Menikahi Sahabatku

Menikahi Sahabatku
Aku Yang Akan Menikahinya


__ADS_3

Hari berganti hari tak terasa sudah 3 hari Ratih menjadi penyuplai rempeyek di Kafe Frans. ia bekerja hingga larut malam.


Hari ini seperti biasa setelah menunaikan kewajiban sebagai muslim sholat magrib dan isya, Ratih kembali berkecimpung dalam pembuatan rempeyek. sekitar 200 bungkus rempeyek telah di bungkus oleh adiknya, tinggal 100 bungkus lagi yang harus di bungkus, kemarin ia meminta Menurunkan permintaan 400 menjadi 300 saja, karena tenaganya tak bisa memenuhi target, dan di kabulkan.


Jam masih menunjukkan pukul 8.00 malam tiba-tiba saja pintu di gedor-gedor dari depan dengan berulang-ulang.


"Vin coba kau lihat siapa di depan."


"Vino takut kak lebih baik kita tidak usah bukakan pintu takutnya orang jahat.


"Vin telpon bang Bara, bilang kalau datang kesini jangan sendiri, suru bawa teman!" Perintah Ratih kepada adiknya sambil mematikan kompor.


"Baik kak."


Ratih bergegas berjalan keruang tamu sambil membawa tongkat bisbol berjaga barangkali ada orang jahat yang ingin mencelakai dirinya.


Di bukanya pintu, alangkah terkejutnya dia ayahnya yang berdiri di ambang pintu dengan tubuh babak belur. Dengan cepat pria itu masuk dan menyuruh segera mengunci pintunya.


"Ganjal pintu dengan kursi Rat, lalu matikan lampunya."


"Ayah jika lampu di matikan justru mereka akan curiga kalau benar-benar ayah di kejar orang jahat."


"Baiklah, di mana ibu mu Rat?"


Ratih menghelah nafas," ibu sudah meninggal yah."


"Apa, Meningal?"


"Inalillahi wainailaihi rojiun, Rindu maafkan aku," gumamnya lirih.


"Ayah apa yang terjadi?"


"Ayah akan cerita, tolong simpan ini dulu sembunyikan entah di mana, sembunyikan dulu."


"Baiklah! Ayah."

__ADS_1


Ratih pun segera masuk dan menyimpan tas ayahnya itu di lemari lalu menguncinya. dia terkejut melihat Vino sudah berdiri di dekatnya.


"Kenapa ayah pulang?"


"Kakak tidak tahu, ayo kita dengarkan dulu, bagaimana pun kita anaknya dek, gak bisa menghakimi begitu saja. Ayo kita dengarkan dulu."


"Baiklah kak." katanya sambil berjalan lesuh mengikuti kakaknya ke ruang tamu menemui ayahnya.


"Cerita kan ayah apa yang terjadi." katanya sambil duduk di sofa bersama adiknya.


"Baiklah, sekitar 4 tahun yang lalu Cinta sekertaris ayah yang baru ternyata menjebak ayah saat menemui klien di luar kota, dia menuduh ku menodainya hingga akhirnya ia datang ke ibu mu dan mengatakan bahwa ia hamil, ayah pun harus bertanggung jawab dengan kehamilannya. 1tahun berikut ia meminta ayah untuk membawa mu ke Surabaya jika tidak ia mengancam akan membunuh bayinya dan selanjutnya kau tahu sendiri bagaimana kisahnya.


"Ayah, minum dulu," kata Vino yang baru datang dengan segelas air hangat. Setelah tahu keadaan ayahnya Vino tak tega ia berdiri meninggalkan mereka untuk mengambil air minum.


Hairdar menerima gelas yang berisi air minum dari anaknya dan meminumnya sampai tandas lalu meletakan gelas di atas meja, dan meneruskan ceritanya.


"Hingga 1 minggu yang lalu tanpa sengaja ayah mengetahui kebenaran bahwa Putri bukan anak ayah dan Cinta ternyata adalah adik tiri ibu mu. Dia ingin mengambil alih perusahaan dan memiliki semua aset ibu mu karena menganggap bahwa dia juga punya hak pada harta ibumu. Namun ayah tahu dia tidak memiliki hak apa pun dengan harta ibu mu karena semua ini adalah milik nenek kalian, bukan milik kakek kalian."


