
“Semua lanjutkan perjalanan!”
Suara Eden menggema di Desa Suku Harimau itu, sehingga bawahannya mulai mengeluh karena mereka baru saja bersenang-senang kenapa harus buru-buru pergi.
Neil juga kesal, ia baru meniduri Satu Wanita Suku Ular. Dia kembali ke Kereta Kuda setelah membunuh Lima Pria Suku Ular yang menghadangnya.
“Bos Eden! Kenapa Kita harus buru-buru pergi?” tanya Neil kesal.
Neil membuka tirai jendela Kereta Kuda untuk melihat pemandangan di mana mayat-mayat Suku Ular di Desa itu berserakan dimana-mana.
“Detak jantungku berdebar kencang,” sahutnya singkat. Namun, jawaban itu sudah cukup membungkam mulut Neil.
Neil sudah lama menjadi bawahan Eden sejak di militer Kekaisaran Hazel, jadi ia sangat paham betul maksud dari detak jantungnya berdebar kencang itu.
Itu adalah semacam petunjuk bahwa akan muncul lawan yang sangat kuat. Berkat firasat Eden itulah, mereka selalu lolos dari maut. Bahkan berhasil keluar dari Kerajaan Goblin yang telah diserbu oleh mayat-mayat hidup tanpa ada bawahan Eden yang terluka.
“Apakah Kita masih melanjutkan misi ini?” Neil bertanya dengan suara rendah.
Eden menjulurkan tangan kanannya keluar jendela Kereta Kuda dan menangkap kelopak bunga yang terbawa angin.
“Dia masih jauh di sana, setelah bergabung dengan yang lainnya di Kota Ardotalia maka Kita mungkin dapat mengalahkannya. Namun, tetap berhati-hati, biarkan saja grup lain yang menghadapinya. Bila ia sangat kuat, maka Kita akan melarikan diri lebih dulu,” sahut Eden memasukkan tangannya kembali ke dalam gerbong Kereta Kuda dan menutup tirai jendela.
Neil menarik napas dalam-dalam, kemudian menatap ke arah pegunungan ditumbuhi Pohon-pohon Cemara. “Apakah itu Pasukan Kekaisaran Hazel?” gumamnya tidak ingin berperang melawan sesama Manusia, karena diantara Pasukan Kekaisaran Hazel itu banyak kenalan lama dan sahabatnya.
Rombongan Kereta Kuda kemudian keluar dari Desa yang mulai dihinggapi burung-burung Nasar atau burung pemakan bangkai.
...***...
Alex, Valor, dan Ayla yang selalu mengeluhkan kakinya terasa kram kini berhenti di pinggir telaga kecil untuk beristirahat.
“Apakah Kota Ardotalia itu masih jauh?” tanya Alex yang terlihat tetap bugar, sementara Dua Pemuda Suku Ular terengah-engah karena terus berjalan tanpa henti selama Lima Jam.
“Kira-kira Empat Jam lagi, Paman Alex. Namun, bila Kita beruntung kita dapat menumpang Kereta Kuda yang lewat di jalan sana!” sahut Valor sembari menunjuk ke arah sebuah jalan selebar Sepuluh Meter dan jalan itu adalah jalan utama yang menghubungkan Kota Ardotalia dengan Suku-suku lain diseluruh Kerajaan Beasthuman.
Alex mengangguk pelan serta membiarkan Valor dan Ayla merebahkan tubuh di atas permukaan padang rumput.
“Apa kalian sepasang kekasih?” tanya Alex penasaran, karena keduanya terlihat memiliki hubungan yang sangat dekat.
“Tidakkkkkkkk!” Valor dan Ayla berkata bersamaan.
__ADS_1
Alex pun tertawa mendengarnya, kemudian berjalan menuju telaga. “Sebaiknya kalian menjadi kekasih saja. Hubungan kalian seperti Aku dan istriku saat menjelajahi Benua Grandland,” katanya.
Dulu ia dan Helena juga sering bertengkar, tetapi disaat bersamaan akan kompak bila melawan orang lain, termasuk saat bersilat lidah. Bahkan Raja Naga sampai menggelengkan kepala karena kalah debat melawan mereka.
