
Ander menggunakan jalan pintas menuju rumah bordil yang dikelola oleh kelompok preman Levi, salah satu dari ratusan kelompok preman yang menjamur di wilayah timur setelah bandit-bandit besar diberantas oleh Evelyn, Pengawal pribadi Margareth.
Ander memasuki rumah yang dijaga oleh beberapa Orc berbadan tegap. Dia langsung melewati Penjaga Orc itu dan berlari ke lantai atas, kemudian mendobrak ruangan paling ujung.
Pria berusia Lima Puluhan tahun berkumis tebal langsung mengerutkan keningnya menatap Ander. “Kenapa kau tidak mengetuk pintu dulu, Ander?” bentaknya.
Kalau Ander bukan keponakannya maka ia akan langsung menebas kepala Ander dengan Pedang saking kesalnya dengan sikap Pemuda pemabuk itu.
“Aku memiliki kabar gembira dan kabar buruk, Paman Levi!” sahut Ander dengan napas terengah-engah dan meraih gelas di atas meja, kemudian menenggaknya hingga tak meninggalkan setetes air pun di dalam gelas itu. “Kabar mana dulu yang ingin Paman Levi dengar?” katanya lagi.
Levi mendengus dan menahan amarahnya untuk tidak memukul keponakan tak tahu malu ini. “Apa kabar gembira itu?” selidiknya.
“Bibi Rosa yang tinggal di sebelah rumahku telah sembuh dari penyakitnya dan tiba-tiba menjadi cantik setelah diobati oleh gadis Elf!” sahut Ander, “Kita tidak memiliki banyak waktu lagi, kabar buruknya Viola membawa kabur Bibi Rosa dan mungkin telah mencapai jalan mawar.”
Awalnya Levi tersenyum lebar mendengar pendulang uangnya itu akhirnya sembuh kembali dan bertambah cantik. Namun, saat mendengar Rosa melarikan diri, keningnya langsung mengkerut.
“Panggil semua anggota kita dan kejar mereka!” teriak Levi.
Dia tidak mungkin membiarkan pendulang uangnya itu melarikan diri, karena akhir-akhir ini sangat sulit mendapatkan gadis muda untuk dijadikan sebagai wanita penghibur. Para gadis-gadis muda di wilayah timur Kota Perdamaian kini berbondong-bondong melamar pekerjaan menjadi karyawan Perusahaan Margareth dan Jean, komandan Petugas Keamanan wilayah timur juga sering melakukan patroli karena akhir-akhir ini banyak penduduk yang menghilang secara tiba-tiba.
Ander sangat senang mendengar tanggapan dari pamannya itu, yang berarti hanya selangkah lagi dirinya akan mencicipi tubuh Viola yang telah ia idam-idamkan itu.
Levi mengambil Pedang Hitam besar yang tergantung di dinding dan melompat dari jendela, kemudian mendarat keras di halaman rumah bordil.
__ADS_1
Belasan Preman kemudian berlari mendekati Levi dan mengikutinya berlari ke arah jalan Mawar.
Saat kelompok Preman itu berbelok di ujung jalan selebar Tiga Meter itu, Mereka langsung bertemu rombongan Viola yang hendak menaiki Kereta Kuda.
Melihat para Preman berteriak beringas, Kusir Kereta Kuda langsung melajukan kudanya karena takut diamuk oleh para Preman itu.
Rosa langsung panik, tubuhnya gemetar dan berkeringat dingin karena merasa tak ada harapan lagi bagi mereka untuk menghindari para Preman yang memaksanya menjadi wanita penghibur tersebut.
Namun, Rosa bingung melihat Viola dan Irina malah terlihat tidak panik. Keduanya malah menoleh ke arah Helena, karena keduanya sudah mengetahui kalau Helena adalah Pendekar tingkat 10.
Bila seseorang mengetahui rumor tentang Pangeran Alex Acherron, maka secara otomatis mereka juga akan mengetahui kalau saat berpetualang Sang Pangeran selalu bersama dengan Putri Mahkota Helena yang dijuluki wanita tercantik di Benua Grandland tersebut.
Akan tetapi, Rosa hanya mengetahui kalau putrinya bekerja di Restoran yang pemiliknya bernama Alex saja dan belum mendengar rumor kalau ternyata sang Koki Legendaris itu adalah Pangeran Alex Acherron yang empat tahun terakhir tiba-tiba menghilang, dan muncul kembali sebagai seorang Koki tersebut.
