
“Apa yang terjadi di sana Pipins?” Isen bertanya pada Penyihir disebelahnya.
“A-aku juga tidak tahu?” sahut Pipins menyeka keringat yang mengucur deras membasahi wajahnya.
Saat keduanya sedang asyik-asyiknya melamun di gerbang masuk Menara Sihir Tanah Tandus Ujung Barat, tiba-tiba saja pegunungan yang meliuk-liuk bergetar hebat dan di langit muncul duri-duri raksasa. Saat mata mereka berkedip, duri-duri itu jatuh bak hujan deras—kemudian terdengar suara jeritan Monster.
Genangan darah juga menyembur seratus meter dari Menara Sihir Tanah Tandus Ujung Barat tersebut.
Genangan darah itu berasal dari pegunungan yang meliuk-liuk di hadapan mereka.
Apa yang mereka lihat saat ini seperti imajinasi saja, tetapi saat mereka menggosokkan mata mereka. Kejadian dihadapan mata mereka ini benar-benar nyata.
Pegunungan yang selama ini sering mereka daki dan lewati ternyata Monster yang berhibernasi. Mungkin saking lamanya berhibernasi, permukaan tubuhnya akhirnya tertutup debu, tanah, pasir, dan bebatuan. Namun, pertanyaannya adalah siapa yang telah membunuh Monster raksasa itu.
Lonceng berbunyi dari dalam Menara Sihir Tanah Tandus Ujung Barat, Perisai Sihir segera menyelimuti seluruh benteng kecil yang menampung Seratus Penyihir tersebut.
“Duri-duri raksasa itu telah menghilang!” seru Isen.
“Sepertinya pegunungan itu adalah Monster Cacing Alaska,” sahut Pipins kini dapat melihat jelas kepala Monster raksasa tersebut. “Kalau ia menyerang Kita, mungkin Kita tidak akan sanggup melawannya,” katanya lagi. Karena ia tidak dapat mengukur level Monster tersebut dengan Sihirnya.
__ADS_1
“Bukan Monster itu yang perlu Kita khawatirkan saat ini, ” sela Isen, “sosok yang membunuh Monster itulah yang perlu Kita khawatirkan. Mungkin kah sosok itu adalah Malaikat yang dirumorkan telah datang ke Ibukota Kekaisaran Suci Kuil Matahari itu?”
Bila dugaannya benar, Isen yakin Penyihir tidak akan dapat melawannya. Apalagi saat ini tidak ada Penyihir Agung yang melindungi Penyihir setelah Penyihir Agung Xavier telah gugur demi menyelamatkan mereka.
“Benar sekali!” Pipins bertambah panik seperti para Penyihir di dalam Menara Sihir Tanah Tandus Ujung Barat lainnya. Mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan agar tidak dibunuh oleh sosok yang melenyapkan Monster Cacing raksasa tersebut.
...***...
“Eh, ternyata ada banyak Monster yang bersembunyi di tanah gersang ini,” gumam Alex tercengang telah membunuh Monster Cacing, Ular, Kalajengking, dan Golem Batu yang berkamuflase menjadi bukit kecil dan pegunungan.
Semua Monster itu juga memancarkan energi Sihir yang mirip dengan energi Sihir Suci Kuil Matahari dan Levelnya telah melampaui Pendekar tingkat 10.
Alex teringat dengan Inarius, pelanggan misterius yang sering muncul di Restoran Sarah. Malaikat itu memiliki Level Kekuatan yang sangat kuat, sehingga Alex curiga mungkin salah satu dari Malaikat Penjaga lah yang mengendalikan Monster-monster ini.
“Gruk-gruk-gruk-gruk!” Perut Alex tiba-tiba mengeluarkan suara.
“Ah, Aku lapar!” gumam Alex melirik ke arah Monster Landak raksasa yang terkurung dalam kurungan besi. Sudut bibir Alex memancarkan seringai tipis, yang membuat Monster Landak raksasa itu mundur selangkah. Entah mengapa, ia merasa terancam oleh seringai nakal Alex. “Dagingmu pasti enak di Saksang, direndang, dan bagian tulang-tulangnya disup. Kebetulan ditempat-tempat gersang dan panas, penduduknya lebih sering makan daging.”
Alex teringat dengan orang-orang Arab, Mongolia, dan Australia yang suka makan daging. Tempat mereka tinggal adalah sebagian besar gurun pasir atau tanah gersang juga.
__ADS_1
Alex menjentikkan jarinya, Monster Landak raksasa itu langsung membeku oleh Elemen Sihir Es-nya.
Dia kemudian mengangkat Monster sebesar bukit kecil itu sembari mengambil Kristal Sihir dari Monster-monster lainnya yang telah tewas dengan tubuh hancur berkeping-keping.
“Eh, arah Utara di mana, ya?” gumam Alex setelah selesai mengumpulkan semua Kristal Sihir. Tiba-tiba ia langsung panik, karena tidak menandai arah Utara sebelum mengumpulkan semua Kristal Sihir Monster.
Akan sangat lucu bila ia melesat kembali ke arah selatan atau kembali ke bibir pantai. Padahal ia sudah berkelana di tanah tandus ini selama satu jam dan menempuh perjalanan ratusan Kilometer.
“Saat-saat seperti ini, kompas insting adalah yang terbaik,” gumamnya memperhatikan arah bayangannya sendiri. Kemudian ia menoleh ke arah depan dan melihat Perisai Sihir. Sudut bibirnya langsung memancarkan senyuman lebar. “Akhirnya aku menemukan sarang para Penyihir. Eh, maksudnya adalah rumah mereka, karena mereka bukan hewan. Ha-ha-ha ....” Alex tertawa terbahak-bahak sembari melesat ke arah Menara Sihir Tanah Tandus Ujung Barat.
Para Penyihir yang berada di dalam Menara Sihir Tanah Tandus Ujung Barat ketakutan mendengar suara tawa Alex. Mereka langsung mengutuk Pria tampan yang mengangkat dengan santai Monster Landak sebesar gunung di tangannya itu.
“Isen ... Aku akan mengungkapkan rahasiaku sebelum Kita dilenyapkan oleh sosok menakutkan itu!” seru Pipins dengan ekspresi wajah serius.
“Hah?” Isen keheranan dengan sikap aneh rekannya itu.
“Sebenarnya Aku ....” Pipins ragu-ragu untuk mengungkapkan rahasianya.
“Hei, jangan bertingkah sok misterius, sebentar lagi nyawa kita akan melayang!” keluh Isen.
__ADS_1