
Tempat pertama yang dikunjungi oleh Pangeran Kedua saat berada di Kerajaan Hutan Abadi adalah Rumah Pohon Helena. Namun, jangankan membukakan pintu, menyahut salam darinya saja—Helena tak mau.
Pangeran Kedua langsung curiga kalau Helena sudah mengetahui tentang Alex yang masih hidup dan berharap suaminya itu datang membebaskannya ke Hutan Abadi.
Walaupun Helena tidak mau berbicara dengannya, Pangeran Kedua tidak marah. Dia tetap terlihat tenang dan tersenyum karena Tetua Agung telah berjanji Dia akan menikahi Helena setelah perjanjian kerjasama antara Kerajaan Hutan Abadi dan Kekaisaran Hazel ditandatangani oleh Kedua belah pihak.
“Kapan pernikahanku dengan Helena dilaksanakan?” tanya Lycus menatap dingin Tetua Agung Elf. “Saat ini Alex sedang mengacau di Kota Ella dan Aku yakin tempat yang ia tuju selanjutnya adalah Hutan Abadi.”
Para Tetua Elf merasa tidak senang mendengar perkataan sombong Pangeran Kedua, tetapi mereka tidak dapat menegurnya karena Tetua Agung telah memperingatkan mereka bahwa kerjasama ini akan menentukan nasib Elf ke depannya.
Dengan bantuan Kekaisaran Hazel, maka wilayah yang telah direbut oleh Kerajaan Orc dan Kerajaan Goblin dapat mereka rebut kembali. Satu lagi, poin penting dalam perjanjian kerjasama itu adalah Kekaisaran Hazel akan membebaskan semua Elf yang dijadikan sebagai budak.
Tetua Agung Elf memaksakan diri untuk tersenyum. “Setelah Pangeran Kedua menandatangani perjanjian kerjasama ini, maka Aku akan memaksa Helena untuk menikahi Anda,” sahutnya, “masalah tentang Alex... Pangeran Kedua tidak perlu khawatir. Pendekar Elf telah menutup perbatasan, tidak mungkin ia dapat menerobos masuk ke Hutan Abadi.”
Lycus mendengus dingin dan segera menandatangani perjanjian kerjasama dengan Kerajaan Hutan Abadi tanpa menunggu tanggapan dari Kaisar, apakah Kaisar mau menerima tuntutan yang diinginkan oleh Kerajaan Hutan Abadi.
“Aku mau dalam Dua hari pernikahanku dengan Helena segera terlaksana!” kata Lycus sembari berdiri dan berjalan keluar dari Istana Kerajaan Hutan Abadi untuk kembali ke kamarnya. “Kalau tidak terlaksana, maka Aku menganggap Hutan Abadi menjadi musuh Kekaisaran Hazel!” katanya lagi sembari tersenyum tipis.
Tetua Agung Elf mengerutkan keningnya dan hanya menghela napas panjang.
Setelah punggung Pangeran Kedua tak terlihat lagi, Dia menyuruh salah satu Tetua untuk menambah Pendekar tingkat 10 berjaga disekitar Rumah Pohon Helena.
__ADS_1
Siapapun yang mencoba mendekati Rumah Pohon Helena akan dihukum mati tanpa proses pengadilan.
...***...
Lycus membuka kamar jendela yang menghadap ke arah Rumah Pohon Helena. Sudut bibirnya memancarkan seringai tipis, karena ia sangat yakin akan menikahi wanita yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama tersebut.
“Apakah ada kabar tentang Alex dari Kota Ella?” Senyuman di wajah Lycus langsung memudar saat Pendekar tingkat 10 yang merupakan bawahannya muncul di belakangnya.
“Kemarin Alex masih berkeliaran di Kota Ella, tetapi hari ini ia tidak terlihat lagi,” sahut Pendekar tingkat 10 itu.
