
Kantung mata Pangeran Kedua menghitam akibat tidak tidur sepanjang malam karena Alex melakukan pembunuhan di berbagai tempat di Kota Ella.
Ratusan Pendekar tingkat 10 yang merupakan bawahan dan sekutu Pangeran Kedua berkumpul di Kastilnya menunggu kedatangan Alex, tetapi ternyata Alex tidak muncul di Kastil Pangeran Kedua.
Raut wajah Pangeran Kedua kini sangat masam dan tidak ada yang berani berbicara dengannya karena takut salah bicara yang berujung pada eksekusi mati.
“Kita akan memajukan jadwal keberangkatan ke Hutan Abadi,” kata Pangeran Kedua setelah merenung cukup lama. “Aku yakin Alex akan menuju ke sana setelah me.ne.ror Kota Ella, karena Kaisar pasti sangat murka atas tindakannya itu!”
Menjelang pagi, Kaisar telah memerintahkan Ratusan Pendekar tingkat 10 menghentikan kegilaan Alex dan saat mereka turun ke lapangan, tak ada lagi terdengar korban dari keganasannya itu.
“Apa sebaiknya Pangeran Kedua tinggal dulu di Kastil Istana Kekaisaran untuk sementara waktu, takutnya Alex mengintai Anda saat dalam perjalanan ke Hutan Abadi,” sahut Pria tua yang merupakan Tetua Keluarga Acherron yang memihak Pangeran Kedua dalam perebutan gelar Putra Mahkota.
Pangeran Kedua menggelengkan kepala, kalau yang menyahut itu adalah bawahannya maka ia pasti akan membentak mereka. Namun, dia adalah Tetua, yang kekuatannya cukup misterius karena mereka tidak pernah menunjukkan kekuatan mereka yang sebenarnya, hanya Kaisar yang tahu seberapa kuat mereka—sebab mereka ikut bahu membahu melawan Ras asing dalam perang rasial seratus tahun yang lalu.
“Einar telah berhasil mengukir prestasi merebut salah satu Pulau milik Kerajaan Iblis, sementara Aku belum memiliki kontribusi terhadap Kekaisaran. Bila Aku berhasil mengikat pernikahan politik dengan Helena, maka Hutan Abadi akan menjadi Sekutu Hazel,” kata Pangeran Kedua cemburu dengan prestasi yang diraih Pangeran Pertama.
Tetua itu menganggukkan kepala tanda setuju dengan pendapat Pangeran Kedua. “Lycus... apa kamu yakin Tetua Agung Hutan Abadi setuju dengan kontrak pernikahan itu setelah informasi tentang Alex yang masih hidup menyebar luas?”
Dia takut, Hutan Abadi malah bersekutu dengan Alex dan membunuh Lycus saat tiba di sana.
Sudut bibir Lycus memancarkan seringai tipis. “Tetua mungkin terlalu lama tinggal di Kastil Istana Kekaisaran sehingga tidak mendengar informasi kalau Hutan Abadi kini berada di genggaman Tetua Agung dan Ratu Elf sudah lama tidak keluar dari rumah pohonnya. Tetua Agung itu berambisi merebut sebagian wilayah Goblin dan Orc yang dulunya milik mereka sebelum Perang Rasial Seratus tahun yang lalu.”
Mata Tetua Agung berbinar-binar dan meyakini Hutan Abadi pasti akan menjadi Sekutu Kekaisaran Hazel bila kontrak pernikahan itu berlangsung, kebetulan sekali target yang akan diserbu oleh Pasukan Kekaisaran Hazel selanjutnya adalah Kerajaan Orc.
__ADS_1
Bila Kedua negara menyerang Kerajaan Orc yang merupakan negara terkuat Ketiga di Benua Grandland itu, maka mereka akan menaklukkan Kerajaan Orc dengan mudah.
“Baiklah, segeralah ke Hutan Abadi,” kata Tetua itu sembari tersenyum lebar. “Bila kamu berhasil melakukan kontrak pernikahan politik dengan Hutan Abadi, maka Aku akan mendesak Kaisar agar menjadikanmu Pemimpin Pasukan yang menyerbu Kerajaan Orc nanti, dan tentunya itu juga akan menjadi kesempatanmu menunjukkan kepada Kaisar bahwa kamu sangat layak menjadi penerusnya bila berhasil merebut wilayah Kerajaan Orc.”
Lycus kemudian pergi ke Kerajaan Hutan Abadi dikawal oleh Puluhan Pendekar tingkat 10 dan mereka meninggalkan Kota Ella secara diam-diam agar kepergian mereka tidak diketahui oleh Alex.
