Pangeran Terkuat Menjadi Koki Legendaris

Pangeran Terkuat Menjadi Koki Legendaris
Sarah Pindah Sekolah


__ADS_3

Isabella sangat senang Alex akhirnya datang meninjau Cabang Sekolah Harapan di wilayah timur. Walaupun ia sedang sibuk mengurus administrasi, ia langsung menunda pekerjaannya dan menyambut kedatangan Alex dengan senyum hangat.


“Terimakasih Guru Leon telah menemani Bos Alex kemari,” kata Isabella, “Anda dapat kembali mengajar anak-anak!”


Guru Leon yang masih berharap dapat menemani Alex lebih lama lagi, langsung merasa kecewa mendengar ucapan Isabella. Dia merasa Isabella sengaja mengusirnya agar Kepala Sekolah cantik itu dapat berduaan dengan Alex, bahkan terlintas di benaknya mungkin Isabella ingin menjadi Selir Alex.


“Baiklah, selamat berduaan Kepala Sekolah Isabella,” sahut Guru Leon yang membuat Isabella dan Alex menatapnya dengan kening mengkerut.


Guru Leon segera kabur saat merasa ucapannya membuat raut wajah Alex berubah. Padahal Isabella hendak menjelaskan hubungannya dengan Alex hanya sebatas hubungan kerjasama saja, karena Alex termasuk donatur utama Cabang Sekolah Harapan.


Setelah hening sejenak, Isabella segera mengambil dokumen di atas meja dan berkata, “Ini adalah Dokumen yang merinci semua penggunaan dana yang di donasikan oleh Restoran Sarah—”


“Tidak perlu dijelaskan Kepala Sekolah Isabella!” sela Alex tak ingin repot-repot membaca dokumen yang tampak cukup tebal tersebut. Kemungkinan Isabella mencatat setiap detail penggunaan dana walaupun dana yang digunakan beberapa perak saja, makanya dokumennya terlihat cukup tebal. “Gunakan saja dana donasi dari Restoran Sarah sesuka hati Anda, Aku percaya Kepala Sekolah Isabella tidak akan pernah menyelewengkan dana tersebut.”


“Eh? Baiklah, kalau Bos Alex tidak ingin mendapatkan laporan penggunaan dana donasi itu,” sahut Isabella sedikit kecewa, karena ia mempersiapkan dokumen itu hingga harus lembur beberapa hari. “Bagaimana pendapat Bos Alex dengan Cabang Sekolah Harapan ini?” katanya lagi mengalihkan perbicangan mereka.


“Aku rasa sudah baik dan lengkap,” jawab Alex. Tiba-tiba ia mendengar gelak tawa yang familiar dan segera menoleh ke arah luar pintu.


“Mereka adalah beberapa murid dari wilayah timur yang bersekolah di Sekolah Harapan. Karena sekolah cabang telah dibuat, Kami memindahkan mereka ke sini agar tidak perlu melakukan perjalanan jauh ke wilayah barat,” kata Isabella menjelaskan tentang rombongan murid-murid yang sedang menuju ruang administrasi untuk menyelesaikan dokumen kepindahan mereka.

__ADS_1


Namun, gelak tawa paling keras terdengar adalah suara Sarah. Kenapa ia malah ikut-ikutan pindah ke wilayah timur, padahal ia tinggal di wilayah Barat.


Isabella akhirnya menyadari suara tawa Sarah terdengar dari rombongan anak-anak itu. “Hmm, maaf Bos Alex, sepertinya Guru yang mengurus kepindahan mereka mengira Sarah berasal dari wilayah timur.”


Dengan tergesa-gesa Isabella beranjak ke luar ruang kerjanya dan memanggil Guru yang mendampingi rombongan anak-anak tersebut.


Guru Wanita berusia Tiga Puluhan tahun berambut Pirang dengan mata biru serta penampilan yang cukup cantik—segera berhenti melangkah dan langsung memberi hormat pada Isabella.


“Ayahhhhh! Kenapa Ayah ada di sini?” Sarah bertanya dengan senyum cerah. Namun, ia tetap berdiri bersama rombongan anak-anak itu, tidak berlari ke arah Alex dan memeluknya seperti yang biasa ia lakukan.


“Ayahmu tampan sekali, Sarah!” bisik bocah setengah Iblis berusia Lima tahun di sebelah Sarah.


“Iya, Ayahmu tampan sekali! Bolehkah aku menjadi ibu tirimu? Kalau Aku menjadi Ibu tirimu maka Kita dapat ke sekolah bersama-sama,” kata gadis kecil berambut hitam yang tidak memiliki gigi bagian depan lagi.