Lycus curiga Alex sudah meninggalkan Kota Ella dan Alex mungkin juga sudah tahu dirinya telah pergi ke Hutan Abadi.
“B.a.j.i.n.g.a.n itu pasti akan kemari!” Lycus berkata sinis. “Bantu para Pendekar Elf menyergapnya di perbatasan!”
Lycus mengepalkan tangan dan menggertakkan giginya. “Alex... lagi-lagi kamu menjadi benalu dalam hidupku!” gerutunya. Beberapa kemudian, ia menghela napas dalam-dalam menenangkan pikirannya yang sedang kacau tersebut. Tatapannya kembali tertuju pada Rumah Pohon Helena, “Aku akan mencoba mencari cara agar dia mau membukakan pintu rumahnya.”
Lycus segera melompat keluar dari jendela, sehingga para pengawalnya tidak tahu dirinya berjalan sendirian di luar istana Kerajaan Hutan Abadi.
Lycus melihat gadis remaja Elf berjalan membawa setangkai bunga mawar dan iapun berpikir apakah Helena menyukai bunga? Karena saat mengunjungi Istana Kekaisaran Hazel, ia pernah melihat Helena memperhatikan bunga-bunga yang ada di taman Istana.
“Hmm, menggodanya dengan membawa bunga tidak akan membuat hatinya luluh,” gumam Lycus sembari memikirkan cara agar Helena mau berbicara dengannya. Tiba-tiba Lycus teringat kalau Helena sangat menyukai Angsa Panggang yang dimasak oleh Koki Istana Kekaisaran Hazel, bukan hanya itu saja, Helena juga menyukai Cake Caprese. “Aku akan meminta Miranda membuat Cake Caprese,” gumamnya tersenyum lebar dan segera kembali ke istana Kerajaan Hutan Abadi untuk menyuruh Miranda yang merupakan Koki pribadinya itu membuat Cake Caprese yang akan ia gunakan sebagai alat menggoda Helena supaya mau berbicara dengannya.
__ADS_1
Tak butuh waktu lama bagi Lycus mencari keberadaan Miranda.
Setelah mendengar permintaan Lycus, Miranda segera menggunakan dapur Istana Kerajaan Hutan Abadi untuk membuat Cake Caprese. Sementara itu, Lycus menunggunya di kamarnya sembari berlatih cara menyapa Putri Mahkota Kerajaan Hutan Abadi itu agar hatinya luluh saat mendengar perkataannya.
Dengan bantuan beberapa Koki Istana Kerajaan Hutan Abadi, Miranda berhasil membuat Cake Caprese berukuran cukup besar.
Miranda tersenyum cerah karena berhasil menyelesaikan permintaan Pangeran Kedua tanpa ada kendala. Dia kemudian membawa Cake Caprese itu ke kamar yang dihuni oleh Pangeran Kedua. “Pangeran ....”
Mendengar suara Miranda, Lycus berhenti latihan berbicara di depan cermin dan segera membukakan pintu kamar.
“Terimakasih Miranda,” sapa Lycus sembari menerima Cake Caprese tersebut. “Kamu beristirahat lah,” katanya lagi.
Miranda menganggukkan kepala dan tersenyum hangat. “Baik Pangeran Kedua,” sahutnya.
Lycus segera menuju Rumah Pohon Helena, senyuman cerah terpancar dari wajahnya dan beberapa saat kemudian, ia telah melewati Puluhan Pendekar tingkat 10 yang menjaga disekitar Rumah Pohon Helena.
Para Pendekar itu tidak menghentikan langkah Lycus karena mereka sudah tahu bahwa Lycus akan menjadi calon suami Helena.
Lycus mengetuk pintu Rumah Pohon Helena. “Helena... Aku membawakan Cake Caprese untukmu,” sapanya.
...***...
__ADS_1
Maaf satu bab dulu ya, besok diusahakan update normal. Hari ini saya wajib ke sawah dulu nanam padi 😁😁😁