Pangeran Terkuat Menjadi Koki Legendaris

Pangeran Terkuat Menjadi Koki Legendaris
Bos Kecil Yang Perkasa


__ADS_3

“Tunggu! Bukankah Dia gadis setengah Elf cucu Yang Mulia Ratu?” Kakak kelas tingkat akhir Julian segera menarik tangan rekannya yang hendak maju menampar para bocah-bocah Elf yang berani memprovokasi mereka.


“Eh, Pendekar tingkat 7 itu? Pantas saja Aku tidak bisa mengukur tingkat Kekuatannya!” sahutnya dengan raut wajah ketakutan. “Jadi bagaimana sekarang? Apa yang harus kita lakukan?” tanyanya lagi menatap Pemimpin kelompok mereka.


Elf berambut pirang yang menjadi pemimpin gerombolan yang menjarah uang Belle itu merasa air ludahnya terasa pahit, karena ia juga tidak tahu apa yang harus mereka lakukan agar tidak berakhir babak belur di tangan cucu Ratu Elf tersebut.


Setelah berpikir sejenak, ia berkata dengan senyum lebar yang dipaksakan, “Nona Sarah ... sebenarnya Kami hanya ingin meminjam uang saudari ini!” Dia menunjuk Belle, kemudian buru-buru mengeluarkan uang yang mereka rampas dari Belle.


Salah seorang dari mereka segera meletakkan uang itu di tangan Belle dan mundur dengan tergesa-gesa karena takut dipukuli oleh Sarah.


“Bohongngngng!” sahut Julian meraung keras. “Semua orang tahu reputasi kalian yang suka merampas uang bocah-bocah seperti kami!” Dia mengeluarkan kalimat provokatif.


Raut wajah Kakak seniornya itu semakin masam dan jelas terlihat dari sikap mereka bahwa mereka ingin memukul Julian hingga babak belur.


“Cih, tunggu saja saat cucu Yang Mulia Ratu kembali ke Kota Perdamaian maka kalian tidak akan memiliki sosok kuat yang membela kalian dan saat itu ....” Pemimpin gerombolan itu berbisik pelan, tetapi masih terdengar oleh Julian.


Tubuh Julian tiba-tiba menggigil dan merasa ia sudah melakukan kesalahan fatal serta teringat Sarah hanya siswa sementara di Akademi Kerajaan Hutan Abadi. Kalau Sarah pulang ke Kota Perdamaian, siapa nanti yang akan menjadi bos mereka.


Sarah yang melipat kedua tangannya di dada, tiba-tiba melesat dan dalam satu kedipan mata tiba di depan Pemimpin gerombolan perampas uang milik Belle tersebut.


“Jurus Tamparan Gado-gado!” teriak Sarah yang membuat semua siswa-siswa Elf keheranan, tehnik beladiri apa yang disebutkan oleh Sarah itu.


Lima Remaja Elf langsung terhempas jauh dan berguling-guling di permukaan tanah. Pipi mereka yang ditampar oleh Sarah langsung membengkak besar dan mereka menangis kesakitan.


“Ayo hajar mereka! Kata ayahku, penjahat harus dibuat babak belur!” seru Sarah dengan kedua tangan di pinggang.

__ADS_1


Lima Puluh bocah-bocah Elf berusia Lima tahun kecuali Julian mulai menendang Kelima remaja Elf itu yang langsung meringkuk dan menutup wajah mereka agar tidak terkena tendangan para bocah-bocah itu.


“Astaga! Mulai saat ini para guru harus bekerja ekstra untuk melindungi bocah-bocah itu agar tidak dipukuli oleh Kakak senior mereka,” gumam seorang guru Elf yang bersembunyi di atap gedung Akademi.


Dia segera datang kemari setelah mendengar laporan kalau Sarah memimpin rekan-rekan satu kelasnya pergi melawan para Kakak kelas pembuat onar. Namun, ia terlambat datang karena Sarah dan rekan-rekannya telah memukuli Kakak senior tersebut.


Sarah mendekati Belle dan membantu Belle berdiri. “Jangan bersedih lagi Kak Belle, kalau mereka memukulmu di masa depan, maka kirim surat padaku dan Aku akan terbang dengan Pesagus kemari, kemudian membuang mereka ke Lautan Timur!”


Sarah berkata bangga walaupun sebenarnya ia belum pernah melihat Lautan, karena perjalanan paling jauh yang ia lakukan adalah ke Kota Ella. Namun, suatu hari nanti ia yakin Ayahnya akan membawanya melihat Lautan.


“Eh?” Pemimpin kelompok remaja itu merasa kesempatan balas dendamnya pada bocah-bocah ini tidak akan pernah terwujud lagi. Dia tahu Ayah Sarah adalah Pendekar terkuat di Benua Grandland, jadi sungguh bodoh bila memprovokasi putrinya—itu sama saja dengan bunuh diri.


