
Helena kembali ke dalam Restoran setelah berbicara dengan Damian. Dia tersenyum hangat menyapa para pelanggan Restoran Sarah seperti biasanya, walaupun sebenarnya ia khawatir para pengikut Dewa Cthulhu akan datang untuk menculik Putrinya.
Sarah tercengang melihat Hades tiba-tiba datang ke Restoran mengenakan Jirah besi berwarna Perak dan Pedang Hitam besar di punggungnya.
“Apakah Paman Hades ingin berburu Monster?” tanya Sarah dengan mata berbinar-binar sembari mengelilingi tubuh Hades beberapa kali, takjub dengan pakaian yang ia kenakan tersebut.
Hades tersenyum lebar dan berkata, “Kali ini Aku tidak akan pergi berburu.” Dia kemudian terdiam sejenak dan pandangannya tertuju pada Lilith yang sedang melayani pelanggan. “Aku akan bergabung dengan Pasukan Kota Perdamaian dalam misi melindungi Benua Grandland!”
Sarah semakin tersenyum cerah mendengar kata-kata Hades yang tampak sangat percaya diri tersebut.
Hades sendiri termasuk dalam kategori Pasukan yang mendaftar secara sukarela setelah Lord Michael mengumumkan perekrutan Pendekar dalam misi membantu Kekaisaran Hazel melawan gerombolan Monster Serigala Putih dan Mayat-mayat hidup yang muncul di wilayah Selatan Benua Grandland tersebut.
Tanpa diduga banyak Pendekar dan Pemburu dari berbagai Ras bergabung, hanya para Pendekar dari Keluarga Pengusaha yang tampak terpaksa ikut karena mereka tidak dapat menolak perintah dari Dewan Kota.
“Tolong tunjukkan pada semua orang bahwa Pedang yang kutempa itu adalah Pedang terbaik serta paling tajam he-he-he ....” Uran tertawa sembari menepuk pundak Hades. Dia baru saja memasuki Restoran Sarah untuk makan siang.
“Walaupun Aku tidak sekuat Bos Alex, tetapi bilah Pedangku pasti dengan mudah menghancurkan mereka!” sahut Hades dengan bangga.
“Paman Hades hebattttt!” Sarah memuji Hades sembari mengangkat kedua tangannya.
“Kamu pasti ingin membeli Rendang, kan? Tapi sayang sekali, Kami tidak memiliki persediaan Rendang lagi,” sela Helena yang sudah menebak tujuan Hades kemari, karena hanya menu satu itulah yang dapat meningkatkan kekuatan fisiknya.
“Apaaaa?” Hades terkejut mendengarnya. “Sayang sekali, sepertinya Aku datang terlambat. Kalau begitu, Aku akan membeli Sarahmie ke Toko Margareth saja. Sampai jumpa, Sarah!” Hades melambaikan tangan.
__ADS_1
“Sampai jumpa Paman Hades, semangat!” Sarah mengepal tinju mungilnya yang membuat para pengunjung Restoran tertawa.
Uran memeluk Hades erat-erat sembari menahan air matanya. Dia sangat sedih harus berpisah dengan sahabat baiknya itu dan mungkin bisa saja ini akan menjadi pertemuan terakhir mereka, karena hanya ada Dua pilihan yang dialami oleh Hades dalam pertempuran nanti, “Hidup atau Mati” saja.
...***...
Ribuan Pengungsi Orc melewati lembah yang diapit Dua bukit kecil wilayah tengah Kerajaan Orc atau hanya berjarak Puluhan Kilometer lagi dari Ibukota Kerajaan Orc tersebut.
Para Pengungsi Orc berjalan dengan lambat karena mereka telah kelelahan, kalau bukan tekad untuk bertahan hidup—mungkin mereka sudah menyerah melanjutkan perjalanan itu. Namun, tak ada tempat yang aman selain Ibukota Kerajaan Orc, terpaksa lah mereka memaksakan diri melanjutkan perjalanan itu.
“Bu, apa itu?” Orc berusia Delapan tahun menunjukkan ke arah puncak bukit.
“Jangan lihat itu dan jangan berhenti melangkah atau kita akan ketinggalan,” sahut Ibu Orc kecil itu menarik tangannya agar mempercepat langkahnya.
Alex menghunus pedangnya, tetapi tiba-tiba Penunggang Kuda mayat hidup itu menghilang dan muncul lagi di ujung Selatan Bukit kecil.
