
Sarah terlelap tidur begitu sampai di Penginapan. Dia mungkin kelelahan setelah menjelajahi Kota Ella dan menikmati berbagai macam jenis makanan.
Alex keluar dari Penginapan dan berjalan dengan santai menuju Kuil Cahaya.
Dia tidak lagi melakukan penyamaran dengan menutup wajahnya karena halaman Kuil Cahaya itu bebas dikunjungi siapa saja.
Saat tiba di halaman Kuil Cahaya, Alex kembali dibuat menahan tawa menatap Patung Dewa Hercules yang berpose seperti binaragawan yang memamerkan otot lengannya itu.
Tak ada siapapun yang terlihat di halaman Kuil Cahaya, pintu Kuil juga tertutup rapat. Alex segera merobohkan Patung Dewa Hercules itu dan menemukan kotak besi diantara puing-puing Patung tersebut.
Alex tidak langsung membuka apa isi kotak besi itu. Dia memilih membawanya ke Penginapan karena takut ada yang melihatnya dan dia akan dianggap penista Dewa Hercules. Kalau hal itu terjadi, maka itu akan merepotkan karena ia akan menjadi musuh jutaan penganut Dewa Hercules.
Setelah berada di kamarnya, detak jantung Alex berdegup kencang karena gugup dan menebak-nebak apa isi dari kotak besi itu.
Dia kemudian mencongkel kotak besi dengan Pisau dan isinya ternyata botol kaca berisi cairan berwarna merah yang mirip dengan darah.
“Apa Kekuatan Dewa Hercules dikhususkan untuk Vampir?” Karena hanya Vampir lah yang menghisap darah.
Alex segera membuka tutup botolnya dan menenggak cairan berwarna merah itu.
“Hmm, kenapa rasanya malah pahit sekali?” gerutu Alex kesulitan menghabiskan cairan berwarna merah itu. Dia menarik napas dalam-dalam dan kembali menenggak cairan itu hingga habis. “Kenapa Aku tidak merasakan perubahan apapun?” gumamnya keheranan dan berpikir mungkin kalimat di dinding gua Hutan Monster itu hanyalah tulisan iseng dari Dewa Hercules.
Setelah menunggu cukup lama, tetap saja tidak ada reaksi apapun setelah menenggak cairan berwarna merah yang pahit itu. Alex menggelengkan kepala dan merasa tertipu, kemudian ia memilih tidur untuk menenangkan pikirannya.
Namun, setelah Alex mendengkur saat tertidur pulas, cahaya menyilaukan menyinari tubuhnya dan Saint tua yang berada di dalam ruangan bawah tanah Kuil Cahaya langsung membuka matanya.
“Sepertinya Dewa Hercules telah memberikan kekuatannya pada Pria itu,” gumam Saint tua yang langsung menutup matanya lagi.
...***...
“Ayah... cepat bangun! Kenapa Ayah bau bangkai?” Sarah menutup hidungnya sembari mencolek pipi Alex.
Alex pun terbangun dan menutup hidungnya. “Kenapa Aku malah bau bangkai? Apa itu gara-gara ramuan palsu Dewa Hercules?” gumamnya segera menuju kamar mandi. Namun, ia tiba-tiba berhenti melangkah karena merasakan perubahan pada Kekuatannya. “Ini? Apakah Aku telah mencapai Pendekar tingkat 11?” Alex terkejut.
__ADS_1
Alex merasa bila berduel kembali melawan Mordor, maka ia mampu menumbangkan Mordor hanya dengan sekali tinju saja.
Senyuman lebar terpancar dari wajah Alex. Kini ia sangat percaya diri dapat membawa Helena keluar dari Hutan Abadi walaupun Tetua Agung menghadangnya.
Dengan semangat menggebu-gebu, Alex langsung mandi dan bernyanyi dengan gembira walaupun suaranya sebenarnya sangat mengusik pendengaran tamu Penginapan di kamar sebelahnya.
“Na-na-na... ye-ye-yeay!” Sarah ikut-ikutan bernyanyi menambahkan kebisingan di Penginapan itu, karena suara kedua pasangan Ayah dan Anak itu sangat buruk sekali. “Apa kita akan menjemput Ibu, Ayah?” tanya Sarah yang sedang berenang di dalam bak kamar mandi.
“Ya, kita akan menjemput Ibumu,” sahut Alex tersenyum cerah. “Dia pasti terkejut saat melihatmu nanti, karena tidak menyangka Sarah sangat cantik sekali.”
Sarah sangat senang mendengar pujian dari Alex dan tiba-tiba terdengar ketukan pintu.
“Tuan... tolong jangan buat keributan! Tamu yang lain merasa terusik dengan nyanyian kalian!” Karyawan Penginapan menegur Alex.
“Ya, maaf Nona!” sahut Alex, tetapi Sarah malah tertawa terkekeh-kekeh sehingga Karyawan Penginapan itu terdengar menghela napas panjang, kesal dengan ulah mereka.
