
Rosa, Ibu Viola itu tiba-tiba menangis yang membuat Viola kebingungan, kenapa ibunya malah menangis.
“Ibu... ada apa?” Viola ikut menitikkan air mata dan memeluk ibunya itu.
Dengan sesenggukan, Rosa berkata, “Ibu sebenarnya adalah pekerja rumah bordil dan ibu tidak tahu pria mana yang menjadi ayahmu. Penyakit ibu ini pasti akibat—”
Viola memotong perkataan Rosa, “Tidak apa-apa, bu... Aku tahu Ibu terpaksa melakukannya. Tolong bertahan lah, mulai sekarang Viola akan merawat Ibu... setiap akhir pekan Viola akan membawakan Ibu makanan enak dari Restoran Sarah.”
Ibu dan putrinya itu kembali menangis tersedu-sedu sehingga Irina menyeka air matanya, sementara Helena menengadah ke atas agar air matanya tidak membanjiri wajahnya.
Beberapa saat kemudian, Helena berhenti mengalirkan Elemen Sihir Kehidupannya pada Rosa.
Irina keheranan saat memperhatikan wajah Rosa tidak memucat lagi. Dia kemudian menatap Helena dan bertanya, “Apakah bibi Rosa sudah sembuh dari penyakitnya?”
Helena menganggukkan kepala, Elemen Sihir Kehidupannya telah melenyapkan semua penyakit yang diderita oleh Rosa.
Rosa mendengar apa yang dikatakan oleh Irina, kemudian ia mencoba menggerakkan tangannya. Dia terkejut, tangannya dapat digerakkan dengan mudah. Kemudian ia mencoba untuk duduk dan itu juga sangat mudah dilakukan, sehingga ia segera turun dari atas tempat tidur dan dirinya dapat berdiri dengan sempurna.
Rosa tersenyum walaupun air matanya tetap mengalir membasahi pipinya. “Terimakasih Nyonya Bos!” ucapnya sembari menundukkan wajahnya.
Helena menjadi malu karena dipanggil Nyonya Bos oleh wanita yang lebih tua darinya. “Bibi Rosa tidak perlu berterimakasih... dengan sembuhnya bibi Rosa, maka Viola tidak akan sering termenung sendiri saat bekerja.”
Viola langsung malu karena Helena mengetahui dirinya sering termenung memikirkan nasib ibunya, bahkan beberapa kali ia salah mengantarkan makanan yang dipesan oleh pelanggan.
Viola tiba-tiba teringat dengan yang dikatakan oleh ibunya tadi, kalau ibunya bekerja di rumah bordil. “Apakah Ibu akan dipaksa bekerja lagi di rumah bordil bila para Preman itu mengetahui Ibu telah sembuh?” tanyanya—khawatir ibunya dipaksa bekerja lagi di sana.
Rosa tertegun dan menganggukkan kepala, karena ia sering melihat para Preman itu mondar-mandir disekitar gubuknya, bahkan mereka telah menyuruhnya untuk menjadikan Viola sebagai penggantinya.
__ADS_1
Namun, Rosa berbohong pada mereka bahwa Viola adalah anak kandung dari Bos Preman yang langsung percaya dengan perkataannya itu, karena Bos Preman itulah yang pertama mencicipi tubuh Rosa.
Walaupun Viola tidak dipaksa oleh para preman menjadi pekerja rumah bordil, Bos Preman tidak mau menafkahinya karena ia masih ragu Viola adalah anak kandungnya sebab wajah Viola tidak mirip dengannya.
“Bagaimana kalau bibi Rosa tinggal denganku saja,” kata Irina, “kebetulan juga Aku adalah janda dan rumahku cukup luas setelah direnovasi dan bibi Rosa juga dapat bekerja sebagai penjahit bersama para tetangga yang bekerja denganku.”
Setelah Alex memperkenalkan Keluarga Reus padanya, bisnis menjahitnya semakin sukses karena Kelurga Reus menyediakan bahan baku dan membeli pakaian hasil jahitannya. Selain itu, Pendekar Kelurga Reus juga memasang plakat simbol Kelurga Reus di dinding rumahnya sehingga siapapun yang mencoba mengusiknya maka akan berhadapan dengan Kelurga Reus.
Rosa sebenarnya sangat senang mendengar tawaran dari Irina. Namun, ia takut para Preman itu akan mengusik Irina juga dan mengalami nasib serupa dengannya.
Irina tahu apa yang dipikirkan oleh Rosa saat ini. “Bibi Rosa tidak perlu khawatir, Rumahku memiliki plakat Kelurga Reus sehingga mereka tidak akan berani mengusik kita,” kata Irina sembari tersenyum hangat.
Viola sangat senang Ibunya tinggal dan bekerja dengan Irina. Dia sudah tahu kalau Alex berteman baik dengan Irina, bila ada Preman yang mengusik mereka maka Alex pasti datang membantu, apalagi kini identitas asli Alex sudah tersebar luas kalau ia adalah Pangeran Alex Acherron yang terkenal sebagai Pendekar terkuat di Benua Grandland tersebut.
Rosa menatap putrinya yang tampak senang mendengar perkataan Irina. Dia kemudian mengangguk setuju dengan tawaran Irina. Yang dia inginkan kini adalah putrinya bahagia dan tidak khawatir dengan keadaannya.
