Pangeran Terkuat Menjadi Koki Legendaris

Pangeran Terkuat Menjadi Koki Legendaris
Perang Melawan Kesatria Suci Kuil Matahari IX


__ADS_3

“Aku tentu bersedia membantu kalian, tetapi bagaimana cara Kita menuju ke sana?” sahut Alex karena mereka tidak memiliki Kapal Terbang Sihir lagi.


Zelma dan Penyihir lainnya sangat senang mendengar jawaban Alex. William segera maju selangkah dan berkata, “Aku bisa membuat Kapal Terbang Sihir dengan menggunakan komponen-komponen Kapal Terbang Sihir milik Kekaisaran Suci Kuil Matahari itu.” Dia menunjuk ke arah Kapal Terbang Sihir Kedua yang terbelah dua. “Diantara Kesatria Suci itu pasti ada Kesatria Suci yang bertugas sebagai mekanik Kapal. Dengan bantuan mereka, mungkin tidak sampai dalam sebulan ... Kita akan berhasil membuat sebuah Kapal Terbang Sihir baru.”


“Ya, rekan-rekan Kita di Menara Sihir pasti sangat senang saat Kita datang dengan Penyihir Agung yang baru. Aku tidak sabar ingin menceritakan kisah heroiknya yang dengan mudah mengalahkan Kesatria Suci,” sahut Zelma.


Sarah kembali tersenyum bangga, karena Zelma memujinya sebagai Penyihir yang kuat.


Namun, Alex menggelengkan kepala dan berkata, “Maaf Zelma ... Putriku tidak akan pergi ke Benua Vlorien. Kalau kalian ingin menjadikannya sebagai Penyihir Agung, lebih baik kalian memindahkan Menara Sihir kalian ke Kota Perdamaian. Dia masih terlalu muda untuk pergi jauh dari kelurganya.”


“Ya, Aku tidak akan mengijinkan Sarah pergi ke tanah asing yang jauh itu!” seru Helena.


Sarah langsung kecewa tidak akan pergi berpetualang bersama ayahnya ke negeri asing. Padahal sebelumnya ia sangat senang mendengar akan diperkenalkan kepada para penyihir lainnya di Menara Sihir.


Helena mengelus pipi mungil Sarah yang cemberut. “Apa Kamu tega ibu sendirian di rumah? Bagaimana kalau ada yang menculik ibu nantinya?” Dia berpura-pura sedih.


“Siapa yang berani menculik Ibu? Aku akan memukul orang itu!” Sarah langsung marah dan mengepal erat tinju mungilnya.


Sudut bibir Helena langsung memancarkan senyuman tipis, karena berhasil mengelabui putrinya itu. “Bagaimana? Apakah Kamu tetap ingin pergi meninggalkan ibu sendirian di Restoran?” sahutnya, “Bagaimana bila nanti ada pelanggan Restoran yang tidak mau membayar biaya makan atau ada yang menggangu Kakak Viola?”


“Emmmm!” Wajah Sarah langsung memerah dan kepalan tangannya semakin erat. “Baiklah, Sarah akan bersama Ibu menjaga Restoran dan Ayah yang akan membantu Kak Zelma mengusir orang-orang jahat yang menggangu Menara Sihir!”

__ADS_1


Zelma, Ulrich dan Penyihir lainnya langsung sedih karena tidak dapat membawa Penyihir Agung mereka ke Benua Vlorien.


“Baiklah, untuk saat ini Kita fokus merakit Kapal Terbang Sihir dulu. Untuk masalah Penyihir Agung ... Kita akan mendiskusikannya dengan para Penyihir senior setelah kembali ke Benua Vlorien,” kata Ulrich.


“Benar juga,” sahut William. “Aku akan bertanya pada para Kesatria Suci ... siapa diantara mereka yang merupakan Mekanik Kapal. Kita akan memulai perakitannya sekarang juga, agar Kita dapat kembali lebih cepat ke Benua Vlorien.”


William langsung berjalan menuju para Kesatria Suci Kuil Matahari yang duduk di atas permukaan pasir. Ekspresi wajah mereka terlihat murung, ada yang menangis dan yang lainnya terlihat melamun.


Alex mengikuti William menghampiri para Kesatria Suci itu, sementara Helena dan Sarah menuju tempat Ratu Elf yang berkumpul bersama para petinggi-petinggi Kerajaan-kerajaan Benua Grandland.


Pangeran Pertama Kerajaan Iblis langsung diangkat menjadi Raja Iblis, sementara Pangeran Draven memilih mengundurkan diri sebagai Pangeran dan akan bergabung dengan Kota Perdamaian.


Dia memilih tinggal di Kota Perdamaian, karena merasa dirinya lebih cocok menjadi pebisnis dan di Kota Perdamaian dia akan bisa menikmati makanan lezat Restoran Sarah setiap hari.


...***...


“Siapa diantara kalian yang memiliki status tinggi di Kuil Cahaya?” tanya Alex di hadapan para Kesatria Suci Kuil Matahari.


Wanita berambut merah langsung berdiri. Dia menatap Alex dengan tatapan tajam, seolah-olah ia akan menerkam entitas terkuat di Benua Grandland tersebut.


Alex tersenyum melihat wanita berambut merah itu. Dia ingat siapa wanita itu, “Kamu adalah Wanita yang menyerang punggungku di Kapal Terbang Sihir, kan?”

__ADS_1


Namun, Wanita itu tidak menanggapi perkataan Alex. Kebenciannya terhadap Alex sepertinya semakin memuncak, tangannya pun terkepal erat.


Kesatria Suci wanita yang duduk disebelah wanita itu segera memegang tangan Wanita berambut merah itu. Dia berbisik pada wanita itu agar menahan amarahnya demi keselamatan mereka.


“Aku Delilah, tangan kanan Kesatria Suci tertinggi Adrian!” seru Delilah dengan suara lantang.


Alex tetap tersenyum tipis dan berkata, “Baiklah Delilah ... mulai sekarang kalian semua adalah bawahanku dan Kamu adalah wakilku. Kalian dapat memanggilku Bos Alex seperti yang lainnya.”


“Cih, Kami tidak akan tunduk terhadap—” Sebelum Delilah selesai berbicara, tiba-tiba Aura Pendekar menekan semua Kesatria Suci termasuk Delilah yang langsung dipaksa bertekuk lutut.


“Ini adalah peringatan pertama dan yang terakhir!” seru Alex dengan tatapan tajam. “Bila kalian ingin hidup damai, maka patuh lah. Camkan itu!”


Walaupun Aura Pendekar tidak ditujukan kepadanya, William ikut berkeringat dingin. Kakinya gemetar dan tidak menyangka Pangeran yang terlihat baik hati itu ternyata dapat juga menunjukkan ekspresi yang menakutkan.


“Ha-ha-ha ... tidak perlu tegang begitu, santai saja.” Alex tertawa terbahak-bahak, tetapi para Kesatria Suci itu tetap menunjukkan ekspresi wajah ketakutan. “Ah, tidak lucu, ya? Lawakan bapak-bapak memang tidak pernah lucu di manapun tempatnya.”


Para Kesatria Suci langsung memaksakan diri untuk tertawa, hanya Delilah saja yang memandangi Alex tanpa berkedip.


Alex melambaikan tangannya dan berkata, “Baiklah ... William! Aku serahkan mereka padamu. Dan tanyalah pada Delilah siapa diantara mereka yang merupakan Mekanik Kapal.”


“B-baik, Pangeran eh ... Bos Alex!” sahut William gugup.

__ADS_1


__ADS_2