
Raya yang langsung masuk menuju meja makan dan menaruh dua rantang di atas meja tersebut. Diki terkekeh."Malulah, Tan. Tadi 'kan masih banyak tamu," katanya
"Kamu itu yaa, Dik. kenapa gak mempekerjakan sekuriti biar kalau Tante datang ke sini langsung bisa masuk gak harus buka pintu gerbang sendiri," kata Raya.
Diki tertawa. "Nanti deh, Tan. Kami masih ingin seperti pengantin baru, gak mau ada orang lain, ingin berduaan saja dulu, Nara juga belum mau, katanya kalau mempekerjakan sekuriti harus benar-benar telitih karena ia lebih nyaman sendiri, kalau bisa minta recom dari Daddy dan aku belum mendapatkan yang sesuai dengan Nara," kata Diki pada Raya.
"Kau juga tidak punya asisten rumah tangga?" tanya Raya kembali pada Diki, Dia pun tertawa. "Ada tapi akan pulang di sore hari, rumahnya dekat sini, Tan."
Nara keluar dari dalam kamarnya, berjalan malas menghampiri Tante Raya lalu duduk di kursi depan meja makan.
"Sudah lama, Tan," tanya Nara sambil mengambil sate kambing lalu memakannya.
"Baru saja, Tante ke sini cuma mau ngantar ini di rumah ibu banyak sekali takut gak ke makan jadi di antar kemana-mana deh, habis ini mau ke apartemen Rafa juga, semoga gak lagi itu yaa, dia," kata Raya sambil terkekeh.
Diki dan Nara yang tersendir pun tertawa."Kami gak lagi itu loh, Tan. Buktinya Tante bisa masuk dengan cepat tidak perlu menunggu lama," kata Diki terseyum canggung.
Raya tertawa. "Sekarang iya, tapi tadi mana aku tahu."
"Katanya mau ke bang Rafa, Tan?" tanya Nara.
"Ehh? Kamu yaa, ngusir Tante nih, baiklah Tante balik, Dik ingat! jangan di masukan bisa jadi kontraksi nantinya, kamu paham, 'kan?" Raya pun kembali tertawa sambil berjalan keluar dari dalam rumah Diki.
Diki mengantarnya sampai pintu gerbang rumahnya dan mobil Raya pun berjalan dan menghilang di kelokan jalan.
Diki menutup pintu gerbang rumahnya dan berjalan kembali masuk kedalam, menemui Nara yang saat ini sedang berada di ruang makan, dia pun duduk di sebelah Nara. "Kok belum ambil nasi sih, katamu tadi lapar?" tanya Diki pada istrinya.
Nara terkekeh. "Masih incip-incip nih Bang, yang ini sepertinya tadi gak ada deh?" tanya Nara sambil menunjuk kuah santan merah yang terlihat menggiurkan.
__ADS_1
"Iya, Mungkin nenek Surti yang buat ini untuk tante Ai dan kamu kebagian juga," kekeh Diki sambil mengambil nasi kedalam piring lalu di berikan kepada Nara.
"Makasih yaa, Bang," ucap Nara Sambil menyendok kare ikan gabus ke piringnya.
"Sama-sama,sayang," jawab Diki sambil mengambil nasi untuk dirinya sendiri lalu mengambil lauk yang diinginkan, di meja begitu banyak lauk yang dibawakan oleh tante Raya. Diki mengambil ayam bakar, ikan salmon krispi pedas lalu kerupuk udang.
Diki pun mulai menyuapkan nasi ke mulutnya sambil melirik sang istri yang sedang makan dengan lahap. "Enak," tanya Diki dan Nara menggangguk.
...----------------...
Sementara itu, Raya sudah sampai di area parkir apartemen, dia pun keluar dari mobilnya menuju lobby lalu masuk ke dalam lift. Tak seberapa lama kemudian dia sampai di Flat Rafa. Dia pun memencet bel berkali-kali sambil penghuninya muncul, pintu pun terbuka, Rafa muncul dengan muka kesal, di sambut senyuman manis dari Raya.
"Tante, yaa. kebiasaan mainan bel kayak anak kecil aja," kata Rafa jengkel.
