
Di rumah sakit menampakkan Anin yang sudah sehat bayi laki-laki yang montok dan sehat itu di beri nama Ehan Qamar karena ia lahir di malam hari dan saat bulan purnama bersinar menerangi malam gelap gulita.
Nama yang indah yang disematkan untuk putra pertamanya, Rafi tersenyum melihat pemandangan yang begitu menyejukkan hatinya Ehan berada dalam gendongan sang Bunda yang sedang meminum Asi langsung dari sumbernya.
Begitu tenang dan lahap. Dia tidak menyangka bahwa akan mempunyai anak secepat ini. Rafa berjalan mendekati istrinya lalu duduk di bibir ranjang, menatap sang putra yang sedang lahapnya menyusu dengan mata yang yang terpejam.
Hari ini dokter Raya sudah mengizinkan untuk Anin pulang ke rumah dan nanti siang rencananya mereka akan pulang ke rumah orang tua Rafa sebab Anin sudah tidak memiliki orang tua. Rumah Anin yang berada di perkampungan telah diperbaiki dengan sangat bagus rencana Rafa dia akan tinggal di sana sesuai sesuai keinginan istrinya karena rumah itu adalah rumah peninggalan orang tua Anin yang begitu banyak kenangan istrinya dengan ibunya, itu sebabnya dia mengabulkan keinginan Anin untuk tinggal di sana ketika putranya sudah benar-benar berusia tiga bulan sehingga Anin sudah tidak terlalu kerepotan dalam mengasuh anak.
Di rumah kediamannya Ammar dan Izah pun sibuk mendekor kamar Rafa dan menatanya menjadi tempat yang nyaman untuk cucunya yang akan pulang dari rumah sakit nanti siang. Mereka telah mendapatkan kabar dari dokter Raya bawa Anin beserta anaknya akan bisa dibawa pulang nanti siang dan akan menyambut dengan penuh kegembiraan.
Sungguh ini membuat Izah benar-benar bahagia dan merasa senang. Beberapa hari yang lalu mereka sudah sangat mempersiapkannya, ketika anak dan menantunya akan segera melahirkan.
Kamar mereka sudah direnovasi sedemikian rupa, di mana terdapat ruang di samping kamar mereka untuk sang cucu kesayangan di mana ada pintu penghubung antara ruangan bayi dan kamar mereka. hari ini Izah menyediakan begitu banyak makanan untuk menyambut cucu dari anak pertamanya yaitu Rafa.
"Ma jam berapa nanti kita menjemputnya?" tanya Rendra yang masih setia duduk di depan meja makan dengan menikmati bakwan sayur yang ada di piring di depan tempat duduknya.
Nanti sekitar jam 11.00 mereka akan keluar dari rumah sakit kita akan berangkat ke sana sekitar jam 10.00 pagi. Kamu yang bawa mobilnya ya Ren!" pinta Izah.
"Baik, Beres, Mam. Apa sih yang nggak buat Mama," kata Rendra tertawa.
Izah memukul tangan Rendra "Dasar kamu yaa, sukanya menggoda orang tua saja."
Rendra pun terkekeh lalu beranjak dari duduknya dan berjalan menaiki tangga menuju kamarnya.
Sesampainya di kamar dia pun berjalan menuju balkon kemudian mengendap-endap menuju arah balkon Rena dan melompati batas tembok antara balkonnya dengan balkon kamar itu. Dia menuruni tangga yang mengarah pada kamar gadis pujaannya itu ketika sudah sampai ia pun terkejut, saat melihat Rena yang tidur dengan hanya menggunakan celana pendek dan tanktop. Rendra tertawa "indah banget kamu dek," katanya sambil berjalan menuju ranjang Rena dan duduk di sana.
__ADS_1
"Dek, bangun!" Rendra membangunkan dengan mengelus perut gadis itu dengan lembut sambil digelitiki di area yang terbuka itu.
