
Selama perjalanan menuju Kota Ardotalia, Alex menunjukkan pertunjukan sulap untuk menghibur anak-anak itu.
Namun, ada satu gadis kecil yang tidak terhibur dengan pertunjukan sulap Alex. Tatapan matanya kosong, jelas sekali ia telah mengalami trauma. Kalau tidak disembuhkan, maka gadis kecil itu akan menjadi anak yang pendiam dan penakut.
Alex bingung bagaimana menghibur gadis kecil Suku Ular itu.
Ayla tiba-tiba menggendong gadis kecil itu dan wajah gadis kecil itu langsung memucat. Namun, Ayla malah memasang ekspresi wajah lucu dan menggelitiknya.
Tiba-tiba gadis kecil itu tertawa dan hal itu mengingatkan Alex saat masih tinggal di gubuk wilayah timur Kota Perdamaian. Dia juga sering menggelitik Sarah agar tertawa saat sedang merajuk.
“Berapa lama lagi Kita akan mencapai Kota Ardotalia, Valor?” tanya Alex penasaran.
Burung-burung Nasar tidak terbang ke arah Kota Ardotalia, yang berarti Organisasi Hercules belum melakukan t.e.r.o.r di sana.
“Dengan kecepatan kereta kuda saat ini, mungkin kita akan mencapai Kota Ardotalia saat menjelang malam,” sahut Valor yang kini bersikap layaknya Pendekar. Dia tidak pernah bercanda lagi dengan Ayla, tatapannya juga selalu tajam seperti Elang. Bahkan kodok yang melompat tak luput dari pandangannya.
...***...
Eden menugaskan Neil membongkar gandum yang mereka bawa dari Kekaisaran Hazel ke mitra dagang mereka di Kota Ardotalia.
Eden sendiri langsung menuju rumah yang menjadi titik kumpul dan juga markas rahasia Organisasi Hercules di Kota Ardotalia. Namun, ia bingung Dua grup Organisasi Hercules dari dataran rendah Therondia belum muncul, padahal seharusnya mereka yang lebih dulu sampai karena mereka menggunakan transportasi Monster Elang.
Eden duduk di salah satu kursi bundar yang akan menjadi tempat mereka mendiskusikan strategi dan rencana pelarian bila Pasukan Kekaisaran Hazel atau Pasukan Kerajaan Beasthuman datang ke Kota Ardotalia.
Jari tangannya mengetuk meja dengan pelan dan matanya terpejam meramalkan masa depan yang akan ia hadapi.
Ketukan jari tangannya semakin kencang dan tiba-tiba ia membuka matanya, keringat deras membasahi wajahnya. “Masa depan yang tidak bisa kuramalkan?” gumamnya kebingungan.
Detak jantungnya berdebar kencang, ia bingung apakah harus meninggalkan Kota Ardotalia atau tetap menjalankan misi menghancurkan Kota ini. Namun, bila Pendekar kuat muncul di sini, maka mereka tidak akan dapat melarikan diri karena transportasi Monster Elang digunakan oleh grup Organisasi Hercules di dataran rendah Therondia.
Neil masuk dengan senyum lebar dan duduk di sebelah Eden. “Bos, Aku sudah berkeliling Kota Ardotalia ini dan menemukan gadis yang sangat cantik di rumah mewah dekat rumah Kepala Suku,” katanya dengan semangat.
Eden melambaikan tangan agar Niel diam. “Kita akan menunda penyerangan terhadap Kota Ardotalia dan semua orang harus mengurung diri di rumah ini.”
Niel terkejut mendengarnya dan bertanya, “Apa yang terjadi Bos, bukankah sosok kuat itu masih jauh di belakang Kita? Sebaiknya Kita menyerang Kota Ardotalia dengan cepat dan kemudian melarikan diri!”
“Sudah terlambat! Kita tidak bisa lagi melarikan diri, karena kelompok di dataran rendah Therondia tidak datang. Mungkin mereka dihancurkan oleh Pasukan Kekaisaran Hazel,” sahut Eden menghela napas dalam-dalam.
__ADS_1
“Odesse sialan itu! Kenapa ia ber.naf.su sekali ingin menghancurkan kita? Apakah karena ia dulu bawahan Pangeran Alex dan Kita mantan Pasukan yang berada di bawah pimpinan Pangeran Lycus?” gerutu Niel karena tidak bisa lagi menikmati gadis cantik yang ia lihat tadi.
