
Alex tidak menyangka dalam kurun Empat tahun terakhir, Kota Ella telah berkembang pesat. Banyak gedung-gedung tinggi berdiri dan yang paling mencolok tentunya Kastil Istana Kekaisaran yang menjulang tinggi seperti sebuah bukit kecil saja.
Alex mengepal erat tangannya dan tatapan matanya yang tajam tertuju ke arah Akademi Kekaisaran. Dalam dokumen yang diberikan oleh Bryan, daftar teratas yang berperan penting dalam penyergapan terhadap dirinya itu adalah Wakil Kepala Akademi Kekaisaran.
Sudut bibir Alex menyunggingkan senyuman tipis seolah-olah memperingatkan Wakil Kepala Akademi Kekaisaran dan Pendekar lainnya untuk bersiap-siap menghadapi kejutan darinya.
“Hmm?” Alex menyadari sesuatu yang salah. “Eh, di mana Putrikuuuuuuuuu!”
Teriakan Alex membuat lalu-lalang penduduk Kota Ella disekitarnya berhenti dan semua tatapan mata tertuju padanya.
“Kenapa Ayah berteriak?” sahut Sarah yang sedang menunggu Sate Monster Banteng untuknya selesai dipanggang oleh penjual Sate.
“Eh, ternyata Sarah di sana he-he-he.” Alex menjadi malu. Dia tidak sadar sebelumnya ternyata Sarah meminta turun dari pangkuannya karena tertarik dengan makanan yang dijajakan oleh pedagang kaki lima Kota Ella. “Maaf semua... sepertinya aku terlalu larut dalam doa-doaku pada Dewa Hercules sehingga lupa kalau Putriku ternyata ada di sana.” Alex membungkukkan badannya sembari tersenyum masam.
“Padahal Dia masih muda tetapi sudah mulai pikun,” sahut Wanita tua sembari menghela napas panjang yang berdiri di sebelah Alex.
“Sebaiknya bila Jiarah ke Kuil Cahaya, bawa juga istrimu anak muda!” seru yang lainnya menasehati Alex.
Alex terpaksa mengiyakan semua saran dari mereka, kemudian menghampiri Sarah yang menunggu Satenya selesai dipanggang sembari menyantap Roti bakar.
Alex teringat kalau Sarah memiliki banyak uang dari tip pemberian pelanggan Restorannya dan Sarah membawa semua uangnya, makanya ia tidak meminta uang jajan pada Alex.
Alex sangat senang Putrinya itu melahap makanan dengan buas dan teringat beberapa bulan yang lalu, Sarah hanya dapat menelan air liurnya saat menatap orang lain menyantap makanan karena mereka hanya dapat makan Roti kering sekali sehari saja.
__ADS_1
Kini, Alex tidak akan membatasi apapun yang ingin dimakan oleh putrinya, asalkan Sarah menyukainya maka ia akan membelinya walaupun harganya sangat mahal.
“Apakah ini pertama kalinya tuan datang ke Kota Ella?” tanya penjual Sate itu sembari menyerahkan Lima Tusuk Sate Monster Banteng pada Sarah.
“Iya, kami ingin berjiarah agar Dewa Hercules mengabulkan permohonan kami,” sahut Alex berkilah dan tiba-tiba menghela napas dalam-dalam serta menengadah menatap langit yang akan segera gelap tersebut.
“Semoga saja Dewa Hercules mengabulkan permohonan kalian,” sahut Penjual Sate itu sembari menolak Koin Perak yang diserahkan oleh Sarah. “Sumbangkan saja Nak, ke Kuil Cahaya.”
Sarah tentu langsung menyimpan kembali uangnya sembari tersenyum lebar. “Baiklah bibi, aku juga akan berdoa kepada Dewa Hercules agar daganganmu lari manis seperti Restoran kami,” sahutnya.
Penjual Sate itu hampir muntah darah, terkejut mendengar pelanggannya itu ternyata adalah pemilik Restoran—yang berarti dia bersedekah kepada orang Kaya.
Alex melihat raut wajah menyesal dari wanita berusia Empat Puluhan tahun itu, sehingga ia tersenyum dan berkata, “Aku akan memberikan sedikit saran untuk bibi agar Satemu banyak yang menyukainya.”
Alex mengangguk pelan dan meminta satu tusuk sate milik Sarah, kemudian mengunyahnya.
