
Sarah bangun tidur pagi lebih awal dari biasanya. Dia sangat bersemangat sekali untuk memamerkan ibunya di Sekolah Harapan.
Helena juga bangun tidur karena gerakan tubuh Sarah, karena sepanjang malam ia memeluk putrinya itu—bahkan beberapa kali ia terbangun untuk memastikan Sarah dan suaminya masih ada disekitarnya.
“Selamat pagi, Bu,” sapa Sarah tersenyum cerah menatap Helena. Namun, senyuman Sarah langsung memudar dan berteriak, “Eh, eh... ada bekas gigitan di leher Ibu! Apakah Ibu digigit Vampir?”
Helena tersenyum masam dan dibenaknya segera muncul adegan panas yang ia lakukan dengan Alex tadi malam. Mereka terlalu bersemangat sekali, untung saja Sarah terlelap tidur.
“Rambut dan pakaian tidur Ibu juga acak-acakan... kita harus mengadu pada Ayah agar ia menghajar Vampir itu!” Sarah berkata dengan geram dan mengepal tinju kecilnya.
Pintu kamar terbuka, Alex masuk sembari tersenyum cerah. “Ada apa gadis kecilku? Kenapa kamu marah-marah sepagi ini?” tanyanya penasaran.
“Ada Vampir yang menggigit leher Ibu, Ayah!” Sarah mengadu pada Alex.
Senyuman Alex langsung memudar dan bingung bagaimana menjelaskan pada Putrinya itu kalau dirinya yang mengigit leher Helena itu.
Helena mengelus wajah Sarah dan menggendongnya. “Tadi malam Ayahmu kesurupan sehingga ibu terpaksa menenangkannya, tetapi Ayahmu terlalu ganas... Dia malah mengigit leher Ibu dan mengacak-acak rambut ibu juga, bahkan... ah, adegan itu belum boleh kamu ketahui,” kata Helena tersenyum nakal melirik Alex yang langsung menggelengkan kepala.
“Aku sudah memanaskan air untuk kalian, cepatlah mandi dan Aku akan menyiapkan sarapan pagi di lantai bawah,” sahut Alex.
Sarah tampak kebingungan mendengar perkataan Helena dan malah membayangkan Alex menjadi mayat hidup, kemudian ibunya bertarung melawan ayahnya. Namun, kenapa kamar mereka terlihat tetap rapi dan hanya ibunya saja yang acak-acakan.
Hannah, Eva, Elenna, Lilith, dan Viola keluar dari kamar masing-masing. Mereka terkejut melihat penampilan Nyonya Bos yang acak-acakan, tidak seperti tadi malam yang terlihat elegan.
“Nyonya Bos tetap terlihat cantik walaupun rambut dan pakaiannya acak-acakan,” bisik Hannah pada Viola. “He-he-he... sepertinya Bos telah bermain kuda-kudaan tadi malam!” Hannah tertawa terkekeh-kekeh.
__ADS_1
“Hush! Jangan berkata begitu, nanti Nyonya Bos marah dan memecat kita!” sahut Viola sehingga Hannah langsung menutup mulutnya. Namun, Viola, Eva, Elenna, dan Lilith tiba-tiba tampak tertegun mengkhayalkan seperti apa adegan panas yang dilakukan oleh Alex dan Helena.
“Hei, apa yang kalian pikirkan! Ayo cepat ke lantai bawah untuk membantu Bos Alex membereskan Restoran!” Hannah berteriak membuyarkan lamunan rekan-rekan kerjanya itu.
Helena yang hendak membuka pintu kamar mandi, menoleh ke arah mereka dan tersenyum hangat. “Selamat pagi,” sapanya sembari masuk ke dalam kamar mandi bersama Sarah.
“Selamat pagi Nyonya Bos,” sahut mereka bersama-sama.
Saat mereka sampai di lantai bawah Restoran Sarah, mereka terkejut melihat diatas meja telah dihidangkan Bubur Tinutuan dan Alex di dapur sedang melepas celemeknya, kemudian menggantungnya di lemari.
“Selamat pagi, Bos,” sapa Hannah tersenyum lebar. “Seharusnya Bos tak perlu repot-repot membuat sarapan pagi, biarkan Aku dan Kak Eva saja yang membuatnya. Kalau begini terus setiap hari maka kami akan senang ha-ha-ha.”
Hanya Hannah Karyawan Alex yang berani bercanda padanya, karena Hannah sudah dekat dengan Alex dan Sarah sejak Empat tahun yang lalu—saat mereka tinggal di wilayah timur.
Alex tersenyum hangat dan berkata, “Baiklah kalau begitu, mulai besok kamu yang akan membuat sarapan pagi.”