Alex mengerutkan keningnya dan bingung, apa sebenarnya yang direncanakan oleh sosok misterius yang kemungkinan besar adalah pengikut Dewa Cthulhu tersebut. Kenapa ia tidak mengerahkan Pasukan mayat hidupnya? Apa karena para pengungsi bukan Pendekar atau karena ada dirinya dalam barisan pengungsi ini.
Penunggang Kuda Monster mayat hidup itu menyilangkan kedua tangannya, kemudian Kudanya berjalan ke sisi lain bukit kecil itu sehingga sosok misterius itu tidak terlihat lagi.
Alex segera berlari menuju puncak bukit kecil itu dan saat ia sampai di sana. Dia mengerutkan keningnya karena sosok misterius itu telah menghilang.
“Apa Aku hanya berhalusinasi saja, karena terlalu khawatir pengikut Dewa Cthulhu menyergap para pengungsi?” gumam Alex. Namun, ia merasa sosok misterius terlihat sangat nyata, bahkan bocah Orc disebelahnya juga melihat sosok misterius itu. “Apa Dia menyuruhku agar tidak menuju Ibukota Kerajaan Orc?” Kini Alex berpikir mungkin tempat itu juga telah menjadi Kota Hantu dan semua penghuninya telah menjadi mayat-mayat hidup.
__ADS_1
Alex kembali ke dalam rombongan Pengungsi Orc dan melanjutkan perjalanan menuju Ibukota Kerajaan Orc bersama mereka. Namun, setelah keluar dari lembah sempit yang diapit dua bukit kecil itu, tiba-tiba kerumunan pengungsi berhenti melangkah.
Alex teringat diujung lembah itu ada Sungai berarus deras.
“Kata barisan paling depan, Kita akan beristirahat sebentar dan makan siang bagi yang masih memiliki bekal,” kata Orc berusia Lima Puluh tahunan pada Orc Wanita disebelah Alex.
“Syukurlah kita akhirnya beristirahat. Tom sudah kelelahan sekali,” sahut Orc Wanita itu menyeka keringat yang membasahi wajah Putranya. Kemudian ia memeriksa Tas-nya dan hanya tersisa Satu bungkus Sarahmie saja. Dia kemudian tersenyum menatap Putranya dan berkata dengan lembut, “Tom, Kita minum air saja, ya... Kita sudah kehabisan Roti Kering dan hanya ada Sarahmie saja. Untuk memakannya Kita harus memanaskan air dulu dan itu akan memakan waktu yang lama, sehingga Kita akan ditinggalkan oleh rombongan.”
Walaupun Tom hanya berusia Delapan tahun, kejadian malapetaka ini telah membuat pikirannya menjadi lebih Dewasa. Bahkan ia tidak mengeluh saat Ibunya hanya memberikannya beberapa gigitan Roti Kering dan menyimpan sisanya untuk bekal mereka selanjutnya.
“Tidak apa-apa Bu, Tom hanya haus saja!” sahut Tom tersenyum cerah. “Ayo kita menuju Sungai Bu mengisi botol minuman kita.”
Alex tersenyum tipis menatap betapa tegarnya Ibu dan Putranya itu. Dia pun menghela napas panjang karena tidak dapat melakukan sesuatu untuk mengurangi penderitaan mereka.
Alex berjalan mengikuti keduanya berjalan menuju tepi sungai dan ia melihat beberapa Pria Orc bertubuh besar sedang menumbangkan beberapa Pohon.
“Apa yang kalian lakukan?” tanya Alex penasaran. Padahal seharusnya mereka beristirahat sebentar seperti yang lain, bukan malah membuang-buang energi melakukan pekerjaan berat.
“Kami akan membuat jembatan darurat, Pangeran.” Salah satu Pria Orc menjawab. “Sungainya terlalu deras, takutnya banyak yang tidak dapat melawan arusnya dan akhirnya terseret arus sungai.”
“Oh, seperti itu.” Alex tidak menyangka masih ada Orc yang baik dalam barisan pengungsi ini. “Kalian berhentilah merobohkan Pohon itu, beristirahat lah. Aku memiliki cara membawa kalian menyeberangi sungai ini nanti.”
Mereka sangat senang mendengarnya dan segera beristirahat sembari menenggak air dari sungai.
__ADS_1
Setelah tidak ada lagi Orc yang mengambil air dari sungai, Alex memasukkan tangannya ke dalam air sungai dan tiba-tiba Sungai berarus deras itu membeku.