam TK itu.
"Gak usah, aku sudah hapal dan aku adalah laki-laki jadi harus berani," kata Aska
"Oh, yaa! Baguslah jadi aku tak perlu menguwatirkan apapun," kata Arta pada Aska
Aska menggangguk lalu melambaikan tangannya pergi meninggalkan gadis kecil yang mulai mengemasi gambarnya dan di taruh dalam tas, ia pun pergi berlawanan arah dengan Aska.
Aska sudah sampai di sekolahnya kembali dan berjalan menuju tempat duduknya yang bersebelahan dengan Omnya, gambar dilipat menjadi dua dan masuk dalam tas dengan sangat hati-hati.
"Dari mana dan apa itu?" tanya Bay.
"Dari istirahat Om," jawab Aska memanyunkan bibirnya
"Lalu yang tadi apa?" tanya Bay pada Aska.
"Bukan apa-apa, Om, tak selamanya semua harus tahukan Om?" kata Aska yang enggan menjelaskan dari mana dan apa yang dilakukannya.
"Ok! Aku ngak akan tanya," kata Bay.
Mereka pun mulai beraktifitas hingga bel berbunyi, menandakan berakhirnya pelajaran berbunyi semua siswa taman kanak-kanak keluar kelasnya mencari orang tuanya yang tengah menjemputnya.
Ehan dengan santainya berjalan keluar kelas terdegar seseorang memanggil.
"Ehan tidak bareng tante?" tanya Nara
Ehan menoleh dan berlari kearah Nara sambil bertanya balik.
__ADS_1
"Kenapa memangnya Mama tidak jemput? Tante tanya begitu?"
"Tante tidak tahu tapi kalau kamu pulang sama tante, nanti Tante telepon deh mama kamu, kalau kamu ikut sama tante pulangnya," kata Nara
"Nggak deh Tan aku nunggu mama saja, takutnya kalau dia sudah ke sini akunya nggak ada kasihan kan?" jawab Ehan polos.
"Ya sudah ya Tante tinggal nanti kalau ada apa-apa telepon sama tante atau minta bu guru ya, untuk teleponin mama kamu," kata Nara pada keponakannya.
"Iya Tante beres Ehan nunggu aja di sini dulu sampai Mama datang," kata Ehan pada Nara.
"Kak Ehan belum pulang?" tanya Rui pada Ehan sambil tersenyum manis.
"Kamu juga belum pulang kan belum dijemput," tanya Ehan pada Rui.
Rui tertawa. "Tuh sudah di jemput Papa," katanya.
"Sebentar Rui!" teriak Ehan.
Ehan berjalan cepat menghampiri Rui lalu berjongkok menalikan tali sepatu Rui. "Kenapa ini lepas lagi? Kalau kamu jatuh bagaimana?" tanya Ehan pada Rui.
Rui terkekeh, "Tadi Rui tidak jatuh kakak, dan ini baru saja lepas tadi, terima kasih Kakak," katanya lalu berlari melambaikan tangannya kemudian menghilang di balik pintu mobil.
Ehan menatap kepergian gadis kecil itu dengan senyuman lalu dia kembali duduk di bangku menunggu sang mama datang.
"Ehan, Maaf Mama terlambat!" teriaknya pada putranya itu.
Ehan tersenyum lalu mengambil tasnya dan berjalan menuju mobil mamanya, Ia pun membuka pintu lalu duduk di samping kemudi Setelah itu menutupnya.
Ehan menoleh ke arah Mamanya, dan tersenyum. "Tidak tidak apa-apa mama aku tetap menunggu Mama untuk jemput Ehan," katanya sambil memasang sabuk pengamannya.
Tak lama kemudian mobil itu pun berjalan meninggalkan gedung sekolah membelah jalanan menuju rumah mereka.
Satu jam perjalanan akhirnya mereka sampai di depan rumah mereka. Namun, mereka melihat pria paruh baya berdiri di depan rumah mereka seolah menanti seseorang keluar keluar dari rumah itu.
Anin keluar dari mobilnya berjalan menghampiri pria tersebut.
"Maaf anda mencari siapa?" tanya pada pria itu
"Saya mencari Annisa Prameswari, bukankah ini dulu rumahnya?" tanya pria itu.
__ADS_1
"Kenapa anda mencari Anisa Prameswari?" dia sudah tidak di sini lagi, sebaiknya anda pergi," kata Anin merasa bahwa lelaki ini mempunyai hubungan yang erat dengan ibu, dia melihat wajah pria itu hampir mirip dengannya.
Ehan yang merasa mamanya lama ia pun turun dari mobil.
"Siapa Ma? Tanya Eham nggak ada mamanya.
Lelaki tak peduli dia tetap bertanya," tolonglah saya mencari Annisa Prameswari, apa kau tahu anak kecil?"
"Bukankah itu nama nenek, Ma?" tanya Ehan.
Lelaki itu terkejut ia menatap wanita yang ada di depannya sangat mirip sekali dengannya matanya seperti miliknya begitu pula anak kecil itu.
"Apakah kau putrinya Annisa Prameswari?" tanya lelaki itu.
"Siapa Anda? untuk apa Anda bertanya tentang ibuku? Dia sudah lama meninggal? Jadi tolong pergilah!" kata Anin.
"Aku Andriy Ray, jika kau putri dari Anisa maka aku adalah ayahmu," kata Pria
"Mama tidak baik berbicara di luar lebih baik Tuan ini diajak masuk ke dalam dan berbicara dengan baik-baik," kata Ehan menari tangan lelaki itu mengajaknya masuk kedalam rumahnya,
Anin pun tidak berdaya oleh ulah putranya akhirnya Ia pun mengikuti sang putra masuk kedalam rumahnya.
Setelah sampai di dalam rumah, Ehan pun pamit pada mamanya untuk ke kamarnya.
"Jika memang betul apa yang Anda katakan itu adalah benar, kenapa baru datang sekarang dimana ibu sudah tidak membutuhkan sandaran dari seseorang yang harusnya melindunginya," kata Anin pada pria tersebut.
"Maaf, Daddy baru datang," kata pria tersebut sambil menunduk kepalanya.
"Apa aku bisa bertemu dengan ibu mu, Nak?" tanya pria itu pada Anin
"Ibu sudah meninggal enam tahun yang lalu, jika Anda ingin mengunjungi makamnya, tunggu suami saya datang," kata Anin pada pria itu.
"Boleh aku memelukmu Nak?" tanya pria itu pada Anin
"Tidak, saya belum bisa memaafkan Anda yang telah menelantarkan aku dan ibuku. Anda tahu, rumah ini dulunya tidak begini, ini karena suamiku yang membangun rumah ini menjadi seperti sekarang ini karena dia tak ingin aku kehilangan momen kenangan indah bersama ibuku," kata Anin pada pria itu.
"Baiklah tidak apa-apa," katanya sambil tersenyum.
"Tunggu sebentar," kata Anin sambil masuk kedalam membuatkan sesuatu.
__ADS_1
Saat mamanya masuk Ehan keluar dengan pakaian rumahan yang rapi dan bersih menghampiri pria yang diketahui sepintas adalah kakeknya yang baru datang setelah menghilang cukup lama membuat sang mama marah.
Dengan senyuman yang khas dia memperkenalkan diri.