
Frans dan Raka telah sampai ruang perawatan Aila kembali. Frans memberikan Handphone-nya pada Aila. ia pun melihat rekaman itu bersama Mami, masyaallah tampannya anak bunda ingin sekali kali memeluknya segera. Seorang perawat masuk dan membawa alat memompa Asi. Raka dan Frans keluar agar perawat leluasa mengambil Asi untuk bayi Aila.
Setelah menunggu beberapa saat, suster pun keluar dengan membawa dua botol Asi, lalu mereka masuk kembali ke kamar Ai. Tak seberapa lama, datang Izah dan Ammar. Setelah mengucapkan salam mereka pun masuk mencium punggung tangan Raka dan Rima. "Mami, sudah lama?" tanya Izah. Mami terseyum. " Sudah satu jam yang lalu." Izah memeluk adik iparnya. "Gimana, Dek?"
"Sakit Mbak Izah, tapi terbalas dengan kebahagiaan dengan bisa melihat anak ku baik-baik saja, Kak." Izah pun berjalan menuju sofa dan duduk bersama suaminya. "Nara tadi kesini?"
"Ke sini bersama Suaminya, Mbak. Sekarang ada di ruangannya Diki." kata Frans. Dan benar saja terdengar ucapan salam yang tenyata Nara. "Daddy, Mama, Kakek, Nenek, Nara kangen."
"Kangen gimana? Setiap hari bertemu Mama," kata Izah. Nara tertawa. "Kan belum bertemu Daddy, Kakek dan Nenek," katanya sambil berjalan menghampiri kakeknya dan memeluknya. "Kakek masih tampan dan gagah, gadis seusiaku bisa-bisa Naksir kakek."
"Nara!" teriak neneknya, Nara terkekeh. "Ampun, Nenek. Habis kakekku gagah sekali, tapi Nara yakin kakek gak suka cabe-cabean. Kakek cinta mati sama Nenek." Raka terkekeh memeluk cucunya itu. "Sudah berapa bulan ini?"
"Sudah enam bulan kek," katanya pada Kakeknya. "Sering-sering ke rumah kakek yaa, setelah kalian menikah jarang sekali datang ke rumah kakek, Rafa juga begitu, kalau Bara memang jauh tapi sering loh video call, Kalian, ampun deh." kata Raka.
"Maaf Kek, nanti deh pasti berkunjung di rumah Kakek, Habis Abang selalu pulang malam, Kek." Ammar menghampiri putrinya lalu memeluknya. "Dia saja gak pernah ke rumah Daddynya, apalagi ke rumah kakeknya."
"Daddyku sayang jangan marah yaa, nanti cepat tua lalu Daddy akan kalah tampan dengan kakek." Ammar tertawa dan mengacak rambut Anaknya, dia mengajak anaknya duduk di sofa. "Daddy ini rindu sama kamu, Ra. Kamu jarang sekali ke rumah setelah menikah. Nara menatap cinta pertamanya itu dan tersenyum. " Nara, juga kangen sama Daddy," kata Nara sambil menggenggam tangan kekar Daddynya.
"Ini sebenarnya yang di kunjungi aku apa Nara sih?" tanya Aila pura-pura memasang wajah masam. "Aduh, Tante. Momen ini tetap milikmu." katanya sambil terkekeh.
Nara beranjak dari duduknya lalu berjalan ke arah neneknya mencium pipi neneknya. "Hello Nenekku yang cantik, Nara juga sangat merindukan Nenek, benar-benar rindu. Rima menjewer telinga Nara saat ia duduk di bibir ranjang. "Dasar yaa, suka sekali menggoda orang tua."
__ADS_1
"Aduh! Nenek, sakit." Mereka tertawa tak kecuali Aila lalu ia meringis menahan sakit. "Tante! Sudah di bilang gak boleh ketawa! nanti jahitan terbuka."
"Kamu sih dari tadi bikin aku ketawa." kata Ai sambil memukul tangan Nara.
"Lah yang ketawa situ yang disalahin sini." kata Nara.
"Sudah, jangan bertengkar," kata Rima pada cucunya dan juga anaknya.
"Kita gak lagi bertengkar Nenekku sayang, kita lagi bersendagurau." kata Nara pada Neneknya sambil mengerjapkan mata.
