Pangeran Terkuat Menjadi Koki Legendaris

Pangeran Terkuat Menjadi Koki Legendaris
Viola


__ADS_3

“Ayahhhhhhh... cepatlah! Nanti aku terlambat ke sekolah!” Sarah berteriak keras dari halaman Restoran. Dia juga membentuk salju menjadi Patung yang mirip dengan Alex yang memegang spatula.


“Wah, kamu semakin hebat saja! Tahun lalu, kamu hanya bisa membuat Golem Salju saja,” kata Alex memuji Sarah. “Baiklah, sini Ayah gendong!” katanya lagi.


Saat mereka melintas di jalanan wilayah Barat itu, ratusan Penyapu jalan sedang sibuk memindahkan tumpukan salju ke tepi agar Kereta Kuda dapat melaju di jalanan.


Alex langsung mengingat kenangan saat dirinya juga di posisi yang sama dengan mereka. Hawa dingin itu menusuk hingga ke tulangnya.


“Bro, ayo sarapan!” Penyapu jalan lain sedang merebus air dan memasukkan beberapa Sarahmie Soto Lamongan ke dalamnya.


“Wah, untung musim salju tahun ini Perusahaan Margareth memproduksi makanan murah tapi enak ini, ya... ini akan menghangatkan tubuh kita.” Penyapu jalan lain menyahut dan mulai mengerumuni Penyapu jalan yang memasak Sarahmie Soto Lamongan.


Alex sangat senang melihat mereka tampak bahagia, apalagi ia telah menjadi pelopor pembuat makanan murah tetapi tetap enak dan bergizi.


“Jesisca!” seru Sarah memanggil sahabatnya itu yang telah mencapai gerbang Sekolah Harapan bersama Irina yang sedang mengobrol dengan Guru Isabella.


Jessica kini menjadi salah satu anak yang paling beruntung dari wilayah timur, karena dia dapat mengenyam pendidikan di sekolah harapan.


“Sarah... ayo cepat ke sini, mari kita membuat Patung dari salju,” sahut Jessica tersenyum lebar menyambut kedatangan Sarah.


Sarah langsung melompat turun dari pelukan Alex dan berlari ke gerbang Sekolah Harapan. “Sampai jumpa nanti siang, Ayah!”


“Ya, belajar yang giat!” sahut Alex tersenyum hangat, kemudian menoleh ke arah Irina dan Guru Isabella. “Selamat pagi, saljunya turun lebih lebat dari tahun lalu, ya,” sapanya.


“Iya!” Irina dan Isabella menjawab bersama.


“Oh, ya, tuan Alex... guru Isabella memiliki cita-cita yang sangat mulia, katanya dia ingin mendirikan cabang Sekolah Harapan di wilayah timur agar anak-anak di sana mengenyam pendidikan. Namun, Sekolah Harapan tidak memiliki anggaran untuk pembangunan gedung baru serta menggaji para guru nantinya,” kata Irina.

__ADS_1


Alex sangat senang Guru Isabella memiliki cita-cita yang mulia begitu. “Bagaimana kalau begini saja, Guru Isabella mengumumkan kalau Restoran Sarah akan menyumbangkan 20% keuntungan kami untuk mensponsori cabang Sekolah Harapan di wilayah timur. Aku yakin beberapa Pengusaha yang baik hati pasti akan ikut bergabung sebagai penyumbang dana juga.”


Isabella sangat senang mendengar ide Alex itu, Kakeknya yang merupakan Kepala Sekolah Harapan juga memiliki beberapa teman Pengusaha. Mungkin mereka akan ikut menyumbang dana nantinya.


“Terimakasih tuan Alex... Aku akan mendiskusikan ide ini dengan Kakekku, semoga saja ia setuju dan kita dapat membangun cabang Sekolah Harapan sesegera mungkin agar anak-anak di sana ikut mengenyam pendidikan,” sahut Isabella langsung memeluk Alex yang membuat mulut Irina ternganga, karena tidak menyangka guru cantik itu akan memeluk tetangganya yang kini terlihat sangat tampan tersebut.


“Ehemmm ....” Irina berdehem sehingga Isabella tersadar telah melakukan tindakan yang sangat memalukan.


Alex hanya tersenyum hangat dan berkata, “Aku harus kembali ke Restoran. Sampai jumpa lagi guru Isabella dan Nona Irina.”


“Aku juga harus kembali ke rumah untuk menjahit pakaian pelanggan, sampai jumpa guru Isabella!” Irina melambaikan tangan pada Isabella dan naik ke dalam Kereta Kuda yang akan membawanya ke wilayah timur Kota Perdamaian.