“Sekali lagi, jangan coba-coba keluar dari rumah ini!” Eden berkata sembari mendengus dingin. “Jadilah anak baik untuk saat ini,” katanya lagi sembari berjalan ke arah kamar tidur.
Niel yang masih duduk di meja bundar itu langsung mengerutkan keningnya. Dia tahu Eden sangat waspada setiap kali bertindak, tetapi mengurung diri di dalam rumah ini apakah itu tidak akan membosankan.
“Bawakan Aku anggur merah!” teriak Niel yang membuat Pelayan di rumah itu berlari membawakan satu botol anggur merah untuknya. “Cih, petualangan yang membosankan!” keluhnya lagi.
...***...
Di Kota Helios, ibukota Kekaisaran Suci Kuil Matahari. Kesatria Suci Adrian memimpin Tiga Kapal Terbang Sihir berkapasitas Seribu Orang setiap Kapalnya.
Alat Sihir mereka telah mendeteksi Benua baru telah muncul di sebelah Barat Samudera. Namun, butuh waktu Delapan Bulan perjalanan menuju Benua baru itu.
Para ahli astronomi di Kuil Matahari meyakini, Benua baru itu pasti tempat yang dikatakan oleh Saint. Mereka juga meyakini, ada pihak di sana yang sengaja menundukkan keberadaan Benua itu, yang berarti terjadi konflik di sana.
Kuil Matahari tentu menganggap konflik itu akan menguntungkan, karena mereka dapat menjadi penengah atau memihak salah satu pihak asalkan mau menyembah Dewa Matahari.
Para penduduk Kota Helios bersorak gembira saat Kapal Terbang Sihir berukuran besar tersebut melintas di atas Kota.
Kapal Terbang Sihir itu terlihat seperti mesin perang saja, karena memiliki banyak meriam Sihir yang dapat memuntahkan Laser Api yang kekuatannya setara dengan Kesatria Suci tingkat tinggi.
Pemuda tampan berjalan menuruni tangga, Dia memiliki rambut pirang dan bermata biru. Pedang Emas tergantung di punggungnya, setiap kali ia melangkahkan kaki maka tangga yang disentuh oleh kakinya akan memudar.
“Akhirnya Aku Inarius, salah dari Tujuh Malaikat turun ke Dunia ini,” kata Inarius menghirup udara dalam-dalam dan menghembuskannya pelan-pelan. “Aroma Dosa yang menjijikkan masih saja sangat kental mengotori Dunia ini,” katanya lagi.
Tujuan Inarius turun ke Dunia ini adalah untuk menjadi pengamat pertarungan antara Kuil Matahari dengan entitas yang mengalahkan Dewa Cthulhu. Bila sosok itu dapat menghancurkan Kesatria Suci Kuil Matahari, maka ia akan mengundang sosok itu untuk menjadi Saint di Benua baru itu dan tentunya akan menyembah Dewa Matahari.
Setelah turun ke Benua Vlorien, Malaikat Inarus melanjutkan perjalanannya menuju Benua baru. Di atas permukaan laut akan muncul papan-papan kayu dan akan memudar setelah ia melangkahkan kaki.
Monster-monster Ikan di lautan langsung berenang menjauh Ratusan Kilometer begitu merasakan Aura Inarius.
...***...
Valor dan Ayla bernapas lega setelah sampai di Kota Ardotalia, seperti Organisasi Hercules belum melakukan huru-hara. Namun, mereka juga khawatir bila Organisasi Hercules mengubah target mereka dan menyerang Desa-Desa lain.
Valor dan Ayla teringat dengan keluarga mereka di Desa. Bila Organisasi Hercules menyerang, maka Desa mereka akan diubah seperti Desa yang mereka temui tadi.
__ADS_1
Ayla memeluk erat gadis kecil Suku Ular yang pendiam di pelukannya, kemudian gadis kecil itu menatapnya dengan ekspresi wajah keheranan. “Tenang saja, Kamu akan menjadi adik angkatku,” bisiknya.
Anak-anak lainnya menatap Valor dengan mata berbinar-binar.
“Apa kalian ingin menjadi adik angkatku?” tanya Valor kebingungan dan anak-anak itu langsung mengangguk setuju. “Ah, tapi gajiku cuma Satu Koin Emas, bagaimana caraku menafkahi kalian nantinya?” Dia berkata pelan sembari menghela napas panjang.
