
Helena tertawa mendengar perkataan Tetua Agung Elf itu dan dengan sinis menjawab, “Kenapa Aku harus peduli dengan masa depan bangsa Elf?”
Tetua Agung Elf mengerutkan keningnya mendengar jawaban sinis Helena. Kepribadian Helena sudah jauh berubah setelah bergaul dengan Alex—padahal dulu ia selalu mementingkan kepentingan bangsa Elf dari pada kepentingan pribadinya.
“Tak perlu bermuka dua di hadapanku, Tetua Agung!” kata Helena lagi, “bawahanmu lah yang telah menculik Putriku saat kita sedang bertarung dan Kamu juga bekerjasama dengan Pangeran Kedua untuk melenyapkan Alex dan Putriku.”
“Oh, ternyata Damian telah berhasil mendapatkan informasi tentang penyergapan itu,” sahut Tetua Elf berjalan mendekati Tetua Agung.
Helena mengerutkan keningnya menatap Pria Elf tua di sebelah Tetua Agung Elf itu. Dia teringat setelah melahirkan Sarah, Pria tua itu lah yang tiba-tiba membawa ratusan Pendekar mengepung rumah Tabib yang membantu proses persalinannya.
Damian dan belasan Pendekar Elf yang berusaha melindungi Helena langsung ditangkap oleh Pria Elf tua itu, serta siapapun selain Tabib dan Tetua Agung tidak boleh menjumpainya.
Darah Helena mendidih dan amarahnya langsung memuncak serta merasa jijik dengan seringai menjengkelkan dari Pria Elf tua itu.
“Karena kamu sudah mengetahui semuanya, maka jangan keras kepala lagi. Kamu tetap bertahan hidup karena masih berguna sebagai alat tawar menawar dengan Kekaisaran Hazel,” kata Pria Elf tua itu. “Bila kamu kami bunuh saat kejadian itu, maka negeri Elf ini akan menjadi wilayah Kekaisaran Hazel dan seluruh Elf akan menjadi budak mainan mereka. Apakah kamu ingin itu terjadi? atau... jangan-jangan kamu telah menjadi budak manusia bernama Alex itu?” ejeknya yang membuat Helena naik pitam.
“Cukup Zeldeth! Aku akan membunuhmu!” Helena berteriak histeris sembari melompat ke arah Zeldeth, Pria Elf tua di sebelah Tetua Agung Elf.
Zeldeth menghunus pedangnya, sudut bibirnya menyeringai tipis dan mengayunkan pedangnya itu ke arah depan menangkis tebasan pedang Helena.
__ADS_1
Tetua Agung Elf mundur beberapa langkah dan berkata dengan dingin, “Jangan lukai Dia... atau kamu akan membuat Pangeran Kedua murka.”
Hampir seluruh petinggi Elf mengetahui kalau Lycus sejak dulu tertarik pada Helena. Namun, sayang sekali rasa cintanya itu hanyalah cinta bertepuk sebelah tangan karena Helena malah memilih adik Lycus yang lebih tampan dan juga terkenal sebagai Pendekar yang sangat kuat dan tangguh.
Lycus yang sedang memperhatikan kejadian di rumah Pohon Helena dari jendela kamar Istana Kerajaan Hutan Abadi—langsung mengerutkan keningnya dan khawatir para b.a.j.i.n.g.a.n Elf itu akan melukai calon istrinya.
Lycus hendak memanggil semua bawahannya untuk mengikutinya ke rumah Pohon Helena. Namun, tiba-tiba Ian telah muncul di depan pintu.
“Pangeran Kedua... identitas pelaku yang menghancurkan Patung Dewi Luna itu adalah sosok yang mirip dengan Pangeran Ketiga dan kebetulan juga sosok itu menggendong gadis kecil setengah Elf berusia Empat tahun,” kata Ian tanpa menunggu Lycus berbicara lebih dulu.
Seketika itu juga, detak jantung Lycus berhenti berdetak selama beberapa tarikan napas. Dia mengepal tinju dan melampiaskan kekesalannya pada pintu kamar yang langsung hancur berkeping-keping saat dihantam oleh tinjuannya.
“Kumpulkan semua orang dan ikuti Aku ke rumah Pohon Helena!” Lycus berteriak keras pada Ian. “Beritahu juga para Elf kalau Alex telah tiba di sini untuk membawa pergi Helena!”
