
Saat Sarah bangun pagi, ia menggerakkan tangannya untuk memeluk Helena. Namun, tak ada siapapun di sebelah kirinya itu dan iapun berbalik untuk memeluk Alex yang berada di sebelah Kanan, tetapi di sana juga kosong.
Sarah membuka matanya dan turun dari tempat tidur sembari menggosok matanya. “Ke mana Ayah dan Ibu, ya?” gumamnya sembari berjalan ke arah pintu kamar.
”Hiak!”
”Hiak!”
Sarah berhenti berjalan karena mendengar suara Eva berteriak dari halaman Restoran. Sarah langsung penasaran apa yang dilakukan oleh Eva diluar dan ia pun mengintip dari jendela.
Mata Sarah berbinar-binar karena Eva sedang berlatih beladiri bersama Elenna dan Lilith, sementara Helena mengawasi mereka dari teras Restoran sembari menenggak teh.
Sarah berlari ke balkon lantai atas Restoran Sarah tersebut dan melompat ke halaman Restoran. ”Jurus tendangan Ayam Betutu!”
Eva yang sedang belajar kuda-kuda beladiri langsung terkejut melihat Sarah terjun dari balkon lantai atas Restoran. Dia segera melompat ke arah Sarah akan jatuh sembari mengulurkan kedua tangannya untuk menyambut bocah setengah Elf berusia Empat tahun tersebut.
”Akhhhhhh!”
Sarah menginjak kepala Eva dan melakukan salto, kemudian tubuhnya mendarat dengan sempurna diatas tumpukan salju tipis halaman Restoran.
Namun, naas bagi Eva, tubuhnya malah tersungkur mencium tumpukan salju dan menjerit kesakitan.
”Maaf Kak Eva... kenapa Kamu melompat ke arah pendaratanku?” Sarah segera membantu Eva berdiri dan mengalirkan Elemen Sihir Kehidupan mengobati luka goresan di wajahnya.
Eva akhirnya menyadari ternyata Sarah tidak tergelincir jatuh dari balkon dan Eva lupa kalau Sarah adalah Pendekar tingkat 7 saat ini.
Eva bahkan tidak ingat kapan Sarah naik dari Pendekar tingkat 4 menjadi Pendekar tingkat 7. Yang jelas penyebab Sarah menjadi kuat adalah karena memakan makanan buatan Alex dan tentu porsi makannya juga diatas rata-rata orang Dewasa, tetapi Sarah tetap imut dan tidak menjadi gemuk.
”Ha-ha-ha... Aku mengira Sarah tergelincir,” sahut Eva terpaksa tertawa untuk menutupi rasa malunya.
__ADS_1
”Kenapa Kamu tidak cuci muka dan gosok gigi dulu baru bergabung dengan latihan beladiri para Kakak-Kakak cantik ini?” Helena langsung menggendong Sarah dan mencium pipinya.
Sarah tertawa terkekeh-kekeh dan berkata, ”Sarah tidak ingin ketinggalan berlatih beladiri agar menjadi sekuat Ayah!” Kemudian ia memperhatikan sekitar mereka dan tidak melihat keberadaan Alex. ”Di mana Ayah, Bu?”
”Ayahmu pergi berburu Monster, karena stok daging untuk Rendang kita telah habis,” jawab Helena menurunkan Sarah dari pelukannya. “Kalau Kamu ingin ikut berlatih, jangan ganggu Kak Eva dan yang lainnya, ya... Mereka itu tidak tahu Jurus tendangan Ayam Betutu atau Tamparan Ayam Crispy.”
Kebiasaan Sarah merubah nama-nama tehnik beladiri menjadi nama-nama menu Restoran Sarah sulit diubah, bahkan guru seni beladiri di Sekolah Harapan terpaksa membiarkan mengatakannya karena Sarah selalu beralasan nama Jurusnya itu mudah diingat dan hebat.
Sarah mengangguk pelan tanda setuju dengan seruan Helena. Dia kemudian berdiri di bawah Pohon Apel dan meniru gerakan yang diperagakan oleh Elenna, tetapi Sarah merasa gerakan itu hanya gerakan dasar seni beladiri saja dan iapun bermain-main dengan membuat Patung Alex dari tumpukan Salju.
...***...
Alex saat ini berdiri di punggung Pegasus yang sedang terbang melintasi wilayah Utara Kerajaan Orc.
Dia terkejut melihat desa-desa yang dihuni para Orc telah berubah menjadi tempat terbengkalai dan rumah-rumah mereka dihancurkan oleh Pendekar Manusia.
Dari pakaian yang dikenakan oleh Pendekar Manusia itu, Alex sudah menebak kalau mereka adalah Pasukan Legiun Barat yang baru Kekaisaran Hazel.
Setelah mendarat di permukaan tanah, Alex hendak melanjutkan perjalanan. Namun, ia mendengar suara teriakan yang langsung menghilang dalam sekejap.