Valor dan Ayla saling berpandangan, kemudian kedua langsung memalingkan wajah.
Alex kembali tertawa, karena wajah keduanya memerah. Dia kemudian menggunakan Elemen Sihir Air yang merupakan Kekuatan Dewa Poseidon yang ia peroleh setelah menenggak cairan yang diberikan oleh Dewan Kota Avena dari Ras Duyung.
Tiga Ikan Salmon ditarik oleh gelombang air di dalam telaga menuju Alex.
Valor dan Ayla mencium aroma ikan bakar dari pinggir telaga. Keduanya langsung berlari mendekati Alex yang sedang memakan Ikan Salmon panggang dengan santai.
“Paman, apakah kakimu terasa lelah? Biar kupijit, Aku biasanya akan memijit orangtuaku saat mereka pulang dari menggembalakan ternak,” kata Valor langsung memijit Kaki Alex.
Ayla tak mau ketinggalan, ia memijat bahu Alex dengan lembut. “Ini adalah pijitan cinta khusus untuk Paman Alex,” rayunya.
Alex mengerutkan keningnya dan berpikir apakah semua Beasthuman Suku Ular memiliki perangai seperti Dua anggota Suku Ular ini. Mereka mengingatkannya pada dirinya sendiri saat masih menjadi asisten Koki di Bumi, kebetulan Koki seniornya adalah Wanita cantik sehingga ia akan melakukan apa saja yang diperintahkan oleh Koki tersebut. Namun, sayang sekali, saat dirinya resmi menjadi Koki—seniornya itu malah menikah dengan manajer Restoran tempat mereka bekerja.
Namun, setelah mereka resmi menikah, Koki senior itu memutuskan menjadi ibu rumah tangga dan Alex dipecat dari pekerjaannya karena hanya masalah sepele saja.
“Sudah berhenti memijitku, cepat makan agar Kita segera melanjutkan perjalanan,” kata Alex menoleh ke arah Kota Ardotalia dan merasa ada sesuatu yang buruk telah terjadi.
Valor dan Ayla sangat senang mendengarnya, bahkan keduanya berebut Ikan Salmon yang lebih besar sampai-sampai Ayla melompat dari wajah Alex.
Seekor Burung Nasar terbang melintasi telaga yang membuat Alex semakin khawatir sesuatu yang buruk mungkin telah terjadi di dataran rendah Zenica.
“Ayo pergi! Kalian bisa makan sambil berjalan saja!” desak Alex segera berjalan menuju jalan raya.
Valor dan Ayla keheranan, kenapa Alex sangat terburu-buru sekali. Padahal cuaca masih cerah dan bila mereka tetap berjalan santai, maka mereka akan sampai ke Kota Ardotalia sebelum malam.
Kereta Kuda kebetulan lewat saat Alex, Valor, dan Ayla sampai di jalan raya.
Valor menggunakan tanda pengenal sebagai Pendekar Suku Ular agar diberikan tumpangan oleh Kereta Kuda yang membawa Lima ekor Domba di gerobaknya itu.
Kusir Kereta Kuda mempersilahkan mereka ikut, tetapi mereka duduk di gerobak yang membawa Domba.
Ayla menolak ikut naik gerobak itu, tetapi Alex memaksanya untuk ikut. Kalau dia tidak mau ikut, maka Alex mengancam akan menggunduli rambutnya.
Ayla terpaksa ikut dengan ekspresi wajah cemberut sepanjang perjalanan. Valor terus menyeringai nakal menatap Ayla, sementara tatapan Alex terus tertuju pada Burung Nasar yang datang dari berbagai arah menuju ke arah yang mereka tuju.
__ADS_1
“Apakah Desa-Desa yang tadi Paman lewati baik-baik saja?” tanya Alex pada Kusir Kereta Kuda.
“Semua baik-baik saja,” sahut Kusir itu. “Apakah tuan Pendekar sedang memperhatikan pergerakan Burung Nasar itu juga?” tanyanya—karena ia merasa Burung Nasar terbang ke satu arah yang sama.
