
Ron sangat kesal terhadap Alex, karena pesanan mie Aceh untuknya terakhir dimasak oleh Alex.
Alex hanya tertawa cengengesan saat menyerahkan Tiga Piring mie Aceh dan mengatakan pesanan wajar dimasak terakhir, karena ia hanya membayar 100 Koin Perak saja perporsinya—sementara yang lain membayar mahal. Sudah sewajarnya, pelanggan VVIP dulu yang dilayani.
Ron menggelengkan kepala mendengar jawaban Alex. Dia memilih melahap Mie Aceh dari pada beradu argumentasi dengan Alex, karena pasti ada-ada saja nanti alibinya ketika berkilah.
“Hmm, rasanya mirip dengan Sarahmie Goreng Aceh, Bos Alex!” seru Ron setelah mengunyah sesendok mie Aceh varian kering.
“Tentu saja mirip, bumbunya itu tidak beda jauh. Sarahmie Mie Goreng Aceh itu versi sederhana yang tahan lama, sementara yang itu adalah versi yang asli,” sahut Alex duduk berhadapan dengan Ron.
Urusan dapur ia serahkan kepada Hannah dan Eva, karena jam sibuk atau jam makan siang telah berlalu—sehingga tidak banyak lagi pelanggan di Restoran Sarah.
“Yang ini lebih enak karena ada tambahan irisan daging, udang, dan cumi goreng. Kalau ditambah Ikan Bakar juga mungkin akan jauh lebih enak,” kata Ron yang telah menghabiskan satu Piring mie Aceh dalam sekejap saja. Kini ia mulai melahap Mie Aceh varian basah.
“Kenapa tidak sekalian saja ditambah Lobster dan Ayam Crispy hanya dengan 100 Koin Perak,” sahut Alex terlihat kesal.
Ron tertawa terkekeh-kekeh dan berkata, “Jangan merajuk Bos, itu hanya usulan pelanggan setiamu.”
“Oh, ya, bagaimana prospek bisnis tuan Ron saat ini? Apakah berkembang pesat atau mengalami penurunan?” Alex mengalihkan perbicangan mereka.
“Begitu-begitu saja, tidak secerah bisnis Bos Alex yang hanya memasak di dapur. Namun, uang terus mengalir ke akun Bank Voldemortnya,” sahut Ron—kembali menggeser piring kosong dari hadapannya dan mulai melahap Mie Aceh di Piring Ketiga.
__ADS_1
“Bagaimana kalau Kita bekerjasama dalam bisnis pembuatan Kapal Terbang Sihir. Kalau tuan Ron setuju, maka Aku akan menyerahkan 20% Hak Kepemilikan untukmu,” kata Alex dengan sudut bibir menyeringai tipis menatap Ron yang langsung terkejut mendengarnya. Dia hampir memuntahkan mie Aceh dalam mulutnya, tetapi ia langsung menutup mulutnya karena takut muntahannya akan mengenai wajah Alex. Kemudian ia kembali menelan mie Aceh itu dan menenggak air putih. “Itu akan menjadi bisnis bernilai Jutaan Koin Emas, karena akan menjadi mode tranportasi antar Benua. Mungkin di masa depan, setelah Monster Burung telah punah maka Kapal Terbang Sihir juga akan menggantikan perannya.”
Ron tentu tergiur dengan bisnis yang disebutkan oleh Alex. Dia sudah melihat bagaimana Sarahmie dan Kereta Api menjadi bisnis bernilai tinggi dalam sebentar saja.
Namun, ia yakin pasti butuh dana besar untuk mengembangkan bisnis tersebut.
Alex sudah menebak apa yang Ron pikirkan. Kemudian ia berkata, “Tuan Ron hanya perlu menyediakan Pabrik dan dananya saja. Untuk tenaga kerja, Aku sudah memiliki Ratusan Kesatria Suci. Mereka sama dengan mesin berjalan yang tidak akan kelelahan bekerja siang dan malam ha-ha-ha.”
Ron mengerutkan keningnya, karena terkejut Alex akan menjadikan Kesatria Suci Kuil Matahari yang lebih kuat dari Pendekar tingkat 10 Benua Grandland tersebut sebagai buruh Pabrik.
“Apakah Kita akan sanggup menggaji mereka nantinya?” Ron khawatir tidak sanggup membiayai mega bisnis tersebut, bila ia salah membuat keputusan maka ia akan jatuh miskin dalam sekejap.
