
Vino berdiri dan berjalan keluar dari taman itu dan masuk dalam mobilnya. "Pak, ke Nantasket Beach," pinta Vino setelah ia duduk dikursi tengah dengan duduk menyandar.
Mobil berjalan menuju pantai Nantasked samar terdengar oleh suara merdu dan tawa dari Gloria. "Vin, aku ingin pergi ke pantai Nantasked, apa boleh?" katanya sambil tersenyum
"Tentu, akan ku Antar," jawab Vino sambil menatap manik matanya yang indah itu.
"Apa ini termasuk pacaran? Ayah tak mengijinkannya, berkhalwat dengan seorang pria," katanya dengan derai tawa lirih.
"Tidak aku sudah bilang pada ayah angkatmu aku akan menjaga jarak denganmu, anggap saja saat ini aku adalah supirmu yang akan mengantarkanmu kemanapun kau pergi," katanya sambil tersenyum
"Janji yaa, dan jangan melihatku," katanya sambil tertawa lirih
"Kalau melihatmu aku tidak bisa janji, Glo," katanya sambil mengemudikan mobil kakaknya saat itu dan mencuri pandang lewat sepion, yang mengarah pada gadis yang duduk di bangku tengah itu.
"Tuan, kita sudah sampai," kata supir pada Vino yang hanya terdiam tanpa merespon, Hingga sang supir menegurnya kembali dengan suara yang sedikit keras. "Tuan kita sudah sampai."
"Apa kita sudah sampai, Pak?" tanyanya pada supir.
"Ya, betul tuan kita sudah sampai," jawab sang sopir.
Vino pun keluar dari mobilnya berjalan menuju pantai, tempat di mana dia mengukir kenangan dengan Gloria.
Dia berjalan menyusuri pantai mengingat jejak cintanya setelah itu, kembali ke mobil.
Mobil terus berjalan mengantarkannya mengenang cinta yang telah pergi sebelum mekar. Mobil terus berjalan mengantarkan sang majikan mengenang cintanya yang kandas, kadang berhenti di tempat pariwisata, rumah makan dan masjid.
...----------------...
Sementara itu di apartemen Bara Ratih terlihat gelisah memikirkan adiknya, dia menghampiri suaminya yang baru saja menemui adiknya. "Bagaimana dengan Vino, Bang?" tanyanya pada suaminya itu.
"Aku sudah menyuruh sopir mengantarkan kemana pun ia ingin pergi kecuali pergi ke club malam, kurasa ia tak akan sampai tergelincir begitu dalam sehingga melupakan didikan ayah dan ibumu.
"Bang, aku begitu kawatir dengan Vino," katanya pada suaminya itu.
Tiba-tiba saja perut bagian bawah mengencang, terasa begitu sakit membuat Ratih terasa tak mampu berjalan. "Bang, Aku sepertinya ngak kuat jalan.
Bara menyingkap baju Ratih, dia terkejut karena anaknya sudah mau lahir dan ia masih di apartemen. "Bunda! Ini bagaimana sudah terlihat kepala anakku!" teriaknya.
"Angkat ke kamar biar Bunda yang menolong! teriaknya sambil berlari mengambil peralatannya lalu pergi ke kamar Bara.
__ADS_1
Tak lama kemudian terdengar tangisan suara bayi, Rika terseyum dan menoleh pada Bara. "Laki-laki," kata Rika kepada anaknya setelah itu dia membersihkan bayi itu dan menyerahkan pada Bara untuk diAdzani setelah itu diletakkan ke dalam box bayi.
Rika membersihkan Ratih terlebih dahulu, setelah bersih ia meminta Bara untuk memindahkan Ratih di kamar tamu dulu.
Bara menggendong Ratih ke kamar tamu dan membaringkan di sana."Trimakasih, sayang. Aku akan menelpon ayah Haidar, mengabarkan kalau kamu sudah melahirkan," kata Bara pada Ratih.
"Bagaimana dengan, Vino? Abang tidak telpon dan kasih kabar dia kalau aku sudah melahirkan?" tanyanya pada suaminya itu. Bara terkekeh mendengar pertanyaan istrinya itu. "Bun, dia itu baru pergi 2 jam yang lalu dan sekarang kau suruh dia pulang, biarkan dulu dia, Bun."