“Tidak boleh!” sela Jessica, “Bibi Helena pasti tidak mau menerima kalian menjadi Ibu tiri, Sarah! Kalian harus lebih cantik darinya!”


Sarah tertawa terkekeh-kekeh mendengar perkataan teman-temannya. “Tenang saja, Aku akan membujuk ibuku agar mau menjadikan kalian sebagai Ibu tiriku. Apakah Kamu ingin menjadi ibu tiriku juga, Jessica?”


Alex terbatuk-batuk mendengar perbincangan mereka. Yang membuatnya semakin tak berdaya adalah Putri imutnya malah mendukung teman-temannya menjadi istrinya.

__ADS_1


“Hadeh ... apa yang kalian pikirkan, bocah-bocah?” Isabella menegur anak-anak itu sembari tersenyum. Dia merasa perbincangan mereka sangat lucu, karena tujuan mereka ingin menjadi Ibu tiri Sarah adalah hanya demi makanan enak Restoran Sarah saja, bukan murni demi cinta.


“Selamat siang, Bu guru!”


Anak-anak itu memberi hormat pada Isabella, mereka belum tahu wanita cantik di hadapan mereka itu kini adalah Kepala Sekolah mereka.


“Sarah, kenapa Kamu ikut ke sini?” tanya Isabella sembari menatap Guru wanita yang mendampingi rombongan anak-anak itu. “Apakah Guru Larissa tidak tahu Dia adalah Sarah, Putri dari Pangeran Alex dengan mantan Putri Mahkota Helena?”


Guru Larissa tersenyum masam menoleh ke arah Sarah sembari menghela napas panjang. “Aku tahu Sarah adalah Putri Pangeran Alex, tetapi Dia memaksa ikut pindah Sekolah karena tidak ingin berpisah dengan teman-temannya. Dia bahkan mengancam Kami akan memukuli Kakak kelasnya bila tidak menuruti keinginannya, Dia juga mengatakan akan membujuk bibi Margarethnya untuk melarang para Guru membeli Sarahmie.”


Alex sekali lagi terbatuk-batuk dan berpikir dari mana Putrinya mendapatkan ide ancaman seperti itu, kenapa sepertinya kelicikan dirinya mengalir pada Sarah? Seharusnya sebagai gadis cantik dan imut, Sarah mewarisi sifat-sifat ibunya. Namun, Alex tiba-tiba teringat kalau Helena sebenarnya juga Pendekar yang suka menantang Pendekar lain, bahkan mengajak mereka berduel walaupun lawannya tidak mau berduel.


“Apakah Kamu benar-benar ingin bersekolah di sini?” Alex bertanya pada Sarah. Dalam benaknya ia ingin menangis, karena Helena pasti akan marah padanya sebab mulai besok harus melakukan perjalanan jauh mengantar Sarah ke Cabang Sekolah Harapan. Alex takut, malam ini akan tidur lebih cepat, karena biasanya Helena tidak mau diajak bersenang-senang di ranjang bila sedang merajuk.


Sarah mengangguk pelan dan berkata, “Iya, Ayah ... kalau Aku tidak ikut mereka, siapa yang nanti akan menolong mereka bila ada anak nakal yang menganggu mereka?”


“Oh, benar juga,” sahut Alex teringat dengan keluhan guru-guru di Akademi Sihir Kerajaan Hutan Abadi, karena Sarah telah mengirim banyak seniornya ke Tabib akibat dipukuli hingga babak belur. “Ya, sudah, biarkan saja Sarah menjadi murid Cabang Sekolah Harapan, Kepala Sekolah Isabella!” kata Alex.


Namun, Isabella malah mengerutkan keningnya karena takut Sarah membuat murid-murid lain tidak mau bersekolah lagi, bila Sarah memukul mereka hingga babak belur.

__ADS_1


Setelah berpikir sejenak, Isabella setuju Sarah menjadi murid Cabang Sekolah Harapan. Namun, syaratnya Sarah tidak boleh memukul murid-murid lain secara sembarangan. Bila ada murid nakal, maka ia harus menyerahkan mereka pada Guru. Sarah juga wajib menuruti perkataan Guru dan tidak bermain-main saat jam pelajaran sedang berlangsung.


Alex dan Sarah menyetujui syarat itu. Setelah pendaftaran Sarah selesai, Alex pulang bersama Putrinya itu.


__ADS_2