Pangeran Terkuat Menjadi Koki Legendaris

Pangeran Terkuat Menjadi Koki Legendaris
Meninjau Cabang Sekolah Harapan


__ADS_3

Setelah Vera Voldemort meninggalkan Restoran Sarah, Alex langsung kembali ke dapur untuk melanjutkan mengajari Eva dan Hannah memasak Tempoyak Ikan Patin.


“Apa selanjutnya, Bos?” tanya Hannah setelah ia dan Eva selesai menghaluskan bumbu.


Alex yang baru saja mengenakan celemeknya, segera menghampiri mereka. “Campurkan Tempoyak Durian, bumbu yang sudah dihaluskan, Daun Salam, dan Serai. Tumis hingga harum.”


Hannah dan Eva segera melaksanakan instruksi dari Alex.


Setelah itu, mereka menambahkan air, gula, dan garam secukupnya. Ketika air mendidih, Hannah memasukkan Ikan Patin yang sudah dibersihkan.


Sembari menunggu ikan Patin lunak dan bumbu meresap, Hannah dan Eva membantu Alex memasak pesanan pelanggan.


“Aromanya wangi sekali!” kata Eva memeriksa apakah Tempoyak Ikan Patin yang mereka masak sudah matang. Dia mencicipi kuahnya, “hmm, rasanya persis seperti yang Bos masak tadi pagi he-he-he.” Eva tertawa bahagia.


“Wah, kalian hebat sekali, hanya dengan sekali belajar saja sudah dapat memasaknya!” Alex memuji mereka yang membuat Eva dan Hannah semakin bahagia. “Kalau begitu, Aku akan menyerahkan urusan dapur pada kalian. Kemarin guru Isabella datang dan menyuruhku memeriksa cabang Sekolah Harapan di wilayah timur, apakah masih ada yang perlu ditambahkan.”


Alex berkata sembari mengangkat bahunya dan merasa semua orang telah menganggapnya sosok yang serba bisa, padahal ia hanya manusia biasa yang hanya bisa meniru ide yang telah ada di kehidupan sebelumnya.


“Serahkan saja pada Duo Koki cantik ini, Bos! Kami pasti akan memuaskan para pelanggan dengan keahlian memasak Kami yang hampir mendekati kehebatan Bos ha-ha-ha.” Hannah kemudian tertawa terkekeh-kekeh.


Alex mengacak-acak rambut Hannah dan berkata, “Ya, ya ... kalian memang Koki yang hebat!”

__ADS_1


Kali ini Alex berkata yang sejujurnya, karena saat ia berada di Bumi dulu ia membutuhkan waktu yang lama agar mahir memasak, bahkan berkali-kali dimarahi oleh Koki senior karena hasil memasaknya tak sesuai ekspektasi.


Uran dan Duduke berjalan bersama Alex keluar dari Restoran Sarah, karena Pabrik Dewan Kota Milles tempat mereka bekerja hanya beberapa meter dari Restoran Sarah. Sementara Ron pergi dengan Kereta Kudanya dan ia menawarkan tumpangan pada Alex, tetapi Alex menolaknya karena Alex ingin menikmati pemandangan Kota Perdamaian.


“Apakah Pabrik Dewan Kota Milles memiliki proyek besar saat ini?” tanya Alex pada Uran.


Uran menggelengkan kepala dan berkata, “Kami hanya membuat perkakas rumah tangga saja. Sejak perjanjian damai ditandatangani lagi, tidak ada lagi pesanan pembuatan Pedang maupun Zirah besi.”


Alex tersenyum dan berkata, “Tenang saja, Kekaisaran Hazel mungkin akan membeli mesin-mesin bertenaga Kristal Sihir dan baja dalam jumlah besar.”


Uran dan Duduke menatap Alex dengan penasaran, serta terlihat sudah tidak sabar ingin mendengar proyek fantastis seperti apa yang akan dibuat oleh Kekaisaran Hazel.


Namun, Alex menggelengkan kepalanya. “He-he-he ... tapi Aku tidak tahu kapan mereka akan memulainya. Kalian harus sabar menunggu!”


Sembari bercanda, Alex meminta mereka untuk bersabar. Dia belum bisa memberitahu mereka kapan ide bisnis yang akan ia serahkan pada Kekaisaran Hazel itu terwujud, karena ia masih belum memiliki waktu untuk berjumpa dengan Keluarganya.


“Sampai jumpa nanti siang Bos Alex!” Uran melambaikan tangan sembari berbelok ke arah Pabrik Dewan Kota Milles. “Oh, ya, Aku sangat menyukai Ketiga hidangan baru Restoran Sarahmu,” pujinya tertawa lebar.