Sementara itu di rumah Pohon Helena, Zeldeth dapat menangkis semua serangan Helena.
Para Pendekar Elf yang berjaga di sekitar Rumah Pohon Helena itu terkejut melihatnya. Mereka tidak menyangka Tetua Elf itu ternyata sangat kuat, padahal Helena adalah generasi muda Elf terkuat saat ini. Bahkan Helena mampu bertahan cukup lama melawan Tetua Agung Elf setelah ia baru selesai melahirkan.
“Sudah menyerah saja!” Zeldeth mencibir Helena. “Melawanmu itu tak ubahnya seperti sedang latih tanding melawan anak remaja saja. Aku ini adalah veteran perang rasial yang telah membunuh Ribuan Pendekar tingkat 10 Orc dan Goblin, bahkan Aku juga pernah membunuh Naga yang mengusik Hutan Abadi kita.”
__ADS_1
Padahal Naga adalah Ras terkuat di Benua Grandland, Kekaisaran Hazel saja tidak mau mengusik mereka tetapi Zeldeth dengan mudah mengalahkan Naga itu.
Helena mundur kembali ke dalam rumah Pohonnya dan mengerutkan keningnya karena merasa ada yang aneh dengan kekuatan yang dipancarkan oleh Zeldeth itu; seolah-olah Elemen Sihirnya malah diserap oleh Elemen Sihir Zeldeth.
Assassin Elf tiba-tiba muncul di belakang Tetua Agung dan berbisik padanya bahwa Alex telah muncul di Hutan Abadi.
“Zeldeth... Dia telah tiba di sini!” seru Tetua Agung Elf.
Zeldeth menyarungkan Pedangnya pada sarung Pedang di punggungnya. Dia tersenyum lebar menatap Tetua Agung dan berkata, “Tenang saja, Aku akan melenyapkan bocah ingusan itu dan... jangan lupa dengan janjimu, Tetua Agung... Putriku akan menjadi Putri Mahkota Kerajaan Hutan Abadi selanjutnya.”
Tetua Agung Elf berjalan ke dalam rumah Pohon Helena dan berkata, “Jangan khawatir, Aku tidak pernah mengingkari janjiku.”
Langkah kaki Tetua Agung Elf terhenti karena merasakan Aura yang sangat familiar mendekati mereka. Dia menoleh ke belakang dan langsung mengerutkan keningnya.
“Kenapa kamu ke sini? Bukankah Aku sudah memastikan pernikahan kalian pasti akan terlaksana sesegera mungkin,” kata Tetua Agung Elf tampak tidak senang dengan kehadiran Lycus dan merasa Pangeran dari Kekaisaran Hazel itu terlalu ikut campur dalam urusan internal Kerajaan Hutan Abadi.
Lycus bukan lah orang yang bodoh walaupun ia gampang marah. Dia tahu Tetua Agung Elf tidak menginginkan kehadirannya yang membawa semua Pendekar Kekaisaran Hazel kecuali mereka yang telah dikirim ke perbatasan. “Aku hanya membantu kalian menjaga keamanan di sekitar Rumah Pohon Helena karena adikku yang nakal itu telah muncul di sini.”
“Alex di sini?” Helena yang telah merasa putus asa, tiba-tiba merasakan secercah harapan telah muncul kembali. Dia menggenggam erat gagang Pedangnya dan akan berjuang sekuat tenaga untuk mengulur waktu hingga ia dapat bertemu kembali dengan Alex dan Sarah.
__ADS_1
Kembang api tiba-tiba melesat ke langit dari Istana Kerajaan Hutan Abadi, sesaat kemudian para Pendekar tingkat tinggi dari Keluarga Bangsawan Elf berdatangan ke rumah Pohon Helena. Hanya dalam Sepuluh menit saja, sudah Seribu Pendekar tingkat tinggi yang berkumpul di sana.
Lycus sangat puas dengan keputusan yang dibuat oleh Tetua Agung Elf. Dengan Pendekar sebanyak ini, maka pertarungan jilid Dua untuk membunuh Alex akan dimulai lagi. Namun, kali ini Alex tidak didukung oleh Legiun Barat yang legendaris itu sehingga persentase kemenangan Alex mungkin hampir mustahil terwujud, apalagi seperti di masa lalu; Alex juga harus melindungi Putrinya agar tidak terkena serangan musuh.