Pangeran Terkuat Menjadi Koki Legendaris

Pangeran Terkuat Menjadi Koki Legendaris
Nenek Eli


__ADS_3

Seperti kemarin, setelah bangun pagi Sarah langsung menyapu halaman Restoran dan Nenek Eli yang sedang duduk di balkon langsung menyapanya.


“Kali ini tidak akan ada Paha Ayam Crispy gratis lagi, Nenek Eli!” kata Sarah setelah selesai menyapu halaman Restoran.


Elizabeth tersenyum mendengarnya dan tidak menyangka gadis kecil setengah Elf ini sangat menggemaskan serta lihai berbicara padahal usianya baru Empat tahun.


Sarah hendak berjalan ke dalam Restoran, tiba-tiba ia berhenti melangkah karena teringat dengan hidangan baru yang dibuat oleh Ayahnya. “Nenek Eli... Aku akan memberitahu kabar menggembirakan,” katanya sembari tersenyum cerah.


Elizabeth menatap Sarah dengan penuh minat dan penasaran, kabar menggembirakan apa yang akan dikatakan olehnya.


“Ayah akan menjual menu makanan baru yang sangat enak, itu adalah bola-bola daging yang disajikan bersama Mie dan kuah yang sangat enak,” kata Sarah sembari menyeka air liur yang menetes dari sudut bibirnya.


Elizabeth menelan ludahnya sendiri dan tidak menyangka akan melakukan hal itu setelah mendengar penjelasan Sarah. Kemudian ia menganggukkan kepala dan berkata, “Baiklah, Aku akan sarapan pagi di Restoranmu.”


Sarah sangat senang berhasil merayu Nenek Eli untuk makan di Restorannya, kemudian ia segera berlari ke dalam Restoran dan memberitahu Alex bahwa Nenek Eli akan makan di Restoran mereka.


Alex terkejut mendengarnya, tidak menyangka Sarah dapat membujuk wanita tua yang selalu mengenakan pakaian hitam serta bertudung hitam tersebut. Kalau di Bumi, anak-anak akan takut melihat penampilannya itu.


Setelah selesai memasak kuah Bakso, Alex segera memandikan Sarah dan membuka Restoran. Tak lama setelah Restoran di buka, Hannah juga datang mengenakan seragam karyawan Restoran Sarah.


Dia terlihat gembira, sepertinya ia sengaja mengenakan pakaian karyawan Restoran Sarah untuk memamerkan pada teman-temannya bahwa ia telah bekerja di wilayah Barat Kota Perdamaian. Hal itu memang sangat membanggakan, mengingat mendapatkan pekerjaan di wilayah Timur sangat sulit.


“Selamat pagi, Bos Alex... selamat pagi, Sarah ....” Hannah menyapa mereka.


“Selamat pagi, Kak Hannah!” sahut Sarah yang langsung duduk di kursi Kasir, sedangkan Alex hanya menganggukkan kepala dan segera bergegas ke dapur.


Satu Jam telah berlalu, masih belum ada pelanggan yang memasuki Restoran sehingga Sarah tampak lesu dan sesekali menoleh ke arah pintu apakah ada Pelanggan yang akan muncul.

__ADS_1


“Maaf Sarah... tadi Aku sedikit sibuk membuat Ramuan sehingga lupa telah berjanji akan sarapan pagi di Restoranmu.”


Mata biru Sarah berbinar-binar mendengar suara itu dan ia langsung menoleh ke arah pintu Restoran. “Silahkan masuk Nenek Eli,” sahutnya tersenyum lebar.


“Ya,” kata Elizabeth segera menuju Meja yang dekat dengan Kasir agar dapat mengobrol dengan Sarah.


Elizabeth menatap sekelilingnya dan takjub dengan dekorasi Restoran Sarah yang terlihat mewah. Dia kemudian melihat daftar menu dan sedikit terkejut dengan harga yang tertera di sana.


Dia teringat dengan bola-bola daging yang dikatakan oleh Sarah dan gambar makanan di daftar menu yang terlihat memiliki bola-bola kecil adalah Bakso dengan harga 100 Koin Perak.


Dia menatap Hannah yang tersenyum berdiri di seberang Meja. “Aku memesan satu mangkuk Bakso.”


“Baik Nyonya, tolong tunggu sebentar,” sahut Hannah segera menuju dapur. Dia terkejut mendengar ucapan wanita tua itu. “Bos Alex sepertinya sudah membuat menu baru,” pikirnya.


