
Dewa Matahari telah mengetahui kalau Alex akan mencapai Benua Vlorien, tetapi ia tetap tidak bertindak dan memilih menunggu Alex di Kuil Matahari.
Saat Inarius bertanya kenapa Dewa Matahari tidak mengejar Alex, Dewa Matahari beralasan Dia penasaran apa yang akan dilakukan oleh Alex di Benua Vlorien. Baru kali ini Dewa Matahari menemukan sosok yang berani mendatanginya secara langsung, padahal dulu para Dewa maupun mahkluk Void di luar angkasa langsung melarikan diri begitu mengetahui dirinya akan menaklukkan mereka.
“Inarius,” sapa Malaikat Penjaga yang memiliki paras cantik berjalan mendekati Inarius setelah semua Malaikat Penjaga meninggalkan ruangan tempat Dewa Matahari beristirahat. “Hanya Kamu yang pernah melihat Manusia bernama Alex itu. Sekuat apa Dia, sehingga Dewa Matahari sangat antusias ingin bertarung melawannya?” selidiknya penasaran.
Inarius menatap Malaikat Penjaga bernama Lila tersebut. “Aku sarankan, jangan mencoba melawannya atau ... Kamu akan mati!” sahutnya sembari tersenyum tipis. “Kalau beruntung, mungkin Kamu akan menjadi budaknya.”
Lila mengerutkan keningnya mendengar perkataan Inarius, tetapi ia merasa Inarius hanya melebih-lebihkan perkataannya.
“Mau ke mana Kamu, Lila?” tanya Inarius, karena Lila berjalan meninggalkan Kuil Matahari dengan merubah wujudnya menjadi Kesatria Suci Kuil Matahari. “Aku tahu Kamu pasti penasaran dengan Alex. Namun, jangan mendekatinya atau Kamu akan menjadi bahan olok-olokan yang lain!”
Lila hanya mengangkat tangannya tanpa menoleh ke arah Inarius. Dalam sekejap saja, Lila telah menghilang dari pandangan Inarius.
Inarius menghela napas panjang sembari menggelengkan kepalanya. “Ah, seandainya Aku berada di Kota Perdamaian. Aku akan menyantap makanan lezat di Restoran Sarah lagi,” gumamnya.
...***...
Alex akhirnya sampai di bibir pantai paling selatan Benua Vlorien. Dia tidak menemukan keberadaan seseorang di sana, hanya pemandangan tanah tandus saja sejauh mata memandang.
Dia teringat perkataan Zelma, kalau Menara Sihir berada di wilayah Selatan Benua Vlorien yang dipenuhi tanah tandus. Yang berarti ia datang ke tempat yang tepat, yang perlu ia lakukan selanjutnya adalah mencari keberadaan Menara Sihir dan akan makan sepuasnya di sana.
Alex terbang menyelusuri tanah tandus tersebut, tetapi setelah terbang selama satu jam. Dia belum juga menemukan keberadaan Penyihir, sehingga ia mulai khawatir; mungkin seperti dugaan Zelma, Kesatria Suci telah melenyapkan semua Penyihir.
__ADS_1
“Siapa di sana?”
Alex berhenti terbang dan menoleh ke arah bukit kecil di sebelahnya.
Bukit kecil itu tiba-tiba bergetar hebat, dari permukaan bukit itu muncul duri-duri tajam panjang. Tanah, debu, dan batu-batu kecil berterbangan saat mahkluk besar itu menggoyangkan tubuhnya.
“Monster Landak raksasa!” Alex tercengang, apalagi Monster itu memiliki Level diatas Level 10. “Mungkin itu adalah Monster yang telah berhibernasi sejak era Dewa,” gumamnya lagi.
Monster Landak raksasa itu menoleh ke arah Alex dengan tatapan penuh kebencian, sepertinya ia marah dibangunkan dari tidurnya.
“Woi, jangan marah! Aku mengira Kamu tadi musuh yang mengintaiku. Kembalilah tidur siang lagi, Aku akan segera pergi!” seru Alex segera terbang kembali.
Namun, duri-duri Monster Landak raksasa itu melesat ke arah Alex. Akan tetapi ia langsung kebingungan, karena tidak ada siapapun di tempat duri-durinya tertancap.
“Itu berbahaya sekali Landak kecil!” keluh Alex muncul di belakang Monster Landak raksasa itu.
“Grgrgrgrgrgrgrrgrgr!”
Monster Landak raksasa itu bertambah marah karena merasa dipermainkan oleh Makhluk yang jauh lebih kecil darinya itu.
Monster Landak raksasa itu segera menembakkan duri-duri tajam ke arah Alex. Duri-duri itu kini diselimuti oleh energi Sihir yang mirip dengan energi Sihir yang digunakan oleh Kesatria Suci.
Alex tentu terkejut, karena Zelma mengatakan energi Sihir Monster di Benua Vlorien sama dengan energi Sihir Monster di Benua Grandland. Kini ia menduga, Monster Landak raksasa itu mungkin dikendalikan oleh Kesatria Suci. Namun, tidak ada jejak keberadaan seseorang di hamparan tanah gersang tersebut.
__ADS_1
Kandang Besi raksasa tiba-tiba jatuh dari langit mengurung Monster Landak raksasa tersebut.
“Kau masih terlalu lambat untuk menusukku dengan duri-duri lembek itu,” ejek Alex yang membuat Monster Landak raksasa semakin marah dan menubruk kandang besi. Namun, Landak raksasa itu tidak dapat merusak atau menghancurkannya. “Sudahlah, hemat saja Kekuatanmu. Jeruji besi itu memiliki Kekuatan Dewa, lebih baik minta pertolongan kepada tuanmu. Suruh dia datang menolongmu,” kata Alex lagi.
Alex curiga Kesatria Suci yang mengendalikan Monster Landak raksasa itu memiliki Sihir yang dapat menghilangkan aura keberadaannya. Dia pasti bersembunyi tidak jauh dari tempat ini.
Alex menjentikkan jarinya, duri-duri Landak tiba-tiba muncul di langit dan itu membentang panjang hingga sejauh mata memandang.
Monster Landak raksasa sampai membelalakkan mata, mungkin ia terkejut Alex dapat meniru kekuatannya. Padahal sebenarnya Alex hanya menggunakan Kekuatan Penempa Dewa Helzvog.
Kini semua Kekuatan Dewa tidak memiliki durasi atau jeda saat digunakan setelah Sarah memberikannya Kekuatan Dewi Sihir.
“Keluarlah?” Alex berteriak keras. “Aku hitung mundur dari 10. Kalau Kamu tidak keluar, maka duri-duri itu akan menusukmu!” ancamnya.
Namun, tetap tidak ada tanda-tanda seseorang akan muncul di hamparan tanah gersang tersebut.
“Baiklah, Aku akan memulai hitungan mundur,” kata Alex sembari menyeringai tipis.
“10!”
“9!”
“2”
__ADS_1
“0”
Duri-duri Landak berjatuhan layaknya hujan deras. Permukaan tanah langsung bergetar hebat saat duri-duri Landak berukuran besar itu menancap di permukaan tanah. Siapapun yang ada di bawahnya pasti tidak akan bisa melarikan diri.