Mereka harus berjalan melalui gang sempit yang mereka lalui tadi dan naik Kereta Kuda sejauh Dua Kilometer lagi untuk mencapai rumah Irina yang juga masih di wilayah timur Kota Perdamaian tersebut.
“Ibu... Aku akan memapahmu!” kata Viola segera menggenggam tangan Rosa.
“Ibu sudah sembuh dan bisa berjalan sendiri, kok,” sahut Rosa segera menuju lemari mengemasi beberapa helai pakaiannya.
Setelah keluar dari gubuk, Rosa mengetuk gubuk di sebelahnya.
“Ibu, apa yang ibu lakukan? Kita harus segera meninggalkan tempat ini!” Viola takut para Preman menangkap ibunya lagi dan memaksanya menjadi pekerja rumah bordil.
Wanita tua membukakan pintu gubuk yang diketuk oleh Rosa. “Kamu sudah sembuh, Rosa... syukurlah,” kata wanita tua itu sembari menatap Helena. “Pasti nona Elf yang telah menyembuhkannya, sebagai tetangga Rosa Aku turut berterimakasih,” katanya lagi.
__ADS_1
Helena tersenyum hangat dan menjawab, “Aku sangat senang dapat membantu bibi Rosa.” Dia hanya menjawab seadanya saja agar perbincangan mereka tidak berlangsung lama.
“Selamat pagi, Nenek Bertha... maaf kami harus pergi dengan tergesa-gesa, suatu hari nanti Aku akan mengunjungimu dan membawakan makanan enak dari tempatku bekerja,” kata Viola tidak ingin berlama-lama di sana karena merasa para Preman sedang mengawasi mereka.
“Viola... tidak boleh berkata seperti itu pada nenek Bertha.” Rosa menegur Viola. “Selama kamu bekerja, Nenek Bertha lah yang telah merawat ibu,” katanya lagi.
Viola tersenyum masam dan meminta maaf pada Nenek Bertha, tetapi matanya terus menatap ke berbagai gubuk disekitarnya untuk mencari apakah ada Preman yang memperhatikan mereka.
Rosa memeluk Nenek Bertha dan berkata, “Nenek Bertha... kami akan pindah dari sini dan sebagai ungkapan terimakasihku, rumah kami itu akan kuberikan padamu.”
Nenek Bertha terkejut mendengarnya, tangannya yang telah keriput tersebut kemudian mengelus wajah Rosa. “Semoga kamu mendapatkan kehidupan yang lebih baik setelah tinggal di tempat tinggal barumu nanti,” sahutnya tersenyum tipis. “Kamu sekarang jauh lebih cantik dari saat kita pertama kali bertemu, pasti banyak... hmm, lupakan saja. Cepatlah pergi sebelum ada Preman yang melihat kalian.”
Rosa memeluk Nenek Bertha sekali lagi dan kemudian meninggalkan tempat itu dengan tergesa-gesa, karena Viola berjalan sangat cepat sekali.
Senyuman di wajah Nenek Bertha memudar saat punggung Rosa menghilang di gang sempit. “Bagaimana dia tiba-tiba terlihat jauh lebih muda? Apakah itu Sihir Kehidupan dari gadis Elf itu. Kalau Dia kembali ke rumah bordil, maka Dia akan menjadi rebutan pelanggan hidung belang berkantong tebal,” gumam mantan mu.ci.ka.ri tersebut.
Pria muda berjalan terhuyung-huyung dari dapur gubuk Nenek Bertha, bau arak tercium dari napasnya yang membuat Nenek Bertha menutup hidungnya.
“Ander... cepat beritahu Pamanmu bahwa budaknya sudah sembuh dan kini bertambah cantik. Namun, Rosa melarikan diri karena tidak mau bekerja lagi di rumah bordil itu!” seru Nenek Bertha pada Ander yang merupakan Putranya satu-satunya itu dan sama seperti Viola, Nenek Bertha juga tidak tahu siapa ayah kandung anaknya itu.
“Wanita tua itu sekarang menjadi cantik?” Ander terkejut mendengarnya dan ia juga telah mendengar dari beberapa Preman yang lebih tua darinya kalau Rosa dulunya cukup cantik. Namun, karena mendapatkan perlakuan kasar dari beberapa pelanggan, wajahnya menjadi banyak bekas luka sehingga kecantikannya tidak terlihat lagi.
Sudut bibir Ander memancarkan seringai tipis karena teringat dengan Viola yang sebaya dengannya itu. Dia sudah beberapa kali merayu Viola agar mau menjadi kekasihnya, tetapi Viola selalu menolaknya. Kalau Rosa kabur dan tidak mau lagi bekerja di rumah bordil, maka Pamannya pasti akan marah dan akan mengirim Preman untuk menangkap mereka.
Saat Viola ditangkap oleh bawahan Pamannya, maka ia akan menikmati tubuh gadis muda yang masih segar dan belum ternodai tersebut.
“Baiklah, bu... Aku akan segera melapor pada Paman Levi!” Ander berlari terhuyung-huyung menuju rumah Levi, Pamannya yang juga Bos para Preman di wilayah itu serta pengelola rumah bordil.
__ADS_1