“Iya, biasanya bila mereka terbang ke arah yang sama, maka di tempat itu ada banyak mayat, baik itu mayat hewan ternak atau seseorang yang terbunuh,” kata Alex menghela napas panjang.
Valor dan Ayla akhirnya mengerti kenapa Alex sangat terburu-buru. Keduanya menjadi khawatir, Organisasi Hercules telah melakukan pembantaian massal di Kota Ardotalia.
“Apa-apaan itu, kenapa Burung-Burung Nasar itu hinggap ke Desa itu?” Ayla mengerutkan keningnya menunjuk ke arah Desa kecil yang disinggahi oleh rombongan Eden.
“Bawa Kami ke sana, Paman! Kita harus memeriksa apakah masih ada yang hidup di sana,” kata Alex.
“Bagaimana kalau para pembunuhnya masih ada di sana?” sahut Kusir Kereta Kuda itu khawatir.
“Tenang saja, Aku adalah Pendekar tingkat 10,“ kata Alex meyakinkan Kusir itu, tetapi Varol dan Ayla malah menatapnya dengan heran karena terkejut mendengarnya serta tidak menyangka kalau Alex adalah Pendekar tingkat tinggi.
Ayla tiba-tiba merasa perutnya mual saat melihat pemandangan mengerikan di dalam Desa.
Alex berjongkok sambil menutup mata anak kecil yang masih terbuka. Dia tidak menyangka Organisasi Hercules sangat kejam sekali, mereka seperti Mordor dan pengikutnya saja.
Alex menghunus Pedang Meteor dari sarung pedang di punggungnya, kemudian mengayunkannya ke arah Desa.
Sinar terang menyilaukan berbentuk Bulan Sabit melesat dari bilah Pedang Meteor, sesaat kemudian terdengar beberapa suara tangisan anak-anak.
Valor dan Ayla kebingungan, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa ada suara tangisan anak-anak setelah sinar terang menyilaukan itu muncul.
“Cepat bawa mereka, Aku akan membakar Desa ini,“ kata Alex.
Valor dan Ayla segera masuk ke dalam beberapa rumah, kemudian membawa keluar beberapa anak-anak yang pakaiannya memiliki noda bekas darah dan tebasan pedang.
Namun, Keduanya bingung setelah memeriksa tubuh anak-anak itu, karena mereka tidak terluka sama sekali.
Valor bertanya pada anak laki-laki berusia Tujuh tahun yang baru saja ia keluarkan dari salah satu rumah, apa yang terjadi pada mereka.
Bocah Suku Ular itu menceritakan kalau Karavan Pedagang datang ke Desa, kemudian membunuh semua orang dan ia mengatakan bahwa mereka adalah Manusia.
Bocah lain mengatakan kalau Ibunya diseret ke dalam kamar, tetapi ia dilihat oleh Manusia itu bersembunyi di balik kursi. Kemudian Manusia itu melempar pisau ke arah dadanya, setelah itu ia tidak tahu apa yang terjadi dan tiba-tiba ia terbangun, Pisau yang menancap di dadanya tergeletak di sebelahnya.
Valor dan Ayla kini akhirnya mengerti, cahaya menyilaukan yang melesat dari bilah Pedang Alex adalah Elemen Sihir Kehidupan berlevel tinggi, makanya anak-anak ini disembuhkan dalam sekejap asalkan nyawa mereka masih ada.
__ADS_1
Valor mengambil Kereta Kuda milik Kepala Desa agar dapat membawa semua anak-anak yang selamat. Alex mengatakan mereka dapat selamat karena Organisasi Hercules itu mengira mereka akan mati walaupun tidak membelah tubuh mereka.
“Kalau Kita terlambat datang beberapa jam saja, sepertinya Kita tidak akan dapat menolong mereka,” kata Kusir Kereta Kuda yang memutuskan akan beriringan dengan Kereta Kuda yang dibawa Valor demi keselamatan nyawanya, karena menurut Alex mungkin akan menuju Kota Ardotalia yang juga tempat yang ia tuju untuk menjual ternaknya.