“Tenang saja, Kita akan menggaji mereka setara dengan Sepuluh Kali Upah Minimum Kota Perdamaian atau 10 Koin Emas. Itu sudah mewah sebagai Manusia yang tidak merdeka, sebab mereka masih berstatus tawanan Perang. Bila mereka berulah, maka Aku atau istriku akan memukul mereka hingga babak belur,” sahut Alex tersenyum lebar. “Atau suruh saja bocah itu menasehati mereka. Katakan kalau mereka nakal, maka ia akan dengan senang hati mengepal tinjunya ha-ha-ha.”
Sarah yang sedang menghitung tip yang diberikan pelanggan untuknya, langsung kebingungan melihat Alex menunjuk ke arahnya. Namun, karena ia sibuk menghitung Koin-Koin Perak diatas meja, ia langsung mengabaikan Alex.
“Baiklah, Aku tidak boleh melewatkan kesempatan menjadi Jutawan,” kata Ron sembari menenggak air putih. “Kapan Kita mulai berbisnis?” desaknya sudah tidak sabar bekerjasama dengan Alex membangun Pabrik Kapal Terbang Sihir.
“Buatkan saja lebih dulu bangunan Pabrik serta bangunan terpisah yang akan menjadi tempat tinggal para Kesatria Suci itu. Pisahkan bangunan untuk Wanita dan Pria. Bulan depan mereka sudah mulai bekerja, saat ini mereka masih di Pulau Iblis,” sahut Alex tidak memberitahu apa yang para Kesatria Suci itu lakukan di sana.
Dia harus merahasiakan apa yang mereka lakukan agar para Raja-Raja atau keluarganya di Kekaisaran Hazel tidak meminta bergabung dalam bisnis tersebut. Kalau mereka ikut bergabung, maka ia pasti akan mendapatkan sedikit Hak Kepemilikan. Sementara Ron hanya diberikan 20% saja sudah merasa puas dan tidak menawar lagi.
__ADS_1
Ron segera berdiri dan mengulurkan tangan bersalaman dengan Alex. Kemudian ia langsung menuju meja Kasir dengan senyum cerah. “Ambil saja kembaliannya Bos kecil!” Dia menyerahkan Satu Koin Emas.
Sarah tersenyum cerah sembari menatap Ron yang langsung berjalan tergesa-gesa menuju pintu Restoran. “Terimakasih Paman Ron, hati-hati di jalan!”
Ron hanya melambaikan tangannya, pikirannya kini melayang memikirkan cara mendapatkan dana yang cukup besar untuk membangun bangunan Pabrik dan asrama untuk para Kesatria Suci.
“Apakah Aku menjual aset bisnis yang kumiliki saat ini?” gumamnya langsung menggelengkan kepala. Itu terlalu beresiko bila berhenti menjalankan bisnis yang ia kelola saat ini. “Lebih baik Aku meminjam 100.000 Koin Emas pada Bank Voldemort,” pikirnya lagi.
Alex menenggak teh hangat dengan ekspresi wajah bahagia sembari menatap punggung Ron yang sedang naik ke gerbong Kereta Kuda. Hanya bermodalkan tawanan saja, ia akan segera memiliki Perusahaan sendiri tanpa mengeluarkan uang sepeserpun.
Namun, tiba-tiba Sarah mematung, tatapannya terlihat kosong.
Melihat hal itu, Alex langsung panik dan menghampiri Putrinya itu. “Sarah ... ada apa denganmu, sayang?”
Alex mengelus-elus wajah Sarah yang tetap dengan tatapan kosong tanpa berkedip.
“Ada dengan Sarah, Bos?” Lilith segera menuju meja Kasir, begitu juga dengan Elenna dan Viola. Tak lama kemudian, Hannah dan Eva pun berlari dari dapur, keduanya juga khawatir melihat kondisi Sarah.
Helena yang berada di lantai atas, segera melesat dengan cepat dan mengalirkan Elemen Sihir Kehidupan pada Sarah. Namun, kondisi Sarah tetap sama.
“Cepat panggil Zelma!” seru Alex, “mungkin ia tahu apa yang terjadi pada Sarah?” Alex curiga apa yang terjadi pada Sarah mungkin berhubungan dengan Sihir.
__ADS_1