"Iya juga yaa, Bang," katanya terkekeh.
"Ada Vidio call nih dari tante Aila," kata Bara sambil memberikan ponsel pada Ratih.
Terlihat wajah tantenya terseyum sambil menggendong bayi usia 3 bulanan. "Assalammualaikum, Ratih."
"Wa'alaikumsalam, Tante. Apa kabar?" tanyanya pada Aila.
"Aku baik, duh enak ya kamu, lahiran di rumah saja, gak robek lagi," katanya sambil tertawa.
"Kok Tante tahu sih," jawab Ratih sambil terkekeh.
"Kan Mbak Rika telpon barusan jadi Tante telpon kamu deh, Selamat yaa, bayi ganteng amat, semua mirip Bara kamu gak ada," kekeh Aila.
"Gimana nih kabar Anin, Tan?" tanya Ratih pada
"Nanti kalau Anin sudah melahirkan kasih kabar yaa,Tan," pinta Ratih
"Iya, nanti aku kabari, maaf nih sudah dulu yaa, sudah kode Ommu nih, Assalamualaikum," katanya sambil terkekeh.
"Wa'alaikumsalam," jawab Ratih dan panggilan vidio pun terputus.
"Bang anak kita gak dibawa kesini," tanya Ratih sambil menatap sang suami. "Iya, masih disiapkan, Bun." katanya sambil tersenyum.
"Nyakin nih, Bang. panggil Bunda, kamu sama Bunda Rika panggilnya Bunda, sama aku juga sama, cari yang lain deh Bang," kata Ratih sambil terkekeh.
"Apa yaa, bagaimana kalau aku panggil Bubu saja," kata Bara tertawa
"Iya deh gak apa-apa, dari pada samaan," kata Ratih sambil terkekeh.
"Lah, kamu masak panggil aku Abang sih," protesnya pada istrinya.
__ADS_1
"Bagaimana kalau panggil Yayah saja? tanyanya sambil tertawa
"Itu tetap sama Bu," protes Bara.
"Kalau panggil Bapak?" tanyanya semakin terpingkal.
"Yang benar dong, Bu. Kalau buat panggilan," protesnya kembali.
"Ini yang terahir yaa, Bi jangan protes melulu," katanya lagi pada suaminya.
"Siapa?" tanya Bara
"Aku pangil kamu Abi, sudah jangan protes lagi," katanya sebal
"Ok! deh. Aku suka panggilan itu, deal ya, Bu. Aku mau ke Bunda dulu, barang kali Bunda butuh aku untuk beli sesuatu, kamu istirahat saja, Bu," kata Bara dan Ratih pun mengangguk.
Bara keluar kamar menemui bundanya.
"Ada yang perlu di bantu nih Bun?"
"Tentu dong Bar, dari tadi kamu ngilang melulu," protes Rika pada putranya itu.
"Apa?" tanyanya pada Bundanya
"Pindahin box ini di kamar tamu!" perintahnya pada Bara.
"Sendiri, Bun?" tanyanya pada Bundanya.
"Kamu mau sama siapa? Ayah mu lagi ke apotik beli obat untuk Ratih, apa sama kakekmu? itu gak berat loh Bar," kata Rika. Bara terkekeh dan langsung membawa box kayu ke kamar tamu sendiri, Rika mengikuti dari belakang, setelah sampai di letakan dekat ranjang.
Rika menyerahkan bayi mungil itu ke Ratih, untuk disusui. Dia membatu sang menantu agar si bayi bisa langsung dari sumbernya, setelah keyang diletakkan bayi itu ke box.
"Bun kemana Rena, kok gak kelihatan," tanya Bara pada Bundanya itu.
"Ia masih tidur, seperti kemarin di pesawat ia gak bisa tidur," jawab Rika
"Biarkan saja, Bi. Kasian kalau dibangunkan, nanti saja kalau dia sudah bangun baru di kasih tahu," saran Ratih pada suaminya itu.
"Oh iya, Bar. Kamu pesan nasi dan kue antar ke rumah yatim piatu Tuan Abraham.
__ADS_1
"Baik, Sekarang Bun?" tanyanya
"Tidak tahun depan," kata Rika sambil pergi keluar dari kamar mereka.