Menikahi Sahabatku

Menikahi Sahabatku
Pergi ke Boston


__ADS_3

Angga dan Rika berencana untuk pergi ke Boston esok hari mengunjungi putra dan menantunya di sana, ia mulai mengepak pakaiannya, suaminya dan putri bungsunya Rena.


Rika tak tega membiarkan Rena sendiri di rumahnya atau di kedua kakek Rena.


"Jadi kita ke Boston, apa gak sekalian kalau sudah melahirkan, Bun? Nanti juga di sini ada tujuh bulanannya Nara," tanya Angga.


"Nara ada orang tua, banyak orang ada di sini, sedangkan Ratih tidak ada siapa-siapa selain Bara putra kita, kalau Ayah tidak mau berangkat biar aku berangkat sendiri," kata Rika sebal.


"Siapa yang gak mau ikut, Bun? Ayah itu cuma bertanya, Bun." katanya sambil menghampiri Rika, lalu memeluknya.


"Aku tahu kamu cemas, tapi aku juga takut kamu kecapean, itu sebabnya tadi aku bertanya begitu," kata Angga pada Rika.


"Iya, tapi aku sebal saja, seolah-olah anak-anak tidak punya orang tua padahal mereka punya, kalau untuk anak rasa capek itu tidak terasa Ayah," kata Rika.


"Ok! Baik besok kita berangkat, Ayah sebenarnya sudah pesan tiket untuk bertiga, Jadi Bunda tidak usah kawatir, tetap bisa berangkatlah." kata Angga


"Bunda itu gak sabar ingin segera bertemu dengan Rati, dia itu cuma punya aku, ibu sudah meninggal dia akan senang jika aku datang, dia merindukan kasih sayang seorang ibu, aku adalah satu-satunya ibu buat dia, jadi seharusnya aku ada untuk dia, Yah," kata Rika.


"Ya, Ayah ngerti, Bun. itu sebabnya Ayah gak melarang Bunda, cuma takut bunda capek, itu saja jadi jangan salah paham," kata Angga dan Rika terseyum.


Terdengar ketukan dan suara dari luar, Rika beranjak dari tempat duduknya dan berjalan membukakan pintu, terlihat Rena bediri di depan pintu kamar bundanya. "Bun apa aku juga ikut besok?" tanya Rena


"Iya, Dong Ren, Bunda gak tega meninggalkan kamu sendirian," katanya sambil mengelus rambut sang putri.


"Kalau begitu Rena berkemas dulu yaa, Bun."kata Rena senang.

__ADS_1


Rena kembali ke kamarnya, untuk bersiap-siap.


Rika menutup kembali kamarnya lalu duduk di bibir ranjang bersama suaminya, ia menoleh pada Angga. "Daddy ikut enggak?" tanya Rika.


"Sebenarnya ia ingin ikut sih, tapi kan Nara juga tujuh bulanan, rencana mau nyusul katanya, setelah acara Nara selesai." kata Angga


"Ooh, sebenarnya daddy gak kesana juga gak apa-apa sih, soalnya usia sudah 70 lebih."


"Gimana lagi, kalau itu sudah keinginan Beliau, Beginilah jika hamil bersamaan, Bun. seperti kita dulukan begitu cuma kan semua ada di sini gak terpencar begini," kata Angga.


"Iya, sih Yah," jawab Rika.


Malam semakin larut, Rika dan Angga membaringkan tubuh mereka keranjang dan terlelap dalam tidurnya.


...----------------...


Supir sudah menunggu di sana untuk membantu memasukan barang-barang yang akan dibawa ke dalam bagasi. lalu mereka semua masuk, dan Angga duduk di dekat supir sedangkan Rika duduk di bangku tengah bersama Rena putri nya, setelah yakin tidak ada barang yang tertinggal, mobil Itu, berjalan meninggalkan halaman rumah, dengan kecepatan sedang melaju di jalan yang masih sepi karena mereka berangkat jam 05.30.


