
Sebuah Pohon besar di Kerajaan Hutan Abadi tiba-tiba membentuk celah yang dapat dimasuki seseorang. Sosok berpakaian serba hitam dan bertudung hitam memasuki celah Pohon itu dan sesaat kemudian celah pohon itu kembali merapat.
Sosok misterius itu segera bertekuk lutut. “Tuan Putri... Aku membawakan kabar gembira dari Kerajaan Hazel, ternyata Pangeran Alex dan Putri Anda berhasil meloloskan diri di malam penyergapan itu.”
Helena yang sedang membaca buku di ruangan seluas Tiga meter persegi di dalam Pohon besar tersebut langsung terkejut mendengarnya, buku di tangannya terjatuh dan air mata bercucuran membasahi pipinya.
“T-tapi mereka mengatakan suamiku sudah mati, di mana dia sekarang?” Helena berkata dengan terbata-bata.
Walaupun tetua Agung mengatakan suami dan anaknya telah tewas disergap oleh Pasukan misterius empat tahun yang lalu, Helena tetap berusaha mencari keberadaan mereka dan Dia tidak percaya Pendekar terkuat di Benua Grandland itu mudah terbunuh—apalagi ada Legiun Barat bersamanya. Namun, selama empat tahun ini orang-orang suruhannya tidak menemukan jejak Alex yang menghilang bak ditelan bumi itu.
“Informasi ini belum pasti, karena Aku hanya secara tidak sengaja mendengar perbincangan orang-orang suruhan Pangeran Kedua yang juga mencari keberadaan Pangeran Alex,” kata sosok misterius itu. “Tuan Putri... sebaiknya Anda tidak berhubungan lagi dengan Pangeran Kedua, Aku curiga Dia adalah dalang dibalik penyergapan Pangeran Alex itu. Karena menurut orang-orang suruhannya itu, mereka akan membunuh Alex dan anakmu begitu mereka menemukannya.”
Helena semakin terkejut dan tidak menyangka Pangeran Kedua yang selalu mengirim pesan padanya itu akan menusuknya dari belakang.
“Aku sebenarnya juga curiga, kenapa Dia tiba-tiba baik padaku setelah kejadian itu,” sahut Helena mengerutkan keningnya. Bahkan Pangeran Kedua pernah datang ke Kerajaan Hutan Abadi dan datang ke rumah Pohonnya.
Saat itu Pangeran Kedua mengatakan Dia juga tidak percaya adiknya telah tewas malam itu dan akan membentuk tim khusus untuk mencari keberadaannya, kemudian setiap sebulan sekali Pangeran Kedua akan mengirim surat mengabarkan tentang perkembangan pencarian Alex dan menyemangati Helena untuk tetap semangat menjalani kehidupan.
Walaupun Helena sangat senang dengan bantuan Pangeran Kedua, ia tetap mengirim orang kepercayaannya mencari keberadaan Alex dan tidak ada yang menyadari tim bentukannya itu.
Helena mengepal tangannya dan berkata, “Kalau Dia memang terlibat dalam penyergapan itu, maka Aku sendiri yang akan memenggal kepalanya!”
Dedaunan di Pohon besar rumahnya tiba-tiba berguguran, para Elf yang kebetulan lewat di sekitar Pohon itu langsung tercengang.
“Jangan pergi ke Kekaisaran Hazel lagi, Damian!” seru Helena, “Pangeran Kedua pasti sudah menyadari kamu membunuh bawahannya. Karena suamiku tidak ada di Kekaisaran Hazel, maka cobalah cari Dia di Kota Perdamaian.”
__ADS_1
Damian menganggukkan kepala. “Baik Tuan Putri... kalau begitu Aku akan langsung pergi ke sana!” sahutnya sembari meninggalkan rumah Pohon milik Helena.
Setelah Damian pergi, suara tangisan terdengar dari Pohon yang kini tidak memiliki daun tersebut.
...***...
Alex mendatangi kawah Bella, tempat Bangau Emas yang dikatakan oleh Pemburu Shireen akan muncul.
Tujuannya sebenarnya bukan untuk menangkap Bangau Emas. Alex sengaja ke sana karena kawah Bella berada di tempat yang sangat tinggi sehingga tempat itu sangat cocok memantau Hutan Monster.