“Nanti Aku akan memberikanmu resep masakan rahasia yang diberikan oleh Pangeran Alex Acherron padaku,” kata Alex merasa Valor cocok merawat anak-anak Suku Ular itu. Selain rasa tanggungjawabnya yang tinggi, ia juga humoris sehingga anak-anak akan mudah melupakan trauma mereka bila diasuh olehnya.
“Paman Alex pernah bertemu dengan Pangeran Alex Acherron, Koki Legendaris itu?” Valor terkejut mendengarnya, matanya langsung berbinar-binar senang Alex akan memberikan resep masakan rahasia padanya.
“Ya, waktu itu Kami melakukan duel di halaman Akademi Kekaisaran Hazel disaksikan oleh ribuan mata. Aku mungkin satu-satunya Pendekar yang berhasil menendang bokongnya, bahkan membuatnya muntah darah,” sahut Alex dengan ekspresi wajah bangga.
Namun, Valor dan Ayla menatap Alex dengan jijik. Mereka tidak percaya Pangeran Alex Acherron dibuat muntah darah oleh Pendekar berpenampilan biasa-biasa saja ini, walaupun wajahnya memang cukup tampan. Namun, ceritanya terlalu plot hole sekali atau terlihat sekali hanya karangan belaka saja.
Karena Valor dan Ayla tidak tertarik mendengar ceritanya, Alex kemudian tertawa dan berkata, “Nanti Aku akan menuliskan resepnya dan perhatikan juga bagaimana caraku memasaknya.”
“Apakah Aku boleh melihatnya juga? Kan, aku juga mengadopsi adik imut ini,” sela Ayla.
“Boleh-boleh saja, asalkan kalian menikah. Jadi, kalau kalian membuka Restoran maka tidak perlu saling sikut,” sahut Alex tersenyum lebar.
Ayla tiba-tiba tersipu malu, sementara Valor berpura-pura melihat ke arah lain dan tatapannya terhenti pada Pemuda tampan yang sangat familiar. “Eh?”
“Ada apa Valor?” tanya Alex melihat ke arah Pemuda tampan yang ditatap oleh Valor. “Jangan mau dengan Pria seperti itu, dari cara dia menggoda wanita itu saja sudah terbaca Dia adalah b.a.j.i.n.g.a.n yang suka gonta-ganti pasangan. Habis manis, sepah dibuang ....” Namun, ia bingung cara melanjutkan pepatah yang cocok untuk Pria hidung belang itu.
“Benar, dia itu Pria menjijikkan!” sahut Ayla kesal. Bahkan tatapan matanya setajam silet dan memancarkan aura sedingin salju.
Alex menatap Ayla dengan ekspresi wajah bingung. “Tak perlu juga sekesal itu dengan Pria hidung belang itu. Lihatlah, gadis kecil ini sampai ketakutan,” sahut Alex sembari tersenyum hangat pada gadis kecil Suku Ular yang digendong oleh Ayla.
Ayla hanya mendengus dingin, sedangkan Valor tertawa terkekeh-kekeh karena ia mengenal Pemuda tampan yang dikatakan oleh Alex sebagai Pria hidung belang tersebut.
Kereta Kuda mereka melewati Pemuda tampan itu—yang langsung menoleh ke arah mereka. Pemuda itu tampak terkejut dan segera menjauh dari gadis yang baru saja ia goda, kemudian mengejar Kereta Kuda.
“Ayla sayang .... Kamu sudah pulang kekasih kecilku,” kata Pemuda tampan itu yang membuat Alex tertawa terbahak-bahak. Akhirnya Alex mengetahui kenapa Ayla terlihat kesal pada Pemuda itu.
Ayla pindah ke tempat duduk Kusir dan memeluk Valor yang langsung tercengang dengan wajah memerah.
Ayla kemudian menjulurkan lidahnya ke arah Pio, kekasihnya itu. Tak hanya sampai di situ saja, ia juga mengacungkan jari tengah yang membuat Pio memegang dada; seolah-olah hatinya terasa sakit akibat Kekasihnya sendiri selingkuh di depan matanya.
__ADS_1
Alex terus tertawa terkekeh-kekeh dengan drama anak muda di hadapannya. Sebenarnya ia hanya asal menuduh saja kalau Pio adalah Pria hidung belang, tetapi siapa sangka Ayla malah percaya dengan ucapannya.