Alex melewati Restoran yang dimiliki oleh Jack dan Restoran itu terlihat tidak beraktivitas lagi. Padahal Bakso yang mereka jual cukup laris walaupun tidak seenak buatan Alex.


Alex menduga karena Jack sudah tewas makanya Restoran itu tutup dan Keluarga Donovan belum memutuskan siapa yang akan mengelolanya.


“Ya, ada apa?” sahut Alex tersenyum hangat menatapnya.


Gadis muda yang terlihat seusia dengan Hannah itu memain-mainkan kedua jempol tangannya dan menundukkan wajahnya. “A-apakah ada lowongan kerja di Restoranmu?”


“Sebenarnya Restoranku masih kekurangan satu Pramusaji lagi,” sahut Alex.


Gadis muda itu langsung tersenyum cerah dan menatap Alex dengan mata berbinar-binar.


“Bolehkah aku menjadi Pramusaji?” katanya lagi. “Sebenarnya aku sudah bekerja di Restoran ini selama beberapa hari, tetapi tiba-tiba saja ditutup dan mereka mengatakan tidak akan memperkerjakan orang dari wilayah timur dan hanya memberikan kompensasi 100 Koin Perak pada ibuku.”


“Kenapa kamu ke sini kalau sudah tidak diperkerjakan lagi?” selidik Alex penasaran.

__ADS_1


“Kabarnya Nona Margareth adalah Nona muda Keluarga Donovan yang sangat baik. Dia memperkerjakan ribuan Pemuda wilayah timur di Pabriknya dan Aku berharap dia yang akan mengelola Restoran ini serta memohon padanya untuk menerimaku kembali sebagai Pramusaji,” sahut gadis muda itu. “Namun, ternyata Restoran malah ditutup.”


Alex merasa kasihan pada gadis muda itu, apalagi ia mungkin tulang punggung keluarganya makanya ia kembali ke Restoran ini walaupun sudah diberhentikan.


“Baiklah, kamu bisa bekerja di Restoranku,” kata Alex, “oh, ya... siapa namamu?”


Gadis muda itu sangat senang mendengar perkataan Alex. “Namaku Viola, Bos!”


Sembari berjalan bersama menuju Restoran, Alex memberitahu Viola gaji yang ia terima serta ada tempat tinggal gratis untuk karyawan.


Viola mengatakan akan berdiskusi dengan ibunya dulu apakah akan tinggal di Restoran Sarah atau pulang setiap hari. Namun, ia berkeinginan untuk tinggal dan akan pulang diakhir pekan saja, karena jarak antara rumahnya dengan Restoran Jack saja butuh waktu 30 menit berjalan kaki. Ibunya akan membantu memijat kakinya setiap hari karena kakinya terasa sakit akibat kurangnya waktu istirahatnya.


...***...


Viola terkejut dengan sambutan hangat dari Hannah dan karyawan lainnya. Dia juga terkejut ternyata ada berbagai Ras yang bekerja di Restoran Sarah dan para pelanggan tetap merasa nyaman dilayani oleh mereka.


“Bos Alex... aku tidak menyangka Anda akan membuat menu baru lagi.” Uran menyapa Alex. “Makan yang panas-panas saat musim dingin memang nikmat sekali,” katanya lagi sembari mengunyah Soto Banjar.


Alex tertawa, senang mendengar para pelanggan menikmati makanan barunya itu. “Kalau masih kurang kenyang masih ada Bakso, Rendang, Bubur Tinutuan, Nasi Goreng, Ayam Crispy dan Gulai Daun Ubi Tumbuk plus Sambal Tuk-Tuk,” sahut Alex.


Uran menggelengkan kepala dan tanpa daya berkata, “Tabunganku bisa jebol bila memborong semua makanan itu setiap hari.”


Alex tertawa terkekeh-kekeh, karena harga di Restoran Sarah memang sangat tinggi. “Ya, sudah, banyakin ketupatnya atau makan Sarahmie pakai nasi sepiring. Dulu aku sering melakukannya ha-ha-ha ....”


“Wah, Bos Alex ternyata makan Sarahmie pakai nasi juga,” sahut Ron tersenyum lebar. “Baru tadi malam aku dan istriku memakan Sarahmie pakai nasi... ummm, ternyata sangat enak sekali!”


Alex tidak menyangka bukan hanya orang Indonesia saja yang sering makan Mie Instan dengan nasi, manusia dari Dunia lain juga melakukannya tanpa ada yang mengajarinya.

__ADS_1


__ADS_2