Menikahi Sahabatku

Menikahi Sahabatku
Dokter Anita


__ADS_3

Mobil berjalan terus tak ada percakapan. Diki mengerti saat ini untuk membujuk Nara agar tidak marah adalah sia-sia saja, jadi ia pun menunggu kemarahan sang istri mereda. Akhirnya mobil berhenti di area rumah makan yang unik dan sangat indah.


Mereka makan siang di sana, tanpa seyuman, perbincangan alah kadar dan candaan. Suasana yang awalnya di harapkan untuk bisa romantis hilang sudah, ke indahan suasana rumah makan tak cukup membuat suana hati Nara membaik, Diki menyudahi makannya, meminum kopi latte pesanannya, lalu mengambil tissue untuk membersihkan sisa makanan yang tertinggal di sudut bibirnya.


Dia menyingkirkan piring dan gelasnya kesamping, lalu menaruh kedua tangannya di atas meja menatap lekat sang istri yang masih menikmati makan siangnya.


"Ra, apa yang harus Abang lakukan? Agar bisa membuatmu tersenyum kembali." kata Diki masih menatap Nara.


"Jungkir balik," kata Nara tanpa ada expresi, sambil meminum jus jeruk dinginnya.


"Apa? Di sini?" tanya Diki dengan melebarkan matanya lalu ia menoleh ke kanan dan ke kiri kemudian menebarkan seluruh pandangan matanya di area itu.


Menelan ludahnya dan mengusap wajahnya dengan kasar menatap istrinya dengan tatapan mengibah, tak bisa di bayangkan Diki yang notabane sebagai seorang dokter harus jungkir balik di tempat umum, "Yang ... ," gumamnya pada Nara, namun tiba-tiba Nara tertawa sambil memeluk Diki, "Bercanda," katanya tanpa bisa menghentikan tawanya melihat expresi kebingungan dari sang suami.


Diki menghelah nafas lega, lepas dari rasa malu yang tak bisa di bayangkan sebelumnya, terkekeh sambil mengumpat dalam hati, "Si@lan nih, bocah bikin cemas saja."


"Sudah puas ngerjain suamimu," katanya sambil memasang muka juteknya.


"Belum sih sebenarnya mau berlanjut sampai besok tapi kasian sama Abang," katanya sambil terkekeh.


"Bang, tahu dari mana tempat sebagus ini?" tanya Nara sambil mengedarkan pandangannya ke segala arah.


"Rekomen dari teman-teman, katanya di sini ada tempat menginap yang bagus juga," kata Diki sambil menggerakkan alis matanya.


"Abang gak balik ke rumah sakit?"tanya Nara pada Diki.


"Balik jam tiga sore nanti," jawab Diki.


"Bagaimana kalau kita memesannya satu atau dua jam?" tanya Diki pada Nara dan istrinya menggeleng.

__ADS_1


"Ayolah, Ra. Abang nanti ada 3 operasi lagi," ajak Diki lagi dan lagi-lagi Nara menggeleng.


"Ya, sudah kalau gak mau, aku mau tidur sendiri aja, kalau mau pulang, pulang sendiri sana!" katanya sambil berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menuju kasir. Nara terkejut mendengar ucapan suaminya lalu ia segera berdiri dan berlari mengejar suaminya yang masih berdiri di depan kasir.


Setelah membayar, Diki berjalan tanpa menoleh kebelakang dengan langkah lebarnya terus berjalan menuju gedung pengelolah tempat ini.


Nara pun berlari mengejar suaminya lalu meraih tangan suaminya, "Pelan-Pelan, Bang. Nara ikut."


Diki tersenyum dikuranginya kecepatan langkah kakinya, Nara dengan manjanya menggelayut manja di lengan Diki.


Mereka pun menyewa sebuah kamar yang di dalam terdapat taman kecil beraneka bunga yang indah di pojok ruangan dengan atap kaca di bagian taman membuat cahaya matahari masuk di selah sebagian atapnya dengan ranjang yang menghadap ke taman, Nara terpesona dengan dekorasi ruangannya, tanpa membuang waktu Diki mengendong sang istri dan di baringkan di atas ranjang lalu meluapkan rasa yang telah di tahan sedari tadi pada istrinya.