Setelah selesai sarapan pagi, Alex dan Sarah langsung meninggalkan Kota Ella dengan menyewa Kereta Kuda. Kemudian mereka turun setelah melewati satu bukit kecil yang berada di dekat Kota Ella tersebut.
Alex bersiul, sesaat kemudian Pegasus atau Kuda Putih bersayap mendarat di hadapan mereka.
“Sepertinya kalian sudah akrab sekali,” kata Alex ikut mengelus kepala Pegasus. “Ayo naik ke punggung Pegasus, Sarah! Agar kita segera bertemu dengan ibumu.”
Sarah menganggukkan kepala dan berkata, “Saat kita tiba di Restoran nanti, Aku akan memberikanmu Rendang dan Ayam Crispy.”
Alex tertawa mendengar perkataan Sarah dan mengelus kepala Putrinya itu. “Pegasus itu Monster Herbivora, Nak.”
“Eh, kalau begitu Daun Ubi Tumbuk saja!” sahut Sarah.
“Tapi kita akan bangkrut memberinya makan Ubi Tumbuk setiap hari. Pegasus itu makannya sangat banyak, lebih baik dia mencari rumput ke padang rumput saja!” kata Alex yang membuat Pegasus mendengus, karena ia tadi sangat senang mendengar perkataan Sarah yang akan memberinya makan hidangan Restoran milik tuannya itu. “Kau itu Kuda! Jangan bertingkah seperti kau itu Serigala!” Alex menegur Pegasus yang sedang merajuk.
Sarah tertawa dan berbisik pada Pegasus, “Tenang saja... nanti Aku akan memesan Ubi Tumbuk untukmu.”
Pegasus langsung tersenyum lebar dan terbang dengan kecepatan tinggi, tetapi Alex menggelengkan kepala karena Ubi Tumbuk satu porsi itu tidak akan mengenyangkannya.
__ADS_1
...***...
Di pinggiran wilayah timur Kota Perdamaian, sekelompok Orc dan Iblis sedang menggiring ratusan manusia yang baru saja mereka culik.
“Bunuh saja yang tidak sanggup berjalan lagi!” seru Orc bertubuh besar dan pemimpin gerombolan itu.
“Tidakkkkk! Tolong jangan bunuh Aku,” kata Pria tua yang baru saja terjatuh karena kelelahan berjalan melewati terowongan bawah tanah yang digali oleh gerombolan itu agar tidak terdeteksi oleh Petugas Keamanan. “Aku masih dapat merangkak, tuan!”
Namun, Iblis yang berdiri di sebelah Pria tua itu langsung membakar Pria tua itu hidup-hidup.
Beberapa Pria muda yang berpikiran untuk melarikan diri saat para gerombolan yang menculik mereka lengah—segera mengurungkan niatnya. Mereka tidak ingin bernasib sama dengan Pria tua itu, menjerit kesakitan sembari memohon agar seseorang menolongnya memadamkan api itu.
“Percepat langkah kalian!” Iblis itu membentak para penduduk miskin yang mereka culik. “Kalau kita terlambat satu detik saja, maka tuan Mordor akan menghabisi nyawa kita semua!” katanya lagi.
Mereka adalah antek-antek Mordor yang mengumpulkan tumbal untuk dipersembahkan kepada bagian tubuh Dewa Cthulhu yang bersemayam dalam tubuh Mordor.
Semakin banyak tumbal yang dilahap oleh Mordor maka Kekuatannya akan meningkat, dan kini ia telah mencapai Pendekar tingkat 11.
Mordor merasa belum puas setelah mencapai Pendekar tingkat 11 karena dipengaruhi oleh Dewa Cthulhu. Dia terus menculik penduduk di berbagai tempat di seluruh Benua Grandland.
Beberapa Kerajaan dibuat kebingungan karena kasus kematian misterius di wilayah mereka.
“Mordor... sudah saatnya kamu melepas Satu Segel yang menyegel bagian tubuhku.” Suara Dewa Cthulhu menggema di benak Mordor.
“Hutan Monster mana yang akan kita kunjungi, Dewa Cthulhu Yang Agung?” sahut Mordor yang bersembunyi di sebuah gua yang sangat luas dan Puluhan Ribu mayat hidup sedang mematung menunggu perintahnya.
“Ujung Selatan Kekaisaran Hazel adalah pilihan terbaik, karena di sana bagian Sayapku di segel dan kamu dapat membangkitkan kembali mayat-mayat Pendekar yang menjadi mumi di sana,” sahut Dewa Cthulhu merujuk pada ujung selatan Kekaisaran Hazel yang merupakan daratan Es abadi yang tak pernah mencair tersebut.
Mordor sangat senang mendengar perkataan Dewa Cthulhu. Wilayah ujung Kekaisaran Hazel itu akan menjadi langkah pertamanya untuk menguasai seluruh Benua Grandland dan menjadi Penguasa abadi selamanya, karena Dewa Cthulhu berjanji akan memberikan keabadian padanya bila seluruh bagian tubuh Dewa Cthulhu disatukan kembali.
...***...
*Dewa Cthulhu
__ADS_1