Pangeran Terkuat Menjadi Koki Legendaris

Pangeran Terkuat Menjadi Koki Legendaris
Perang Melawan Mordor XIII


__ADS_3

Selama perjalanan menuju Kerajaan Hutan Abadi, Helena hanya tidur beberapa jam saja di siang hari dan saat malam hari Dia tidak akan tidur untuk memastikan keselamatan Putrinya.


Sementara Rambo berganti-gantian tidur dengan Putranya bernama Tiger, sehingga Kereta Kuda terus melaju siang dan malam tanpa henti.


Agar Kereta Kuda tidak kelelahan, Helena mengalirkan Elemen Sihir Kehidupan padanya dan Sarah juga menambahkan Elemen Sihir yang Helena tidak tahu apa namanya, karena setelah Sarah mengimajinasikan Elemen Sihir tersebut; Kereta Kuda tidak pernah mengantuk dan kecepatan larinya semakin kencang.


Saat ini telah memasuki hari Ketiga mereka menuju Kerajaan Hutan Abadi. Sarah mulai bosan duduk di dalam gerbong Kereta Kuda, kebetulan ibunya sedang tidur dan semua Buku yang ia bawa juga telah tamat ia baca.


Sarah menggeser tirai yang memisahkan antara gerbong Kereta Kuda dengan tempat duduk Kusir.


“Eh, Bos kecil ada apa?” Tiger terkejut wajah mungil Sarah yang tersenyum cerah muncul di sebelahnya.


“Mewhehehe... Paman Rambo tertidur dengan mata terbuka, Sarah kira Paman Rambo sedang menatapku. Tapi kelopak matanya tidak berkedip,” sahut Sarah kemudian menatap ke arah depan. “Lebat sekali hutan di kiri-kanan jalan. Apakah ada binatang buas yang melintas, Paman Tiger?”


Tiger yang juga berprofesi sebagai Kusir Kereta Kuda itu langsung tersenyum lebar dan berkata, “Mana berani mereka melintas di depanku. Mendengar namaku saja binatang buas lemah itu akan ketar-ketir ha-ha-ha.”


Sarah ikut tertawa, tetapi tiba-tiba ia melihat jauh diujung jalan seseorang keluar dari dalam hutan. “Pelankan laju Kereta Kudanya Paman Tiger!” serunya.


Sarah segera membangunkan Helena yang sedang terlelap tidur. Walaupun ia kini telah menjadi Pendekar tingkat 7, ia tidak berani bertindak gegabah—karena kata ibunya bila Level Kekuatan lawan tidak dapat dinilai, maka lawan tersebut pasti memiliki Level yang lebih tinggi darinya.


Sosok yang berada di ujung jalan itu merupakan Pendekar dan Sarah dapat merasakan sosok itu memiliki Elemen Sihir Bayangan, tetapi ia tidak dapat mengukur tingkat kekuatannya.


“Ada apa Sarah?” tanya Helena segera memeluk Putrinya itu dan mencium pipi mungilnya.

__ADS_1


“Ada Pendekar Manusia di ujung jalan dan di dalam Hutan ada banyak Elf serta Satu Orc bersembunyi!” sahut Sarah dengan ekspresi wajah serius.


Senyuman Helena langsung memudar dan ia segera meraih Pedangnya. “Tunggu di sini Sarah... Ibu akan menemui mereka!”


Helena keluar dari gerbong Kereta Kuda, kemudian melesat ke arah Pendekar Manusia yang dilihat oleh Sarah itu.


Tanpa berbasa-basi, Elemen Sihir Kayu Helena langsung aktif; Pepohonan disekitarnya mentunaskan tanaman merambat yang mengikutinya melesat menuju Pendekar Manusia itu.


“Akhirnya Kita menemukan jalan raya... kukira Kita akan tersesat tak tentu arah di hutan ini,” kata Orc yang baru saja keluar dari dalam hutan. Namun, ia bingung menatap Pendekar Manusia di hadapannya malah tampak pucat dan tegang. “Ada apa ayang Oliver?” Dia menoleh ke arah yang ditatap oleh Oliver dan mulutnya langsung menganga lebar.


Oliver yang sedang mematung karena terkejut melihat tiba-tiba Elf menyerang mereka segera tersadar oleh panggilan Chicie. Dia segera mengangkat Kedua tangannya dan berteriak, “Kami bukan penjahat! Kami sedang mengawal para mantan budak Elf menuju Hutan Abadi!”


Mendengar perkataan Oliver, Helena segera berhenti melesat tepat satu langkah di depan Oliver yang memejamkan matanya karena tanaman merambat berhenti tepat di depan wajahnya.