“Satenya enak, walaupun bumbunya hanya taburan garam, cabai, bawang merah, dan ditaburi perasan jeruk nipis,” kata Alex yang membuat wanita penjual Sate itu senang mendengarnya. “Namun, anak-anak akan langsung bosan setelah mengabiskan satu atau dua tusuk saja,” katanya lagi.
Wanita penjual Sate itu menganggukkan kepala tanda setuju dengan pendapat Alex, karena banyak anak-anak yang membuang sisa Sate yang belum mereka makan karena mungkin sudah merasa bosan setelah memakan satu atau dua tusuk sate saja.
“Tolong beritahu Aku tuan... bagaimana cara agar Sate buatanku disukai pelanggan,” kata wanita penjual Sate itu sembari membungkukkan badannya.
“Iya... iya... tidak perlu membungkuk begitu, aku akan mengajari bibi,” sela Alex sembari berpikir sejenak apakah mengajarinya cara membuat Sate Padang atau Sate Madura? Dan Alex memutuskan menyarankannya membuat Sate Monster Banteng yang mengikuti bumbu Sate Madura saja. “Tolong ambilkan kertas dan pena, aku akan menulis resep Sate Madura untuk bibi.”
__ADS_1
Wanita penjual sate segera masuk ke dalam rumahnya mengambil kertas dan pena, kemudian menyerahkannya pada Alex.
Alex menulis resep Sate Madura, mulai dari Saus atau Bumbu kacang, bawang merah, bawang putih, kecap manis, kemiri, dan lain-lainnya. Dia juga menulis cara membuat bumbu kacang itu serta cara pengolesan bumbu saat sate dipanggang.
“Terimakasih tuan,” kata wanita penjual Sate itu dan air matanya langsung mengalir deras membasahi pipinya saking bahagianya. “Umm, siapa namamu, tuan? dan... berapa royalti yang harus kubayarkan?” tanyanya lagi.
Alex menggelengkan kepala dan berkata, “Resep itu gratis, dan namaku adalah Alex dari Restoran Sarah di Kota Perdamaian.”
“Alex?” Wanita penjual sate itu malah teringat dengan Pangeran Alex dan ia memperhatikan wajah Pria tampan di hadapannya. Dia merasa Pria itu mirip dengan Pangeran Alex, tetapi ia langsung menepis dugaannya itu. “Terimakasih tuan Alex, kalau kalian lewat dari sini lagi, jangan sungkan menghampiri lapakku dan kalian bebas makan Sate sepuasnya, tentu itu gratis,” katanya lagi sembari tersenyum hangat.
“Gratis?” Sarah yang sedang asyik menyantap Sate langsung tersenyum cerah dan menatap ke arah Alex. “Saat pulang nanti, kita harus mampir ke sini lagi, Ayah!”
Alex hanya tertawa dan segera menggendong Sarah, kemudian melanjutkan perjalanan menuju bagian dalam Kota Ella dan mencari penginapan yang dekat dari Kuil Cahaya.
...***...
Assassin berjubah hitam memasuki Istana Kekaisaran, setelah melewati berbagai lorong yang dijaga ketat oleh Pendekar tingkat 10, Assassin itu akhirnya membuka pintu berukiran emas dan langsung bertekuk lutut di hadapan Pria tua yang duduk di atas singgasana Kaisar.
“Apa yang membuatmu datang ke sini, Dom?” tanya Kaisar dengan suara pelan, tetapi kalimat yang keluar dari mulutnya itu membuat Dom berkeringat dingin dan tubuhnya langsung gemetaran.
“Pegasus Pangeran Alex melintas di dekat Kota Ella beberapa saat yang lalu, Yang Mulia!” sahut Dom tetap menunduk wajahnya atau tidak berani melihat ke arah Kaisar.
Suasana di ruangan itu hening sejenak, kemudian terdengar helaan napas panjang dari Kaisar.
__ADS_1
“Cegah dia melakukan huru-hara di Kota Ella.” Kaisar akhirnya berbicara. “Aku sudah menunggu selama Seratus Tahun untuk membentuk Ribuan Pendekar tingkat 10, kalau dia melakukan balas dendam maka Kekuatan Hazel akan berkurang dan kita akhirnya gagal menyatukan seluruh Benua Grandland,” katanya lagi.