...***...
Sarah memperhatikan lalu-lalang penduduk Kota Ella dari jendela kamar penginapan. Dia langsung tersenyum cerah saat melihat Restoran tempat ia makan tadi malam sudah terbuka lagi.
Namun, Alex masih terlentang di ranjang dan belum ada tanda-tanda akan segera bangun, karena suara dengkurannya cukup keras.
Sarah memeriksa sakunya dan masih ada beberapa Koin Emas serta Puluhan Koin Perak. Dia kemudian memutuskan akan pergi sarapan pagi sendirian tanpa mengajak ayahnya.
Sarah memakai pakaian pejiarah, karena Alex mengingatkan padanya tidak ada yang boleh tahu kalau dirinya adalah setengah Elf dan harus menutup rambutnya bila keluar rumah agar telinganya yang runcing tidak dilihat oleh orang lain.
“Eh, Putri siapa ini?”
“Imut sekali!”
“Aku ingin mencubit pipinya!”
Sarah hanya menebar senyuman manis saat melewati para Karyawan wanita Penginapan yang sedang membicarakan tentang dirinya, kemudian ia melangkahkan kaki keluar dari Penginapan.
__ADS_1
Restoran yang dituju oleh Sarah berada di depan Penginapan, kedua bangunan itu hanya dibatasi oleh jalan raya saja.
Sarah memasuki Restoran dan berhenti di depan meja Kasir. “Aku mau makan Bubur Kacang Ijo, Susu Kambing, Cake Caprese, dan Kue Pai.”
Kasir Restoran itu terkejut mendengar suara gadis kecil menggema di pikirannya, wajahnya memucat karena tidak ada siapapun di depannya.
“Kakak cantik... aku di sini!” seru Sarah karena Kasir itu malah terlihat kebingungan.
“Eh, ternyata kamu di sana,” sahut Kasir tersebut sembari tersenyum hangat menatap Sarah yang memegang sudut meja dan mendongak menatapnya. “Tapi yang kamu pesan itu sangat mahal, apa kamu memiliki uang?”
Kasir itu merasa orangtua gadis kecil di depannya ini tidak menyadari kalau putrinya telah memasuki Restorannya yang merupakan salah satu Restoran Mewah di Kota Ella tersebut.
Sarah merogoh sakunya dan meletakkan Satu Koin Emas di atas meja. “Apa ini cukup?” sahut Sarah, tetapi Kasir itu malah tercengang dengan mulut menganga lebar. Sarah kemudian merogoh sakunya lagi dan meletakkan Puluhan Koin Perak. “Bagaimana, apa masih kurang?” tanyanya dengan mata berbinar-binar.
Sarah tidak mengeluarkan Koin Emas yang lain karena merasa harga makanan di Restoran ini lebih murah dari Restoran milik ayahnya, seharusnya uang sebanyak itu tidak akan kurang lagi.
Butuh beberapa tarikan napas membuat Kasir itu merespon ucapan Sarah, Dia tidak menyangka gadis kecil di hadapannya itu memiliki uang yang lebih banyak dari gajinya yang cuma Satu Koin Emas sebulan tersebut.
“Ten-tentu saja cukup gadis kecil cantik,” kata Kasir itu mengambil Satu Koin Emas Sarah, kemudian menyerahkan Ratusan Koin Perak yang dimasukkan ke dalam Kantong kecil karena Koin Perak yang banyak itu tidak akan muat di saku pakaian Sarah. “Ini kembaliannya... pegang yang erat agar tidak jatuh dan silahkan duduk di sana, nanti rekanku akan membawa pesananmu.”
“Terimakasih!” sahut Sarah mengedipkan mata dan tersenyum cerah sembari berlari pelan ke kursi yang ditunjuk oleh Kasir itu.
Beberapa Pelanggan Restoran yang lebih dulu berada di sana langsung tersenyum melihat tingkah laku Sarah yang terlihat sangat menggemaskan tersebut, terutama Dua pelanggan wanita yang duduk di dekat Sarah.
__ADS_1
“Kalau anak Alex masih hidup, maka dia pasti sebaya dengan gadis imut itu,” bisik Lilia yang sengaja datang ke Restoran ini karena ingin mencicipi Kue Pai mereka yang terkenal paling enak di Kota Ella.
Catherine mengangguk setuju. “Tapi kenapa Kakak Alex tidak datang ke Kastil Istana Kekaisaran? Apakah Dia membenci kita?” katanya lagi dengan ekspresi wajah cemberut.