Raya tertawa, ia berjalan masuk dan langsung menuju ke ruang makan dan Rafa mengikuti di belakangnya.
"Iya, tapi pencet belnya jangan begitu dong, Tante," protes Rafa.
"Kenapa lagi itu kamu?" tanya Raya sambil melihat tampilan Rafa dengan rambut basahnya.
"Ngak usah nanya juga tante!" ucap Rafa sebal, Raya semakin tertawa.
"Mana Anin?" tanya Raya pada Rafa.
"Tidur, Tan," jawab Rafa sambil menyomot sate yang ada di rantang yang sudah di buka Raya.
"Bangunin, suruh makan dulu pasti belum makan tadi, 'kan?"
__ADS_1
"Kok Tante tahu sih?" tanya Rafa.
"Kebiasaan kamu Fa, itu anak kamu juga butuh makan, jangan cuma ditengokin melulu, Tante sekarang nyesel kenapa bawain kamu sate kambing dan gulai," kata Raya sambil terus melepas rantang dari ganggangnya.
"Kenapa, nyesel?" tanya Rafa pada Tante Raya.
"Nanti libidomu naik lagi gimana? Ayo sana bangunin Anin suruh makan dia,"kata Raya pada Rafa.
"Iya, Tan. Sebentar, masih mau jalan nih," katanya sambil beranjak pergi ke kamar dan membangunkan Anin. Tak seberapa lama ia pun keluar dari kamar bersama Anin.
"Tante kapan datangnya, aku kok gak dengar?" sapa Anin pada Raya.
"Gimana kamu dengar kalau kamunya tidur, Nin?" gerutu Raya.
Anin tertawa. "Maaf yaa, Tan. Habis tadi Anin ngantuk banget sih, Tan."
"Gimana gak ngantuk dan lemas, kalau Rafa sering gangguin dan usilin kamu," sarkas Raya.
Rafa pun tertawa. "Dia suka kok Rafa gangguin," katanya ringan.
"Fa, ingat ya apa yang perna Tante bilang, kalau itu bisa menjadi penyebab kontraksi awal," kata Raya pada Rafa.
"Iya Rafa ingat, Tan," kata Rafa sambil terkekeh.
"Ya sudah, Tante mau pulang, satu lagi jangan biarkan istrimu tidur dalam keadaan tidak makan sama sekali," katanya sambil berjalan keluar apartemen Rafa beberapa detik kemudian Raya berkata kembali, "Fa, Gak usa di antar! Kamu temani saja istrimu makan! Rafa yang akan mengantar tantenya itu pun akhirnya duduk kembali.
Raya keluar dari apartemen Rafa kemudian menutup pintunya dan ia berjalan menuju lift yang membawanya kelantai dasar setelah sampai ia pun bergegas menuju area parkir, Raya masuk serta duduk di belakang kemudi lalu menjalankan mobilnya keluar dari gedung apartemen itu ia melajukan mobilnya ke beberapa tempat untuk membagikan makanannya antara lain adalah Dokter Danu yang tadi tidak bisa menghadiri acara aqiqah Bayhas lalu ke rumah Raka dan terakhir ke rumah Burhan yang menjadi tempat tinggal Azizah dan Ammar.
__ADS_1
Kemudian ia melajukannya ke rumahnya sendiri, sesampainya di sana ia menyerahkan ke asisten rumah tangganya. Setelah itu kembali melajukan mobilnya ke rumah sakit, untuk menyelesaikan tugasnya sebagai dokter kandungan, begitu sampai di sana ada seorang pasien yang segera akan melahirkan ia pun bergegas menuju ruang bersalin untuk membantunya, Raya pun mengecek jalan lahir dan sudah pembukaan penuh Raya pun mulai memberikan arahan pada pasien untuk mengikutinya kurang lebih 20 menitan akhirnya bayi itu berhasil di lahirkan atas pertolongannya, setelah itu ia berjalan menuju ruangannya untuk membersihkan dirinya lalu berganti pakaian bersih kemudian ia melanjutkan memeriksa laporan medis pasien yang lain.