“Ya, itu enak sekali! Bos Alex memang Koki Legendaris paling hebat!” Duduke memuji Alex sembari mengacungkan jempol dan tersenyum lebar.


Alex hanya tersenyum tipis menanggapi pujian mereka dan melanjutkan perjalanannya menuju wilayah timur Kota Perdamaian.

__ADS_1


Alex tidak menyangka kini Lord Michael dan Kelurga Pengusaha membolehkan para pedagang kaki berjualan di wilayah Barat. Kini ada banyak Restoran kecil di sepanjang jalan, termasuk kedai-kedai yang berjualan Sarahmie.


Alex tentu sangat senang dengan perubahan itu. Dengan begitu, Kota Perdamaian terasa lebih hidup serta seperti Kota-kota besar abad pertengahan di Bumi, lebih tepatnya mungkin seperti Era Revolusi Industri di Inggris.


Setelah Margareth membangun Pabrik Sarahmie di wilayah timur, Paman-Pamannya mulai membangun Pabrik juga agar dapat memasarkan produk mereka hingga keluar Kota Perdamaian, kemudian Pengusaha lainnnya juga meniru hal yang sama setelah penjualan Sarahmie meledak di pasaran.


Karena Kota Perdamaian sangat besar, butuh waktu Satu Jam bagi Alex sampai di gedung cabang Sekolah Harapan di wilayah timur.


Dekorasinya terlihat mirip dengan Sekolah Harapan di wilayah Barat, terdapat halaman yang cukup luas. Terlihat juga Puluhan anak-anak berusia sekitar Enam dan Tujuh tahun sedang berlatih beladiri yang dilatih oleh Pendekar tingkat 5.


“Bos Alex!” Pria muda menyapa Alex sembari tersenyum cerah.


Alex menoleh ke samping dan tersenyum hangat ke arah Pemuda tampan tersebut. Dia membawa beberapa Buku dan tidak ada Kekuatan yang terpancar dari tubuhnya, yang berarti Dia adalah Manusia biasa. Namun, karena Dia membawa Buku, kemungkinan ia adalah salah satu Guru yang mengajarkan mata pelajaran umum di sini.


“Apa yang membuat Bos Alex kemari? Oh, ya, Bos Alex mungkin tidak mengenali Aku karena Aku hanya sekali mampir di Restoranmu.” Pemuda itu kembali berkata dengan penuh semangat. “Ah, Aku lupa memperkenalkan diri, Aku adalah Leon, Guru yang mengajar membaca dan menulis untuk anak-anak yang masih buta huruf ha-ha-ha.”


“Senang bertemu denganmu, Guru Leon ... Aku kemari karena mendapat undangan dari Guru Isabella,” sahut Alex.


“Oh, Kepala Sekolah Isabella,” kata Guru Leon. “Baiklah, Aku akan membawa Bos Alex ke ruang kerjanya. Beliau sangat sibuk akhir-akhir ini, selain mengurus administrasi, Kepala Sekolah juga membujuk para penduduk wilayah timur agar menyekolahkan anak-anak mereka di Sekolah Harapan. Namun, sebagian orang tua anak-anak itu awalnya menolak, tetapi setelah Kepala Sekolah menjelaskan kalau anak-anak mereka pandai membaca dan menulis maka, anak-anak itu akan berkesempatan bekerja di Pabrik Sarahmie. Beliau juga mengatakan akan semakin banyak Pabrik besar muncul di Kota Perdamaian dan itu akan membutuhkan tenaga kerja yang sangat banyak, tetapi persyaratan juga semakin ketat; hanya yang berpendidikan saja yang akan diterima bekerja di sana nantinya.”


Alex tersenyum mendengar penjelasan panjang Guru Leon dan Alex juga kagum Isabella rela turun tangan membujuk para penduduk agar membiarkan anak-anak mereka mengenyam pendidikan.

__ADS_1


Selain menjelaskan tentang dedikasi tinggi Isabella, Guru Leon juga akan menceritakan tentang para Keluarga Pengusaha mengirim beberapa Pemuda berpendidikan tinggi menjadi Guru di Cabang Sekolah Harapan ini, bahkan Kelurga Pengusaha Milles telah mendirikan bengkel kecil di Cabang Sekolah Harapan dan mengirim Sepuluh Dwarf yang akan melatih murid-murid yang tertarik menjadi Penempa.


“Apa Aku membuka kelas memasak juga?” pikir Alex setelah mendengar penjelasan Guru Leon. Namun, ia cukup sibuk di Restoran Sarah sehingga tidak akan memiliki waktu luang mengajar mereka.


__ADS_2