Rima tertawa menatap cucunya yang sekarang sudah dewasa yang sebentar lagi memberikan dia cicit itu.
"Ra, mama sudah kirim pesan ke Diki kalau kamu akan pulang ke rumah kakek bersama kami, dan menginap di sana," kata Izah kepada anaknya.
"Katanya sih, boleh dan Dia nanti akan menyusul kesana sambil membawakan pakaian ganti untukmu." kata Izah lagi pada putrinya.
"Nah, Kakek , Nenek. aku akan menginap di rumah kalian nanti, apa kalian senang?" tanya Nara sambil meraih jemari tangan Neneknya lalu kembali mencium punggung tangan beliaunya.
"Nenekku memang cantik, makanya kakekku gak bisa berpaling pada Nenekku yang cantik ini," Nara kembali berkelakar.
Tak lama kemudian Angga dan Rika datang dengan membawa beberapa kantong plastik dan di letakkan di atas meja, lalu mencium punggung tangan Raka begitu pula Angga, ia duduk di samping Daddy-nya. sementara itu, Rika menghampiri Izah dan memeluknya lalu berjalan ke arah mertuanya dan mencium punggung tangan mertuanya itu menoleh kepada Nara sambil mengelus perut saya ponakan. "Jadi ingat Ratih, Bibik." Nara tersenyum. Duduk sini Bibik, Nara mau duduk dekat Mama." Nara menghampiri Mama lalu duduk di samping Mamanya. Rika memeluk adik iparnya itu. "Selamat ya dek, kamu sudah jadi ibu sekarang, bagaimana perasaanmu sekarang." tanya Rika pada Aila.
__ADS_1
"Senang, Mbak. Tapi belum bisa lihat anakku," kata Aila mengerucutkan bibirnya.
"Gak papa, kalau kamu sudah pulih kamu bisa nengok," kata Rika pada Aila.
"Yah, tadi kita kan bawa tikarkan, digelar di sini, Ayo kita makan bersama, Bibik tadi beli banyak nasi kotak, Nara kamu panggil suamimu, ini kan istirahat yaa."
"Iya Bik." jawab Nara sambil tangannya sibuk mengetik sesuatu di handphone-nya.
Angga menggelar tikar yang di bawahnya tadi lalu mengajak untuk duduk di bawah sambil makan siang. "Kamu duduk di sofa saja gak papa," kata Angga kepada keponakannya itu saat ia tahu akan beranjak dari tempat duduknya.
Tak seberapa lama kemudian Diki bergabung dengan mereka. "Wah rameh yaa," katanya sambil mencium punggung tangan mereka satu-persatu lalu duduk di atas tikar bersama mereka. Ruangan VIP itu seketika menjadi rame.
"Kamu, sering-sering ke rumah kakek, Dik. Mumpung kakek masih sehat," pinta Raka.
"Iya Kek, pasti. Maaf belum bisa kesana bawaan ingin bulan madu terus di rumah," kata Diki sambil tertawa.
Raka pun tertawa. "Kakek, ngerti Dik. Kakek kalau lihat kamu ingat masa muda kakek dengan Nenek mu itu. Yah, seperti kamu dan Nara, Nenek mu baru lulus SMU pada waktu itu dan Kakek sudah 24 tahun, ku ajak nikah. Eh, dianya mau," kenang Raka.
"Aduh, Kakek lagi nostalgia nih, Nek," kelakar Nara.
"Iya, Kakek tak akan lupa waktu itu, Nenek kamu itu cantik sekali, sampai sekarang dia tetap cantik yang mudah saja kalah di mata Kakek," kata Raka sambil tertawa.
__ADS_1
"Aduh, manis sekali Kakekku yang Tampan dan gagah ini, jadi meleleh aku, melihat kebuncinan kakek dengan Nenekku, seperti mandi gula," kata Nara yang akhirnya mendapat jitakan dari sang Kakek. Nara mencebikan bibirnya dan mengusap kepalanya yang kemudian dirangkul Diki sambil terkekeh. "Abang, kenapa ketawain Nara?" teriaknya manja.
"Itu istrimu itu godain Kakek dari tadi, Dik," gerutu Raka.