“Bagaimana dengan Kami, Bos kecil?” tanya Julian sembari menunjuk wajahnya sendiri.


“Ya, semua teman-temanku juga!” sahut Sarah tersenyum cerah.


“Astaga bocah itu!” Guru wanita yang bersembunyi di atap gedung segera melesat ke arah Julian dan menangkap Batu besar yang ia lemparkan ke arah wajah seniornya.


“Bu-bu ... Guru!” Julian terkejut melihat Elf cantik di hadapannya.


“Sudah berhenti memukuli Kakak senior kalian dan kembali ke kelas!” seru Guru Elf itu. Kemudian ia menghela napas panjang setelah melihat Kelima Remaja Elf itu telah babak belur, wajah mereka bengkak dan pakaiannya mereka telah berubah menjadi compang-camping seperti pakaian pengemis.


Dia tidak berani memarahi Sarah karena Sarah cucu Ratu Elf dan juga tingkat Kekuatannya sama dengan Sarah, sehingga ia tahu dapat menang bila Sarah menantangnya berduel mengingat bocah itu dapat menggunakan semua Elemen Sihir.


“Yah, padahal Aku belum meninggalkan bekas luka di wajah mereka!” gerutu Julian berjalan bersama rekan-rekannya menuju kelas.

__ADS_1


Sarah memegang tangan Belle dan berjalan bersama-sama menuju kelas. Dia sesekali melompat-lompat seperti Kelinci dan bercanda dengan Belle.


...***...


Sebulan setelah kematian Dewa Cthulhu, Alex membawa keluarganya kembali ke Kota Perdamaian. Dia terkejut Kota Perdamaian telah berubah drastis, terutama di wilayah timur; Pemimpin Kota merenovasi tempat itu dan membangun perumahan murah berkat bantuan dana dengan bunga murah dari Bank Voldemort.


Lalu lalang berbagai macam Ras juga terlihat di jalanan Kota Perdamaian. Sepertinya semakin banyak Ras lain yang pindah ke Kota Perdamaian setelah malapetaka yang dilakukan oleh pengikut Dewa Cthulhu.


“Bossssssssss ... Aku merindukanmu!” Hannah memeluk Alex yang baru saja turun dari punggung Pegasus. “Dari mana saja kalian, Bos? Kami mengira Bos tak akan kembali ke sini lagi.”


Hannah dan yang lainnya sudah kembali ke Kota Perdamaian Dua Minggu yang lalu, mereka langsung membuka Restoran Sarah walaupun Alex tak ada. Namun, mereka kesulitan mendapatkan pasokan bahan-bahan makanan berkualitas tinggi sehingga mereka memutuskan hanya menjual Nasi Goreng saja.


Akibatnya, banyak pelanggan yang beralih ke Restoran terkenal lainnya yang kini juga menjual menu makanan yang sama dengan Restoran Sarah, hanya belasan pelanggan yang dulunya pelanggan awal Restoran Sarah seperti Uran dan Ron saja yang tetap rajin datang. Namun, mereka selalu mengeluh dan bertanya kapan Alex pulang.


“Ha-ha-ha ... Aku mengira kalian masih di Kota Ella, makanya Kami memutuskan tinggal lebih lama di Hutan Abadi. Kebetulan sekali Sarah sangat suka tinggal di sana dan neneknya selalu memanjakannya sehingga Kami terpaksa berlibur lebih lama di sana,” sahut Alex tertawa.


“Kak Hannah!” Sarah melompat ke pelukan Hannah. “Kak Elenna, Kak Lilith, Kak Eva, Kak Viola ... Sarah pulang!” sapanya sembari tersenyum cerah.


“Selamat datang kembali, Sarah!” Viola mencubit pipi mungil Sarah.


“Baiklah, mari kita masuk dulu dan ... Aku akan membayar gaji kalian,” sahut Alex tersenyum hangat. “Oh, ya ... Kalian akan mendapatkan Dua Bulan gaji, karena gaji bulan lalu belum dibayarkan!”


“Eh, Bos ... Bukankah bulan ini Restoran tidak jualan dan Kami hanya menjual Nasi Goreng saja ... serta hanya menghasilkan Sepuluh Koin Emas saja,” sela Elenna.


Alex masih tersenyum dan berkata, “Tidak apa-apa, kalian sudah bekerja dengan baik selama ini. Anggap saja bonus untuk kalian!”

__ADS_1


Elenna tidak menyela lagi, lagi pula Hannah dan yang lainnya tampak bahagia setelah mendengar penjelasan Alex.


__ADS_2