Rena pun menggeliat dan membuka matanya dia pun terkejut melihat Rendra sudah duduk di bibir ranjang tempat tidurnya, mata terbelalak lebar dengan muka batalnya sehabis bangun tidur.
Pasal dia hanya memakai celana pendek sebatas paha dan tanktop tali sebatas dadanya yang membuat perut yang putih mulus itu terlihat nyata oleh Rendra, gadis itu pun langsung bangun terduduk di ranjangnya. "Abang lewat mana?" tanya Rena dengan raut muka bingung dan malu.
"Lewat lubang kunci, Dek," kata Rendra menatap penuh kekaguman.
"Jangan ngadi-ngadi kamu, Bang. Itu pintu sudah Rena kunci," katanya dengan heran.
Rendra naik keranjang dan duduk di samping Rena di raihnya pinggang gadis itu. Di dudukan di pangkuannya dengan tangan memeluk perut yang terbuka itu.
Bibirnya mulai mencium bahu terbuka gadis itu.
"Bang," panggil Rena
"Hem," jawab pria itu tanpa mengalihkan bibirnya yang menempel di bahu wanita yang telah mencuri hati itu.
Umpatan lirih yang keluar dari bibir Rena terdengar olehnya membuatnya tertawa.
"Apa kalau kamu tidur suka pakai yang beginian?" tanya Rendra.
"Iya, Rena, kan sendirian di kamar, salah sendiri Bang Rendra masuk. Gak boleh?" tanyanya dengan suara lirih yang bergetar karena menahan rasa yang belum pernah ia rasakan.
"Sangat boleh, kamu cantik sekali, sudah fix Abang mau nikahin kamu sepulang ayahmu dari Boston.
__ADS_1
Rena kembali terkejut, dan membelalakan matanya semakin lebar.
"Apa Abang ingin aku di gorok sama Bunda dan Ayah, Rena itu masih kecil Bang?" katanya sambil menoleh kebelakang pada pria yang sibuk menciumi bahunya itu.
"Kalau ketahuan Abang begini sama kamu, malah di gorok habis kamu Ren," katanya tertawa sambil menyudahi kegiatan gilanya itu.
"Kan Abang yang bikin Rena mager beranjak dari pelukan Abang," kata sambil mencebikan bibirnya
"Hahaha, sana mandi dulu! Bau asam," kata Rendra sambil melepaskan pelukannya pada gadis itu.
"Bilang bau asam tapi dicium juga," katanya beranjak dari pangkuan Rendra.
Rendra tertawa dan menatap kepergian gadis itu hingga hilang dari pintu kamar mandi.
Rendra kembali menaiki tangga menuju balkon dan melompati pagar pembatas yang rendah itu kembali ke kamarnya.
Sementara itu di kamar mandi, Rena meredakan debaran jantung dan rasa yang merambat hingga di kepalanya.
dirabahnya bahunya seolah tak ingin dibasuh dengan air. Ahh, bisa gila aku dibuatnya kalau setiap kali dekat Bang Rendra, seperti ini, batin Rena.
Dilepaskannya seluruh pakaiannya dan mengguyur kepalanya dengan shower agar segera waras otaknya. Kalau begini caranya bisa dewasa dengan cepat aku, gumamnya dalam hati.
Setelah itu melangkah ke bathub, dan masuk kedalam air hangat yang baru di persiapkan tadi dipejamkan matanya, ia tersenyum mengingat momen itu, ini benar-benar gila kenapa debaran hatiku tak kunjung pergi begitu saja, pikirnya.
Rena dengan susah payah menormalkan hatinya, sudah berapa kali dia menggeleng, sudah berapa kali pula ia mengumpat dalam hati. Dia benar-benar di buat gila dengan pria itu, bahkan ia pun lupa bahwa pernah mempunyai ketertarikan pada Vino adik dari kakak iparnya itu semua perasaan seolah dirampas dengan sangat cepat oleh lelaki yang bernama Rendra Prayoga itu.
__ADS_1