Haidar menghelah nafas, "ada masalah lain lagi Rat." katanya sambil menatap wajah anaknya dengan sendu."


"Cinta menjamin kan dirimu pada rumah bordil, dia berhutang 300 juta pada temannya yang mengelolah rumah bordil itu."


"Apa tidak bisa ayah membayar hutang tante Cinta?"


"Sekali pun di bayar ada perjanjian lain yang di sepakati Cinta dengan orang itu untuk menjerat mu agar masuk dalam lingkaran bisnisnya, satu-satunya cara agar kau terbebas dari orang itu kau harus menikah dengan orang yang berpengaruh Ratih.


"Siapa ayah? Tak ada orang yang berpengaruh dan memiliki bisnis besar yang mau menikahi ku."


Didalam situasi yang kalut tiba-tiba terdengar ketukan pintu dari luar, Hairdan terkejut, matanya menyalang ke arah pintu.


Vino yang hatinya bergemuruh dari tadi berdiri dan melangkahkan kaki menuju pintu di singkirkannya kursi yang ada di depan pintu lalu bertanya," Siapa?"


"Aku bang Bara." sautnya dari luar pintu.


Vino pun membuka pintu, berdiri dua orang laki-laki berbeda usia di depan pintu lalu menerobos masuk. Vino langsung menutup pintu rapat-rapat, ya mereka adalah Bara dan Aiko, sebelum memutuskan untuk pergi ke rumah Ratih Bara menghubungi Aiko untuk menemaninya.

__ADS_1


"Aku yang akan menikahinya." katanya lantang setelah masuk kedalam rumah. Dari tadi dia sudah mendengar apa yang di bicarakan oleh ayah dan anak.


"Bagaimana bisa Bar? bahkan orang tua mu tak mengenal ku,"


"Orang tua ku, bukan orang tua yang kolot Rat, urusan menikah dengan siapa aku yang memutuskan."


"Maaf telah melibatkan mu dalam masalah ini nak," kata Haidar


"Tidak apa paman,"


"Ratih tolong kau ambil tas ayah tadi berikan padanya, ayah mempercayai mungkin dia yang bisa mengatasi masalah ini." Ratih beranjak dari duduknya berjalan masuk kedalam tak lama kemudian ia keluar membawa tas ayahnya dan di berikan pada ayahnya.


"Nak Bara paman minta tolong sekali lagi, ini ada surat-surat perusahaan ku, dengan susah payah aku menyelamatkannya. Bisakah kau rundingkan dengan ayah mu, jika bisa tolong akuisisi saja semua surat-surat lengkap di situ dan bisakah juga membantu ku untuk bercerai dengan Cinta?"


"Akan ku usahakan paman."


"Paman Aiko apakah anak buah paman Riko masih bisa di mintai bantuan untuk menjaga rumah ini?"


Aiko terkekeh, tentu bisa walaupun mereka tidak terjun di dunia kejahatan lagi, jika aku membutuhkan tenaga mereka, mereka akan meninggalkan pekerjaannya dan siap membantu.


"Aku minta tolong paman agar mereka menjaga rumah ini," kata Bara menatap serius paman Aiko.


"Sebaiknya Ratih kau bawa pulang saja Bara terlalu bahaya jika masih di sini," saran Aiko pada Bara.


"Paman apa tidak keberatan jika Ratih tinggal di rumah saya dulu untuk kebaikannya."


"Silahkan nak Bara apa yang menurut mu terbaik."


"Ayah, maafkan Ratih ku kira ayah sudah tidak menyayangi ku lagi, ku kira ayah akan selalu berpihak pada istri muda itu ayah."


"Ayah yang minta maaf, terlalu lemah sebagai laki-laki." kata Haidar.


"Paman, kami mohon diri. Ayo Rat." kata Bara sambil menatap Ratih.


"Pergilah nak jaga putri ku," kata Haidar.

__ADS_1


Mereka pun keluar dari rumah Ratih dan masuk ke dalam mobil. Mobil itu berjalan pergi meninggalkan rumah itu dan menghilang pasangan mata mereka.


Terimakasih telah membaca dan jangan lupa tinggalkan jejak like dan koment agar semangat update. sehat selalu untuk anda semuanya.


__ADS_2