Alex telah mendengar pesanan Elizabeth. Dia segera memasukkan Sepuluh bola-bola daging ke dalam Panci yang berisi kuah Bakso.


“Perhatikan dengan baik, setelah aku selesai menyajikan Bakso ini, kamu sajikan saja untukmu Satu mangkuk,” kata Alex menatap Hannah yang tampak sangat senang. “Kamu belum sarapan pagi, kan?” tanyanya lagi.


“Belum Bos,” sahut Hannah dan tatapannya tetap tertuju pada Panci diatas Kompor.


Beberapa saat kemudian, Alex menuangkan Bakso dan Mie ke dalam mangkuk serta menambahkan kuah hingga hampir memenuhi mangkuk tersebut. Dia kemudian menambahkan Potongan Daun Bawang, Kecap Manis, Saus dan cuka, sementara untuk sambal rawitnya dipisah dalam wadah kecil.


Alex melirik Hannah dan berkata, “Apakah Kamu sudah dapat menyajikan seperti yang kulakukan?”


“Tentu saja bisa Bos, Aku ini adalah Koki terhebat di rumah,” sahut Hannah dengan bangga.


Alex tersenyum mendengar candaan Hannah dan ia segera membawa pesanan untuk Elizabeth yang sedang mengobrol dengan Sarah.

__ADS_1


“Pesanan Anda Nyonya... silahkan dinikmati!” Alex meletakkan mangkuk berisi Bakso di atas meja.


Elizabeth mencium aroma daging Monster tingkat 10 dari bola Bakso itu dan itu membuatnya teringat saat memeriksa Segel di Hutan Monster, di mana Dua Pendekar tingkat 10 sedang bertarung di kerumunan Monster Banteng.


Alex merasakan wanita tua itu sedang memeriksa kekuatannya. Dia tersenyum masam dan berkata, “Tidak baik menatap tajam seseorang Nyonya... Aku tidak mungkin akan meracuni pelangganku.”


Namun, Elizabeth masih menatap Alex dengan tatapan tajam. Suasana di Restoran itu menjadi tegang, Alex mengerutkan keningnya dan berpikir kenapa wanita tua itu sangat ingin mengetahui tingkat kekuatannya.


“Nenek Eli... cepat segera makan baksonya,” kata Sarah membuyarkan suasana tegang itu. “Saat masih panaslah memakan Bakso itu terasa nikmat, tubuhmu akan terasa segar,” katanya lagi.


Elizabeth tersenyum menatap Sarah dan menganggukkan kepala, kemudian mengambil Sumpit dan menjepit satu bola Bakso.


“Hmm?” Elizabeth terkejut daging Monster tingkat 10 yang seharusnya sangat keras menjadi lunak di dalam bola kecil tersebut. Dia juga merasakan ledakan energi di dalam tubuhnya.


Walaupun ia peracik Ramuan herbal yang dapat menyembuhkan luka seseorang, sebenarnya masih banyak jenis penyakit yang tidak dapat disembuhkan oleh Ramuan herbal yang ia buat. Salah satunya adalah tubuh tuanya yang terasa pegal-pegal dan nyeri sendi.


Namun, setelah memakan Bakso yang terbuat dari daging Monster tingkat 10 itu, ia merasa tubuhnya seperti kembali ke usia muda dan penuh energi.


Ramuan apa yang telah dimasukkan oleh Koki ini ke dalam Bakso ini, apakah itu efek dari daging Monster tingkat 10? Namun, ia sudah beberapa kali memakan daging Monster tingkat 10 dan tidak ada khasiatnya, kecuali terasa lebih enak dari daging Monster tingkat rendah.


Alex masih berdiri di dekat Sarah dan terlihat mengerutkan keningnya saat Elizabeth kembali menatapnya dengan tatapan tajam.


“Dasar Mak Lampir ini, apa sih yang ia pikirkan?” gerutu Alex khawatir wanita tua ini seperti Mordor yang sedang mengincar Putrinya.


Elizabeth menarik napas dalam-dalam dan melepaskannya pelan-pelan. “Kamu... Alex Acherron, kan?” selidiknya.


Restoran itu tiba-tiba menjadi sunyi, Alex tertegun cukup lama dan tidak menyangka ada yang mengenalinya—padahal wajahnya sedikit berubah walaupun masih mirip dari Alex yang dulu.

__ADS_1


__ADS_2