
Alex mengayunkan Pedang Meteor yang langsung membelah Patung Dewa Gul'dan sehingga beberapa pejiarah Orc yang melihatnya langsung marah dan mengutuk Alex.
Namun, mereka tidak berani mendekati Alex karena Aura Pendekar terpancar dari tubuhnya.
Alex mengabaikan mereka dan mengambil botol kaca berwarna perak dari Patung Dewa Gul'dan. “Aku hanya mengambil ini saja,” kata Alex dengan santai. “Sebaiknya kalian mencari tempat aman karena Kota ini akan jatuh ke tangan mayat-mayat hidup!”
Para pejiarah Orc akhirnya menyadari kalau ada Mayat-mayat hidup disekitar mereka dan mereka langsung berlari ke dalam Kuil Dewa Gul'dan.
Alex mengerutkan keningnya, seharusnya mereka tidak lari ke sana. Tempat yang paling aman dari mayat-mayat hidup seharusnya adalah Istana Kerajaan Orc, karena di sanalah para Pendekar Orc terkuat berkumpul.
“Baiklah, Aku akan membantu kalian,” gumam Alex mengayunkan Pedang Meteor ke arah mayat-mayat hidup. “Kalau Aku membiarkan Ras Orc musnah, maka Dewa kalian pasti akan mengutukku karena Aku telah mencuri Kekuatan berharga yang ia simpan untuk kalian.” Sudut bibirnya kemudian memancarkan seringai tipis.
Cahaya menyilaukan melesat dari bilah Pedang Meteor, dalam satu sapuan cahaya menyilaukan itu; seluruh mayat-mayat hidup berubah menjadi butiran debu.
Seperti memiliki pikiran sendiri, mayat-mayat hidup yang berada di sisi lain langsung melarikan diri. Mereka seperti tahu, berhadapan dengan Alex hanya membuat mereka menjadi debu saja.
Namun, Alex tentu bingung, kenapa mayat-mayat hidup itu dapat memahami mana lawan yang kuat dan mana lawan yang sepadan.
Pikirannya melayang-layang dan tiba-tiba teringat dengan Pengendali mayat-mayat hidup. “Mungkinkah Pengendalinya ada disekitar sini?” gumamnya sembari memperhatikan sekelilingnya.
Bayangan hitam muncul dari balik Pohon dekat Kuil Dewa Gul'dan, Alex langsung melesat ke sana memeriksa apakah bayangan hitam yang ia lihat adalah mayat hidup atau pikirannya saja yang salah.
Saat Alex hampir mencapai Pohon itu, tiba-tiba belasan mayat hidup menerjang ke arahnya dan mayat hidup Monster Kuda muncul dari balik Pohon.
__ADS_1
“Itu Dia!” Alex teringat dengan sosok berjubah hitam yang menunggangi mayat hidup Monster Kuda itu. Dia adalah sosok misterius yang muncul di lembah yang diapit Dua bukit kecil dan sosok misterius itu langsung menghilang begitu Alex mengejarnya. “Ternyata Kau pengikut Dewa Cthulhu yang menyerbu ibukota Kerajaan Orc ini,” cibir Alex mengayunkan pedangnya melenyapkan mayat-mayat hidup yang menerjang ke arahnya.
“Kekuatanmu memang sesuai dengan reputasimu sebagai Pendekar terkuat Benua Grandland, bahkan Pemimpin Agung Mordor sampai memperingatkan Kami agar menghindarimu,” kata sosok misterius yang menunggangi mayat hidup Monster Kuda tersebut.
“Oh, kalau Mordor tahu betapa kuatnya Aku, kenapa Kamu masih mendekatiku?” sahut Alex penasaran, apakah mereka juga mengincar Kekuatan yang ditinggalkan para Dewa atau pertemuan mereka ini hanya kebetulan saja.
“Karena Aku sudah terpojok, tak ada salahnya mengatakan hal yang sebenarnya pada Pangeran Alex,” kata sosok misterius itu sembari melepaskan tudungnya dan Alex langsung mengerutkan keningnya, karena ia mengenalinya. “Aku tahu Kamu akan terkejut sahabat lama... Oh, tidak! Sekarang kita ada di sisi yang berlawanan.” Dia tersenyum.
Alex menarik napas dalam-dalam dan menggelengkan kepala. “Bagaimana bisa Putri Kerajaan Orc menjadi pengikut Dewa Cthulhu dan akan menghancurkan Kerajaannya sendiri?”
Saat Alex masih berpetualang bersama Helena menjelajahi Benua Grandland, mereka bertemu dengan Annabeth, Putri Ketiga Raja Orc.