Para budak Elf itu menatap Helena dengan bingung. Walaupun sesama Elf, mereka tidak mengenali siapa Elf cantik di hadapan mereka, karena mereka telah menjadi budak di Kerajaan Orc selama Seratus Tahun atau mereka tertangkap saat periode Perang Rasial dulu. Bahkan beberapa diantara mereka telah berganti tuan beberapa kali atau diperjualbelikan di pasar gelap.


Helena yakin mereka pasti sangat menderita selama Seratus Tahun ini, bahkan ada beberapa Elf berkulit gelap diantara mereka, yang berarti mereka adalah campuran antara Elf dan Orc.


Tiba-tiba Elf berusia Lima tahun yang digendong oleh Elf Wanita berkata, “Aku lapar, Bu!”


“Mereka melarikan diri saat Ibukota Kerajaan Orc diserang oleh mayat-mayat hidup dan bertemu dengan kami di Hutan,” kata Oliver, “saat itu mereka dikejar-kejar oleh Monster dan Kami menyelamatkan mereka, serta memutuskan mengantar mereka ke Hutan Abadi. Namun, Kami malah tersesat di hutan belantara ini.”


Oliver tersenyum masam sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Dia juga merasa Elf cantik dan kuat ini cukup familiar, tetapi ia tidak tahu kapan bertemu dengannya karena wajah para Elf itu mirip-mirip.

__ADS_1


Helena menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan-pelan. Dia berpikir sejenak, apakah akan membawa mereka ke Hutan Abadi atau menyarankan mereka agar menuju Kota Perdamaian.


Para Elf di Hutan Abadi pasti akan mengucilkan mereka karena telah menjadi budak Orc, terutama mereka yang terlahir sebagai Setengah Elf; mereka mungkin tidak diakui sebagai Elf lagi.


Namun, setelah merenung sejenak, Helena teringat kalau Tetua Agung yang selalu menentang pernikahan dengan Ras lain sudah tidak ada lagi. Helena berpikir ia mungkin dapat membujuk Ratu Elf yang juga ibunya itu untuk menerima mereka yang terlahir dari pasangan berbeda Ras, karena cucunya juga berdarah campuran.


Kalau Ratu Elf mau menerima Sarah maka Dia harus menerima para mantan budak Elf ini berserta anak berdarah campuran mereka.


“Kebetulan juga Kami hendak menuju Hutan Abadi dan Aku akan membawa mereka bersama kami,” kata Helena menatap Oliver. “Sebenarnya Kita sudah memasuki wilayah Kerajaan Hutan Abadi dan hanya butuh Satu hari lagi untuk mencapai Ibukota.”


“Pantas saja di mana-mana hutan belantara, ternyata kita berada di Kerajaan Hutan Abadi!” sahut Chicie.


Ras Elf menamakan Kerajaan mereka Hutan Abadi karena seluruh wilayah mereka adalah hutan belantara, bahkan mereka hanya tinggal di rumah Pohon. Hanya sebagian kecil saja wilayah mereka yang dijadikan sebagai wilayah pertanian karena Elf lebih sering memakan buah-buahan yang tumbuh di hutan.


“Bagaimana dengan kalian? Apa kalian ikut dengan Kami saja dan nanti Aku akan menyuruh Prajurit Elf mengantar kalian ke perbatasan Kekaisaran Hazel.” Helena bertanya pada Oliver. “Oh, kalian lapar, kan? Bagaimana kalau kita makan siang bersama dulu.” Helena teringat dengan perkataan gadis kecil setengah Elf berkulit gelap di depannya.


“Kami sebenarnya mau ke Kota Perdamaian, apakah jalan ini menuju ke sana?” sahut Oliver setelah melihat Kusir Kereta Kuda yang membawa Wanita Elf itu ternyata Manusia seperti dirinya.


Helena menoleh ke arah Tiger dan berkata, “Ya, kalian bisa menumpang pada Kereta Kuda mereka. Mulai dari sini, Aku akan berjalan kaki bersama para Elf ini.”


Para mantan budak Elf sangat senang mendengar perkataan Helena. Selain memberi mereka makan, Elf yang cantik dan anggun itu akan mengawal mereka juga. Dari penampilan Helena saja, mereka yakin kalau Helena berasal dari Keluarga Bangsawan Hutan Abadi.


“Ibu... Wah, ada banyak Bibi Elf dan Kakak Elf!” Sarah keluar dari gerbong Kereta Kuda sembari tersenyum cerah.

__ADS_1


Para budak Elf terkejut melihat gadis setengah Elf itu dan tidak menyangka Elf yang berasal dari Keluarga Bangsawan mau menikah dengan Ras lain. Mereka kemudian berpikir apakah adat istiadat Elf telah berubah setelah Perang Rasial berlalu.


__ADS_2