Alex menatap gadis setengah Naga yang kini terlihat lebih cantik dari beberapa hari yang lalu itu. “Apakah Hannah mengajarimu cara memasak semua hidangan Restoran kita?” tanyanya mengabaikan Hannah yang sedang merajuk.
Eva menganggukkan kepala sembari tersenyum. “Aku sudah bisa memasak semua hidangan Restoran, hanya memasak Rendang yang belum kubisa Bos.”
“Stok Rendang kita juga sudah menipis, Bos!” sahut Hannah, “karena Rendang dapat bertahan lama, banyak Pemburu dan pelancong yang memesannya.”
“Sepertinya Aku harus pergi berburu Monster tingkat 10,” gumam Alex yang selalu menyajikan bahan-bahan berkualitas tinggi untuk Restorannya. Dia juga berpikir berburu juga bisa menjadi alasan untuk pergi ke Kerajaan lain mencari Kekuatan Dewa lainnya. “Nanti setelah Aku menangkap Monster tingkat 10, Aku akan mengajari kalian cara memasak Rendang,” kata Alex.
Hannah dan Eva sangat senang mendengarnya.
__ADS_1
Tak lama kemudian Helena dan Sarah turun dari lantai atas. Kini Helena terlihat seperti Dewi dalam lukisan-lukisan di Kuil Dewi Luna sementara Sarah mengenakan seragam Sekolah Harapan.
“Wah, kita akan sarapan bubur Tinutuan,” kata Sarah dengan mata berbinar-binar dan duduk di sebelah Alex.
Helena tercengang melihat makanan asing diatas meja itu. Dia tidak menyangka makanan aneh tersebut diciptakan oleh suaminya.
“Ayah... Mulai sekarang Ibu yang akan mengantarkan Sarah ke sekolah,” kata Sarah sembari mengambil sendok dan menyendok Tinutuan ke mulutnya. “Umm... Makanan buatan Ayah lebih enak daripada makanan di Kota Ella, walaupun makanan di sana juga enak sih!”
Alex selalu senang melihat tingkah lucu putrinya itu dan ia pun tertawa. “Baiklah, mulai sekarang Ibumu yang akan mengantarkan kamu ke Sekolah, lagi pula Ayah juga ingin ke pasar membeli beberapa bahan makanan untuk membuat menu baru lagi.”
Sarah sangat senang mendengarnya dan tidak sabar ingin mencicipi menu baru itu. Dia sangat yakin, Ayahnya tidak pernah gagal menciptakan makanan baru.
Helena yang sedang berfantasi menikmati bubur Tinutuan, segera menoleh ke arah Alex dan berkata dengan bingung, “Makanan seperti apa yang kamu buat, Sayang?” Tiba-tiba ia menyadari disekitarnya juga ada karyawan-karyawan Restoran Sarah, sehingga ia malu telah memanggil Alex dengan panggilan ‘Sayang’. “Ehemm, maksudku makanan itu apakah berbeda dengan makanan di Benua Grandland, Alex?”
Alex tersenyum nakal menatap Helena dan berkata, “Nantikan saja, Sayangku ....”
Hannah mengerutkan keningnya dan meletakkan sendok di mangkuk yang telah kosong. “Kenapa perutku terasa mual dan tak selera makan, ya?”
Alex menuangkan seporsi bubur Tinutuan lagi ke mangkuk Hannah dan Hannah malah segera melahapnya lagi, sehingga Helena dan yang lainnya tertawa.
Alex menatap jam dinding dan masih ada waktu setengah jam lagi sebelum jam buka Restoran Sarah. “Aku akan ke pasar, kalian bersantai-santai saja dulu dan buka Restoran seperti biasanya,” katanya sembari berjalan ke luar Restoran.
Helena menatap Viola dan berkata, “Bagaimana kalau kamu ikut denganku mengantar Sarah ke Sekolah Harapan dan saat pulang nanti kita akan menjenguk keluargamu yang sakit itu.”
Viola sangat senang mendengarnya dan berkata, “Baik Nyonya Bos... tapi Ibuku tinggal di wilayah timur yang kumuh itu.”
__ADS_1
Helena tersenyum hangat sembari merapikan rambut Sarah dan mengepangnya. “Itu tidak masalah, bukankah suamiku dulu juga tinggal di sana,” sahutnya.
Viola sangat senang mendengarnya, padahal tadi malam ia masih bingung bagaimana cara membawa ibunya ke wilayah barat ini karena kondisi penyakit ibunya semakin parah saja, dan tabib yang mengobatinya menyarankan agar ibunya jangan terlalu lama berada di luar rumah.