...----------------...


Di Rumah sakit, Anita berjalan gontai melewati lorong-lorong rumah sakit menuju ruangan yang baru ditepatinya lima jam yang lalu. Duduk di atas sofa dan dengan pikiran yang mengembara 3 bulan yang lalu, dia tak menyangka ternyata Diki datang pada waktu itu di saat dia melakukannya dengan Bara.


Anita mengenal Diki saat pertama kali kuliah di kedokteran Universitas Air Langga Surabaya sebagai adik kelas dua tingkat di bawahnya.


Sebelum mengenal Diki, pergaulan Anita sangatlah bebas, Dikilah yang membuat Anita meninggalkan dunia malamnya.


Sebagai wanita yang sudah pernah melakukan dengan pria lain dia merasa sudah tak kuat mempertahankan hubungannya dengan Diki begitu hambar. Anitalah yang selalu memulai mencium dan mencumbuinya. Ketika akan melampaui batas maka Diki selalu meningalkannya begitu saja, hingga dia bosan dengan hubungan ini.


Bara adalah sahabat Diki sejak sejak awal kuliah, kehidupan Bara yang serba papasan membuat Bara mengambil pekerjaan apapun dan itu di manfaatkan Anita untuk memenuhi hasratnya dengan menawarkan sejumlah uang pada Bara.


Bara yang membutuhkan uang untuk biaya kuliah dia dan adik menerima tawarannya.


Setelah lulus Bara dan mejalani berbagai persyaratan untuk menjadi dokter, Bara di tempatkan di puskesmas di pinggiran kota. Dia akan datang menemui Anita jika Anita membutuhkan hingga perselingkuhan mereka terbongkar dan Diki pun pergi darinya.


Ketukan pintu membuat la tersadar dari lamunannya, seorang suster berdiri di depan pintu yang terbuka," Ya, silakan masuk."

__ADS_1


"Maaf, Dok. Ini data pasien yang harus anda tangani," kata suster itu sambil menyerahkan laporan data pasien.


Anita melihat data pasien tersebut, "Dia baru di lahirkan dan ibunya meninggal?"


"Iya, Dok anda di minta segera memeriksa pasien tersebut."


"Dokter Andrian?"


"Maaf, Dok. Ini masuk dalam pasien anda."


"Ok! Ayo antar saya," katanya bangkit dari duduknya dan melangkah mengikuti suster ruang ICU di mana bayi itu berada. Dengan memakai pakaian khusus ia masuk ke dalam. Dokter Anita memeriksa kondisi bayi tersebut, "Hai, ayo kita berjuang bersama, aku akan merawatmu dan berusaha menyembukanmu, berjuanglah untukku, Nak." setelah itu ia keluar dan bertanya, "Ibunya pasien siapa?"


"Dokter Danu, Dok. korban pemerkosaan," jawab sister itu.


"Apa? Korban pemerkosaan?"


"Iya, Dok. Bayi itu dalam perwalian Dokter Danu, Dok. Sebelum menghembuskan nafas beliau menitipkan anak-anak pada Dokter Danu."


"Anak-anak? Apa mereka kembar?"


"Iya,Dok." jawab suster itu


"Trimakasih Sus, saya akan menemui Dokter Danu," katanya sambil melangkah pergi menuju ruangan Dokter Danu, setelah sampai di depan pintu Anita mengetuk pintu dan terdengar suara dari dalam menyuruhnya masuk, ia membuka pintu berjalan kemudian duduk di depan meja Dokter Danu. Dokter Danu tersenyum dan bertanya," Ada apa? wajah mu begitu seriusnya."


"Aku ingin mengadopsi bayi yang mengalami kelainan jantung itu."


"Kenapa kau tertarik untuk mengadopsinya? Apa kau tak ingin menikah dan punya anak sendiri?" tanyanya pada Dokter Anita, Anita tertawa, "Aku sudah mati rasa, aku tak akan menikah, tolonglah Danu, biar bayi tampan itu jadi milikku, menemaniku di hari tua." katanya pada Dokter Danu.


'

__ADS_1


__ADS_2