Sekitar 1 jam perjalanan mereka sampai di Bandara, sang sopir mengantar hingga di tempat pemeriksaan, mereka pun mulai masuk ke terminal keberangkatan, Setelah si sopir memastikan sang majikan sudah melewati pemeriksaan dia pun kembali ke rumah Angga mengemban tugas lainnya yaitu sebagai sekuriti rumah tersebut.


Angga, Rika dan Rena sudah masuk ke dalam pesawat dan duduk di tempat duduknya masing-masing.


Rika dan Rena duduk berdua, sementara Angga duduk di depan mereka bersama penumpang lainnya.


Pesawat pun lepas landas meninggalkan Bandara Soekarno-Hatta.

__ADS_1


ini adalah kali pertama Rena pergi dengan menaiki pesawat udara, ia sedikit takut, itu sebabnya Rika mengajaknya berbicara dan bersenda gurau hingga tidak merasa saat pesawat take off.


20 jam lebih untuk sampai di Boston, membuat mereka memanfaatkan waktu untuk tidur selain sholat dan makan hingga akhirnya ia sampai di Bandara.


Di sana mereka menunggu di jemput oleh anak dan menantunya, tak lama kemudian terlihat dari kejauhan sepasang suami-istri berjalan menuju kearah mereka dan segera menyonsongnya ketika dikenalnya sebagai Bara dan Ratih.


Begitu sudah dekat Rika memeluk Ratih menantunya itu. "Kenapa ngak nunggu di mobil saja, sih? tanya Rika pada menantunya itu.


"Ingin jemput Bunda, Ratih rindu sekali pada Bunda," jawabnya masih memeluk Rika.


"Aku ngak dipeluk nih?"tanya Rena yang melihat mereka saling berpelukan.


Ratih pun melepaskan pelukan mertuanya dan menghambur ke tubuh adik iparnya itu. "Ponakan aku gerak-gerak nih," katanya sambil tertawa ketika merasakan gerakan dari perut Ratih yang menempel di tubuhnya.


Mereka pun berjalan menuju mobil lalu masuk kedalam kemudian kendaraan itu melaju meninggalkan Bandara.


Tak seberapa lama mereka sampai di area parkir gedung apartemen, mereka pun keluar dari mobil dan berjalan menuju lobby dan masuk kedalam lift, Bara dan Angga membawa koper-koper mereka masuk kedalam bersama ketiga wanita kesayangan mereka. Benda kotak penghubung lantai dasar dengan lantai-lantai lainnya itu bergerak menuju lantai lima dimana apartemen Bara berada.


Mereka pun masuk lalu Bara mengantarkan orang tuanya dan adiknya ke kamar mereka masing-masing, sedang Ratih menyiapkan makan malam, setelah siap ia pun memanggil suami, mertua dan juga Adik iparnya itu.


"Ini kapan bikin kamarnya kok sudah ada kamarnya perasaan ayah beli hanya ada dua kamar tidur dan satu ruangan kecil," tanya Angga pada putranya.


"Sudah lama, Yah. Aku Ambil ruangan tengah dan aku rombak semua, Yah. Untuk berjaga-jaga kalian datang atau Ayah Haidar datang. Ini saja seperti belum bisa menampung semua anggota keluarga," kata Bara pada Ayahnya.


Angga pun terkekeh. "Harusnya Ayah membeli apartemen yang lebih besar dari ini agar bisa menampung banyak orang, apa perlu Ayah membeli satu apartemen lagi yang di sebelah Bara itu, Bun? Karena katanya Daddy juga akan datang kemari juga ayahmu dan adikmu, Rat. Butuh tempat yang luas," kata Angga pada mereka semua yang ada di situ.

__ADS_1


"Kalau ada apartemen di dekat sini bolehlah kita beli agar bisa menampung semua anggota keluarga kita kalau mau berkunjung di sini," kata Angga


kenapa gak menyuruh om Ammar buat hotel di sini? Agar bisa menampung semua keluarga kalau datang ke sini kalau tidak ya kita sewakan saja tapi kalau mau beli apartemen, sebelah di jual Yah," jawab Bara


__ADS_2