“Ternyata Nona Shireen tidak berbohong,” gumam Alex karena tiba-tiba Ratusan Bangau Emas mendarat di pinggiran Kawah Bella.
Alex kembali menoleh ke Hutan Monster dan memperhatikan pergerakan yang mencurigakan dari Monster yang mendiami tempat yang sangat luas itu.
Suara dentuman keras tiba-tiba terdengar dari arah barat hutan Monster, pepohonan tampak bertumbangan.
Suara dentuman Petir menggelegar di Hutan Monster saat Alex melesat dengan kecepatan tinggi dan tak lama kemudian ia muncul di tempat pertarungan antara Pemburu dan Monster tersebut.
“Eh, ternyata itu Nona Shireen dan teman-temannya,” gumam Alex bersembunyi di dahan Pohon yang cukup rimbun sehingga keberadaannya tidak disadari oleh mereka.
Kelompok Shireen sedang berusaha melumpuhkan Monster Rusa tingkat 4 sebesar Kerbau. Monster Rusa itu memiliki tanduk seperti Ranting Pohon, tetapi terlihat sangat kokoh seperti Baja.
Pohon-Pohon disekitar mereka bertumbangan karena ditanduk oleh Monster Rusa tersebut. Shireen dan teman-temannya kesulitan melumpuhkan Monster Rusa itu karena mereka hanya Pendekar tingkat 3.
“Apakah jebakannya sudah siap, Barton!” Shireen berteriak saat bertanya pada Barton yang sedang sibuk membuat jebakan Lima Puluh meter di belakangnya.
__ADS_1
Shireen merasa tak memiliki kekuatan lagi menahan tandukan Monster Rusa. Dua rekannya yang lain juga mengalami nasib serupa.
“Giring Monster Rusa itu kemari!” teriak Barton berdiri di tengah-tengah jebakan sebagai umpan.
Shireen menganggukkan kepala menatap Dua Rekannya yang lain. Mereka kemudian menyerang Monster Rusa bersama-sama.
Monster Rusa itu sangat marah dan segera menyeruduk Shireen. Langkah kakinya bergerak sangat cepat sehingga Shireen mengerutkan keningnya dan segera mundur ke arah jebakan yang dibuat oleh Barton.
“Tangkap tali ini!” Barton melempar Tali ke arah Shireen yang langsung menangkapnya dan Barton segera menarik Tali itu, kemudian Shireen tertarik ke atas.
Monster Rusa tampak kebingungan karena tidak melihat Shireen lagi.
“Sini! Sini! Emasku,” ledek Barton sembari menjulurkan lidahnya sehingga Monster Rusa itu semakin marah.
Monster Rusa menyeruduk Barton dengan kecepatan tinggi.
“Tarik Aku!” seru Barton karena Monster Rusa melompat ke arahnya.
Shireen dibantu Dua rekannya yang lain menarik Tali sehingga Barton langsung melesat ke atas. Saat Kaki Monster Rusa menginjak permukaan tanah yang diselimuti oleh daun-daunan, ia langsung terjerembab ke dalam lubang sedalam Dua Puluh Meter yang dipenuhi tonggak kayu yang ujungnya Runcing serta dilapisi Ramuan Pelumpuh Monster.
Shireen dan rekan-rekannya langsung bersorak gembira. Akhirnya mereka berhasil mendapatkan Monster tingkat 4 karena perburuan terakhir mereka tidak membuahkan hasil.
“Ayo lumpuhkan Monster ini agar kita segera kembali ke Kota Perdamaian!” seru Barton segera turun ke dalam lubang jebakan sembari membawa banyak tali untuk mengikat Monster Rusa itu.
“Ya,” sahut Shireen tersenyum bahagia dan tiba-tiba ia teringat dengan Alex. “Apakah dia juga sudah mendapatkan Bangau Emas, ya? Mudah-mudahan saja ia tidak bertemu Monster kuat,” gumamnya sembari turun ke dalam lubang jebakan.
__ADS_1
Alex sangat senang Kelompok Shireen berhasil mendapatkan buruan. Diapun segera pergi, akan tetapi baru melangkah beberapa langkah saja, tiba-tiba ia merasakan Aura Monster tingkat 10 mendekat ke arah Kelompok Shireen.