“Aku rela tidak mendapatkan upah selama setahun asalkan dapat mencicipi tubuhnya!”
“Hei, curang! Aku rela tidak dibayar selama Sepuluh tahun asalkan mencicipi tubuhnya setelah Bos Levi!”
Para Preman bawahan Levi langsung berpikiran kotor saat melihat tubuh indah Helena.
Levi memperlambat langkahnya sembari mengangkat tangannya agar para Preman bawahannya tidak bertindak gegabah.
Levi bukanlah sosok Preman yang bertindak sembrono. Dia selalu bertindak hati-hati makanya rumah bordil yang ia kelola dapat bertahan selama puluhan tahun, bahkan ia rela membayar upeti pada bandit besar dan Petugas Keamanan demi tidak berkonflik dengan mereka.
__ADS_1
“Aku tidak dapat mengukur Kekuatan gadis Elf itu,” gumam Levi mengerutkan keningnya. Bila hal itu terjadi, maka hanya ada dua kemungkinan, yaitu Elf itu bukan Pendekar atau tingkatan Pendekarnya lebih tinggi darinya.
Namun, Levi lebih condong ke dugaan kedua, karena menurut Ander penyakit mematikan yang diderita oleh Rosa tiba-tiba disembuhkan dengan mudah oleh Elf itu. Hanya Pendekar tingkat tinggi bererelemen Sihir Kehidupan lah yang dapat melakukan hal itu dan Ras Elf pada umumnya memiliki Elemen Sihir Kehidupan.
“Paman Levi... mari kita tangkap mereka! Gadis Elf itu pasti bernilai jutaan Keping Emas di pasar gelap!” desak Ander yang sebenarnya sudah tidak sabar ingin menangkap Viola untuk dirinya sendiri.
“Diam kau bangsattttt!” bentak Levi, kesal Ander membuyarkan lamunannya.
Ander mengerutkan keningnya dan segera mundur selangkah untuk menghindari amarah dari Pamannya itu. Dia bingung, apakah pamannya takut terhadap gadis Elf itu.
Setelah membentak Ander, Levi menatap Rosa yang terlihat ketakutan dan menundukkan wajahnya. “Rosa... kembali ke rumah bordil bersamaku,” desaknya, “ingat! Aku sudah membelimu dari ayahmu si penjudi itu. Seharusnya kamu bersyukur Aku membiarkanmu tinggal di luar rumah bordil dan merahasiakan pekerjaanmu pada putrimu. Namun, kamu malah—”
Sebelum Levi menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba Helena melempar Lima Koin Emas ke hadapan Levi, sehingga Levi mengerutkan keningnya dan menatap tajam Helena.
“Apa-apaan ini? Kamu pikir Aku takut terhadapmu, hah?” Bilah Pedang Hitam Levi tiba-tiba mengeluarkan Elemen Sihir Kegelapan. Dia berjalan perlahan-lahan ke arah Rosa dan berkata, “Sekali lagi, Rosa... kembalilah denganku atau bukan hanya kamu saja yang akan menjadi wanita penghibur, Viola dan mereka juga akan bernasib sama denganmu!”
Ancaman Levi membuat Rosa semakin ketakutan dan menoleh ke arah Viola sembari menitikkan air mata. “Maafkan Ibu telah menjadi wanita hina... pergilah bersama Nyonya Helena dan tidak perlu khawatirkan Ibu, karena Aku sudah terbiasa menjalani hidup sebagai wanita penghibur. Kamu tidak boleh mengikuti jalan kotor yang ibumu jalani ini.” Tangisan Rosa semakin kencang, kemudian ia menoleh ke arah Levi dan membelakangi Viola. “Ibu sangat mencintaimu, Viola!”
Saat Rosa hendak melangkahkan kaki menuju Levi, tiba-tiba Helena menepuk pundak Rosa dan berkata, “Bibi Rosa... jangan buat Viola bersedih lagi. Para sampah-sampah ini sungguh tidak layak ditakuti.”
“Hei, cantik-cantik mulutmu tajam sekali, nona Elf!” ejek salah satu Preman. “Biarkan kami yang akan menjinakkan mulutnya dengan gagang pedang kami, Bos Levi!”
“Betul, Paman! Apa yang Paman takutkan, wanita hina ini hanya berpura-pura sok misterius saja agar kita ragu menyerang mereka,” sahut Ander menghasut agar Levi semakin marah.
__ADS_1