Annabeth menantang Alex berduel, tetapi hanya dalam satu kali serangan saja; Annabeth langsung kalah.
“Aku merasa itu tidak perlu dijawab,” sahut Annabeth tersenyum tipis. “Aku akan menjawab kenapa Aku mengikutimu ke Kuil Dewa Gul'dan ini, karena Aku penasaran apa yang Kamu cari di sini. Saat Kamu berada di Kota Ella dan Hutan Abadi, Kamu juga menghancurkan Patung Dewa dan Dewi di sana.”
Alex tidak menyangka, aksinya itu ternyata sudah diperhatikan oleh pengikut Dewa Cthulhu. Untung saja saat ini mereka hanya penasaran saja dan belum mengetahui apa yang tersimpan di dalam Patung tersebut.
“Baiklah, biar kutebak... itu pasti semacam tehnik beladiri atau sesuatu yang membuat Kekuatanmu meningkatkan, kan?” selidik Annabeth. Namun, ia langsung melambaikan tangannya. “Tak perlu dijawab, pikiran Kami para Pengendali terhubung dengan Dewa Cthulhu. Kalau kamu memberitahu misteri dibalik Patung itu, maka Yang Agung Dewa Cthulhu akan mengincar Patung Dewa lainnya.”
“Oh, ternyata kalian juga dikendalikan,” sahut Alex menghela napas panjang. Padahal awalnya ia ingin membujuk Annabeth agar berhenti menjadi pengikut Dewa Cthulhu, tetapi setelah mendengar penjelasannya maka sudah tidak ada jalan kembali untuk sahabatnya itu.
Tiba-tiba Alex melesat ke arah Annabeth yang berada di punggung Mayat hidup Monster Kuda tersebut. Cahaya menyilaukan berbentuk bulan sabit langsung melenyapkan mayat hidup Monster Kuda.
__ADS_1
Namun, Annabeth melompat tinggi di udara dan mendarat setelah cahaya menyilaukan berbentuk bulan sabit melintas dibawahnya.
Annabeth menghunus Pedang Panjang dengan ujung melengkung dari punggungnya. Saat kakinya menyentuh tanah, dia kemudian menekan sedikit permukaan tanah dan melesat ke arah Alex.
Sekujur tubuh Annabeth diselimuti oleh kabut hitam, sementara sekujur tubuh Alex diselimuti cahaya menyilaukan.
Bilah Pedang Meteor beradu dengan bilah Pedang Annabeth yang mengakibatkan ledakan energi Sihir.
Permukaan tanah disekitar mereka hancur berkeping-keping, tetapi Elemen Sihir Kegelapan yang menyelimuti tubuh Annabeth langsung dilahap oleh Elemen Sihir Kehidupan Alex.
Pedang di tangan Annabeth terjatuh karena telapak tangannya berubah menjadi debu, dalam sekejap lengan dan tubuhnya juga ditutupi Cahaya menyilaukan itu.
Annabeth tetap tersenyum, tetapi butiran air mata mengalir membasahi pipinya. “Terimakasih Alex telah membebaskan Aku, tolong sampaikan permintaan maafku pada seluruh Ras Orc.”
Alex menyeka air mata Annabeth, tetapi wajahnya tiba-tiba memudar menjadi butiran debu.
Alex terdiam mematung di sana sembari menengadah menatap langit. “Maaf Annabeth... Aku tidak ingin Kamu dikenang sebagai pengkhianat Orc,” gumamnya memutuskan tidak akan memberitahu Kerajaan Orc bahwa Annabeth lah yang mengendalikan mayat-mayat hidup itu. “Semua ini salah Mordor dan Dewa Cthulhu, hanya mereka lah yang harus dikutuk dan disalahkan.”
Hembusan angin membawa debu Annabeth dan hanya menyisakan Pedang miliknya yang tergeletak di permukaan tanah.
Alex memandangi Pedang itu sejenak dan memutuskan membiarkannya di sana agar Kerajaan Orc tahu bahwa Annabeth telah gugur.
Alex kemudian bersiul memanggil Pegasus, ia memutuskan langsung menuju Kerajaan Goblin.
__ADS_1
Dengan kematian Annabeth, seluruh mayat-mayat hidup yang menyerbu ibukota Kerajaan Orc bergerak liar. Mereka menyerang secara acak dan bahkan bertarung melawan sesama mayat hidup di dekatnya, yang membuat Pasukan Kerajaan Orc dengan mudah dapat melawan mereka.