Alex merasa ada yang aneh dengan suara teriakan itu dan berpikir mungkinkah Pasukan Legiun Barat sedang disergap oleh Pendekar Orc. Namun, seharusnya ada perlawanan dari Pasukan Legiun Barat itu, karena jumlah mereka terlihat cukup banyak saat menjarah Desa Orc itu.
“Aku akan melihat apa yang terjadi di sana!” gumam Alex penasaran, kenapa mereka tiba-tiba menjerit dan hanya dalam sekejap jeritan mereka langsung menghilang begitu saja.
...***...
“Sial! Apa yang terjadi, dari mana datangnya mayat-mayat hidup itu?” gumam Olivier bersembunyi di balik puing-puing bangunan.
Pendekar Manusia tingkat 10 itu berhasil selamat dari serangan mendadak mayat-mayat hidup karena saat memasuki Desa Orc, Olivier telah mengaktifkan Elemen Sihir Bayangan miliknya.
__ADS_1
Selama ada bayangan, baik itu bayangan dari tubuh manusia atau Pohon maupun bangunan; keberadaannya akan tersamarkan atau tidak dapat dilihat oleh kawan maupun musuh.
Saat rekan-rekannya tiba-tiba disergap oleh mayat-mayat hidup itu, ia langsung menjauh dari mereka dan tidak mencoba melawan atau menyelamatkan rekan-rekannya karena tehnik beladirinya biasa-biasa saja, bahkan di Legiun Barat dirinya ditugaskan di bagian pengumpulan informasi atau intelijen.
”Seharusnya aku tetap di tim utama dan tidak tergiur bergabung dengan mereka untuk menjarah Desa-Desa Orc,” gerutu Olivier ketakutan, tangannya menggenggam erat sebuah Belati.
Namun, tiba-tiba seseorang menabraknya sehingga menimbulkan suara yang menarik perhatian mayat-mayat hidup.
Oliver segera menoleh ke belakang dan terkejut melihat gadis Orc yang masih remaja mengelus keningnya sendiri serta tampak kebingungan.
”Kenapa Aku merasa menabrak seseorang, padahal tidak ada siapapun di hadapanku?” keluh gadis Orc itu.
Olive menghilangkan Elemen Sihirnya dan menutup mulut gadis Orc. ”Shith... Jangan bersuara atau Kita akan mati!” bisiknya sembari menunjuk ke arah luar reruntuhan bangunan itu.
Walaupun Oliver memiliki Elemen Sihir Bayangan, ia masih tidak percaya diri berjalan melewati mayat-mayat hidup itu. Bagaimana kalau mereka tahu dirinya berjalan di sebelah mereka? Maka dirinya akan bernasib sama dengan rekan-rekannya yang lain yang kini berubah menjadi mayat hidup juga.
Gadis Orc menganggukkan kepalanya dan Oliver langsung menghela napas lega karena gadis Orc itu ternyata penurut juga. Oliver kemudian kembali mengaktifkan Elemen Sihir Bayangan dan hendak menjauh dari gadis Orc itu, tetapi ternyata pakaiannya dipegang erat gadis Orc itu.
”Hei, cepat lepaskan!” keluh Oliver mengerutkan keningnya. “Mari kita saling menyelamatkan diri masing-masing, lagi pula status kita saat ini masih bermusuhan karena Kau di pihak Orc dan Aku Manusia!”
Walaupun gadis Orc itu tidak dapat melihat Pendekar Manusia di hadapannya, ia tetap menggelengkan kepala dan tak mau melepaskan pegangannya pada pakaian Oliver.
“Tolong bawa Aku!” bisik gadis Orc remaja itu sembari memperlihatkan kantong kain kecil miliknya yang berisi Kepingan Emas berkilauan. ”Aku akan memberikan semua ini untukmu!”
Oliver tidak tahu harus senang atau menangis, karena dalam situasi antara hidup dan mati ini; nyawa lebih berharga dari pada kepingan emas.
”Kalau masih kurang, aku akan menyerahkan kesucianku padamu,” kata gadis Orc remaja itu.
Oliver semakin mengutuk gadis Orc itu, mana ada Manusia yang tertarik dengan gadis Orc yang memiliki tubuh besar dan berotot tersebut, kecuali dia gadis Elf; mungkin Oliver masih mempertimbangkan untuk menyelamatkannya karena semua gadis-gadis Elf itu cantik.
__ADS_1
“Ada Manusia yang berjalan diantara mayat-mayat hidup itu!” Gadis Orc remaja itu menunjuk ke arah Pria muda yang terlihat tersenyum lebar ke arah mereka.
Oliver terkejut melihat Pria muda itu. “Komandan Owen! Bagaimana mungkin... pantas saja Dia membujuk kami untuk datang ke Desa ini,” gerutunya tidak menyangka Komandannya ternyata pengikut Mordor.